Mounjaro dibanding Wegovy: Cara Kerja, Hasil Uji Klinis, dan Apa yang Berubah Setelah Berhenti
By Dr. Kim9 min read

Seminggu terakhir, pertanyaan yang sama datang berulang dari pasien yang berbeda. Mounjaro. Wegovy. Begitu pembicaraan menyentuh berat badan, dua nama ini hampir pasti muncul. Pandangan yang dulu menempatkan obesitas sebagai soal tekad dan disiplin pribadi pelan-pelan bergeser, dan pergeseran itu tidak lepas dari kehadiran dua suntikan ini. Angka penurunan yang dilaporkan dalam uji klinis jauh melampaui obat-obatan sebelumnya karena cara kerjanya menyentuh hormon pengatur nafsu makan secara langsung. Banyak yang sudah mendengar cerita berhasil, tapi bagaimana sebenarnya obat ini bekerja di dalam tubuh, apa bedanya keduanya, dan apa yang terjadi kalau berhenti, masih kabur bagi kebanyakan orang yang datang ke klinik. Dari situlah saya biasanya mulai.

Apa sebenarnya obat-obatan ini?
Grafik di atas menampilkan rata-rata penurunan berat badan dari tiga obat GLP-1 secara berdampingan, liraglutida, semaglutida, tirzepatida, dan polanya cukup jelas: semakin banyak hormon yang dilibatkan, semakin besar penurunannya. Satu catatan penting: tiap batang berasal dari uji klinis yang berbeda, bukan dari satu studi perbandingan langsung.
Kedua obat ini bekerja dengan meniru hormon yang disebut GLP-1. Hormon ini secara alami dilepaskan usus setiap kali kita makan, termasuk dalam kelompok incretin. Fungsinya dua sekaligus: membantu pankreas melepaskan insulin untuk menurunkan gula darah, dan mengirim sinyal kenyang ke pusat nafsu makan di otak. Bayangkan seperti tombol "cukup makan" yang tubuh aktifkan sendiri saat selesai makan. Semaglutida, bahan aktif Wegovy, dirancang meniru kerja ini, dengan satu perbedaan kunci: GLP-1 alami dalam tubuh hancur dalam hitungan menit, sedangkan semaglutida direkayasa agar bertahan sekitar seminggu. Awalnya dikembangkan sebagai obat diabetes tipe 2, lalu efek penurunan berat badannya yang begitu nyata membuka jalur baru sebagai obat obesitas.
Mounjaro melangkah lebih jauh. Bahan aktifnya, tirzepatida, tidak hanya bekerja pada reseptor GLP-1, ia juga menstimulasi reseptor GIP, hormon incretin lainnya. Karena itu disebut dual agonist, agonis ganda. Anggap saja seperti menekan dua tombol kenyang sekaligus, bukan satu. Mekanisme GIP sendiri masih terus diteliti, tapi stimulasi kedua incretin bersamaan menghasilkan perubahan yang lebih besar pada penekanan nafsu makan dan regulasi metabolisme.
Satu kesalahpahaman yang sering perlu diluruskan: obat ini bukan pembakar lemak. Yang diubahnya adalah seberapa banyak kita makan dan seberapa kuat rasa lapar itu terasa, sasarannya bukan lemak, tapi otak dan lambung. Kalau anggapannya "tinggal suntik, lemak rontok sendiri," hasilnya akan jauh dari harapan, dan risiko berat badan naik kembali setelah berhenti pun lebih besar. Perbedaan angka antarobat yang terlihat di grafik mencerminkan seberapa kuat masing-masing mengubah nafsu makan.

Bagaimana berat badan bisa turun?
Yang disentuh obat ini pada akhirnya adalah nafsu makan, tapi bukan dengan cara memaksa seseorang menahan lapar dengan tekad. Obat ini bekerja di pusat nafsu makan di otak, membuat rasa lapar itu sendiri muncul lebih jarang dan lebih lemah, sementara rasa kenyang datang lebih cepat meski makan lebih sedikit. Orang yang biasanya menghabiskan satu porsi penuh mendapati dirinya berhenti di tengah tanpa usaha keras. Bukan karena menahan diri, tapi karena keinginan untuk terus makan memang berkurang.
Efek ini diperkuat oleh penundaan pengosongan lambung. Proses perpindahan makanan dari lambung ke usus melambat, sehingga makanan bertahan lebih lama di lambung, rasa kenyang memanjang, dan dorongan untuk ngemil di antara waktu makan pun berkurang. Bayangkan kran tangki air yang dikecilkan: yang tadinya kosong dalam satu jam, kini butuh dua hingga tiga jam. Efek inilah yang sering menimbulkan keluhan mual atau perut terasa penuh di awal, terutama saat dosis pertama kali dimulai atau dinaikkan. Biasanya membaik seiring tubuh beradaptasi, dan mengurangi porsi makan serta menghindari makanan berlemak tinggi sangat membantu.
Pertanyaan yang sering muncul: "Berarti tanpa olahraga pun bisa turun?" Secara teknis, obat ini memang mengurangi asupan kalori. Tapi ketika berat badan turun, bukan hanya lemak yang berkurang, massa otot pun ikut turun kalau tidak dijaga. Asupan protein yang cukup dan latihan kekuatan membantu memastikan yang turun adalah lemak, bukan otot, sekaligus memperkecil risiko berat badan naik lagi setelah berhenti.
Yang paling cepat dirasakan pasien bukan angka di timbangan, tapi perubahan nafsu makan. "Pikiran soal makanan berkurang," "makan sedikit langsung kenyang", itu yang paling sering terdengar di klinik. Berat badan mengikuti setelahnya, secara bertahap. Sebaliknya, ketika obat dihentikan dan efek penekanan nafsu makan hilang, perubahan itu ikut menghilang, dan grafik di atas yang memperlihatkan dua kelompok bergerak berlawanan arah menggambarkan persis momen itu. Inilah mengapa obat ini tidak bisa diperlakukan sebagai solusi jangka pendek.

Berapa banyak yang turun dalam uji klinis?
Angka dari penelitian membantu memberikan gambaran yang lebih konkret. Perhatikan grafik di atas: batang-batangnya naik seiring peningkatan dosis, semakin tinggi dosis, semakin besar rata-rata penurunan berat badan yang tercatat.
Uji klinis utama yang menjadi dasar Wegovy adalah studi STEP 1. Dalam penelitian ini, orang dewasa dengan obesitas diberikan semaglutida 2,4 mg sekali seminggu selama 68 minggu. Rata-rata berat badan turun sekitar 14,9%. Kalau berat awal 100 kg, itu berarti hampir 15 kg berkurang. Bandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya menjalani perubahan gaya hidup: penurunannya sekitar 2,4%. Perbedaannya cukup jelas.
Angka 14,9% itu adalah rata-rata. Dalam populasi yang sama, dengan dosis yang sama, ada yang hasilnya melampaui angka itu, ada yang tidak mencapainya. Daripada mematok ekspektasi "pasti turun 15 kg," lebih baik mulai dan lihat bagaimana tubuh Anda merespons dalam beberapa bulan pertama.
Untuk Mounjaro, bukti klinisnya berasal dari SURMOUNT-1. Tirzepatida diberikan sekali seminggu selama 72 minggu, dengan hasil bergantung pada dosis: 5 mg turun rata-rata sekitar 15%, 10 mg sekitar 19,5%, dan 15 mg, dosis tertinggi, sekitar 20,9%. Polanya konsisten: dosis lebih tinggi, penurunan lebih besar.
Tapi penting untuk dipahami: dua angka ini bukan hasil perbandingan langsung antara Wegovy dan Mounjaro dalam satu studi yang sama. Ini seperti membandingkan rekor dua atlet dari perlombaan berbeda, dengan jalur dan kondisi yang tidak identik. Kesimpulan yang tepat: keduanya menunjukkan penurunan berat badan yang bermakna secara klinis, dan tirzepatida dosis tinggi mencatat angka yang lebih besar, sampai di situ pemahamannya.

Apa bedanya kedua obat ini?
Perbedaan paling mendasar ada pada jumlah hormon yang distimulasi. Wegovy hanya bekerja pada satu reseptor, GLP-1. Mounjaro bekerja pada dua sekaligus, GLP-1 dan GIP. Hasil klinis yang lebih besar dari tirzepatida kemungkinan besar berkaitan dengan kerja ganda ini, dan konsekuensinya, perubahan nafsu makan maupun gejala pada saluran cerna juga cenderung lebih terasa.
Cara pemberiannya serupa. Keduanya adalah suntikan subkutan, disuntikkan di bawah kulit perut atau paha, sekali seminggu, menggunakan pen injeksi yang dirancang untuk digunakan sendiri di rumah. Dosis tidak langsung dimulai dari yang tertinggi: keduanya memulai dari dosis rendah, lalu dinaikkan bertahap setiap empat minggu atau sesuai toleransi. Tujuannya mengurangi efek samping pencernaan yang akan dibahas sebentar lagi. Menaikkan dosis terlalu cepat justru sering membuat pasien tidak tahan dan berhenti di tengah jalan, jadi meski terasa lambat, mengikuti jadwal kenaikan yang dianjurkan biasanya menghasilkan hasil yang lebih baik jangka panjang.
Soal nama yang sering membingungkan: Mounjaro dan Wegovy adalah nama produk, bukan nama zat aktifnya. Zat aktif Mounjaro adalah tirzepatida; zat aktif Wegovy adalah semaglutida. Semaglutida yang sama juga hadir dalam produk lain untuk diabetes dengan nama dan dosis berbeda. Saxenda, yang mungkin sudah lebih dulu dikenal karena masuk lebih awal ke pasar, mengandung liraglutida, GLP-1 agonis yang berbeda, dan harus disuntik setiap hari, bukan seminggu sekali.

Efek samping dan hal yang wajib diketahui
Efek samping yang paling umum hampir semuanya terjadi di saluran cerna. Grafik di atas menunjukkan hampir empat dari sepuluh pengguna mengalami mual, ini yang paling sering dan paling awal muncul, disusul diare dan muntah. Semua ini berkaitan langsung dengan efek penundaan pengosongan lambung: tubuh sedang beradaptasi dengan cara kerja obat. Biasanya paling terasa saat dosis pertama kali dimulai atau dinaikkan, lalu membaik seiring waktu. Itulah alasan kenaikan dosis dilakukan bertahap, bukan karena efek obatnya kurang, tapi karena toleransi tubuh perlu ruang.
Ada kontraindikasi yang harus benar-benar diperhatikan. Pasien dengan riwayat pribadi atau keluarga menderita kanker tiroid meduler (medullary thyroid carcinoma) atau sindrom neoplasia endokrin multipel tipe 2 (MEN2) tidak boleh menggunakan obat ini. Peringatan kotak hitam ini tercantum untuk kedua obat berdasarkan temuan dari studi pada hewan. Selain itu, riwayat pankreatitis, penyakit kandung empedu, kehamilan, atau rencana kehamilan perlu didiskusikan dulu dengan dokter sebelum memulai. Obat ini bukan sesuatu yang bisa dibeli dan digunakan sendiri hanya karena ingin menurunkan berat badan, riwayat medis lengkap harus dievaluasi terlebih dahulu.
Yang paling sering luput dari perhatian: berat badan cenderung kembali naik setelah berhenti. Ketika efek penekanan nafsu makan hilang, pola makan perlahan kembali ke semula, dan grafik sebelumnya memperlihatkan bagaimana kelompok yang berhenti mengalami kenaikan kembali yang signifikan. Obat ini bukan pengobatan singkat dua atau tiga bulan. Ia lebih tepat dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang yang berjalan beriringan dengan perubahan pola makan dan aktivitas fisik, bukan pengganti gaya hidup sehat, tapi alat bantu di dalamnya.

Situasi di Indonesia
Di Indonesia, Saxenda (liraglutida) sudah lebih dulu tersedia dan digunakan untuk penanganan obesitas di klinik-klinik swasta. Ozempic (semaglutida dalam formulasi untuk diabetes tipe 2) juga beredar, dan dalam praktiknya ada dokter yang menggunakannya secara off-label untuk penurunan berat badan. Wegovy dalam dosis khusus obesitas dan Mounjaro tergolong lebih baru ketersediaannya, dan kondisinya bisa berbeda dari satu kota ke kota lain maupun dari satu periode ke periode berikutnya, lonjakan permintaan global sempat membuat distribusi tidak merata di banyak negara, termasuk Indonesia. Cara paling akurat untuk mengetahui apa yang tersedia saat ini adalah menanyakan langsung ke klinik atau dokter yang menangani.
Dari sisi biaya, tidak ada satu pun di antara obat-obatan ini yang ditanggung BPJS untuk indikasi penurunan berat badan. Biayanya bisa mencapai jutaan rupiah per bulan, dan karena penggunaannya bersifat jangka panjang, akumulasi biayanya tidak kecil. Kenyataan inilah yang mendorong sebagian orang mencari jalan pintas lewat pembelian online atau jalur tidak resmi, dan ini yang perlu diwaspadai. Obat suntik yang disimpan atau dikirim tanpa kontrol suhu yang tepat berisiko rusak sebelum digunakan. Belum lagi soal apakah obat ini cocok untuk kondisi Anda, berapa dosis yang sesuai, dan bagaimana menangani efek samping bila muncul, semua itu adalah bagian dari proses medis yang tidak bisa dilewati begitu saja.
Mounjaro maupun Wegovy adalah obat-obatan yang efeknya nyata secara klinis. Tapi efektif bukan berarti tepat untuk semua orang. Kondisi berat badan, penyakit penyerta, kontraindikasi yang disebutkan sebelumnya, dan kesiapan menjalani pengobatan jangka panjang, semuanya perlu dipertimbangkan sebelum mulai. Obat ini bukan pilihan yang sesuai untuk yang hanya ingin turun beberapa kilogram demi penampilan tanpa indikasi medis yang jelas. GLP-1 agonis memang mengubah cara dunia memandang pengobatan obesitas, tapi hasil terbaik datang ketika penggunaannya dipandu dokter yang mengevaluasi kondisi dan kebutuhan pasien secara menyeluruh. Obatnya adalah alat, dan seperti alat apa pun, hasilnya bergantung pada bagaimana cara memakainya.
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Suntik Asam Deoksikolat untuk Lemak Bawah Dagu, Cara Kerja, Hasil, dan Efek Samping
Bagaimana suntikan deoxycholic acid (asam deoksikolat) melarutkan lemak bawah dagu, bukti persetujuan FDA Amerika, data efektivitas dari uji klinis besar, berapa sesi yang dibutuhkan, berapa lama hasilnya bertahan, serta efek samping apa yang perlu disiapkan, semua berdasarkan angka penelitian nyata.
By Dr. Lee

Wegovy dan Mounjaro, Sekali Suntik Efeknya Bertahan Berapa Hari, dan Benarkah Berat Badan Naik Lagi Setelah Berhenti?
Berapa lama satu suntikan Wegovy atau Mounjaro bekerja dalam tubuh, kapan efeknya mencapai puncak, dan apa yang terjadi pada berat badan setelah obat dihentikan, semuanya berdasarkan angka dari uji klinis nyata.
By Dr. Kim

Botoks Rahang, Trapezius, dan Betis, Efek per Area, Dosis, Durasi, dan Efek Samping dalam Satu Panduan
Cara botoks mengecilkan otot rahang kotak, trapezius, dan betis, seberapa besar efek pengurangan per area, perbedaan dosis, durasi bertahan, serta efek samping yang perlu diperhatikan pada otot-otot besar, dirangkum dari angka penelitian nyata.
By Dr. Kim