Jerawat Remaja: Penyebab, Cara Merawat, dan Kapan Perlu Berobat ke Dokter
By Dr. Lee6 min read

Begitu pubertas dimulai, dahi, pipi, dan area dagu sering tiba-tiba dipenuhi jerawat. Kulit yang kemarin masih mulus, tahu-tahu muncul bintil satu per satu, dan ini bikin anak maupun orang tua sama-sama kaget. Padahal jerawat di usia ini sebenarnya reaksi alami tubuh yang sedang berubah dari anak-anak menjadi dewasa. Hormon memicu kelenjar minyak, pori tersumbat, lalu bakteri masuk lewat celah yang tersumbat itu, semua terjadi berurutan sampai akhirnya terlihat di wajah. Kalau proses ini ditelusuri tahap demi tahap, jadi jelas kenapa jerawat begitu menumpuk saat pubertas, dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk merawatnya.
Mengapa jerawat banyak muncul saat pubertas?
Saat pubertas dimulai, kelenjar pituitari, kelenjar adrenal, dan kelenjar reproduksi mulai memproduksi lebih banyak hormon golongan androgen. Androgen memang dikenal sebagai hormon yang memunculkan ciri maskulin seperti testosteron, tapi pada tubuh anak perempuan pun hormon ini tetap diproduksi dalam jumlah tertentu dan bekerja dengan cara yang sama. Ketika hormon ini merangsang kelenjar minyak (kelenjar kecil penghasil sebum di dalam kulit), ukurannya membesar dan produksi minyaknya meningkat. Itu sebabnya kulit yang sebelum pubertas terlihat halus, tiba-tiba jadi berminyak dan mulai muncul bintil.
Perubahan hormon ini biasanya berlangsung bertahap selama beberapa tahun, jadi jerawat pun umumnya tidak langsung parah dalam semalam, melainkan meningkat perlahan sekitar masa menstruasi pertama atau perubahan suara. Selain itu, tiap orang punya tingkat kepekaan kelenjar minyak terhadap hormon yang berbeda beda, sehingga di usia yang sama, ada anak yang nyaris bebas jerawat sementara yang lain jerawatnya menyebar ke seluruh wajah. Perbedaan ini bukan soal kurang rajin merawat kulit, melainkan lebih ke perbedaan bawaan pada reaktivitas kelenjar minyak dan kepekaan terhadap hormon.

Bagaimana hormon memengaruhi kelenjar sebum?
Kelenjar minyak sebenarnya bertugas membuat lapisan minyak alami yang melindungi kulit. Sebum dalam jumlah wajar berfungsi mencegah kulit kering. Masalahnya, hormon pubertas merangsang kelenjar ini secara berlebihan. Ketika androgen menempel pada sel kelenjar minyak, enzim pembentuk lipid di dalam sel jadi bekerja lebih aktif, sehingga produksi minyak bisa meningkat sampai beberapa kali lipat dibanding sebelum pubertas.
Minyak yang berlebih ini mengalir keluar lewat pori menuju permukaan kulit, tapi kalau jumlahnya terlalu banyak, minyak jadi menumpuk di dalam pori karena tidak sempat keluar semua. Situasinya mirip seperti saluran pembuangan yang terus dialiri minyak, lama kelamaan tersumbat. Ditambah lagi, stres ujian atau kurang tidur yang lazim dialami remaja juga ikut meningkatkan hormon stres bernama kortisol, yang dikenal turut memicu produksi sebum. Ini pula alasan kenapa banyak yang merasa jerawatnya tiba-tiba memburuk saat masa ujian.
Bagaimana pori tersumbat menjadi komedo?
Minyak berlebih saja belum tentu langsung berubah jadi jerawat. Tahap berikutnya adalah menumpuknya sel di dalam dinding pori yang tidak terlepas tepat waktu. Normalnya, sel dinding pori mengelupas dan berganti dengan sel baru sesuai siklus tertentu, tapi saat pubertas proses pengelupasan ini jadi tidak teratur, sehingga sel mati lebih mudah menumpuk di dalam pori.
Ditambah minyak yang berlebih, mulut pori pun perlahan tersumbat oleh campuran sel mati dan minyak. Kondisi tersumbat tahap awal ini disebut komedo (comedone). Kalau tampak putih di permukaan disebut whitehead, sedangkan bila teroksidasi dan menghitam disebut blackhead. Pada tahap ini belum ada peradangan, sehingga saat disentuh terasa seperti butiran kecil yang keras. Namun ceritanya berubah begitu bakteri mulai berkembang biak di ruang tersumbat tersebut.
Bagaimana bakteri jerawat memperparah peradangan?
Di dalam pori, minyak berlimpah tapi oksigen minim, kondisi ini cocok untuk berkembangnya Cutibacterium acnes (C. acnes, dulu bernama Propionibacterium acnes), bakteri yang tidak menyukai oksigen. Bakteri ini sebenarnya secara alami ada dalam jumlah kecil di kulit semua orang, tapi menjadi masalah begitu berkembang biak dengan memanfaatkan minyak sebagai makanan di dalam pori yang tersumbat.
Ketika bakteri berkembang biak, zat metabolisme dan enzim yang dihasilkannya merangsang dinding pori, sehingga sel imun tubuh berkumpul di area tersebut dan memicu reaksi peradangan. Reaksi peradangan inilah yang membuat jerawat tampak merah, bengkak, dan terasa nyeri. Kalau peradangan hanya terjadi di lapisan dangkal, biasanya hanya berupa bintil merah biasa, tapi kalau menyebar sampai lapisan dalam, bisa membesar jadi jerawat kistik yang bernanah dan risiko meninggalkan bekas luka pun meningkat. Karena itu, memulai perawatan sejak dini dikenal bisa membantu mengurangi risiko bekas luka.
Cara merawat jerawat di rumah
Jerawat pada masa pubertas memang tidak bisa dicegah sepenuhnya, tapi ada cara untuk mengurangi faktor pemicunya. Kebiasaan berikut ini dikenal bisa membantu.
- Cuci muka dua kali sehari dengan pembersih yang lembut dan air hangat kuku. Menggosok terlalu keras justru bisa mengiritasi skin barrier dan memperparah peradangan.
- Gunakan produk yang mengandung benzoyl peroxide, mulai dari jumlah sedikit. Kandungan ini bekerja dengan meningkatkan kadar oksigen di dalam pori, sehingga membuat lingkungan yang sulit ditinggali C. acnes.
- Gunakan retinoid seperti adapalene pada malam hari. Kandungan ini membantu menormalkan kecepatan pengelupasan sel kulit, sehingga sel mati bisa terlepas secara alami sebelum sempat menyumbat pori.
- Jangan memencet atau mencungkil jerawat dengan tangan. Tekanan dari tangan bisa membuat zat peradangan menembus dinding pori dan menyebar ke jaringan yang lebih dalam, sehingga risiko bekas luka jadi lebih besar.
- Pakai tabir surya setiap hari. Paparan sinar UV cenderung membuat hiperpigmentasi pasca peradangan jadi lebih gelap dan lebih lama hilang.
Kalau perawatan ini dilakukan secara konsisten, perubahan yang terlihat biasanya muncul dalam rentang 4 sampai 12 minggu. Namun kalau dihentikan di tengah jalan karena hasilnya belum terlihat, kulit bisa kembali teriritasi, jadi disarankan untuk bertahan setidaknya dua sampai tiga bulan secara konsisten.

Kalau tidak sembuh, perlukah ke dokter?
Kalau perawatan di rumah tidak menunjukkan perbaikan, atau jerawat bernanah terus berulang, sebaiknya periksa ke dokter kulit. Kalau jerawat sudah menyebar luas sampai ke rahang, punggung, atau dada, atau bekas kemerahannya bertahan lama, lebih baik memulai perawatan sebelum berubah jadi bekas luka permanen.
Di klinik, dokter biasanya lebih dulu mencoba antibiotik topikal atau antibiotik oral untuk mengurangi bakteri, dan pada kasus yang lebih parah, obat minum seperti isotretinoin bisa dipertimbangkan. Obat ini dikenal bekerja dengan mengecilkan ukuran kelenjar minyak itu sendiri, sehingga produksi sebum menurun secara mendasar. Namun karena perlu pengawasan efek samping, keputusan pemakaiannya sebaiknya melalui konsultasi dengan dokter spesialis.
Pada remaja perempuan, kalau jerawat berulang di sekitar garis rahang dan memburuk seiring siklus menstruasi, terkadang pengobatan juga diarahkan untuk menyeimbangkan hormon. Ini karena kadar androgen naik turun mengikuti siklus ovulasi dan menstruasi, dan pola ini berkaitan langsung dengan rangsangan pada kelenjar minyak. Pada kasus seperti ini, pendekatan yang melihat keseluruhan siklus, bukan hanya merawat kulit saja, dikenal lebih membantu.
Jerawat pada masa pubertas umumnya mereda dengan sendirinya begitu hormon mulai stabil menjelang akhir masa pubertas, dan biasanya kondisi kulit terlihat jauh lebih stabil setelah dirawat konsisten selama 6 sampai 12 bulan. Sebelum sampai ke titik itu, yang terpenting adalah tidak terburu buru, tetap konsisten merawat untuk mengurangi peradangan dan meminimalkan risiko bekas luka.
References
Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Jerawat Akibat Masker: Penyebab dan Cara Merawat, Kenapa Muncul di Dagu dan Pipi?
Banyak orang merasa jerawat di area dagu dan pipi bertambah setelah lama memakai masker. Penyebabnya adalah kombinasi gesekan, kelembapan tinggi, dan penyumbatan pori yang bersama-sama membuat skin barrier melemah dan peradangan lebih mudah muncul. Berikut penjelasan mengapa hal ini terjadi dan cara merawatnya, disusun berdasarkan prinsip dasarnya.
By Dr. Kim

Jerawat Hormonal: Penyebab dan Kenapa Muncul Terus di Dagu dan Sekitar Mulut
Jerawat yang berulang di rahang dan sekitar mulut saat dewasa punya penyebab yang berbeda dari jerawat masa remaja. Artikel ini menjelaskan cara hormon seperti androgen merangsang kelenjar minyak dan folikel rambut, lengkap dengan kaitannya terhadap siklus menstruasi dan stres.
By Dr. Kim

Masalah Kulit Saat Pancaroba: Penyebab dan Perawatan, dari Cuci Muka hingga Pelembap
Saat pergantian musim, suhu dan kelembapan udara berubah drastis dalam waktu singkat sehingga skin barrier dan kelenjar minyak ikut terganggu. Berikut penjelasan mengapa masalah kulit sering muncul di masa ini, cara kerja pemulihan skin barrier, dan urutan perawatan yang tepat.
By Dr. Kim