Bagaimana Suntikan GLP-1 Seperti Wegovy dan Saxenda Menekan Nafsu Makan dan Menurunkan Berat Badan, Serta Hal yang Perlu Diperhatikan
By Dr. Kim7 min read

Belakangan ini nama suntikan Wegovy dan Saxenda sering sekali terdengar. Awalnya obat ini dibuat untuk mengobati diabetes, tetapi karena efek penurunan berat badannya cukup besar, kedua obat ini justru lebih dikenal sebagai suntikan diet.
Kandungan utama suntikan ini adalah zat yang meniru hormon bernama GLP-1. Karena pada dasarnya obat ini dibuat berdasarkan hormon yang memang sudah ada di dalam tubuh kita, memahami cara kerjanya dalam menekan nafsu makan dan menurunkan berat badan akan jauh lebih mudah.
Sebenarnya, Hormon Apa Itu GLP-1?
Setiap kali kita makan, ujung usus halus secara alami melepaskan hormon bernama GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1). Sederhananya, hormon ini seperti kurir yang menyampaikan kabar "sudah makan" ke seluruh tubuh. Kurir ini mengirim sinyal ke beberapa tempat sekaligus, mulai dari otak, lambung, hingga pankreas.
Zat aktif dalam Wegovy maupun Saxenda dirancang agar strukturnya mirip dengan hormon alami ini, sehingga begitu masuk ke tubuh, ia bekerja layaknya GLP-1 yang asli. Bedanya, hormon alami terurai dan hilang hanya dalam 1 hingga 2 menit, sedangkan kandungan suntikan ini dimodifikasi agar tidak mudah terurai, sehingga efeknya bisa bertahan sehari penuh atau bahkan seminggu.
Alasan hormon ini cepat hilang dari tubuh adalah karena enzim pemecah bernama DPP-4. Enzim ini memotong GLP-1 layaknya gunting, sehingga fungsinya hilang dalam waktu 2 menit saja. Kandungan Wegovy dan Saxenda sedikit mengubah bagian struktur molekulnya agar gunting ini tidak mudah memotongnya. Karena itu, jika hormon alami hanya muncul sekilas saat makan lalu menghilang, kandungan suntikan ini bisa bertahan di dalam tubuh sepanjang hari atau seminggu penuh sambil terus mengirim sinyal.
Bagaimana Sinyal Kenyang Sampai ke Otak?
GLP-1 bekerja langsung pada hipotalamus di otak, tepatnya bagian yang mengatur nafsu makan. Bayangkan hipotalamus sebagai "markas pengatur nafsu makan" tubuh kita. Begitu hormon ini sampai di markas tersebut, sinyal lapar diredam sementara sinyal kenyang diperkuat. Akibatnya, meski makan lebih sedikit dari biasanya, otak sudah menganggap tubuh cukup kenyang.
Sinyal kenyang ini juga disampaikan lewat saraf vagus, yaitu berkas saraf yang menghubungkan lambung dengan otak. Informasi bahwa lambung sudah terisi makanan mengalir lebih kuat melalui saraf ini menuju otak. Ibaratnya, volume alarm rasa lapar diturunkan, sementara volume alarm rasa kenyang dinaikkan.
GLP-1 tidak hanya menyampaikan sinyal kenyang, tetapi juga diketahui memengaruhi sirkuit reward di otak. Banyak pengguna melaporkan bahwa keinginan kuat saat melihat makanan atau pikiran yang terus mengarah ke makanan jadi berkurang. Diperkirakan hal ini terjadi karena respons area otak yang melibatkan dopamin, zat yang berkaitan dengan rasa senang, ikut melemah. Karena itu, tidak sedikit pengguna suntikan ini mengaku sudah tidak lagi tergoda ngemil atau makan larut malam seperti sebelumnya.
Mengapa Suntikan Ini Memperlambat Pengosongan Lambung?
GLP-1 juga bekerja memperlambat kecepatan makanan berpindah dari lambung ke usus halus, atau yang disebut kecepatan pengosongan lambung. Biasanya, lambung akan kosong dalam 2 hingga 4 jam setelah makan, tetapi ketika hormon ini bekerja, waktu tersebut menjadi jauh lebih lama.
Bayangkan lambung sebagai panci, lalu tutupnya ditekan sedikit sehingga isinya keluar lebih perlahan. Karena makanan bertahan lebih lama di lambung, rasa kenyang pun ikut bertahan lebih lama. Hal ini membuat jarak ke waktu makan berikutnya jadi lebih panjang secara alami, dan keinginan ngemil pun banyak dilaporkan berkurang. Namun, jika pengosongan lambung terlalu lambat, bisa muncul rasa tidak nyaman seperti mual atau kembung, yang akan dibahas lebih lanjut di bawah.
Itulah sebabnya dokter tidak langsung memberikan dosis penuh sejak awal, melainkan memulai dari dosis sangat kecil lalu menaikkannya bertahap setiap 4 minggu. Jika pengosongan lambung tiba-tiba melambat, tubuh tidak sempat beradaptasi sehingga mual bisa muncul cukup berat. Sebaliknya, jika dosis dinaikkan perlahan, lambung dan usus punya waktu untuk terbiasa dengan kecepatan baru sehingga rasa tidak nyaman berkurang. Tidak sedikit pengguna yang mengaku hanya merasa berat pada 4 hingga 8 minggu pertama, lalu tubuh terbiasa dan menjadi lebih nyaman seiring waktu.
Bagaimana Prinsip Pengaturan Gula Darah pada Obat Ini?
GLP-1 sebenarnya lebih dulu diteliti sebagai hormon yang membantu pankreas melepaskan insulin. Ketika kadar gula darah naik setelah makan, hormon ini merangsang pankreas untuk melepaskan lebih banyak insulin, sekaligus menekan hormon glukagon yang justru menaikkan gula darah.
Yang penting untuk dipahami, rangsangan ini hanya bekerja kuat saat gula darah sedang tinggi. Ketika gula darah sudah normal atau rendah, insulin tidak dipaksa keluar secara berlebihan, sehingga risiko hipoglikemia relatif lebih rendah. Berkat efek pengaturan gula darah inilah obat golongan GLP-1 awalnya dikembangkan sebagai terapi diabetes tipe 2, dan efek penurunan berat badannya baru ditemukan belakangan.
Beberapa obat diabetes lama bekerja dengan merangsang pankreas secara kuat untuk melepaskan insulin tanpa memandang kadar gula darah, sehingga risiko hipoglikemianya relatif lebih besar. Sebaliknya, GLP-1 hanya membantu pelepasan insulin saat sel pankreas, yang berfungsi seperti sensor gula darah, mendeteksi bahwa gula darah memang sedang tinggi. Cara kerjanya lebih mirip saklar pintar yang hanya menyala sesuai kebutuhan. Berkat perbedaan ini, golongan GLP-1 menjadi perhatian karena mampu mengatur gula darah sekaligus berat badan tanpa membebani risiko hipoglikemia.
Apa Perbedaan Wegovy dan Saxenda?
Kedua obat ini sama-sama termasuk golongan agonis reseptor GLP-1, tetapi berbeda dari sisi kandungan dan cara pemakaian. Saxenda (kandungan liraglutide) harus disuntikkan setiap hari, sementara Wegovy (kandungan semaglutide) cukup disuntikkan sekali seminggu.
Semaglutide pada Wegovy dirancang agar struktur molekulnya lebih tahan lama sebelum terurai, sehingga jarak antar suntikan bisa diperpanjang. Beberapa penelitian klinis melaporkan penurunan berat badan yang lebih besar pada Wegovy, tetapi karena respons setiap orang bisa sangat berbeda, hasilnya tetap bisa bervariasi dari satu individu ke individu lain.
Obat yang harus disuntikkan setiap hari berisiko membuat kadar dalam darah turun drastis jika terlewat sehari saja, sehingga efeknya bisa terganggu. Sebaliknya, Wegovy yang disuntikkan seminggu sekali dirancang agar terurai perlahan, sehingga meski terlambat 1 hingga 2 hari, kadar dalam darah tetap terjaga dengan stabil. Karakteristik ini membuat orang yang sering lupa jadwal suntikan lebih mudah menjalani pengobatan secara konsisten.
Mengapa Berat Badan Bisa Naik Lagi Setelah Suntikan Dihentikan?
Suntikan GLP-1 bukanlah obat yang menyembuhkan secara permanen, melainkan lebih tepat disebut obat yang menekan sinyal nafsu makan hanya selama digunakan. Karena itu, begitu suntikan dihentikan, sinyal lapar dan pikiran tentang makanan yang tadinya tertekan akan perlahan kembali ke tingkat semula.
Selama proses penurunan berat badan, tubuh secara bertahap mengubah metabolismenya ke arah yang lebih hemat energi. Kondisi ini mirip dengan tubuh yang bersiap menghadapi kelaparan, sehingga meski makan dalam jumlah yang sama, tubuh justru lebih mudah menyimpan lemak dibanding sebelumnya. Ditambah lagi nafsu makan yang tadinya tertekan ikut kembali, sehingga tidak jarang dilaporkan berat badan naik lagi setelah suntikan dihentikan.
Karena itu, para dokter menyarankan agar pengaturan porsi makan dan aktivitas fisik tetap dilanjutkan meski suntikan sudah dihentikan. Dengan membiasakan tubuh pada perubahan pola makan yang terbentuk selama pengobatan, kenaikan berat badan setelah lepas obat bisa ditekan seminimal mungkin.
Apa Saja Efek Samping yang Umum Terjadi?
Karena suntikan golongan GLP-1 mengubah pergerakan lambung dan usus, efek sampingnya pun sebagian besar muncul di area pencernaan.
- Mual dan muntah: reaksi paling umum karena makanan bertahan lebih lama di lambung akibat pengosongan lambung yang melambat.
- Sembelit atau diare: kebiasaan buang air besar bisa ikut berubah karena kecepatan pergerakan usus yang berbeda.
- Perut kembung dan sering bersendawa: muncul karena makanan dan gas bertahan lebih lama di lambung dibanding biasanya.
- Pankreatitis akut yang jarang terjadi: karena hormon ini bekerja langsung pada pankreas, ada laporan langka mengenai peradangan pankreas, sehingga jika muncul nyeri perut hebat, segera periksakan diri ke dokter.
Sebagian besar gejala pencernaan ini muncul pada masa awal kenaikan dosis, lalu berangsur mereda seiring tubuh beradaptasi. Karena itu, saat merasa tidak nyaman, akan lebih membantu jika makan dalam porsi kecil sebanyak 5 hingga 6 kali sehari daripada makan banyak sekaligus, dan mengurangi makanan berlemak atau pedas.
Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Menjalani Suntikan Ini?
- Sebaiknya dihindari jika memiliki riwayat keluarga kanker meduler tiroid. Karena studi pada hewan pernah melaporkan kaitannya dengan tumor tiroid, obat ini sering tidak diresepkan bagi orang dengan riwayat keluarga tersebut.
- Prinsipnya, obat ini tidak digunakan pada ibu hamil atau yang sedang merencanakan kehamilan. Alasannya, data keamanan bagi janin masih belum cukup lengkap.
- Wajib digunakan di bawah resep dan pengawasan dokter. Kenaikan dosis harus dilakukan bertahap agar efek samping bisa ditekan, dan kesesuaian penggunaannya berbeda-beda tergantung kondisi kesehatan masing-masing orang.
- Penurunan massa otot juga perlu diwaspadai. Saat berat badan turun dengan cepat, bukan hanya lemak yang berkurang, otot pun bisa ikut menyusut, sehingga asupan protein yang cukup dan olahraga sangat dianjurkan.
References
Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Mounjaro dibanding Wegovy: Cara Kerja, Hasil Uji Klinis, dan Apa yang Berubah Setelah Berhenti
Cara kerja suntikan GLP-1 Mounjaro dan Wegovy dalam menurunkan berat badan, angka penurunan yang dilaporkan dalam uji klinis, perbedaan keduanya, serta efek samping dan hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai.
By Dr. Kim

Wegovy dan Mounjaro: Efek Samping yang Perlu Diwaspadai, dari Mual sampai Batu Empedu
Perbandingan efek samping Wegovy dan Mounjaro berdasarkan data uji klinis nyata. Dari mual dan diare yang sering terjadi, angka pasien yang berhenti pakai obat, hingga risiko langka seperti batu empedu dan pankreatitis, semua dibahas dengan data, bukan rumor.
By Dr. Kim

Cara Botox Mengangkat Sudut Bibir Turun: Prinsip Kerja, Lama Efek Bertahan, dan Efek Samping Berdasarkan Bukti Ilmiah
Rangkuman cara mengangkat sudut bibir yang turun dengan Botox. Mulai dari prinsip menekan otot depressor anguli oris agar otot pengangkat lebih dominan, titik dan dosis suntikan, waktu efek muncul dan bertahan, kombinasi dengan filler, sampai efek samping dan hal yang perlu diperhatikan, semua disertai data dari jurnal ilmiah asli.
By Dr. Kim