prettytime
Acne

Kenapa Sih Jerawat Bisa Muncul? Memahami Peran Minyak, Sel Kulit Mati, dan Bakteri di Dalam Pori

By Dr. Kim6 min read

Saat bercermin dan tiba-tiba menemukan jerawat baru di dagu atau dahi, kebanyakan orang langsung merasa kesal. Kemarin kulit masih baik-baik saja, kok tiba-tiba muncul jerawat, dan sulit menemukan alasannya. Padahal, jerawat tidak terbentuk dalam semalam. Di dalam pori, ada rangkaian perubahan yang berlangsung selama 2 hingga 8 minggu, bertumpuk tahap demi tahap, dan yang kita lihat di permukaan kulit hanyalah hasil akhirnya.

Inti dari perubahan ini ada empat hal: produksi minyak yang berlebihan, sel kulit mati yang menumpuk karena tidak keluar tepat waktu, bakteri penyebab jerawat yang berkembang biak di dalamnya, dan peradangan yang muncul sebagai akibatnya. Mari kita bahas satu per satu kenapa keempat hal ini saling berkaitan dan peran masing-masing di dalam pori kulit.

Kenapa Minyak Kulit Bisa Diproduksi Berlebihan?

Sebum atau minyak kulit sebenarnya adalah pelindung alami kulit. Ia membentuk lapisan tipis di permukaan kulit yang mencegah kelembapan menguap dan melindungi kulit dari gangguan luar. Masalahnya, kelenjar sebasea yang memproduksi minyak ini sangat sensitif terhadap sinyal tertentu.

Salah satu sinyal utamanya adalah androgen, hormon yang termasuk golongan hormon pria. Androgen diproduksi di tubuh pria maupun wanita, dan ketika hormon ini menempel pada reseptor di kelenjar sebasea, kelenjar tersebut membesar dan produksi minyak pun meningkat. Inilah alasan jerawat sering meledak saat pubertas, dan kenapa jerawat di area dagu bisa naik turun mengikuti siklus menstruasi. Begitu keseimbangan hormon di dalam tubuh bergeser, kelenjar sebasea langsung bereaksi.

Bukan cuma jumlah minyaknya yang bertambah, tapi karakternya juga ikut berubah. Komposisi asam lemak di dalam sebum bergeser, membuat minyak jadi lebih lengket dan lebih gampang teroksidasi. Minyak yang lengket inilah bahan pertama yang mulai menyumbat mulut pori.

Bagaimana Sel Kulit Mati Menyumbat Pori?

Kulit terus-menerus melepaskan sel kulit mati dan menggantinya dengan sel baru. Dalam kondisi normal, sel kulit mati ini pecah jadi serpihan kecil dan keluar dari pori dengan sendirinya.

Tapi pada kulit yang mudah berjerawat, proses ini bermasalah. Sel kulit mati yang melapisi dinding bagian dalam pori jadi saling menempel terlalu erat, sehingga tidak pecah jadi serpihan, melainkan menumpuk jadi gumpalan. Kondisi ini disebut hiperkeratinisasi folikel, atau sederhananya, sel kulit mati menumpuk di dalam pori seperti gumpalan rambut yang menyumbat saluran air.

Ditambah lagi dengan minyak berlebih yang sudah dibahas tadi, keadaan jadi makin buruk. Minyak yang lengket membuat serpihan sel kulit mati saling menggumpal dan menyumbat mulut pori dengan rapat. Pori yang tersumbat seperti ini disebut komedo. Kalau terlihat putih di permukaan kulit, itu komedo putih (whitehead), dan kalau mulutnya terbuka lalu teroksidasi hingga menghitam, itu komedo hitam (blackhead).

Kenapa Bakteri Jerawat Bisa Memicu Peradangan?

Ketika pori tersumbat, bagian dalamnya jadi ruang tertutup yang nyaris tidak kemasukan oksigen. Lingkungan seperti ini sangat disukai oleh bakteri penyebab jerawat, yang secara ilmiah disebut Cutibacterium acnes.

Bakteri ini sebenarnya sudah selalu ada di kulit sehat sekalipun. Dalam kondisi biasa, ia tidak menimbulkan masalah apa-apa. Tapi begitu berada di pori yang tersumbat, minim oksigen, dan penuh minyak sebagai "makanan", ceritanya jadi lain. Bertemu makanan dan lingkungan yang cocok, bakteri jerawat ini langsung berkembang biak dengan cepat.

Masalahnya ada pada zat yang dihasilkan saat bakteri ini bertambah banyak. Bakteri tersebut memecah minyak dan mengeluarkan asam lemak yang mengiritasi kulit, sekaligus melepaskan zat sinyal yang memanggil sel imun tubuh kita. Bagi sel imun, lonjakan jumlah bakteri yang tidak wajar ini otomatis dianggap ancaman, jadi wajar saja kalau mereka berbondong-bondong menuju area tersebut. Respons imun inilah yang akhirnya terlihat sebagai jerawat merah dan bengkak, alias peradangan.

Bagaimana Komedo Putih Bisa Berubah Jadi Jerawat Meradang?

Pada tahap komedo, pori yang tersumbat belum terasa merah atau nyeri. Sebab pada tahap ini minyak dan sel kulit mati baru sekadar menumpuk, dan respons peradangan belum benar-benar mulai.

Masalahnya, kalau bakteri jerawat terus berkembang biak di dalam pori yang tersumbat, dinding pori jadi meregang dan menerima tekanan yang makin besar. Seperti balon yang terus ditiup sampai bagian yang menipis akhirnya pecah, dinding pori yang tidak kuat lagi menahan tekanan bisa robek secara mikroskopis, sehingga minyak, bakteri, dan sisa sel kulit mati di dalamnya bocor ke jaringan dermis di sekitarnya.

Sejak momen inilah sel imun berdatangan besar-besaran, membuat area tersebut memerah dan bengkak, sekaligus memicu rasa nyeri sebagai bagian dari respons peradangan. Kalau peradangan berhenti di lapisan dangkal, hasilnya papula atau pustula kecil. Tapi kalau menyebar sampai lapisan yang lebih dalam, ini bisa berkembang jadi nodul atau kista yang keras dan nyeri.

Bagaimana Keempat Mekanisme Ini Saling Terkait?

Empat tahap yang sudah dijelaskan tadi bukan kejadian yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan tersambung seperti rantai yang saling memperparah. Karena setiap tahap membuat tahap berikutnya jadi lebih buruk, memperbaiki satu titik saja pun bisa mengubah keseluruhan alur secara nyata.

  • Ketika minyak bertambah, lingkungan di dalam pori jadi minim oksigen dan lembap, kondisi yang otomatis disukai bakteri jerawat untuk berkembang biak.
  • Ketika sel kulit mati menumpuk dan menyumbat pori, minyak dan bakteri jadi terjebak di satu tempat, dan konsentrasinya makin pekat.
  • Ketika bakteri jerawat bertambah banyak, zat pemicu peradangan pun ikut bertambah, sehingga respons peradangan jadi lebih besar meski jumlah bakterinya sama.
  • Ketika peradangan melemahkan dinding pori, pori jadi lebih mudah pecah dan menyebar lebih luas pada rangsangan berikutnya, menciptakan lingkaran setan.

Karena struktur rantai seperti ini, perawatan jerawat umumnya lebih disarankan untuk tidak hanya menyasar satu faktor saja, melainkan mempertimbangkan kontrol minyak, pengelupasan sel kulit mati, dan penekanan bakteri secara bersamaan.

Mana yang Lebih Dulu, Minyak, Sel Kulit Mati, atau Bakteri?

Urutan inilah yang sudah lama diperdebatkan dalam riset dermatologi. Penelitian-penelitian terbaru cenderung menduga bahwa hiperkeratinisasi folikel, yaitu menggumpalnya sel kulit mati, mungkin sudah dimulai sejak tahap awal yang bahkan belum terlihat sama sekali.

Artinya, sebelum produksi minyak meningkat, di dalam pori yang tampak tanpa gejala sekalipun mungkin sudah terjadi perubahan mikroskopis berupa sel kulit mati yang mulai saling menggumpal. Barulah setelah bertemu dengan peningkatan minyak dan perubahan hormon, kondisi ini berkembang menjadi jerawat yang tampak jelas.

Namun dalam praktik klinis sehari-hari, mana yang lebih dulu sebenarnya kurang penting dibanding melihat faktor mana yang paling menonjol pada kulit kita saat ini. Sebab ada orang yang produksi minyaknya memang sangat berlebihan, ada yang sel kulit matinya mudah menggumpal, dan ada juga yang respons peradangannya memang sangat sensitif.

Kenapa Area yang Mudah Berjerawat Bisa Berbeda-Beda?

Pada orang yang sama pun, pola jerawat di dahi, hidung, dagu, dan punggung sering terlihat berbeda. Ini karena ukuran dan kepadatan kelenjar sebasea, serta sensitivitas reseptor androgen, berbeda-beda tergantung areanya.

Area T-zone yang mencakup dahi dan hidung memang memiliki kelenjar sebasea yang lebih besar dan padat, sehingga produksi minyaknya sendiri lebih tinggi dibanding area lain. Sementara itu, area dagu dan sekitar mulut dilaporkan cenderung lebih sensitif terhadap perubahan hormon, sehingga jerawat di area ini sering muncul beriringan dengan siklus menstruasi atau tekanan stres. Adapun area tubuh seperti punggung dan dada memiliki kelenjar sebasea yang besar dengan struktur pori yang sempit dan dalam, sehingga begitu tersumbat, peradangannya cenderung lebih mudah menyebar sampai lapisan yang dalam.

Bagaimana Kaitan Prinsip Ini dengan Perawatan Sehari-Hari?

Setelah memahami keempat mekanisme di atas, jadi lebih mudah mengerti kenapa metode perawatan jerawat yang umum disarankan bekerja dengan cara tertentu.

  • Pembersih atau bahan yang mengontrol minyak berfungsi mengurangi jumlah sebum di dalam pori, sehingga lingkungan yang disukai bakteri jerawat untuk berkembang biak ikut berkurang.
  • Perawatan yang mengelupas sel kulit mati secara lembut berfungsi mengalirkan keluar sel kulit mati yang menggumpal sebelum sempat menyumbat pori.
  • Pendekatan yang menekan pertumbuhan bakteri berfungsi mengurangi jumlah bakteri jerawat yang sudah terlanjur bertambah, sehingga memutus alur sebelum respons peradangan membesar.

Ketiga pendekatan ini menyasar titik yang berbeda karena jerawat bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan gabungan beberapa mekanisme yang saling tumpang tindih. Menyesuaikan prioritas perawatan berdasarkan mekanisme mana yang paling menonjol pada kulit masing-masing adalah pendekatan yang paling masuk akal.

References

Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Back to articles