Kulit Usia 40-an: Elastisitas Menurun dan Volume Berkurang, Beda Kendur dan Cekung
By Dr. Kim8 min read

Banyak orang mulai merasa wajah di cermin terlihat sedikit berbeda begitu memasuki usia 40-an. Namun ketika diminta menjelaskan apa persisnya yang berubah, biasanya sulit dijelaskan dengan tepat. Kadang terasa garis senyum semakin dalam, pipi tampak lebih tirus, atau garis rahang jadi kurang tegas.
Sebenarnya perubahan ini bukan disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan dua masalah berbeda yang kebetulan muncul bersamaan di periode yang sama. Masalah pertama adalah menurunnya elastisitas kulit itu sendiri, sedangkan masalah kedua adalah berkurangnya volume yang selama ini menopang di bawahnya. Penyebab dan cara mengatasi kedua masalah ini jelas berbeda. Namun karena tampilannya mirip di permukaan, keduanya sering dianggap sebagai satu hal yang sama.
Mengapa elastisitas kulit menurun di usia 40-an?
Kekencangan kulit sebenarnya dihasilkan oleh dermis, yaitu lapisan di bawah kulit yang mengandung dua jenis protein, kolagen dan elastin. Bayangkan kolagen sebagai tiang penyangga kulit, sedangkan elastin adalah karet yang menghubungkan antar tiang tersebut. Ketika tiang kuat dan karetnya masih lentur, kulit yang ditekan akan kembali ke bentuk semula.
Masalahnya, kedua protein ini mulai berkurang secara perlahan begitu seseorang melewati usia 20-an. Kecepatan penurunannya semakin terasa saat memasuki pertengahan 30-an menuju usia 40-an. Pada wanita, periode ini juga bersamaan dengan turunnya produksi hormon estrogen, padahal hormon ini selama ini ikut membantu proses pembentukan kolagen. Begitu hormon menurun, kecepatan produksi kolagen pun ikut melambat.
Ditambah lagi, efek paparan sinar UV yang terkumpul bertahun-tahun juga ikut berperan. Sinar UV perlahan memutus serat elastin, dan saat masih muda tubuh terus memperbaikinya. Namun seiring bertambahnya usia, kecepatan perbaikan ini tidak lagi mampu mengejar kecepatan kerusakan. Karet yang sudah melar pun dibiarkan begitu saja, sehingga kemampuan kulit untuk kembali ke bentuk semula setelah tertekan menjadi melemah.
Mengapa volume wajah menjadi cekung?
Selain masalah elastisitas, ada juga masalah berkurangnya volume wajah. Kali ini yang menjadi penyebab utama bukan kulit, melainkan lapisan lemak dan tulang di bawahnya.
Lemak wajah bukanlah satu gumpalan utuh, melainkan terbagi ke dalam beberapa kantong kecil. Di antaranya, lapisan lemak dalam yang terletak di bagian dalam tulang pipi, bawah mata, dan area pelipis diketahui cenderung mengecil seiring bertambahnya usia. Sebaliknya, lapisan lemak dangkal di bawah dagu dan sisi luar pipi justru sering turun dan menumpuk ke bawah. Itulah sebabnya bagian atas wajah tampak kempis sementara bagian bawah terlihat kendur, dua perubahan yang tampak bertolak belakang namun terjadi bersamaan di wajah yang sama.
Tulang pun tidak luput dari perubahan ini. Tulang wajah, terutama di sekitar mata dan rahang, dilaporkan mengalami resorpsi bertahap sehingga volumenya berkurang seiring usia. Karena rangka yang menopang seluruh wajah ini sedikit mengecil, lemak dan kulit yang berada di atasnya pun kehilangan pijakan dan turun ke bawah. Prinsipnya mirip seperti fondasi rumah yang perlahan ambles, membuat dinding dan atap di atasnya ikut miring.
Apa bedanya kendur dan cekung?
Yang penting untuk dipahami di sini adalah kedua perubahan ini terjadi di lapisan yang benar-benar berbeda. Elastisitas adalah masalah yang muncul di dermis, dekat permukaan kulit, sedangkan volume adalah masalah yang terjadi jauh lebih dalam, di lapisan lemak dan tulang.
Sebagai gambaran, elastisitas ibarat kelenturan kain yang menutupi tenda, sedangkan volume adalah tinggi tiang yang menopang kain tersebut. Kain yang kendur karena sudah lapuk dan tiang yang memendek hingga seluruh tenda ambruk adalah dua masalah dengan penyebab dan cara perbaikan yang berbeda. Menarik kain sekencang apa pun tidak akan menyelesaikan masalah tiang yang sudah memendek.
Karena itu, perawatan elastisitas di usia 40-an sering kali tidak cukup diselesaikan dengan satu metode saja. Gambaran utuhnya baru terlihat jelas ketika pendekatan untuk memperbaiki elastisitas permukaan kulit dipahami bersamaan dengan pendekatan untuk mengisi kembali volume yang berkurang di bawahnya.
Sejauh mana produk oles bisa menjangkau?
Produk yang dioleskan di rumah umumnya bekerja di bagian atas dermis, lapisan yang bertanggung jawab atas elastisitas kulit. Retinol adalah salah satu kandungan andalan di sini. Retinol mengirim sinyal ke sel kulit agar fibroblas, yaitu sel yang memproduksi kolagen, bekerja lebih aktif. Perannya mirip seperti menaikkan kembali kapasitas pabrik yang tadinya bekerja seadanya.
Niacinamide bekerja memperkuat skin barrier sehingga kadar air di kulit tidak mudah menguap. Semakin kuat skin barrier, semakin mudah kulit menjaga kelembapan dan mempertahankan elastisitasnya. Sementara itu, peptide adalah molekul sinyal kecil yang menyerupai fragmen kolagen. Kehadirannya dijelaskan mampu membuat tubuh seolah-olah mengira kolagen sedang terurai, sehingga memicu sinyal untuk memproduksi kolagen baru.
Namun, kandungan yang dioleskan memiliki batas kedalaman penyerapan. Produk ini bisa mencapai epidermis dan bagian atas dermis, tetapi tidak sampai menjangkau lapisan lemak dalam atau tulang yang volumenya sudah berkurang. Itulah sebabnya perawatan rumahan membantu memperbaiki elastisitas secara bertahap, tetapi tidak bisa mengisi kembali volume yang sudah kempis.
Apakah area cekung bisa diisi dengan filler?
Filler adalah salah satu cara utama untuk langsung mengisi area yang kehilangan volume. Bahan yang paling sering digunakan, hyaluronic acid, sebenarnya adalah zat yang secara alami sudah ada di dalam tubuh manusia. Zat ini punya kemampuan menarik dan menahan air hingga berkali-kali lipat dari beratnya sendiri, layaknya spons yang menyerap air lalu mengembang membentuk volume.
Dengan memanfaatkan sifat ini, filler yang disuntikkan ke area yang kehilangan lapisan lemak akan mengisi ruang tersebut secara fisik dan mengembalikan volumenya. Bersamaan dengan itu, jaringan di sekitar titik suntikan juga dilaporkan mengalami respons pemulihan yang turut merangsang produksi kolagen sampai batas tertentu. Namun tingkat rangsangan ini berbeda-beda pada tiap orang, sehingga sulit dipastikan dengan angka yang pasti.
Bengkak atau memar setelah prosedur biasanya mereda dalam beberapa hari hingga sekitar satu minggu. Lama bertahannya hasil filler bervariasi tergantung area dan karakteristik produk, tetapi umumnya dilaporkan bertahan sekitar 6 hingga 12 bulan. Setelah itu, hyaluronic acid akan terurai secara bertahap dan diserap kembali oleh tubuh secara alami.

Cara memperbaiki elastisitas dengan energi panas
Jika filler berfokus mengisi volume, prosedur lifting bekerja lebih ke arah memperbaiki elastisitas. Alat berbasis radiofrekuensi atau ultrasound menyalurkan energi panas ke lapisan dermis dalam atau lapisan fasia otot. Saat itulah tubuh menganggap terjadi kerusakan kecil dan mulai memicu respons pemulihan.
Dalam proses pemulihan ini, fibroblas menjadi aktif dan memproduksi kolagen serta elastin baru. Sama seperti luka yang ditumbuhi jaringan baru saat sembuh, area yang terkena stimulasi panas juga terisi protein baru dengan prinsip serupa. Hanya saja proses ini butuh waktu. Hasilnya jarang langsung terlihat begitu prosedur selesai, melainkan biasanya baru tampak secara bertahap dalam rentang 8 hingga 12 minggu, saat kolagen baru mulai terbentuk dengan mantap.
Lama bertahannya hasil juga bervariasi antar individu, tetapi umumnya dilaporkan berkisar 6 hingga 12 bulan. Setelah itu, kolagen akan kembali menurun secara perlahan mengikuti kecepatan penuaan alami, sehingga perawatan berulang sering kali diperlukan untuk mempertahankan hasilnya.

Perbandingan lama bertahan perawatan rumah, filler, dan lifting
Skincare rumahan, filler, dan prosedur lifting memiliki waktu pemulihan dan lama bertahan hasil yang berbeda-beda. Skincare rumahan risikonya paling kecil, tetapi perubahannya muncul sangat perlahan dan hasilnya hanya bertahan selama pemakaian rutin dilakukan. Filler langsung mengisi volume, namun bentuk alaminya baru terlihat setelah bengkak mereda dalam beberapa hari hingga satu minggu. Prosedur lifting membutuhkan waktu 8 hingga 12 minggu agar kolagen baru terbentuk dengan mantap, tetapi begitu terbentuk, kolagen tersebut cenderung bertahan lebih lama di dalam tubuh dibanding hasil filler.
Karena itu, metode mana yang sebaiknya dicoba lebih dulu tergantung pada apakah masalah utama di wajah saat ini adalah elastisitas atau volume. Namun karena kedua masalah ini sering muncul bersamaan, tidak jarang kedua pendekatan dipertimbangkan sekaligus dalam praktiknya.
Cara hidup untuk memperlambat penurunan elastisitas
Berikut beberapa hal yang bila dijaga secara konsisten dalam keseharian akan membantu menjaga elastisitas kulit.
- Perlindungan dari Sinar UV: Karena sinar UV adalah salah satu penyebab utama putusnya serat elastin, memakai tabir surya setiap hari dapat mengurangi kerusakan lebih lanjut.
- Penggunaan Bahan Aktif seperti Retinol: Retinol membantu merangsang fibroblas sehingga kecepatan produksi kolagen sedikit meningkat. Namun karena berpotensi menimbulkan iritasi, sebaiknya mulai dengan jumlah sedikit terlebih dahulu.
- Tidur yang Cukup: Saat tidur, berbagai proses fisiologis yang berkaitan dengan pemulihan kulit diketahui menjadi lebih aktif, sehingga kurang tidur yang berkelanjutan bisa memperlambat kecepatan pemulihan kulit itu sendiri.
- Menghindari Pijatan atau Tekanan Berlebihan: Gesekan kuat yang dilakukan berulang kali diketahui dapat membebani serat elastin yang sudah melemah, sehingga sebaiknya kulit diperlakukan dengan lebih lembut.
Perawatan semacam ini membantu memperlambat laju penurunan elastisitas, tetapi tidak bisa mengisi kembali volume yang sudah berkurang. Karena itu, memahami perawatan elastisitas dan perawatan volume sebagai dua peran yang berbeda, lalu mengombinasikan keduanya sesuai kebutuhan, adalah cara paling realistis untuk menghadapi perubahan wajah di usia 40-an.
References
Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Penyebab Kulit Kepala Berminyak: Mengapa Lebih Cepat Mengilap daripada Wajah?
Kulit kepala punya lebih banyak kelenjar minyak dibanding wajah sehingga lebih cepat terlihat mengilap. Artikel ini membahas bagaimana hormon androgen dan kerja enzim mengatur produksi minyak, serta cara bahan seperti salicylic acid dan niacinamide masing-masing menangani masalah tersebut. Kebiasaan keramas dan perawatan di klinik juga dibahas.
By Dr. Lee

Kapan Efek Rejuran Muncul? Jumlah Sesi dan Jarak Antarsesi
Rejuran adalah prosedur yang menyuntikkan fragmen DNA dari salmon ke kulit, bukan untuk mengisi volume, melainkan untuk merangsang sinyal regenerasi itu sendiri. Artikel ini menjelaskan mengapa kandungan ini bisa memicu pembentukan kolagen baru, apa perbedaan tujuannya dengan filler, dan mengapa jumlah sesi serta jaraknya diatur seperti itu.
By Dr. Kim

Prime Raise Focus: Efek Lifting Tiga Panjang Gelombang dan Perawatan Setelah Prosedur
Prime Raise Focus adalah laser yang memadukan tiga panjang gelombang, 810, 940, dan 1060 nanometer, dalam satu alat untuk merangsang target berbeda di dalam kulit secara bersamaan. Karena setiap panjang gelombang diserap oleh jaringan yang berbeda, artikel ini menjelaskan mengapa efek lifting, pengencangan, dan perbaikan tekstur kulit bisa muncul sekaligus dalam satu kali perawatan.
By Dr. Kim