Cara Produk Susu dan Gula Memicu Insulin dan IGF-1 hingga Memperparah Jerawat
By Dr. Kim6 min read

Banyak orang langsung teringat cokelat atau susu begitu jerawat muncul. Dulu anggapan ini sering dianggap mitos tanpa dasar, tapi penelitian belakangan menunjukkan bahwa makanan tertentu memang ikut berperan dalam jalur terbentuknya jerawat. Yang paling sering disebut adalah makanan yang cepat menaikkan gula darah dan produk susu. Kenapa dua hal ini yang selalu jadi sorotan, dan apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuh, akan dibahas satu per satu.
Apakah Jerawat dan Makanan Benar-Benar Berhubungan Sebab Akibat?
Jerawat adalah penyakit kulit yang terjadi ketika kelenjar minyak tersumbat lalu meradang di dalamnya. Selama bertahun-tahun, dokter kulit menganggap makanan tidak banyak berhubungan dengan jerawat. Namun belakangan ini semakin banyak laporan yang menunjukkan bahwa pola makan dengan indeks glikemik tinggi (ukuran seberapa cepat dan seberapa besar suatu makanan menaikkan gula darah) serta konsumsi produk susu berkaitan dengan munculnya atau memburuknya jerawat.
Hanya saja hubungan ini bukan sesederhana rokok dengan kanker paru, di mana satu penyebab langsung menghasilkan satu akibat. Makanan lebih berperan sebagai pendorong ringan bagi sinyal hormon di dalam tubuh. Kalau memahami bagaimana sinyal itu sampai ke kelenjar minyak dan pori kulit, akan lebih mudah mengerti kenapa makanan tertentu terus disebut-sebut.
Cara Makanan yang Cepat Menaikkan Gula Darah Merangsang Kelenjar Minyak
Nasi putih, roti putih, dan minuman manis termasuk makanan dengan indeks glikemik tinggi karena cepat dicerna sehingga gula darah langsung melonjak. Begitu gula darah naik cepat, tubuh melepaskan insulin lebih banyak dari biasanya untuk menurunkannya kembali.
Ketika insulin meningkat, IGF-1 (semacam sepupu insulin yang berfungsi sebagai sinyal pertumbuhan, membuat sel tumbuh dan membelah) ikut naik. IGF-1 merangsang sel penghasil minyak (sebasit) sehingga produksi minyak bertambah, dan mendorong penumpukan sel berlebih di dalam pori yang disebut hiperkeratinisasi. Ketika pori menyempit karena minyak dan sel kulit mati menumpuk, kondisi ini menjadi tempat yang nyaman bagi bakteri penyebab jerawat untuk berkembang biak.
Selain itu, insulin dan IGF-1 juga membantu androgen, hormon pria, bekerja lebih aktif di kelenjar minyak. Androgen memang sudah punya peran meningkatkan produksi minyak, tapi ketika sinyal insulin ikut menumpuk, efek ini semakin kuat. Karena itu, meski kadar androgennya sama, orang yang gula darahnya sering melonjak cenderung memproduksi minyak lebih banyak.
Karena itu, beralih ke makanan yang menaikkan gula darah lebih perlahan, seperti biji-bijian utuh, sayuran, dan sereal utuh, membuat sinyal ini tidak terlalu melonjak. Beberapa penelitian bahkan melaporkan jumlah lesi jerawat berkurang setelah pola makan indeks glikemik rendah dijalani selama beberapa minggu.
Alasan Susu Selalu Muncul dalam Perdebatan Soal Jerawat
Susu sebenarnya bukan makanan yang menaikkan gula darah secara drastis. Meski begitu, produk susu terus disebut dalam penelitian tentang jerawat karena alasan lain. Kandungan hormon alami dalam susu, ditambah protein kasein dan whey di dalamnya, punya kemampuan merangsang insulin dan IGF-1 di dalam tubuh.
Artinya, yang jadi masalah bukan gula darah, melainkan kandungan proteinnya. Whey protein juga bahan utama suplemen yang biasa dikonsumsi di gym. Protein ini mendorong sinyal insulin dan IGF-1 lewat jalur yang sama dengan proses pembentukan otot. Sinyal itu kemudian sampai ke kelenjar minyak dan ikut merangsang jalur jerawat.
Susu juga mengandung sedikit hormon yang dihasilkan sapi saat masa kebuntingannya. Jumlah yang diminum manusia memang sangat kecil, tapi kandungan ini disebut-sebut ikut bersinggungan dengan sinyal androgen dan bisa mendorong kelenjar minyak bekerja lebih aktif. Jadi dalam satu gelas susu, ada beberapa faktor pemicu yang bertumpuk sekaligus.
Kenapa Susu Skim Justru Lebih Bermasalah Dibanding Susu Full Cream
Sejumlah penelitian justru lebih sering mengaitkan susu skim, yang kandungan lemaknya sudah dihilangkan, dengan jerawat. Hasil yang menunjukkan susu skim lebih bermasalah dibanding susu full cream yang tinggi lemak ini sekilas terasa berlawanan dengan logika.
Salah satu hipotesisnya begini. Proses pengolahan yang menghilangkan lemak dari susu mengubah keseimbangan komponen yang larut dalam lemak, sehingga proporsi whey protein dan hormon di dalamnya relatif meningkat. Akibatnya, kemampuannya merangsang insulin dan IGF-1 diperkirakan justru semakin kuat.
Namun bagian ini masih sebatas hipotesis, dan reaksinya juga tidak sama pada setiap orang. Meski minum jumlah susu yang sama, perbedaan antara orang yang sensitif terhadap produk susu dan yang tidak masih terus diteliti.
Produk susu olahan seperti yogurt atau keju umumnya dilaporkan punya hubungan yang lebih lemah dengan jerawat. Diperkirakan karena proses fermentasi dan pengolahan mengubah bentuk komponen pemicunya, meski datanya belum sebanyak susu cair. Karena itu, lebih tepat kalau tidak menyamaratakan semua produk susu, melainkan mempertimbangkan bentuk dan seberapa sering dikonsumsi.
Bagaimana Gula Olahan dan Gula Sederhana Mengubah Komposisi Minyak Kulit
Makanan tinggi gula pada akhirnya juga kembali ke jalur gula darah dan insulin. Gula yang sudah diolah punya proses pencernaan yang singkat sehingga menaikkan gula darah dengan sangat cepat.
Kalau gula darah sering naik turun drastis, tubuh jadi terbiasa melepaskan insulin dalam jumlah besar berulang kali. Kondisi ini yang berlangsung terus membuat kelenjar minyak memproduksi lebih banyak minyak, dan komposisi asam lemak di dalam minyak itu dilaporkan sedikit demi sedikit berubah ke arah yang lebih mudah memicu peradangan. Kualitas minyaknya sendiri yang berubah.
Ditambah lagi dengan kecenderungan sel kulit mati di dalam pori yang sulit terlepas dan malah menggumpal, kondisi ini membuat minyak dan sel kulit mati bersama-sama menyumbat pori sehingga jerawat lebih mudah terbentuk.
Gula olahan juga menambah reaksi peradangan dalam proses ini. Diketahui bahwa kondisi gula darah yang naik turun cepat secara berulang membuat molekul pemicu peradangan di dalam tubuh ikut meningkat. Jerawat sendiri adalah kondisi yang muncul akibat bakteri berkembang biak di pori yang tersumbat lalu memicu peradangan, sehingga kecenderungan peradangan tubuh yang naik sedikit saja bisa mempercepat pori yang sudah tersumbat berubah menjadi jerawat merah dan nyeri.
Bagian Pola Makan yang Perlu Dicek Lebih Dulu untuk Kulit Berjerawat
Daripada mengubah seluruh pola makan sekaligus, lebih realistis untuk mengecek satu per satu daftar berikut ini terlebih dahulu.
- Minuman manis dan makanan penutup: paling cepat menaikkan gula darah, sehingga respons insulinnya juga paling besar.
- Karbohidrat olahan seperti nasi putih dan roti putih: dicerna lebih cepat dibanding biji-bijian utuh sehingga dengan mekanisme yang sama, gula darah langsung melonjak.
- Produk susu termasuk susu skim: bisa langsung merangsang sinyal IGF-1 terlepas dari soal gula darah.
- Suplemen whey protein: meski untuk keperluan olahraga, saat jerawat sedang parah ada baiknya mengecek kembali jumlah konsumsinya.
Daripada langsung berhenti total dari salah satu makanan, mengurangi jumlahnya sedikit demi sedikit sambil mengamati perubahan kulit sendiri lebih ringan dijalani dan lebih mudah dipertahankan.
Bisakah Jerawat Membaik Hanya dengan Mengatur Pola Makan?
Bukti bahwa pengaturan pola makan bisa membantu mengelola jerawat memang terus bertambah, tapi sulit untuk mengatakan jerawat akan hilang total hanya dengan mengatur pola makan. Sebab jerawat adalah kondisi yang muncul dari perpaduan hormon, genetik, reaksi peradangan kulit itu sendiri, bakteri, dan metabolisme sel kulit mati.
Karena itu, lebih realistis kalau pengaturan pola makan didekati sebagai pendukung, bukan pengganti pengobatan jerawat. Kalau sudah ada obat atau perawatan yang diresepkan, tetap lanjutkan itu, sambil mencoba pola makan dengan gula darah yang naik perlahan dan mengatur jumlah konsumsi produk susu. Kombinasi ini adalah pendekatan yang seimbang.
Kombinasi yang cocok berbeda-beda untuk setiap orang, jadi perlu proses mencoba mengubah pola makan selama beberapa minggu sambil mengamati sendiri bagaimana kulit bereaksi. Kalau perubahan dari pola makan saja terasa lambat, daripada memaksakan diri menunggu lebih lama, berkonsultasi ke dokter kulit untuk menjalani metode perawatan lain secara bersamaan bisa mempercepat hasilnya.
References
Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Antibiotik dan Isotretinoin untuk Jerawat, Cara Kerja yang Menyasar Bakteri dan Kelenjar Minyak Secara Berbeda
Obat minum untuk jerawat terbagi dalam dua jalur, antibiotik dan isotretinoin, dengan cara kerja yang jauh berbeda. Antibiotik bekerja menekan bakteri penyebab jerawat sekaligus meredakan peradangan, sementara isotretinoin justru mengecilkan kelenjar minyak itu sendiri sampai ke akar masalahnya. Artikel ini mengupas mekanisme di balik kedua obat tersebut dan alasan keduanya dipilih pada situasi yang berbeda.
By Dr. Kim

Kenapa Minyak Wajah Tiba-Tiba Berlebihan, Ini Cara Androgen dan Kelenjar Sebum Memicu Perubahan Hormon
Produksi minyak wajah bukan cuma urusan kelenjar sebum sendirian. Hormon androgen yang menentukan seberapa kuat kelenjar sebum dirangsang, dan siklus pubertas, menstruasi, stres, sampai gula darah ikut memengaruhi sinyal ini. Berikut penjelasan kenapa minyak wajah bisa tiba-tiba melonjak, dilihat dari hubungan hormon dan kelenjar sebum.
By Dr. Lee

Cara Cryo Cooling Care Meredakan Kemerahan Kulit Setelah Laser dan Peeling
Cryo cooling care adalah perawatan yang menurunkan suhu kulit untuk menyempitkan pembuluh darah di permukaan sehingga rasa panas dan kemerahan setelah laser atau peeling lebih cepat mereda. Artikel ini membahas bagaimana rangsangan dingin memperlambat penghantaran sinyal saraf dan respons peradangan, serta perannya dalam mempercepat masa pemulihan setelah perawatan.
By Dr. Kim