prettytime
Acne

Penyebab Skin Tag dan Cara Menghilangkannya: Apakah Muncul Lagi Setelah Dilaser?

By Dr. Lee8 min read

Pernah merasakan ada benjolan kecil seperti sisa kulit saat memakai kalung atau mencukur bulu ketiak? Biasanya tidak sakit dan warnanya sama seperti kulit, jadi sering diabaikan begitu saja. Tapi lama kelamaan, yang tadinya cuma satu bisa bertambah jadi dua atau tiga.

Benjolan kecil ini disebut skin tag. Dalam istilah medis dikenal sebagai fibroma lunak (soft fibroma), yang secara harfiah berarti gumpalan jaringan serat yang menggantung lembut. Skin tag memang paling sering muncul di leher dan ketiak, dan ada alasan di baliknya. Ada juga penjelasan ilmiah kenapa skin tag benar-benar bisa hilang setelah dibakar dengan laser.

Mengapa skin tag sering muncul di leher dan ketiak?

Skin tag adalah benjolan kulit kecil yang sedikit menonjol dari permukaan. Ukurannya bervariasi, mulai dari sebutir beras sampai sebesar kacang, dan umumnya tidak terasa sakit.

Lokasi munculnya skin tag ini sebenarnya cukup konsisten. Area seperti leher, ketiak, selangkangan, dan kelopak mata, yaitu bagian tubuh yang kulitnya saling melipat atau terus bergesekan dengan kerah baju dan aksesori. Kesamaannya adalah area ini mengalami gesekan berkali-kali setiap hari.

Kalung menggesek satu garis tetap di leher bagian depan sepanjang hari, sementara ketiak bergesekan setiap kali lengan bergerak. Bagian kulit yang tertekan dan tergesek di titik yang sama setiap hari jelas menerima total rangsangan yang jauh lebih besar dibanding bagian yang jarang bergerak di dalam pakaian.

Sebaliknya, area yang datar dan jarang bergesekan dengan pakaian seperti punggung atau betis jarang ditumbuhi skin tag. Jadi, munculnya skin tag di lokasi tertentu bukan kebetulan, melainkan berkaitan langsung dengan seberapa banyak rangsangan fisik yang diterima area tersebut.

Bagaimana gesekan membentuk skin tag?

Kulit punya sifat alami untuk melindungi diri dengan menebalkan area yang sering terkena rangsangan. Ketika kalung, tali bra, atau kerah baju terus menggesek titik yang sama, sel-sel lapisan luar kulit (epidermis) terus menerima sinyal rangsangan itu.

Sinyal ini kemudian diteruskan ke dermis, lapisan kulit yang lebih dalam. Di dermis ada fibroblast, sel yang memproduksi kolagen (serat protein yang menopang struktur kulit seperti tiang). Ketika terus menerima rangsangan berulang, fibroblast ini jadi lebih aktif dan mengumpulkan pembuluh darah kecil serta serat kolagen secara lokal di satu titik. Hasilnya, muncul benjolan kecil yang menonjol di titik itu saja, itulah skin tag. Bayangkan seperti kaca pembesar yang terus menekan satu titik, area itu akan sedikit menggembung, prinsipnya kurang lebih sama.

Prosesnya mirip dengan terbentuknya kapalan di telapak tangan. Bedanya, telapak tangan itu datar sehingga sel kulit mati yang menebal menumpuk rata, sedangkan leher atau ketiak berupa lipatan sehingga jaringan yang menebal tidak bisa menyebar ke samping dan malah menonjol ke atas. Reaksi kulitnya sama, tapi hasil akhirnya berbeda tergantung area itu datar atau berlipat, bisa jadi kapalan yang rata atau skin tag yang menonjol.

Kuncinya bukan satu rangsangan kuat sekali, melainkan rangsangan ringan yang berulang setiap hari. Tekanan kuat sesekali biasanya cepat pulih, tapi rangsangan ringan yang menumpuk di titik yang sama selama 6 bulan sampai 2 tahun membuat jaringan di area itu terus terpicu untuk memproduksi sel baru, dan akhirnya mengeras menjadi benjolan kecil.

Mengapa skin tag bertambah seiring usia?

Saat masih muda, kulit lebih kencang sehingga area yang berlipat lebih sedikit, dan kolagen juga masih melimpah sehingga rangsangan tidak mudah meninggalkan bekas. Tapi seiring bertambahnya usia, produksi kolagen menurun dan elastisitas kulit berkurang, situasinya pun berubah.

Ketika kulit mulai kendur, area lipatan di leher atau ketiak jadi bertambah luas, sehingga area yang bergesekan antar kulit atau antara kulit dan pakaian juga makin besar. Semakin sering terjadi gesekan, semakin tinggi pula kemungkinan munculnya skin tag baru. Kehamilan atau kenaikan berat badan yang membuat area lipatan kulit bertambah banyak juga dilaporkan menjadi faktor pemicu skin tag lewat mekanisme yang serupa.

Kenaikan berat badan atau resistensi insulin (kondisi ketika hormon penurun gula darah tidak lagi bekerja seefektif dulu) juga dilaporkan berkaitan dengan skin tag yang lebih sering muncul. Ketika ada penumpukan lemak di sekitar leher, lipatan kulit di area itu ikut bertambah, sehingga perubahan bentuk tubuh menjadi salah satu jalur lain yang memperbesar peluang gesekan.

Itulah sebabnya skin tag dilaporkan lebih sering terlihat pada usia paruh baya ke atas dibandingkan usia 20-an. Yang tadinya cuma satu atau dua di leher saat masih muda, bisa menyebar sampai ke ketiak dan area sekitar mata seiring bertambahnya usia, karena dua perubahan ini, penurunan kolagen dan bertambahnya area lipatan, terjadi bersamaan.

Bagaimana membedakan skin tag dan tahi lalat?

Sekilas keduanya bisa terlihat mirip, tapi kalau diraba dan diperhatikan dengan teliti, perbedaannya cukup jelas. Perhatikan ciri-ciri berikut.

  • Permukaan halus dan berwarna cokelat muda hingga senada kulit: skin tag terdiri dari jaringan serat dan pembuluh darah, bukan sel penghasil pigmen, jadi jarang berwarna cokelat tua atau hitam pekat seperti tahi lalat.
  • Sedikit bergoyang saat dijepit dengan ujung jari: skin tag menggantung di kulit lewat semacam tangkai tipis, jadi kalau dipegang akan bergoyang, sementara tahi lalat menempel rata di kulit dan tidak bergoyang.
  • Ukuran dan bentuknya tetap sama dalam waktu lama: skin tag umumnya bertahan pada ukuran kecil yang sama, sedangkan tahi lalat yang batasnya jadi tidak rata atau membesar dengan cepat perlu diwaspadai sebagai tanda masalah lain.

Perbedaan ini muncul karena bahan pembentuk kedua benjolan ini memang berbeda. Tahi lalat terbentuk dari sel penghasil pigmen yang berkumpul di lapisan dalam kulit, sedangkan skin tag terbentuk dari jaringan serat dan pembuluh darah yang terdorong ke permukaan kulit. Karena itu, warna dan tekstur saat disentuh pun berbeda sejak awal.

Kalau ada benjolan yang warnanya tiba-tiba menggelap atau ukurannya berubah cepat, lebih aman untuk diperiksakan ke dokter, jangan langsung dianggap skin tag biasa.

Apakah laser CO2 bisa menghilangkan skin tag?

Metode yang paling umum digunakan di klinik untuk menghilangkan skin tag adalah laser karbon dioksida (CO2). Cahaya laser ini punya panjang gelombang yang mudah diserap oleh air dalam tubuh, sehingga saat ditembakkan ke jaringan skin tag, kandungan air di dalamnya langsung mendidih dan menguap dalam sekejap. Prinsipnya mirip seperti kaca pembesar yang memfokuskan cahaya matahari ke satu titik hingga membakar kertas, energinya dipusatkan ke area sempit sehingga jaringan yang tidak diinginkan menguap dan hilang secara tepat sasaran.

Laser Er:YAG (erbium yag) menggunakan prinsip yang mirip, tapi panjang gelombangnya membuat jaringan terkikis lebih dangkal dan lebih presisi. Karena itu, kerusakan panas pada jaringan sehat di sekitarnya lebih minim, dan masa pemulihannya dilaporkan lebih singkat, sekitar 5 sampai 7 hari. Namun, efek hemostatis yang menutup pembuluh darah saat jaringan dibakar cenderung lebih lemah dibanding laser CO2, sehingga perdarahan saat tindakan justru bisa lebih banyak dibanding laser CO2. Oleh karena itu, sebaiknya tindakan ini dilakukan oleh tenaga medis yang juga bisa menangani perdarahan sekaligus. Kedua jenis laser ini sama-sama hanya membutuhkan waktu 5 sampai 15 menit setelah krim anestesi dioleskan.

Skin tag sering muncul di area dengan jaringan tipis seperti leher, sehingga jika laser masuk sedikit lebih dalam saja, ada risiko ikut membakar kulit sehat di bawahnya. Karena itu, penting bagi tenaga medis berpengalaman untuk mengatur kekuatan dan durasi paparan laser secara presisi sesuai ukuran skin tag.

Elektrokauter untuk skin tag yang banyak

Kauter listrik menggunakan energi listrik, bukan cahaya. Arus frekuensi tinggi dialirkan lewat ujung jarum tipis untuk menghasilkan panas di titik tersebut, dan panas itulah yang menggumpalkan protein sekaligus membakar jaringan skin tag. Kalau laser mengubah energi cahaya menjadi panas, kauter listrik langsung memanfaatkan panas yang dihasilkan dari hambatan listrik, itu perbedaannya.

Ketika ada banyak skin tag kecil dan dangkal yang berkumpul di satu area, kauter listrik dilaporkan lebih sering dipilih karena bisa menangani banyak titik sekaligus dalam waktu singkat.

Misalnya, kalau di ketiak ada lebih dari sepuluh skin tag kecil sebesar biji sesawi yang berkumpul rapat, membakarnya satu per satu dengan jarum kauter listrik secara berurutan biasanya lebih hemat waktu dan mengurangi rasa tidak nyaman dibanding menggunakan laser satu per satu.

Apakah skin tag muncul lagi setelah dihilangkan?

Laser dan kauter listrik menghilangkan jaringan skin tag yang sudah terlihat saat ini. Tapi tindakan ini tidak menghilangkan penyebab dasarnya, yaitu gesekan berulang dan penurunan elastisitas kulit seiring usia.

Jadi kalau setelah tindakan kebiasaan hidup masih sama, misalnya kalung atau kerah baju terus menggesek titik yang sama, skin tag baru bisa saja muncul lagi di area yang sama atau sekitarnya. Misalnya, meskipun lima atau enam skin tag di leher sudah dibersihkan sekaligus, kalau kerah kemeja masih menggesek titik yang sama, tidak jarang benjolan kecil baru mulai teraba lagi di sekitar area itu dalam 6 sampai 12 bulan berikutnya. Ini bukan berarti skin tag yang sudah dihilangkan tumbuh lagi, melainkan lebih tepat disebut skin tag baru yang terbentuk karena kondisi gesekannya masih sama seperti sebelumnya.

Cara merawat setelah skin tag dihilangkan

Untuk mengurangi kemunculan skin tag baru, perlu juga dibarengi dengan mengurangi gesekan yang jadi penyebab utamanya.

  • Memilih pakaian, kalung, atau syal yang longgar bisa membantu mengurangi gesekan. Semakin berkurang rangsangan berulang di titik yang sama, semakin kecil peluang munculnya skin tag baru. Cukup dengan memakai kalung lebih longgar daripada menggantungnya rapat, atau mengganti bra yang menjepit ketiak dengan bahan yang lebih lebar dan lembut, rangsangan di area itu sudah bisa berkurang secara nyata.
  • Sebaiknya oleskan tabir surya pada area yang baru ditindak untuk melindunginya. Area yang baru saja ditindak lebih rentan mengalami hiperpigmentasi (kondisi ketika area itu meninggalkan bekas kecokelatan dalam waktu lama), dan kalau terpapar sinar matahari, bekasnya bisa bertahan lebih lama lagi.
  • Hindari mencoba mencabut sendiri dengan tangan atau mengikatnya dengan benang. Melepaskan skin tag dengan cara yang tidak steril bisa menyebabkan perdarahan atau infeksi, jadi meskipun ukurannya kecil, lebih aman ditangani di klinik atau rumah sakit.

References

Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Acne

Jerawat Akibat Masker: Penyebab dan Cara Merawat, Kenapa Muncul di Dagu dan Pipi?

Banyak orang merasa jerawat di area dagu dan pipi bertambah setelah lama memakai masker. Penyebabnya adalah kombinasi gesekan, kelembapan tinggi, dan penyumbatan pori yang bersama-sama membuat skin barrier melemah dan peradangan lebih mudah muncul. Berikut penjelasan mengapa hal ini terjadi dan cara merawatnya, disusun berdasarkan prinsip dasarnya.

By Dr. Kim

Skincare

Cherry angioma: penyebab, gejala, terapi laser, dan kapan harus periksa

Apa sebenarnya bintik merah cerah yang muncul di dada atau punggung, cherry angioma ini, kenapa jumlahnya bertambah seiring usia, bagaimana membedakannya dari tahi lalat, kutil, atau purpura, lalu antara laser vaskular seperti pulsed dye, KTP, dan long pulse Nd:YAG dengan elektrokauter, mana yang paling tepat untuk menghilangkannya serta cara mengurangi risiko bekas luka dan hiperpigmentasi, sampai kapan harus periksa ke dokter, semuanya dirangkum dengan mudah lewat data penelitian nyata.

By Dr. Kim

Back to articles