prettytime
Acne

Kenapa Pori yang Sudah Melebar Tidak Bisa Mengecil Sendiri, Bahkan Setelah Rutin Dirawat?

By Dr. Kim6 min read

Coba dekatkan cermin ke wajah, pasti ada hari-hari tertentu ketika pori di sekitar hidung atau pipi terlihat jauh lebih besar dari biasanya. Sudah dandan serapi apa pun, bagian itu tetap terlihat menonjol, apalagi kalau kena cahaya langsung, jadi seperti titik-titik bayangan kecil di kulit. Banyak orang percaya kalau pori dirawat dengan baik, ukurannya akan mengecil lagi. Padahal kenyataannya, pori yang sudah melebar jarang sekali menyusut dengan sendirinya.

Ada alasan yang jelas di balik pelebaran pori ini. Ada gaya dorong dari dalam dan gaya tahan dari luar, dan begitu keseimbangan keduanya terganggu, pori pun melebar. Berikut penjelasan bertahap tentang kenapa hal ini bisa terjadi, dan kenapa pori tidak mudah kembali ke ukuran semula dengan sendirinya.

Sebenarnya, Apa Fungsi Pori?

Pori bukan sekadar lubang di kulit, melainkan saluran yang menghubungkan folikel rambut dengan kelenjar sebum penghasil minyak. Minyak yang diproduksi kelenjar sebum harus naik lewat saluran ini ke permukaan kulit, supaya kulit tetap lembap dan tidak kering.

Masalahnya, lebar saluran ini tidak selalu sama. Kalau tumpukan di dalamnya makin banyak, atau dinding saluran kehilangan kekuatan untuk menopang, mulut saluran akan melebar dan pori pun jadi lebih terlihat. Jadi pelebaran pori bukan berarti muncul saluran baru, melainkan saluran yang sudah ada sejak awal melebar karena berbagai sebab.

Kenapa Sebum Mendorong Pori dari Dalam?

Ukuran dan aktivitas kelenjar sebum berbeda-beda di tiap area wajah. Semakin besar dan banyak kelenjar sebumnya, seperti di hidung, dahi, dan pipi, semakin jelas pula pori terlihat. Ini karena semakin aktif kelenjar sebum memproduksi minyak, semakin banyak pula yang harus ditampung di dalam saluran.

Ibarat balon yang ditiup, dindingnya meregang seiring bertambahnya udara di dalam. Begitu juga folikel yang penuh sebum, tekanan dari dalam membuat dinding salurannya perlahan meregang. Ditambah lagi kalau sel kulit mati tidak terkelupas tepat waktu dan ikut menumpuk di dalam saluran, campuran sebum dan sel kulit mati ini akan membentuk gumpalan yang membuat tekanan di dalam semakin besar.

Saluran yang sudah meregang seperti ini tidak langsung kembali ke ukuran semula meski produksi sebum berkurang. Jaringan dinding yang sudah teregang cenderung mempertahankan bentuknya, jadi hanya dengan mengurangi produksi minyak saja, pori tidak akan mengecil secara signifikan.

Kenapa Kekencangan Kulit yang Menurun Bisa Memperbesar Pori?

Di sekitar dinding pori, ada jaringan serat kolagen dan elastin yang saling terjalin seperti jaring, berfungsi menahan saluran tetap kencang. Kalau kolagen diibaratkan tiang penyangga kulit, elastin lebih seperti karet gelang yang mengikat antar tiang tersebut. Selama tiang dan karet gelang ini kuat, saluran pori akan tetap sempit.

Namun seiring bertambahnya usia atau paparan sinar UV yang terus-menerus, aktivitas MMP (matrix metalloproteinase, semacam gunting yang memotong-motong kolagen) meningkat, sementara kemampuan tubuh membentuk kolagen baru justru menurun. Kalau tiang penyangga perlahan berkurang dan karet gelangnya kehilangan elastisitas, kekuatan yang menahan dinding pori pun melemah, hingga akhirnya gravitasi dan bobot kulit itu sendiri membuat pori melebar seperti melorot ke bawah.

Proses ini berbeda dari pelebaran akibat kelebihan sebum. Pori tipe sebum muncul karena tekanan dari dalam yang mendorong, sedangkan pori tipe kehilangan elastisitas muncul karena kekuatan yang menahan dari luar melemah. Pada kenyataannya, kedua faktor ini sering bekerja bersamaan. Di usia muda sebum lebih dominan, lalu seiring bertambahnya usia, penurunan elastisitas ikut menambah masalah sehingga pori terlihat makin jelas.

Kenapa Pori Tidak Bisa Mengecil dengan Sendirinya?

Banyak orang bertanya-tanya, kalau memar atau luka bisa pulih sendiri seiring waktu, kenapa pori tidak begitu juga? Jawabannya karena pelebaran pori bukan kerusakan akut, melainkan perubahan struktur yang berlangsung perlahan dan kronis.

  • Begitu serat kolagen di dinding saluran putus atau menipis, kecepatan tubuh mengganti dengan serat baru sangat lambat, sebab sinyal pemulihan cepat seperti pada luka tidak ikut aktif di sini.
  • Ukuran kelenjar sebum yang sudah membesar juga tidak mudah mengecil kembali. Meski produksi sebum ditekan lewat perawatan, ukuran fisik kelenjar yang sudah membesar butuh waktu lama untuk kembali normal.
  • Kalau paparan UV terus berulang atau proses penuaan terus berjalan, aktivitas MMP justru cenderung tetap tinggi atau bahkan meningkat, sehingga kerusakan terus mendahului proses pemulihan.

Karena alasan-alasan ini, perawatan sehari-hari seperti cuci muka atau produk pengencang pori umumnya sulit mengembalikan struktur fisik saluran yang sudah melebar. Meski begitu, kontrol produksi sebum dan pemakaian tabir surya secara konsisten diketahui bisa membantu memperlambat laju pelebaran pori.

Perawatan dan Prosedur Medis, Apa Bedanya Sasarannya?

Perawatan sehari-hari dan prosedur medis menyasar titik yang berbeda. Perawatan umumnya fokus mengendalikan sebum dan sel kulit mati, yaitu gaya dorong dari dalam, sementara prosedur medis lebih sering fokus membangun kembali kolagen dan elastin, yaitu gaya tahan dari luar.

  • Kandungan seperti salicylic acid atau retinoid dikenal membantu sel kulit mati yang menumpuk di dalam saluran pori agar lebih mudah terkelupas, sehingga mengurangi tekanan dorongan dari dalam.
  • Kandungan pengontrol produksi sebum dan perubahan gaya hidup berfungsi mengurangi bahan baku yang mengisi saluran itu sendiri.
  • Prosedur RF (radiofrekuensi, teknologi yang menghantarkan panas ke lapisan dalam kulit lewat energi listrik) atau microneedling dilaporkan bekerja dengan merangsang lapisan dermis agar memproduksi kolagen baru, sehingga pendekatan ini lebih ditujukan untuk pori tipe kehilangan elastisitas.
  • Prosedur laser bekerja dengan memberikan kerusakan terkontrol pada epidermis dan sebagian dermis, memicu proses regenerasi yang mengisi kembali kolagen, sehingga sering dipertimbangkan untuk kasus campuran antara tipe sebum dan tipe kehilangan elastisitas.

Apa pun metodenya, perubahan yang terlihat baru muncul setelah kolagen baru terbentuk mengisi jaringan dinding saluran yang sudah melebar. Karena itu, hasilnya bukan efek instan, melainkan bertahap, biasanya mulai terlihat 4 minggu sampai 12 minggu setelah prosedur, dan bisa terus membaik sampai 6 bulan.

Kenapa Tampilan Pori Bisa Berbeda di Tiap Area Wajah?

Dalam satu wajah pun, pori di hidung sering terlihat lebih besar dibanding di pipi. Ini karena kepadatan dan ukuran kelenjar sebum, serta ketebalan jaringan kolagen penopang kulit, berbeda di tiap area. Area sekitar hidung memang punya kelenjar sebum yang besar dan padat sejak awal, sehingga pori tipe sebum lebih menonjol di sana. Sementara di pipi atau area sekitar mata, pori tipe kehilangan elastisitas cenderung muncul lebih dulu seiring bertambahnya usia.

Karena perbedaan per area ini, banyak yang berpendapat pendekatan perawatan sebaiknya dibedakan sesuai penyebabnya, bukan disamaratakan untuk seluruh wajah. Kalau hidung lebih fokus pada kontrol sebum, sementara pipi dan area mata lebih fokus pada membangun elastisitas kulit, arah perawatan jadi lebih mudah ditentukan.

Kalau dirangkum dalam satu kalimat, pori yang terlihat besar adalah hasil dari dua hal yang terjadi bersamaan, yaitu sebum dan sel kulit mati yang mendorong dari dalam, serta kolagen dan elastin yang kehilangan kekuatan untuk menahan dari luar. Daripada terpaku pada satu penyebab saja, memahaminya sebagai gambaran besar tentang keseimbangan dua gaya ini akan membuat lebih mudah mengerti kenapa perawatan saja punya batasan, dan kenapa prosedur medis lebih menyasar pembentukan kolagen.

References

Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Back to articles