prettytime
Acne

Disangka Komedo di Dahi, Ternyata Hiperplasia Kelenjar Sebasea, Apa Bedanya dengan Jerawat dan Cara Menghilangkannya?

By Dr. Kim7 min read

Saat mengamati dahi atau pelipis dari dekat di depan cermin, kadang teraba bintik-bintik kecil kekuningan yang bertekstur kasar, mirip biji-bijian halus. Dipencet pun tidak keluar apa-apa, dan meski sudah diolesi salep selama 2 hingga 4 minggu, benjolan itu tetap saja ada.

Banyak orang mengira ini jerawat, padahal sering kali benjolan tersebut adalah hiperplasia kelenjar sebasea, kondisi ketika kelenjar sebasea membesar dengan sendirinya. Berikut penjelasan mengapa benjolan ini muncul di lokasi dan bentuk tertentu, bagaimana membedakannya dari jerawat, dan cara menghilangkannya.

Sebenarnya, Apa Tugas Kelenjar Sebasea?

Di dalam kulit, setiap folikel rambut tempat tumbuhnya rambut memiliki kelenjar kecil yang disebut kelenjar sebasea. Kelenjar ini memproduksi sebum, yaitu minyak alami kulit, lalu mengeluarkannya ke permukaan kulit lewat folikel rambut. Bisa dibilang, kelenjar ini seperti pabrik pelumas mini yang melapisi kulit dengan minyak agar kelembapan tetap terjaga dan kulit tidak mudah pecah-pecah.

Area seperti dahi, hidung, dan pipi, yang memiliki kelenjar sebasea paling banyak dan besar, biasa disebut zona-T, dan hiperplasia kelenjar sebasea pun paling sering muncul di area ini.

Berkat sebum ini pula, wajah tidak terasa terlalu kencang setelah cuci muka. Sebaliknya, area yang minim produksi sebum lebih mudah pecah-pecah saat musim dingin. Ini menunjukkan betapa rajinnya kelenjar sebasea bekerja diam-diam setiap hari.

Mengapa Kelenjar Sebasea yang Membesar Membentuk Benjolan?

Sama seperti sel lain, sel-sel kelenjar sebasea yang sudah tua akan digantikan sel baru secara alami. Namun seiring bertambahnya usia, proses pergantian ini melambat, dan di sekitar satu kelenjar sebasea bisa tumbuh beberapa lobulus tambahan, yaitu kantung-kantung kecil yang menggerombol mirip buah anggur.

Setiap lobulus membesar seperti balon dan jumlahnya pun bertambah, sehingga teraba sebagai benjolan kuning yang menonjol di permukaan kulit. Karena perubahan ini adalah pertambahan jumlah jaringan kelenjar itu sendiri, kondisi ini disebut hiperplasia, dan sifatnya jinak, tidak berkaitan dengan kanker.

Bayangkan bedanya meniup satu balon dengan meniup beberapa balon yang diikat jadi satu. Semakin banyak lobulus yang tumbuh, semakin tebal pula ikatan balonnya, sehingga benjolan makin terlihat jelas. Itulah sebabnya benjolan yang awalnya kecil bisa terasa lebih besar setelah 5 hingga 10 tahun.

Kenapa Bagian Tengahnya Ada Cekungan?

Kalau diamati lebih teliti, ada cekungan kecil tepat di tengah benjolan. Titik ini adalah lokasi saluran keluarnya sebum, yaitu muara folikel rambut yang asli.

Lobulus-lobulus kelenjar sebasea membesar mengelilingi saluran ini, tumbuh menyerupai bentuk donat dan menyisakan lubang di tengah, sehingga bagian tengahnya terlihat lebih rendah dibanding sekelilingnya. Cekungan di tengah ini menjadi salah satu tanda paling khas untuk mengenali hiperplasia kelenjar sebasea.

Prinsipnya mirip beberapa sedotan yang diikat jadi satu, lubang di tengah tetap ada sementara bagian pinggirnya menebal. Karena itu, kalau ditekan pelan dengan ujung jari, akan terasa pinggirnya menonjol sementara bagian tengahnya sedikit cekung, dan pola ini sering terlihat jelas dengan mata telanjang di bawah pencahayaan yang terang, tanpa perlu kaca pembesar.

Apa Bedanya dengan Jerawat?

Papul jerawat juga teraba kecil dan menonjol, sehingga keduanya sering tertukar. Namun penyebabnya sudah berbeda sejak awal. Jerawat terjadi karena folikel rambut tersumbat dan bakteri penyebab peradangan berkembang biak hingga muncul kemerahan dan bengkak, sedangkan hiperplasia kelenjar sebasea adalah pembesaran kelenjar itu sendiri tanpa peradangan. Ada 3 ciri yang bisa dipakai untuk membedakan keduanya.

  • Warna dan kemerahan: Jerawat memerah dan membengkak karena peradangan, sedangkan hiperplasia kelenjar sebasea berwarna kuning atau seperti warna aprikot dan jarang memerah. Ada tidaknya peradangan inilah yang menentukan warnanya.
  • Bentuk bagian tengah: Jerawat memiliki bagian tengah yang menonjol atau berujung runcing berisi nanah, sedangkan hiperplasia kelenjar sebasea justru memiliki cekungan di tengah. Perbedaan ini muncul karena struktur pertumbuhannya yang mengelilingi saluran folikel.
  • Saat dipencet: Jerawat akan mengeluarkan sebum atau nanah saat dipencet, sedangkan hiperplasia kelenjar sebasea tidak mengeluarkan apa pun meski dipencet. Sebab bukan cairan yang tertimbun di dalamnya, melainkan jaringan kelenjar itu sendiri yang membesar, jadi memang tidak ada yang bisa dikeluarkan.

Cukup dengan memperhatikan 3 ciri ini, kedua kondisi bisa dibedakan tanpa kesulitan. Misalnya, kalau dikira jerawat tapi ditunggu 1 hingga 2 minggu kemerahannya tidak juga mereda, dan tidak keluar apa-apa saat dipencet, kemungkinan besar itu lebih mengarah ke hiperplasia kelenjar sebasea daripada jerawat.

Mengapa Sering Muncul pada Usia Paruh Baya dan Kulit Berminyak?

Hiperplasia kelenjar sebasea umumnya muncul setelah usia 40 tahun, terutama pada kulit yang sejak awal memang berminyak. Ini terjadi karena seiring bertambahnya usia, respons kelenjar sebasea terhadap hormon androgen berubah, dan laju pergantian sel dari sel lama ke sel baru juga melambat.

Ada juga laporan bahwa kondisi ini lebih sering terjadi pada kulit yang lama terpapar sinar matahari dan pada orang yang mengonsumsi obat imunosupresan dalam jangka panjang. Karena ada kecenderungan diturunkan dalam keluarga, akan lebih baik untuk lebih memperhatikan kondisi kulit jika orang tua atau saudara kandung juga mengalami hal serupa.

Sederhananya, saat masih muda, sel-sel lama cepat digantikan sel baru sehingga area itu tetap rapi. Namun semakin bertambah usia, proses pembersihan ini melambat sehingga lobulus-lobulus lama terus menumpuk di tempatnya. Itulah sebabnya benjolan ini jauh lebih sering terlihat di wajah orang berusia 40-an ke atas dibanding usia 20-an.

Kalau Muncul Banyak Sekaligus, Apakah Itu Tanda Lain?

Sebagian besar kasus hiperplasia kelenjar sebasea tidak perlu dikhawatirkan. Ini adalah perubahan umum yang muncul seiring usia, biasanya hanya 1 hingga 2 buah di wajah, paling banyak sekitar 5 hingga 10 buah.

Namun dalam kasus yang sangat jarang, tumor kelenjar sebasea bisa muncul dalam jumlah sangat banyak sekaligus di wajah dan badan pada usia muda. Pola seperti ini dilaporkan bisa berkaitan dengan Sindrom Muir-Torre, sebuah kondisi genetik. Sindrom ini diketahui juga meningkatkan risiko kanker organ lain, seperti kanker usus besar atau kanker endometrium, sehingga jika ada riwayat keluarga dan lesi kelenjar sebasea muncul dalam jumlah tidak wajar banyak, sebaiknya diperiksakan ke dokter kulit untuk memastikan. Tentu saja kasus seperti ini sangat jarang terjadi, dan pada umumnya perubahan ini hanya dipengaruhi oleh usia dan jenis kulit, jadi tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Cara Menghilangkannya dengan Elektrokauter

Karena hiperplasia kelenjar sebasea umumnya adalah perubahan jinak yang tidak berbahaya bagi kesehatan, sebenarnya tidak wajib dihilangkan. Namun jika mengganggu secara estetika, benjolan ini bisa diangkat dengan elektrokauter, yaitu prosedur yang membakar jaringan menggunakan arus listrik.

Caranya adalah dengan mengalirkan arus frekuensi tinggi melalui elektroda tipis untuk menghasilkan panas, lalu panas tersebut membakar dan mengoagulasi jaringan lobulus kelenjar sebasea yang membesar. Dengan membakar area di sekeliling saluran secara dangkal, lobulus yang tadinya menggembung akan mengempis dan benjolan pun menjadi rata.

Bayangkan seperti mengempiskan balon, tetapi dengan panas, bukan jarum. Karena prosedurnya bukan menusuk melainkan "memasak" dan mengeraskan sel-sel lobulus, jaringan mengecil dengan tenang tanpa luka yang meradang atau berdarah.

Prinsip yang sama juga berlaku pada perangkat laser, seperti laser CO2 atau laser Er:YAG, yang membakar atau mengikis jaringan secara presisi. Jika jumlah benjolan banyak dan tersebar luas, terkadang digunakan isotretinoin dosis rendah, obat minum turunan vitamin A yang bekerja mengecilkan kelenjar sebasea itu sendiri.

Segera setelah prosedur, akan terbentuk keropeng kecil di area yang dibakar, yang biasanya lepas dengan sendirinya dalam 5 hingga 7 hari dan menyingkap kulit baru yang halus di bawahnya. Karena jaringan lobulus yang sudah dibakar tidak akan tumbuh kembali di tempat yang sama, kemunculan benjolan yang sama persis di lokasi itu jarang terjadi.

Mengapa Sering Kambuh dan Cara Merawatnya

Area yang sudah dibersihkan dengan elektrokauter atau laser umumnya tetap bersih, tetapi masalahnya, benjolan baru cenderung muncul di lokasi lain. Sebab prosedur ini hanya menghilangkan lobulus yang sudah membesar, bukan mengubah kecenderungan tubuh yang membuat kelenjar sebasea membesar lagi.

Penyebab dasarnya, seperti kulit berminyak, paparan sinar matahari, dan perubahan hormon akibat usia, tetap ada, sehingga benjolan serupa bisa muncul lagi di area lain seiring waktu. Karena itu, lebih realistis untuk melihatnya bukan sebagai prosedur sekali selesai, melainkan sebagai perawatan berkala setiap 2 hingga 3 tahun untuk membersihkan benjolan baru yang muncul satu per satu.

Misalnya, meski benjolan di dahi sudah dihilangkan dengan bersih, itu tidak menjamin benjolan baru tidak akan muncul di pelipis atau pipi. Mirip seperti mencabut satu rumput liar tidak mencegah rumput liar lain tumbuh di sebelahnya, karena kondisi dasar tubuh tetap sama.

  • Alasan perlu memakai tabir surya: Ada laporan bahwa paparan sinar matahari meningkatkan risiko hiperplasia kelenjar sebasea, jadi penggunaan tabir surya secara rutin membantu mengurangi kemunculan benjolan baru.
  • Alasan tidak boleh memencetnya dengan paksa: Selain memang tidak ada yang keluar saat dipencet, memaksakan pengeluaran hanya akan meninggalkan luka dan bekas pada kulit.
  • Alasan perlu periksa ke dokter jika jumlahnya tiba-tiba bertambah: Dalam kasus langka, kondisi ini bisa mirip dengan lesi kulit lain, jadi jika muncul banyak benjolan baru dalam waktu singkat atau bentuknya tampak tidak biasa, sebaiknya diperiksakan ke dokter kulit untuk memastikan.

Jadi, hiperplasia kelenjar sebasea bukanlah kondisi yang harus buru-buru dihilangkan, melainkan cukup dikenali dan dibedakan dengan baik dari jerawat, lalu diatasi hanya pada area yang benar-benar mengganggu bila diperlukan.

References

Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Kenapa Bintik Merah Cherry Angioma Muncul, dan Pilih Laser Vaskular atau Elektrokauter agar Hilang Tanpa Bekas?

Apa sebenarnya bintik merah cerah yang muncul di dada atau punggung, cherry angioma ini, kenapa jumlahnya bertambah seiring usia, bagaimana membedakannya dari tahi lalat, kutil, atau purpura, lalu antara laser vaskular seperti pulsed dye, KTP, dan long pulse Nd:YAG dengan elektrokauter, mana yang paling tepat untuk menghilangkannya serta cara mengurangi risiko bekas luka dan hiperpigmentasi, sampai kapan harus periksa ke dokter, semuanya dirangkum dengan mudah lewat data penelitian nyata.

By Dr. Kim

Back to articles