prettytime
Acne

Benjolan di Bawah Kulit yang Beda dari Jerawat, Kista Epidermal dan Kenapa Harus Diangkat sampai ke Akarnya

By Dr. Lee8 min read

Ada kalanya muncul benjolan sebesar kacang di dagu, leher, atau punggung, yang tidak kunjung hilang meski sudah dipencet berulang kali. Kalau ditekan pelan, teksturnya bulat dan agak kenyal, dan kadang terlihat lubang kecil sekali tepat di tengahnya. Dikira jerawat lalu dipencet habis-habisan, tapi 2 sampai 4 minggu kemudian benjolan yang sama muncul lagi persis di tempat yang sama.

Benjolan seperti ini kemungkinan besar bukan jerawat, melainkan kista epidermal. Kista epidermal terbentuk saat sel-sel yang biasanya ada di permukaan kulit masuk ke bagian dalam kulit dan membentuk kantung kecil, lalu di dalamnya terus menumpuk keratin (serpihan kulit mati) sehingga perlahan membesar menjadi benjolan jinak. Seperti jerawat, isinya memang bisa dipencet keluar, tapi selama kantungnya sendiri masih ada, benjolan ini akan terisi lagi seiring waktu. Berikut penjelasannya satu per satu.

Kenapa Kista Epidermal Bisa Terbentuk?

Kulit tersusun dari beberapa lapisan, dimulai dari epidermis di luar lalu dermis di dalamnya. Sel epidermis seharusnya hanya tumbuh ke arah luar kulit, tapi kalau muara folikel rambut tertekan atau tersumbat akibat luka kecil atau gesekan, sebagian sel ini kehilangan arah dan malah terdorong masuk ke sisi dermis.

Sel epidermis yang terdorong masuk ini tetap menjalankan tugasnya seperti biasa dan terus memproduksi keratin. Sel-sel tersebut lalu membentuk dinding melingkar hingga menjadi struktur seperti kantung, yang disebut dinding kista. Sel di bagian dalam dinding kista terus-menerus menghasilkan keratin, mirip kantong plastik tertutup yang terus diisi tepung dari dalam, dan karena keratin itu tidak bisa keluar, kista pun perlahan menggembung.

Penyebab tertekannya muara folikel rambut bisa bermacam-macam. Bekas luka jerawat yang sudah sembuh, tindik yang menembus kulit, sampai luka kecil akibat goresan benda tajam, semuanya bisa menjadi jalan masuk bagi sel epidermis ke lapisan yang lebih dalam. Meski secara kasat mata lukanya sudah sembuh total, kalau saat itu ada beberapa sel epidermis yang tersesat dan tertinggal di sisi dermis, kista bisa terbentuk di tempat yang sama 6 bulan sampai 2 tahun kemudian.

Apa Bedanya dengan Jerawat?

Jerawat adalah peradangan pada pori-pori dan kelenjar minyak. Saat sebum tersumbat dan bakteri berkembang biak, kulit memerah dan bengkak, lalu setelah dipencet biasanya keluar sumbat putih beserta isinya dan langsung mengempis. Kista epidermal berbeda, bukan peradangan pori-pori, melainkan struktur kantung tersendiri yang terbentuk di dalam kulit.

Cara paling mudah membedakan keduanya adalah dari tekstur saat diraba dan pola kekambuhannya.

  • Jerawat, setelah dipencet dan sumbatnya keluar, biasanya kempis total dalam 3 sampai 5 hari. Kista epidermal justru terisi lagi dengan ukuran yang sama persis di tempat yang sama setelah 2 sampai 4 minggu, karena kantungnya masih utuh dan produksi keratin tidak pernah berhenti.
  • Kista epidermal sering memiliki lubang kecil sekali seperti titik hitam (pori pusat) tepat di tengah permukaannya, sisa dari saluran yang dulu terhubung ke permukaan kulit. Jerawat tidak punya lubang tetap seperti ini.
  • Jerawat umumnya berubah ukuran dalam 3 hari sampai 2 minggu, sedangkan kista epidermal biasanya membesar sangat perlahan selama 6 bulan, bahkan bisa sampai 5 tahun, karena kecepatan produksi keratin dari sel dinding kista memang lambat.
  • Kulit di sekitar jerawat sering sudah memerah bahkan sebelum dipencet dan biasanya muncul beberapa sekaligus, sementara kista epidermal umumnya tunggal, muncul satu per satu di satu tempat, dengan warna kulit sekitarnya tetap normal saat pertama kali teraba.

Apa Bedanya dengan Lipoma?

Benjolan di bawah kulit sering disebut orang awam sebagai gumpalan lemak, padahal istilah ini kerap mencampuradukkan lipoma dan kista epidermal. Keduanya sama-sama teraba sebagai benjolan, tapi cara terbentuknya sangat berbeda.

Lipoma adalah tumor jinak yang terbentuk dari kumpulan sel lemak di bawah kulit, tanpa dinding kista maupun isi keratin. Kalau ditekan, teksturnya lunak dan mudah digeser, permukaannya tidak berlubang, dan jarang meradang atau bengkak akibat infeksi. Kista epidermal sebaliknya, karena berisi keratin, terasa lebih padat dibanding lipoma, memiliki pori pusat seperti yang dijelaskan sebelumnya, dan kalau terinfeksi bakteri bisa memerah, bengkak, bahkan mengeluarkan nanah berbau.

Perbedaan ini penting karena cara pengangkatannya pun berbeda. Lipoma tidak punya dinding kista sehingga cukup diangkat gumpalan lemaknya saja, sedangkan kista epidermal harus diangkat sekaligus dengan dinding kistanya agar tidak kambuh. Sekilas keduanya memang mirip, tapi memastikan lewat USG atau pemeriksaan langsung dulu, baru memilih metode yang sesuai, adalah cara terbaik untuk menekan risiko kambuh sekaligus bekas luka.

Kenapa Terus Muncul Lagi Meski Sudah Dipencet?

Alasan kista epidermal kambuh setelah isinya dipencet keluar tapi dinding kistanya dibiarkan, sebenarnya sederhana. Yang membuat kista menggembung bukan gumpalan keratin di dalamnya, melainkan sel dinding kista yang terus-menerus memproduksi keratin itu.

Bayangkan seperti balon. Kalau hanya udaranya yang dikeluarkan tapi balonnya sendiri tidak dibuang, jalur untuk ditiup kembali masih tetap ada. Kista epidermal pun sama, kalau hanya isinya yang dipencet keluar, dinding kista sebagai jalur sekaligus pabrik produksinya masih utuh. Karena itu, seiring waktu sel dinding kista kembali memproduksi keratin dan mengisi kantungnya, lalu benjolan muncul lagi persis seperti semula.

Selain itu, kalau dinding kista sampai robek karena dipencet terlalu kasar dengan tangan, keratin justru bisa menyebar ke jaringan sekitarnya dan malah memicu peradangan. Meski ukurannya terlihat mengecil sesaat setelah dipencet, selama dinding kistanya masih utuh, itu jauh dari kata selesai secara tuntas.

Kenapa Dinding Kista Harus Diangkat Agar Tidak Kambuh?

Untuk mencegah kekambuhan, bukan hanya isinya, dinding kista itu sendiri juga harus ikut diangkat. Kalau ada satu saja sel dinding kista yang tersisa, sel itu akan berkembang biak lagi dan memproduksi keratin, sehingga akhirnya kista terbentuk lagi di tempat yang sama.

Ada beberapa metode pengangkatan yang biasa dilakukan, dan tingkat kekambuhannya berbeda-beda tergantung seberapa utuh dinding kista bisa diangkat.

  • Eksisi total dilakukan dengan menyayat kulit di sekitar kista bersama dinding kistanya secara utuh, sehingga dinding kista nyaris tidak tersisa dan kemungkinan kambuh pun rendah. Namun bekas luka bisa timbul sesuai panjang sayatan.
  • Metode sayatan minimal dilakukan dengan membuat lubang sangat kecil, lalu dinding kista dipisahkan dan dikeluarkan dengan hati-hati lewat celah tersebut. Bekas lukanya lebih minim karena sayatannya pendek, tapi kalau dinding kista robek tipis dan menyisakan bagian yang tertinggal, kemungkinan kambuh tetap ada.
  • Metode yang hanya memencet keluar isinya atau menusuknya dengan jarum untuk mengeluarkan cairan tidak menyelesaikan masalah secara tuntas, karena dinding kistanya dibiarkan utuh, sehingga seperti yang dijelaskan sebelumnya, kista akan terisi lagi seiring waktu.

Saat memilih metode, ukuran kista, lokasinya, dan ada tidaknya peradangan perlu dipertimbangkan bersama. Kalau ukurannya kecil dan tidak ada peradangan, sayatan minimal pun sudah cukup untuk memisahkan dinding kista secara utuh. Tapi kalau ukurannya besar atau sudah kambuh 3 kali atau lebih di tempat yang sama, kemungkinan dinding kista sudah melekat dengan jaringan sekitar cukup tinggi, sehingga eksisi total menjadi pilihan yang lebih aman.

Kenapa Ukurannya Beda-beda pada Tiap Orang?

Meski sama-sama kista epidermal, ada orang yang ukurannya tetap sebesar kacang selama lebih dari 5 tahun, tapi ada juga yang membesar jelas terlihat hanya dalam 6 bulan. Perbedaan ini terjadi karena kecepatan sel dinding kista memproduksi keratin berbeda-beda, baik antarorang maupun antarlokasi di tubuh yang sama.

Area yang sering mendapat tekanan cenderung membuat sel dinding kista lebih sering terstimulasi sehingga produksi keratinnya lebih aktif. Tempat yang sering tertekan tali baju atau tali tas, atau area yang punya kebiasaan sering digosok atau dipegang, umumnya membesar lebih cepat dibanding area lain. Selain itu, kalau kista pernah pecah atau mengalami infeksi, dinding kistanya justru bisa menebal selama proses pemulihan sehingga tumbuh lebih cepat setelahnya.

Kalau Sedang Meradang, Boleh Langsung Diangkat?

Kista epidermal yang tadinya tenang bisa tiba-tiba masuk fase peradangan kalau dinding kistanya pecah atau terinfeksi bakteri, ditandai dengan kemerahan, nyeri saat ditekan, dan munculnya nanah. Pada fase ini, jaringan di sekitarnya membengkak dan melunak sehingga batas dinding kista jadi sulit dibedakan secara kasat mata.

Kalau eksisi dipaksakan saat peradangan sedang parah, risikonya dinding kista tidak bisa diangkat bersih dan justru ada bagian yang tertinggal di jaringan. Karena itu, pada kondisi seperti ini biasanya disarankan untuk menyayat dan mengeluarkan nanahnya terlebih dahulu, meredakan peradangannya, baru kemudian melakukan eksisi total setelah jaringannya stabil. Perlu diingat, kalau terburu-buru ingin menyelesaikannya sekaligus, justru berisiko menyisakan sebagian dinding kista yang bisa berujung pada kekambuhan atau bekas luka.

Kapan Waktu Terbaik untuk Mengangkatnya?

Karena kista epidermal umumnya membesar dengan lambat, mengangkatnya secara terencana saat kondisinya stabil dan tidak meradang jauh lebih menguntungkan. Saat tidak ada peradangan, batas antara dinding kista dan jaringan sekitarnya lebih jelas sehingga dinding kista lebih mudah diangkat secara utuh, dan area sayatan pun bisa diminimalkan.

Sebaliknya, kalau ukurannya cepat membesar, sering meradang berulang, atau posisinya terus tertekan oleh baju atau aksesori, mengangkatnya sebelum makin membesar bisa dipertimbangkan. Sebab, semakin besar kistanya, semakin luas pula area yang perlu disayat, dan bekas lukanya pun ikut membesar.

Di Bagian Tubuh Mana Kista Ini Sering Muncul?

Kista epidermal sering muncul di area dengan banyak kelenjar minyak dan folikel rambut yang rapat, seperti wajah, leher, punggung, dan dada. Area-area ini lebih sering mendapat rangsangan pada muara folikel rambutnya, sehingga peluang sel epidermis terdorong ke sisi dermis pun ikut meningkat.

Selain itu, kista epidermal juga sering ditemukan di sekitar dagu dan leher yang sering dicukur, serta di punggung dan bahu yang sering tertekan kerah baju atau tali tas. Ada laporan yang menyebutkan bahwa rangsangan fisik yang berulang bisa menjadi salah satu penyebab kerusakan pada muara folikel rambut.

References

Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Acne

Disangka Komedo di Dahi, Ternyata Hiperplasia Kelenjar Sebasea, Apa Bedanya dengan Jerawat dan Cara Menghilangkannya?

Kalau ada bintik kuning di dahi atau pipi yang tidak hilang meski dipencet, bisa jadi itu bukan jerawat, melainkan hiperplasia kelenjar sebasea. Simak penjelasan mudah tentang bagaimana kelenjar sebasea membesar hingga membentuk benjolan dengan cekungan di tengah, perbedaannya dengan jerawat, cara menghilangkannya dengan elektrokauter, sampai kecenderungannya untuk kambuh.

By Dr. Kim

Acne

Skin tag di leher dan ketiak yang terus bertambah, ini alasannya, cara kerja laser menghilangkannya, dan tips perawatannya

Kenapa skin tag kecil terus bermunculan di area yang sering bergesekan dengan pakaian seperti leher dan ketiak? Dua penyebab utamanya, gesekan dan penuaan, dibahas tuntas. Ciri yang membedakannya dari tahi lalat, cara kerja laser dan elektrokauter menghilangkannya, sampai tips perawatan agar tidak mudah muncul lagi, semua dirangkum dengan bahasa yang mudah dipahami.

By Dr. Lee

Back to articles