Downtime dan Bengkak Setelah Lifting, Durasi Bertahannya Hasil, Cara Perawatan hingga Waktu Tepat untuk Tindakan Ulang
By Dr. Kim8 min read

Setelah menjalani prosedur lifting tanpa sayatan seperti HIFU, RF, atau thread lift, banyak orang mengajukan pertanyaan yang serupa. Berapa lama downtime-nya, kapan hasilnya mulai terlihat, dan berapa lama hasil ini bisa bertahan. Lifting non-bedah lebih mendekati proses yang terbentuk secara bertahap selama beberapa bulan daripada perubahan instan. Waktu yang dibutuhkan bengkak atau kemerahan setelah tindakan untuk mereda, dan waktu yang dibutuhkan kolagen di dalam kulit untuk benar-benar terbentuk kembali, adalah dua hal yang berbeda. Downtime dan durasi bertahannya hasil pun berbeda-beda tergantung jenis prosedurnya. Banyak yang bilang hasilnya bergantung pada cara perawatan setelah tindakan, tapi perlu dibedakan mana yang benar-benar didukung bukti klinis yang kuat dan mana yang masih lebih mendekati anggapan umum. Bagi yang sedang mempertimbangkan tindakan ini atau sudah menjalaninya, ada baiknya memperkirakan proses pemulihan, durasi bertahan, dan waktu tindakan ulang berdasarkan data penelitian yang sebenarnya.
Downtime dan durasi bertahan hasil untuk masing-masing prosedur bisa dilihat sekilas pada tabel berikut.
| Prosedur | Downtime | Durasi Bertahan |
|---|---|---|
| HIFU (Ultrasound) | Kemerahan, bengkak beberapa jam hingga beberapa hari | Sekitar 6–12 bulan |
| RF (Radio Frekuensi) | Hampir tidak ada, kemerahan singkat | Sekitar 6–12 bulan |
| Thread lift | Bengkak, memar 1–4 minggu | 6–24 bulan |

Mengapa Hasilnya Muncul secara Bertahap?
Efektivitas lifting non-bedah terbagi menjadi dua tahap. Pertama adalah kontraksi jaringan instan yang terjadi pada hari tindakan, dan kedua adalah pembentukan kembali kolagen yang muncul secara bertahap selama beberapa bulan. Saat energi panas dari HIFU atau RF mengenai dermis dan fasia, serat kolagen langsung berkontraksi. Karena itu, sebagian orang merasakan sedikit efek kencang bahkan segera setelah tindakan.
Perubahan yang sesungguhnya baru dimulai setelah itu. Dalam proses memperbaiki jaringan yang terkena stimulasi panas, kolagen baru terbentuk, dan proses ini membutuhkan waktu. Satu studi yang menganalisis kulit orang yang menjalani RF monopolar menemukan bahwa kolagen tipe I dan III mulai meningkat pada bulan pertama setelah tindakan dan tetap bertahan hingga bulan ketiga.
Tinjauan yang menggabungkan 16 studi tentang HIFU menunjukkan pola yang serupa. Tingkat perbaikan kendur kulit adalah 36% pada hari ke-90 setelah tindakan, kemudian naik menjadi 52% pada hari ke-180. Tingkat kepuasan juga terus meningkat dari 42% pada hari ke-90 menjadi 53% pada hari ke-360. Daripada berharap perubahan dramatis pada hari tindakan itu sendiri, lebih realistis untuk memahami bahwa efeknya baru benar-benar muncul antara minggu ke-8 hingga ke-12, dan paling terasa jelas antara bulan ke-3 hingga ke-6.

Bagaimana Perbedaan Downtime Antar Prosedur?
Downtime cukup berbeda tergantung metode tindakannya. Untuk HIFU, satu studi menunjukkan efek samping ringan pada 40% dari 20 subjek. Sebagian besar berupa kemerahan dan bengkak sementara, dan sebagian kecil juga mengalami memar. Data gabungan dari 573 subjek menunjukkan tingkat efek samping yang rendah, sekitar 2%, dengan nyeri selama tindakan dilaporkan sekitar 3,8 dari skala 10. Ada juga kasus langka di mana saraf tertekan sementara sehingga ekspresi wajah terasa kaku, tapi sebagian besar pulih seiring waktu.
RF memiliki downtime paling singkat di antara ketiganya. Pada studi acak terkontrol dengan 40 subjek, tidak ditemukan satu pun efek samping serius. Sebagian besar hanya berupa kemerahan sementara yang tampak seperti luka bakar ringan dan mereda dalam 24 jam.
Thread lift membutuhkan waktu pemulihan yang relatif lebih lama. Data gabungan dari 26 studi menunjukkan bengkak pada 35%, dimpling atau kulit yang tampak cekung pada 10%, dan gangguan sensasi pada 6% subjek. Pada penggunaan benang yang dapat diserap, tingkat dimpling adalah 3,1%, sementara benang yang tidak dapat diserap lebih tinggi yaitu 11,7%, dan tingkat infeksi sekitar 2%. Pada usia 50 tahun ke atas, tingkat dimpling naik menjadi 16%. Bengkak atau memar umumnya mereda dalam 1 hingga 2 minggu.

Sebenarnya Berapa Lama Hasilnya Bisa Bertahan?
Durasi bertahan berbeda tergantung metode tindakan dan bahan benang yang digunakan. Untuk HIFU, hasilnya mulai terlihat jelas sekitar bulan ketiga dan sering bertahan hingga kira-kira 12 bulan. Data gabungan dari 45 studi melaporkan perbaikan kendur kulit sekitar 18% hingga 30%. Namun belum ada penelitian yang mengonfirmasi apakah efeknya bertahan lebih dari 12 bulan, jadi klaim iklan yang menekankan durasi lebih panjang dari itu perlu dilihat sebagai klaim yang mendahului bukti yang ada.
Untuk RF, durasi bertahan 6 bulan sudah dikonfirmasi melalui studi acak terkontrol. Klaim bahwa hasilnya bertahan hingga 12 bulan masih lebih mendekati perkiraan, dan data klinis yang melacak langsung periode sepanjang itu masih kurang.
Pada thread lift, waktu penyerapan berbeda-beda tergantung bahan benangnya, dan waktu ini pun berkaitan langsung dengan durasi bertahannya hasil. PDO diketahui bertahan 6 hingga 8 bulan, PLLA 12 hingga 18 bulan, dan PCL 12 hingga 24 bulan. Namun angka-angka ini sebagian besar lebih mendekati anggapan umum yang didasarkan pada pengalaman klinis. Angka 24 bulan untuk PCL berasal dari penelitian tentang filler dengan bahan yang sama, bukan benang itu sendiri, dan satu eksperimen pada hewan menunjukkan urutan daya tahan dari yang paling lama adalah PCL, PLLA, kemudian PDO. Perlu diingat bahwa data pelacakan jangka panjang pada wajah manusia masih belum cukup memadai.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Tindakan Ulang?
Belum ada studi acak terkontrol yang menetapkan waktu pasti untuk tindakan ulang. Karena itu, bagian ini lebih banyak bersandar pada pengalaman yang terkumpul di lapangan klinis.
Standar umumnya adalah tidak melakukan tindakan ulang pada area dan lapisan yang sama dalam 3 bulan. Ini karena jaringan yang distimulasi oleh tindakan sebelumnya membutuhkan waktu sekitar itu untuk pulih dan kolagen baru untuk terbentuk. Biasanya, kondisi dievaluasi ulang sekitar bulan ke-6, dan jika kendur mulai muncul kembali, tindakan tambahan bisa dipertimbangkan pada saat itu.
Siklus perawatan rutin biasanya ditetapkan sekitar 6 hingga 18 bulan. Untuk area dengan kendur yang cukup parah, sebagian orang menjalani perawatan sekitar sekali setahun. Kombinasi HIFU dan RF juga cukup umum dilakukan di lapangan klinis, tapi penelitian yang membandingkan langsung efektivitas kombinasi ini masih sebatas studi observasional. Untuk menentukan perlu tidaknya tindakan ulang, cara yang paling aman adalah membandingkan perubahan melalui foto atau berkonsultasi dengan dokter yang menangani.
Ketika akan menjalani thread lift lagi, seberapa banyak benang sebelumnya sudah terserap juga perlu dipertimbangkan. Untuk benang yang cepat terserap seperti PDO, tindakan ulang biasanya direncanakan sekitar 6 bulan, sedangkan untuk benang yang bertahan lebih lama seperti PLLA atau PCL, waktunya wajar direncanakan lebih lambat dari itu. Daripada terburu-buru menambahkan benang baru, lebih aman memberi cukup waktu bagi jaringan untuk pulih.

Apa yang Harus Dilakukan dan Dihindari Setelah Tindakan?
Selama beberapa hari setelah tindakan, cukup perhatikan beberapa hal saja. Tabir surya sebaiknya dioleskan dengan teliti setiap pagi. Area yang ditindak sedang dalam kondisi lebih sensitif terhadap rangsangan, sehingga lebih mudah bereaksi terhadap sinar matahari.
Jika memungkinkan, mengurangi atau berhenti merokok selama beberapa hari akan membantu proses pemulihan. Sudah diketahui secara luas bahwa kandungan dalam rokok dapat mengganggu sintesis kolagen.
Sauna, ruang uap, atau olahraga berat sebaiknya ditunda selama beberapa hari sampai bengkak mereda. Ini karena panas dan keringat bisa merangsang area yang ditindak. Menjaga kelembapan kulit lebih dari biasanya juga akan membantu.
Bagi yang menjalani thread lift, pijatan perlu dihindari dengan lebih hati-hati. Jika area digosok terlalu keras sebelum benang benar-benar tertanam, posisinya bisa bergeser atau menyebabkan dimpling. Paling aman untuk menghindari perawatan yang menekan atau menggosok wajah dengan keras setidaknya selama 2 minggu.
Berekspresi wajah secara berlebihan atau tidur dalam posisi tengkurap juga sebaiknya dihindari selama beberapa hari pertama. Jika terus-menerus mendapat tekanan dari luar sebelum benang atau jaringan benar-benar tertanam sempurna, posisinya bisa bergeser dari yang diinginkan. Konsumsi alkohol juga bisa memperparah bengkak, jadi sebaiknya dihindari selama beberapa hari setelah tindakan.

Adakah Cara Perawatan yang Benar-Benar Terbukti Membantu?
Banyak saran perawatan yang sering beredar setelah tindakan, tapi bobot bukti klinis di baliknya berbeda-beda.
Di antara semuanya, tabir surya memiliki bukti klinis paling kuat. Studi dengan 903 subjek menunjukkan bahwa kelompok yang rutin menggunakan tabir surya memiliki tanda-tanda penuaan kulit 24% lebih sedikit. Ini adalah kebiasaan yang layak dijaga secara konsisten, bukan hanya setelah lifting tapi juga dalam keseharian.
Berhenti merokok juga memiliki bukti yang cukup jelas. Satu studi menunjukkan sintesis kolagen pada perokok 18% hingga 22% lebih rendah dibandingkan yang bukan perokok. Ini menjadi alasan yang lebih penting untuk diperhatikan setelah lifting, karena kolagen baru perlu terbentuk kembali.
Sebaliknya, saran untuk menghindari sauna dan olahraga berat serta menjaga kelembapan kulit, atau anjuran menghindari pijatan setelah thread lift, sebagian besar merupakan anggapan umum yang terbentuk dari pengalaman klinis. Bukan berarti salah, tapi belum didukung oleh penelitian sekuat tabir surya atau berhenti merokok. Suplemen kolagen yang diminum juga ada penelitiannya yang menunjukkan manfaat untuk kelembapan dan kekenyalan kulit itu sendiri, tapi belum ada bukti bahwa ia memberikan efek sinergi dengan hasil lifting. Kebiasaan menjaga hal-hal dasar seperti tabir surya dan berhenti merokok tetap menjadi faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap hasil akhir.
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Perbedaan Lifting Ultrasound dan RF, Alasan HIFU Lebih Cocok untuk Kendur sementara RF untuk Tekstur dan Kekenyalan Kulit
Penjelasan tentang lapisan kulit mana yang distimulasi secara berbeda oleh HIFU (ultrasound) dan RF (radio frekuensi), serta cara memilih di antara keduanya berdasarkan masalah kendur atau kekenyalan kulit, dilengkapi data penelitian yang sebenarnya.
By Dr. Lee

Density RF, Mesin Lifting Korea yang Gabungkan Monopolar dan Bipolar dalam Satu Sesi
Apa itu Density RF dan bagaimana cara kerjanya, apa bedanya menggabungkan monopolar dan bipolar dalam satu mesin, seberapa kuat bukti klinisnya, seberapa sakit dan berapa lama downtimenya, dan siapa yang paling cocok menerima treatment ini, semua dibahas dengan jujur tanpa melebih-lebihkan.
By Dr. Kim

Suntik Asam Deoksikolat untuk Lemak Bawah Dagu, Cara Kerja, Hasil, dan Efek Samping
Bagaimana suntikan deoxycholic acid (asam deoksikolat) melarutkan lemak bawah dagu, bukti persetujuan FDA Amerika, data efektivitas dari uji klinis besar, berapa sesi yang dibutuhkan, berapa lama hasilnya bertahan, serta efek samping apa yang perlu disiapkan, semua berdasarkan angka penelitian nyata.
By Dr. Lee