Lifting Ultrasound dan RF: Beda dan Mana yang Cocok untuk Kulit Kendur?
By Dr. Lee8 min read

Saat mencari informasi tentang prosedur lifting, ultrasound dan RF selalu disebut berdampingan. Karena keduanya sama-sama prosedur non-invasif yang mengencangkan kulit dengan panas tanpa sayatan, wajar jika muncul anggapan bahwa keduanya sebenarnya bekerja dengan prinsip yang sama, hanya beda nama.
Namun sebenarnya, ultrasound dan RF menyasar lapisan kulit yang berbeda. Ultrasound memfokuskan energi ke satu titik dan mencapai kedalaman tertentu secara presisi, sedangkan RF menggunakan arus listrik untuk memanaskan dermis secara luas. Karena kemampuan mengangkat kendur dan kemampuan memperkuat tekstur serta kekenyalan kulit berasal dari mekanisme yang berbeda, prosedur yang paling cocok pun bergantung pada masalah yang dihadapi. Memang belum ada studi klinis yang membandingkan keduanya secara langsung, tapi dengan melihat respons jaringan dan hasil klinis dari masing-masing golongan, perbedaannya sudah cukup jelas untuk dijabarkan.
Perbedaan kedua prosedur ini bisa dilihat sekilas pada tabel berikut.
| Aspek | Ultrasound (HIFU) | RF (Radio Frekuensi) |
|---|---|---|
| Prinsip kerja | Energi difokuskan ke satu titik membentuk titik koagulasi | Arus listrik memanaskan dermis secara luas |
| Kedalaman jangkauan | 1,5, 3,0, 4,5mm (4,5mm menjangkau SMAS) | Seluruh lapisan dermis secara luas |
| Masalah yang cocok | Kendur, garis rahang, alis turun | Tekstur, kekenyalan, pori-pori, kerutan halus |
| Rasa nyeri | 5,4–5,9 pada kedalaman 4,5mm | Sensasi hangat yang relatif lebih ringan |
| Durasi bertahan | Sekitar 6–12 bulan | Sekitar 6–12 bulan |
Berikut penjelasan lebih rinci untuk masing-masing poin.

Panas yang dikumpulkan di satu titik dan panas yang menyebar ke bidang
HIFU, yang termasuk golongan ultrasound, bekerja dengan memfokuskan energi ultrasound ke satu titik di dalam kulit. Titik fokus ini disebut titik koagulasi termal, tempat suhunya naik hingga 60–70°C sehingga jaringan terkoagulasi secara presisi di titik tersebut. Di luar titik fokus, yaitu epidermis dan lapisan di atasnya, energi hanya melewatinya saja tanpa menaikkan suhu secara signifikan, sehingga permukaan kulit tetap tidak terluka.
RF, golongan radio frekuensi, memiliki pendekatan yang berbeda. Metode ini mengalirkan arus listrik dan memanfaatkan panas yang timbul dari resistansi, tapi bukan di satu titik, melainkan memanaskan dermis secara luas layaknya sebuah bidang. Suhunya berkisar antara 55–65°C, dan panas ini membuat kolagen terdenaturasi sehingga memicu respons regenerasi kolagen baru setelahnya. Tergantung jenis perangkatnya, monopolar menyebar lebih dalam dan luas, sedangkan bipolar lebih terfokus pada lapisan yang lebih dangkal.
Perbedaan ini juga terlihat jelas pada penelitian yang membandingkan jaringan secara langsung. Kulit yang diberi RF monopolar menunjukkan pembentukan kolagen baru yang tersebar luas dari dermis papiler hingga dermis retikuler yang lebih dalam, sementara kulit yang diberi ultrasound menunjukkan respons yang lebih sempit namun dalam, terkonsentrasi di dermis retikuler tengah hingga dalam. Bisa dibilang, ultrasound menembus dalam secara terfokus di satu titik, sedangkan RF menyebar luas ke seluruh bidang.

Di kedalaman berapa keduanya berbeda?
HIFU memungkinkan pemilihan kedalaman dengan mengganti kartrid. Kartrid dangkal menjangkau 1,5mm, kartrid menengah masuk hingga 3,0mm untuk memperkuat dermis, dan kartrid paling dalam mencapai 4,5mm. Pada kedalaman 4,5mm inilah terdapat lapisan fasia yang disebut SMAS, lapisan yang benar-benar dibedah dalam operasi facelift oleh dokter bedah plastik. Laser, filler, atau RF fraksional sulit menjangkau kedalaman ini.
RF tidak memiliki opsi pemilihan lapisan seperti ini, dan fokusnya adalah memanaskan dermis secara luas. Monopolar relatif lebih dalam dan menyebar, sementara bipolar lebih berfokus pada lapisan dangkal, tapi keduanya tidak menargetkan lapisan fasia seperti SMAS secara presisi. Sebagai gantinya, RF unggul dalam menghantarkan panas secara merata ke seluruh dermis.
Ultrasound adalah prosedur yang menembak titik-titik presisi pada kedalaman tertentu, sedangkan RF adalah prosedur yang memanaskan bidang dermis yang luas. Untuk benar-benar mengangkat wajah yang kendur, lapisan dalam seperti SMAS perlu disentuh, dan itulah peran yang dijalankan ultrasound. Sebaliknya, untuk masalah yang tersebar luas seperti tekstur permukaan kulit atau kerutan halus yang dangkal, memanaskan secara merata di seluruh bidang lebih menguntungkan dibandingkan menembak titik demi titik, dan di sinilah RF lebih cocok. Meski sama-sama dikelompokkan sebagai lifting, kedalaman yang sebenarnya disentuh berbeda, dan inilah inti perbedaan kedua prosedur ini.

Cocok untuk keluhan kendur atau kekenyalan?
Karena lapisan yang dijangkau berbeda, masalah yang cocok pun berbeda. Ultrasound menjangkau SMAS, sehingga unggul dalam mengangkat jaringan yang benar-benar kendur, seperti garis rahang yang mulai turun, leher yang turun, atau alis yang menurun. Karena menstimulasi lapisan fasia itu sendiri, kekuatannya untuk membentuk ulang kontur wajah relatif lebih besar.
RF memperkuat dermis secara luas, sehingga lebih cocok untuk memperbaiki tekstur dan kekenyalan kulit secara keseluruhan daripada mengangkat area tertentu. RF sangat membantu ketika kerutan halus bertambah, kulit menipis, kekenyalan menurun secara keseluruhan, atau pori-pori membesar. Selain wajah, RF juga digunakan untuk tekstur kulit di area yang luas seperti leher atau perut.
Jika masalah utamanya adalah garis rahang dan leher yang kendur, lebih masuk akal untuk mempertimbangkan ultrasound terlebih dahulu, sedangkan jika bukan kendur melainkan kulit yang terasa kusam dan kasar secara keseluruhan, RF bisa jadi pilihan pertama yang perlu dipertimbangkan. Tentu saja, kendur dan penurunan kekenyalan sering muncul bersamaan, dan dalam kasus seperti ini, lebih baik menentukan dulu masalah mana yang lebih dominan daripada memaksakan salah satu prosedur. Namun karena kedua prosedur ini sama-sama tidak bisa memotong atau menata ulang jaringan yang kendur, jika kekenduran sudah cukup progresif, berkonsultasi juga tentang lifting bedah adalah pilihan yang lebih realistis.

Seberapa besar efeknya kalau dilihat dari angka?
Ada cukup banyak penelitian yang mengkaji efektivitas HIFU. Satu studi yang berfokus pada area alis dengan 35 subjek menunjukkan alis naik rata-rata 1,7mm pada hari ke-90, dengan perbaikan terkonfirmasi pada 86% subjek. Tinjauan yang menggabungkan 16 studi dengan 573 subjek menunjukkan tingkat perbaikan berdasarkan penilaian dokter sebesar 92% pada hari ke-90, sementara tingkat kepuasan naik dari 42% segera setelah tindakan menjadi 53% pada hari ke-360. Meta-analisis lain yang menggabungkan 42 studi juga melaporkan tingkat perbaikan 89% dan 84%, dengan tingkat kekenduran yang membaik berkisar 18–30% di sebagian besar studi.
Untuk RF, kebanyakan penelitiannya berskala relatif lebih kecil. Satu studi menunjukkan perubahan histologis berupa peningkatan kolagen tipe I dan III serta penurunan elastin, sementara studi lain dengan 40 subjek menunjukkan perbaikan yang berlanjut hingga 6 bulan. Namun karena data meta-analisis berskala besar untuk RF belum sebanyak ultrasound, perlu berhati-hati sebelum menyimpulkan tingkat perbaikannya dalam satu angka pasti.
Belum ada studi klinis yang membandingkan kedua golongan ini secara langsung head-to-head. Daripada menilai mana yang lebih unggul berdasarkan angka yang lebih besar, lebih tepat untuk melihatnya seperti yang sudah dibahas di atas, yaitu ultrasound membuktikan efektivitasnya untuk kendur, sementara RF membuktikan efektivitasnya untuk tekstur dan kekenyalan kulit, keduanya dengan tujuan yang berbeda.

Nyeri, downtime, dan lama bertahan
Karena ultrasound memfokuskan energi hingga lapisan dalam, rasa nyeri selama tindakan cenderung lebih terasa. Pada studi dengan 21 subjek, ketika menggunakan kartrid terdalam 4,5mm, skor nyeri tercatat 5,4–5,9 dari skala 10, dan mendinginkan area terlebih dahulu pun tidak banyak mengurangi rasa sakit. Meta-analisis yang menggabungkan 42 studi juga menunjukkan skor nyeri rata-rata 4,85, yang sama sekali tidak rendah. Angka perbandingan spesifik yang sering beredar seperti "RF 2–4, ultrasound 6–8" bukan hasil penelitian yang tervalidasi, jadi sulit untuk dipercaya begitu saja.
RF secara umum dikenal lebih ringan dibandingkan ultrasound, karena metode pemanasannya yang luas melalui arus listrik lebih sering terasa sebagai sensasi hangat daripada rasa menyengat. Namun karena penelitian nyeri yang membandingkan kedua golongan ini secara langsung dalam kondisi yang sama masih kurang, terlalu dini untuk menyimpulkan selisihnya secara pasti dalam angka.
Downtime kedua golongan ini sama-sama rendah. Kemerahan atau bengkak ringan setelah tindakan adalah hal yang umum, dan biasanya mereda dalam waktu singkat sehingga bisa langsung kembali beraktivitas. Efeknya tidak muncul langsung, melainkan secara bertahap semakin jelas seiring kolagen baru terbentuk selama 8–12 minggu, dan paling terasa pada rentang 3–6 bulan. Durasi bertahannya dilaporkan sekitar 6–12 bulan, dan belum ada bukti yang menunjukkan hasilnya bertahan lebih lama dari itu.

Bolehkah kedua tindakan dijalani bersamaan?
Banyak juga yang menjalani ultrasound dan RF secara berurutan dalam satu kali kunjungan. Studi yang menerapkan urutan berbeda pada sisi kiri dan kanan wajah dari 24 subjek menunjukkan hasil yang sedikit lebih baik pada sisi yang menerima RF terlebih dahulu baru kemudian ultrasound. Studi lain dengan 56 subjek menunjukkan perbaikan pada 96,4% peserta ketika kedua prosedur dilakukan bersamaan, sehingga hasil dari kombinasi ini sendiri tergolong baik.
Dilihat dari prinsip kerjanya, kombinasi ini memang masuk akal. Ultrasound menstimulasi hingga SMAS untuk mengangkat kendur, sementara RF memanaskan dermis secara luas untuk memperkuat tekstur dan kekenyalan permukaan kulit. Karena lapisan yang dijangkau berbeda, satu prosedur bisa melengkapi bagian yang tidak tersentuh oleh prosedur lainnya.
Belum ada studi perbandingan berskala besar yang bisa memastikan kombinasi ini selalu lebih baik daripada menjalani satu prosedur saja. Jika kendur dan penurunan kekenyalan sama-sama menjadi masalah, kombinasi ini layak dipertimbangkan, tapi jika masalahnya jelas condong ke salah satu sisi, berfokus pada satu golongan yang sesuai dengan kondisi kulit juga merupakan pilihan yang masuk akal daripada memaksakan keduanya. Karena biaya dan waktu tindakan akan bertambah, menjalani keduanya sekaligus bukanlah jawaban yang mutlak benar. Pada akhirnya, ultrasound dan RF lebih tepat dilihat sebagai dua alat dengan lapisan jangkauan yang berbeda daripada sebagai pesaing, dan kita bisa memilih salah satu atau menggunakan keduanya tergantung pada bantuan mana yang paling dibutuhkan kulit saat ini.
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Tindakan dagu ganda: metode apa yang cocok untuk penyebab lemak atau kendur?
Artikel ini membahas apakah dagu ganda disebabkan oleh lemak atau kulit dan fasia yang kendur, lalu menjelaskan mana yang lebih tepat di antara suntikan pelarut lemak, RF seperti INMODE, thread lifting, dan HIFU berdasarkan data penelitian nyata. Alasan mengapa diagnosis penyebab harus dilakukan lebih dulu juga dibahas.
By Dr. Kim

Lifting Leher dengan Radiofrekuensi, Ultrasound, dan Benang: Perbedaan dan Efektivitas Menurut Penyebab
Penyebab leher kendur berbeda pada setiap orang. Ada yang kulitnya sendiri menipis dan melar, ada pula yang fasia atau ototnya yang sudah terbelah. Artikel ini merangkum lapisan mana yang dirangsang oleh RF seperti Thermage, HIFU seperti Ulthera, dan thread lift, serta pilihan mana yang lebih cocok untuk tiap penyebab.
By Dr. Lee

Cherry angioma: penyebab, gejala, terapi laser, dan kapan harus periksa
Apa sebenarnya bintik merah cerah yang muncul di dada atau punggung, cherry angioma ini, kenapa jumlahnya bertambah seiring usia, bagaimana membedakannya dari tahi lalat, kutil, atau purpura, lalu antara laser vaskular seperti pulsed dye, KTP, dan long pulse Nd:YAG dengan elektrokauter, mana yang paling tepat untuk menghilangkannya serta cara mengurangi risiko bekas luka dan hiperpigmentasi, sampai kapan harus periksa ke dokter, semuanya dirangkum dengan mudah lewat data penelitian nyata.
By Dr. Kim