prettytime
Skincare

Penyebab Kulit Kepala Berminyak: Mengapa Lebih Cepat Mengilap daripada Wajah?

By Dr. Lee6 min read

Banyak orang merasa kulit kepalanya gampang sekali berminyak. Pagi hari baru keramas, tapi menjelang sore poni sudah lepek dan menempel. Saat ujung jari menyentuh kulit kepala, terasa licin. Ada alasan yang jelas mengapa kulit kepala lebih cepat mengilap dibanding kulit wajah.

Produksi minyak di kulit kepala bukan sekadar soal kebiasaan mencuci rambut. Kepadatan kelenjar minyak, kerja hormon, sampai mikroba yang hidup di permukaan kulit kepala, semuanya saling tumpang tindih memunculkan kondisi ini. Berikut penjelasan mengapa kulit kepala cenderung lebih berminyak, serta bahan dan cara perawatan apa saja yang benar-benar membantu.

Mengapa kulit kepala lebih berminyak daripada wajah?

Setiap folikel rambut di kulit kepala memiliki satu kelenjar minyak yang menempel. Masalahnya, kepadatan folikel rambut di kulit kepala jauh lebih tinggi dibanding wajah. Semakin rapat rambut tumbuh, semakin banyak pula jumlah kelenjar minyak di baliknya.

Selain itu, kulit kepala juga lebih sering tertutup topi, helm, atau bantal sepanjang hari. Di ruang tertutup seperti itu, minyak, panas, dan kelembapan terperangkap bersamaan sehingga terasa makin licin. Itulah sebabnya walau jumlah minyak yang keluar sama, kulit kepala terasa jauh lebih berminyak dibanding wajah.

Mengapa ubun-ubun lebih dulu berminyak?

Kelenjar minyak adalah organ kecil yang menempel di samping folikel rambut dan menyalurkan minyak ke saluran folikel. Minyak ini naik mengikuti folikel lalu melapisi tipis permukaan rambut dan kulit kepala. Fungsi aslinya adalah melindungi kulit kepala agar tidak kering.

Masalahnya, kelenjar minyak ini justru menumpuk paling banyak di area ubun-ubun dan garis dahi. Karena itu, area ini biasanya yang paling dulu terasa berminyak dan rambutnya paling cepat lepek. Semakin padat kelenjar minyak di suatu area, semakin besar pula jumlah minyak yang diproduksi, jadi perbedaan ini muncul secara alami.

Peran DHT dalam menentukan jumlah sebum

Sakelar terbesar yang mengatur jumlah produksi minyak adalah hormon androgen. Testosteron di dalam tubuh, ketika bertemu enzim 5-alpha reductase (enzim di kulit yang mengubah hormon menjadi bentuk yang lebih kuat), berubah menjadi dihidrotestosteron, disingkat DHT.

Saat DHT ini menempel pada reseptor di sel kelenjar minyak, sel kelenjar minyak membesar dan aktivitasnya meningkat. Ibaratnya seperti menginjak pedal gas lebih dalam. Karena itu, setelah masa pubertas, produksi minyak meningkat baik pada laki-laki maupun perempuan, dan orang yang secara genetik memiliki enzim ini lebih aktif cenderung punya minyak kulit kepala yang lebih banyak.

Hormon stres dan perubahan hormon selama siklus menstruasi juga ikut memengaruhi. Setiap kali hormon naik turun, kelenjar minyak langsung menerima sinyal itu dan menyesuaikan jumlah produksinya.

Jadi meski usia dan sampo yang dipakai sama, kondisi kulit kepala tiap orang bisa berbeda. Sebagian besar ditentukan oleh faktor bawaan tubuh masing-masing. Meski begitu, bukan berarti kondisi ini sama sekali tidak bisa dikendalikan, karena beberapa bahan berikut justru menyasar titik ini.

Perbedaan titik sasaran tiap bahan

Bahan-bahan yang sering ditemukan dalam produk perawatan kulit kepala bekerja di titik yang berbeda-beda. Memahami perbedaan ini akan memudahkan memilih produk yang sesuai dengan kondisi kulit kepala.

  • salicylic acid: Larut baik dalam minyak sehingga bisa menembus hingga ke dalam folikel yang tersumbat minyak. Bahan ini melarutkan gumpalan sel kulit mati dan minyak di dalamnya sehingga mengurangi penyumbatan pori.
  • niacinamide: Bahan ini bekerja dengan mengurangi produksi lipid di kelenjar minyak itu sendiri. Caranya menurunkan hasil produksi dari "pabrik" pembuat minyak, jadi pendekatannya berbeda dari sekadar membersihkan minyak yang sudah keluar.
  • zinc pyrithione, ketoconazole: Bahan ini menekan pertumbuhan jamur Malassezia yang hidup di kulit kepala. Jamur ini menghasilkan zat pengiritasi saat memecah minyak, yang memicu munculnya ketombe dan rasa gatal, jadi mengurangi jumlah jamur juga ikut mengurangi iritasi tersebut.

Ketiganya sama-sama menangani minyak, tapi titik yang disasar berbeda, yaitu dalam pori, kelenjar minyak, dan jamur, sehingga sering dikombinasikan sesuai gejala yang dialami.

Dalam penelitian selama 4 minggu pada 331 pasien dengan ketombe berat, kelompok yang memakai sampo ketoconazole 2% mengalami penurunan skor ketombe sebesar 73%, sementara kelompok sampo zinc pyrithione 1% turun 67%. Kedua bahan ini sama-sama menyasar jamur Malassezia, tapi pada penelitian ini ketoconazole terbukti sedikit lebih unggul secara statistik.
Dalam penelitian selama 4 minggu pada 331 pasien dengan ketombe berat, kelompok yang memakai sampo ketoconazole 2% mengalami penurunan skor ketombe sebesar 73%, sementara kelompok sampo zinc pyrithione 1% turun 67%. Kedua bahan ini sama-sama menyasar jamur Malassezia, tapi pada penelitian ini ketoconazole terbukti sedikit lebih unggul secara statistik.

Apakah sering keramas membuat minyak makin banyak?

Kulit kepala berminyak sering membuat orang ingin lebih sering keramas, tapi ada anggapan bahwa terlalu sering keramas justru membuat minyak makin banyak. Sebenarnya, anggapan ini hanya sebagian benar.

Saat keramas, lapisan minyak ikut terangkat, dan kulit kepala akan memproduksi minyak lagi agar tidak kering. Namun bukan berarti kelenjar minyak langsung melonjak drastis hanya dalam sehari dua hari. Yang jadi masalah adalah jika memakai sampo dengan daya bersih terlalu kuat dan digosok keras setiap hari, lapisan pelindung kulit kepala jadi menipis, dan iritasi yang berulang ini justru bisa membuat kelenjar minyak bereaksi lebih sensitif.

Jadi yang lebih penting bukan seberapa sering keramas, melainkan seberapa kuat daya bersih sampo dan seberapa keras pijatan ujung jari saat mencuci. Kalau terlalu lembut, minyak dan sel kulit mati menumpuk. Kalau terlalu keras, iritasi yang menumpuk. Menemukan titik seimbang di antara keduanya adalah inti dari perawatan yang sebenarnya.

Mengapa ketombe dan bau muncul bersamaan?

Pada kulit kepala yang berminyak, ketombe dan bau sering muncul bersamaan. Keduanya bukan dua masalah yang berdiri sendiri, melainkan gejala yang berasal dari akar yang sama.

Saat minyak di kulit kepala meningkat, jamur Malassezia yang memakan minyak tersebut juga ikut berkembang biak. Jamur ini memecah asam lemak dalam minyak dan menghasilkan zat yang mengiritasi kulit kepala, sehingga sel kulit mati mengelupas lebih cepat. Pada saat bersamaan, sebagian asam lemak yang terurai tadi juga menjadi penyebab bau yang khas.

Dengan kata lain, baik ketombe maupun bau sama-sama muncul akibat pertemuan antara minyak dan jamur ini. Karena itu, kalau hanya mengorek ketombe secara paksa atau menutupi bau dengan produk beraroma kuat, penyebab utamanya tetap tidak teratasi.

Kalau ketombe yang muncul berukuran besar, berwarna kekuningan dan menggumpal, atau kulit kepala terlihat kemerahan disertai gatal, kondisi ini lebih mengarah ke dermatitis seboroik dibanding sekadar kulit kepala kering biasa. Pada kasus seperti ini, sebaiknya mendahulukan bahan yang mengurangi jamur. Sebab penyebab yang berbeda memerlukan urutan penanganan yang berbeda pula.

Perawatan apa yang didapat kalau di rumah tidak mempan?

Jika sampo atau tonik yang dipakai di rumah belum cukup mengendalikan minyak, sebagian orang mempertimbangkan perawatan di klinik kulit. Dua yang paling umum adalah scaling kulit kepala dan terapi topikal dosis rendah.

Scaling kulit kepala dilakukan dengan alat mesin atau alat isap untuk mengangkat minyak dan sel kulit mati yang menumpuk di permukaan kulit kepala secara fisik. Karena langsung mengangkat tumpukan yang ada, hasilnya relatif cepat terasa, tapi cara ini tidak mengurangi aktivitas kelenjar minyak itu sendiri, sehingga biasanya disarankan diulang setiap 4 sampai 8 minggu.

Pada kasus dermatitis seboroik yang disertai peradangan, terapi antijamur topikal atau steroid dosis rendah kadang digunakan bersamaan. Terapi ini berfokus meredakan jamur dan peradangan, dan jika dipakai secara rutin, gejala biasanya mereda dalam waktu sekitar 4 sampai 12 minggu. Namun terapi ini tidak sepenuhnya mengubah kecenderungan produksi minyak dari akarnya, jadi perawatan tetap perlu dilanjutkan meski gejala sudah membaik.

Kedua metode ini sama-sama tidak menghilangkan kelenjar minyak itu sendiri, melainkan bekerja dengan memperlambat kecepatan penumpukan minyak dan pertumbuhan jamur. Karena itu, perawatan ini bukan sesuatu yang selesai setelah satu kali dilakukan. Kebiasaan mencuci rambut dan penggunaan bahan perawatan yang konsisten setelah gejala mereda akan membuat jarak kekambuhan semakin panjang.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Penuaan kulit dekolte: penyebab, cara merawat, terapi laser, dan masa pemulihan

Area dekolte memiliki lebih sedikit kelenjar sebasea dan kulit yang lebih tipis dibanding wajah, sehingga lebih rentan terhadap paparan sinar UV. Artikel ini membahas bagaimana kolagen dan serat elastin di area ini rusak lebih dulu sehingga garis halus, pigmentasi, dan pembuluh darah kecil mulai muncul, serta urutan perawatan mulai dari tabir surya, retinoid, hingga prosedur medis.

By Dr. Kim

Skincare

Penyebab ketombe: kulit kering, atau jamur kulit kepala dan sebum?

Ketombe bukan sekadar akibat kulit kepala kering, melainkan muncul saat jamur Malassezia yang hidup di kulit kepala bertemu dengan minyak alami kulit. Artikel ini membahas bagaimana zat iritan hasil pemecahan minyak oleh jamur mempercepat pengelupasan kulit, cara kerja tiap bahan anti ketombe, serta perawatan hariannya.

By Dr. Kim

Acne

Jerawat dan makanan: pengaruh susu dan gula, sampai cara mengatur pola makan

Dalam kaitan antara jerawat dan makanan, sorotan utama jatuh pada makanan yang cepat menaikkan gula darah dan produk susu. Artikel ini membahas bagaimana sinyal gula darah, insulin, dan IGF-1 memengaruhi kelenjar minyak dan pori kulit. Dibahas juga alasan susu skim lebih sering disebut serta bagian pola makan yang perlu dicek lebih dulu.

By Dr. Kim

Back to articles