prettytime
Acne

Mengapa Jerawat di Dagu dan Pipi Bertambah Saat Memakai Masker Lama, Kaitan Gesekan, Kelembapan, dan Penyumbatan Pori serta Cara Merawatnya

By Dr. Kim6 min read

Banyak orang merasa jerawat di area dagu dan pipi bertambah sejak mulai rutin memakai masker. Fenomena ini biasa disebut maskne, singkatan dari mask acne. Yang menarik, hidung dan dahi biasanya baik-baik saja, sementara jerawat justru muncul tepat di area yang tertutup masker.

Perbedaan lokasi ini menjadi petunjuk penting. Bukan produksi minyak di seluruh wajah yang tiba-tiba meningkat, melainkan kondisi kulit di area tertutup masker yang berubah. Tiga faktor, yaitu gesekan, kelembapan, dan penyumbatan pori, saling bertumpuk sehingga area itu menjadi tempat yang subur bagi jerawat.

Ketiga faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait. Gesekan melemahkan skin barrier, kelembapan pun lebih mudah meresap lewat celah yang terbentuk, dan penumpukan kelembapan itu membuat pori menyempit hingga akhirnya tersumbat. Jadi maskne bukan akibat satu penyebab tunggal, melainkan hasil dari tiga tahap yang saling menyambung. Mari telusuri satu per satu agar lebih mudah dipahami.

Mengapa Jerawat di Dagu dan Pipi Bertambah Saat Memakai Masker?

Masker menempel di wajah selama berjam-jam dan terus-menerus menekan area yang sama. Kondisi ini menimbulkan gesekan yang berkelanjutan antara permukaan kulit dan bahan masker. Gesekan ini perlahan mengiritasi lapisan terluar kulit, yaitu stratum korneum, yang sebenarnya berfungsi sebagai perisai tipis yang melindungi kulit dari iritasi luar dan penguapan air.

Jika perisai ini terus tertekan dan tergesek, fungsinya melemah. Bayangkan seperti tembok bata yang semen di antara batanya perlahan retak. Sama seperti semen yang harus utuh agar tembok kokoh, lipid di antara sel-sel stratum korneum juga harus utuh agar kulit bisa menahan air dan menangkal bakteri. Ketika celah ini melebar, bakteri dan zat pengiritasi lebih mudah menembus masuk, dan hasilnya adalah jerawat meradang yang lebih gampang terbentuk.

Dagu dan pipi menerima gesekan lebih besar karena tali masker biasanya melewati area ini, dan bahan masker juga menekan paling kuat di sini. Sebaliknya area mata dan dahi tidak bersentuhan langsung dengan masker sehingga dampaknya relatif kecil. Inilah alasan mengapa tingkat keparahan jerawat bisa berbeda di satu wajah yang sama.

Bagaimana Gesekan Melemahkan Skin Barrier

Gesekan itu sendiri terasa sangat ringan, bahkan hampir tidak terasa. Masalahnya justru pada pengulangannya. Setiap kali bicara atau bernapas, bagian dalam masker bergesekan dengan wajah, dan gerakan ini terjadi ribuan kali dalam sehari. Satu gesekan mungkin tidak berarti apa-apa, tetapi jika terus menumpuk, daya tahan kulit pun ikut menurun.

Ketika skin barrier melemah, kulit lebih mudah kehilangan air. Sebagai respons, tubuh cenderung merangsang kelenjar minyak untuk memproduksi lebih banyak sebum sebagai kompensasi. Inilah sebabnya kulit yang semakin kering justru sering terasa lebih berminyak. Sebum yang berlebih ini menjadi bahan yang mudah menumpuk di mulut pori, dan hal ini membawa kita ke tahap berikutnya, yaitu penyumbatan pori.

Selain itu, gesekan juga merangsang ujung saraf di permukaan kulit. Jika iritasi terjadi berulang, area tersebut akan terus berada dalam kondisi sinyal peradangan ringan yang menyala. Pada kondisi seperti ini, ambang batas kulit untuk memerah atau memunculkan jerawat menjadi lebih rendah. Rangsangan kecil yang biasanya tidak berdampak apa-apa, di bawah masker justru lebih mudah berujung pada jerawat.

Kelembapan dan Panas yang Menciptakan Kondisi Penyumbatan Pori

Bagian dalam masker adalah ruang kecil yang tertutup rapat. Setiap kali menghembuskan napas, uap air hangat terperangkap di dalamnya sehingga kelembapan dan suhu ikut naik bersamaan. Kondisinya mirip seperti wajah dibiarkan di dalam sauna selama berjam-jam.

Kelembapan tinggi membuat sel-sel kulit mati membengkak sehingga mulut pori menyempit. Karena jalan keluarnya menyempit, sebum dan sel kulit mati tidak bisa keluar dengan lancar dan akhirnya menumpuk di dalam. Kondisi pori yang tersumbat seperti ini disebut penyumbatan, dan di dalam pori yang tersumbat, kondisi rendah oksigen, lembap, dan hangat menjadi lingkungan yang sangat cocok bagi Cutibacterium acnes, bakteri penyebab jerawat, untuk berkembang biak. Ketika bakteri bertambah banyak, respons imun tubuh berkumpul di area itu dan muncullah jerawat meradang yang merah dan menonjol.

Kondisi ini mirip dengan alasan jamur mudah tumbuh di sela-sela ubin kamar mandi. Sama seperti mikroorganisme yang berkumpul di tempat lembap, hangat, dan minim sirkulasi udara, pori yang tersumbat di balik masker pun menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi bakteri. Ditambah lagi, saat masker dilepas lalu dipakai kembali, kelembapan dan bakteri yang menempel di bahan masker bisa kembali bersentuhan dengan kulit sehingga kondisi yang sama pun mudah terulang.

Pengaruh Bahan Masker dan Lama Pemakaian

Tidak semua masker memberikan iritasi yang sama. Bahan sintetis cenderung memiliki sirkulasi udara yang buruk sehingga menahan kelembapan dan panas lebih lama. Sebaliknya bahan alami yang lebih longgar seperti katun memungkinkan udara mengalir sedikit lebih baik sehingga kelembapan tidak terlalu menumpuk.

Lama pemakaian juga menjadi faktor penting karena menentukan total paparan kulit terhadap gesekan dan kelembapan. Semakin lama masker dipakai, semakin besar pula beban yang diterima stratum korneum. Inilah alasan mengapa maskne lebih sering dilaporkan pada profesi atau situasi yang mengharuskan pemakaian masker dalam waktu lama.

Ukuran masker yang tidak pas dengan wajah juga berpengaruh. Jika terlalu ketat, tekanannya makin kuat sehingga gesekan makin besar, dan jika terlalu longgar, masker akan sering bergeser sehingga frekuensi gesekannya meningkat. Pada akhirnya, memilih ukuran yang pas dengan wajah untuk mengurangi tekanan dan pergeseran menjadi salah satu cara sederhana untuk menekan gesekan.

  • Luas area kontak langsung bahan masker dengan kulit: semakin luas area kontaknya, semakin luas pula area yang menerima gesekan, sehingga iritasi cenderung menumpuk di area tertentu, bukan tersebar merata.
  • Sirkulasi udara bahan masker: jika sirkulasi udaranya rendah, uap air dari napas tidak bisa keluar dan tertahan di sekitar pori.
  • Frekuensi pencucian dan penggantian masker: jika masker dipakai terus-menerus dengan sebum, sel kulit mati, dan bakteri yang menumpuk di permukaannya, sama saja dengan menggosokkan kembali kotoran itu ke kulit sehingga iritasi bertambah.
  • Tumpang tindih dengan produk makeup: jika foundation atau sunscreen tertekan di bagian dalam masker, kandungannya bisa ikut menumpuk di mulut pori dan memperparah penyumbatan.

Apa Kunci Utama Merawat Kulit yang Terkena Maskne?

Arah perawatan yang tepat adalah mengurangi ketiga penyebab tadi satu per satu, yaitu menekan gesekan, menurunkan kelembapan, dan membantu pori agar tidak tersumbat. Hasilnya akan terasa lebih baik jika ketiganya diperhatikan bersamaan, bukan hanya mengandalkan satu solusi saja.

Membersihkan wajah adalah langkah paling dasar. Setelah melepas masker, mencuci wajah dengan pembersih yang lembut dapat mengangkat sebum dan keringat sehingga sisa yang menumpuk di mulut pori berkurang. Namun mencuci muka terlalu sering atau terlalu keras justru bisa mengiritasi stratum korneum dan makin melemahkan skin barrier, sehingga disarankan cukup dua kali sehari dengan cara yang lembut. Melengkapi dengan pelembap juga penting karena skin barrier yang kuat lebih tahan terhadap gesekan.

Saat memilih kandungan produk, sebaiknya utamakan yang minim iritasi. Kandungan yang umum dipakai untuk jerawat seperti salicylic acid atau benzoyl peroxide memang bisa membantu, tetapi jika dipakai dalam konsentrasi tinggi sekaligus pada kulit yang sudah melemah akibat gesekan, iritasinya bisa bertumpuk. Oleh karena itu, pada masa pemakaian masker yang panjang, lebih aman memulai dengan formula ringan lalu menaikkan intensitasnya secara bertahap sambil memperhatikan reaksi kulit.

Kebiasaan Sehari-hari untuk Mengurangi Iritasi Kulit

Perubahan kebiasaan kecil bisa banyak mengurangi iritasi. Jika situasinya memungkinkan untuk mengatur waktu pemakaian, melepas masker sebentar di sela-sela aktivitas untuk memberi jeda pada kulit juga sangat membantu. Kelembapan dan panas yang terperangkap akan keluar sehingga kondisi di sekitar pori sedikit tertata kembali, meski hanya sesaat.

Makeup yang tebal lebih mudah menggumpal dan tertekan di area yang bersentuhan langsung dengan masker. Menggunakan formula ringan dengan lapisan tipis diketahui lebih menguntungkan untuk mengurangi penyumbatan. Selain itu, jika masker dipakai lebih dari satu hari, sebaiknya lebih sering dicuci atau diganti, agar sebum dan bakteri yang menumpuk di permukaannya tidak kembali tergosok ke wajah. Kebiasaan-kebiasaan ini memang terlihat sederhana, tetapi sepadan untuk dijaga secara konsisten karena secara bersamaan menekan ketiga faktor, yaitu gesekan, kelembapan, dan penyumbatan pori.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Back to articles