prettytime
Diet

Mounjaro dan Wegovy, Apa Bedanya: Cara Suntikan GLP-1 Menekan Nafsu Makan dan yang Terjadi Saat Berhenti

By Dr. Kim10 min read

Belakangan ini, kalau pasien mulai bicara soal menurunkan berat badan di ruang praktik, hampir pasti dua nama ini ikut disebut: Mounjaro dan Wegovy. Beberapa tahun lalu, kegemukan masih sering dianggap sekadar soal kurang disiplin. Tapi sejak ada suntikan yang langsung bekerja pada hormon pengatur nafsu makan, cara pandang itu cepat berubah. Angka penurunan berat badan yang dilaporkan di uji klinis jauh di atas obat mana pun sebelumnya, jadi wajar banyak orang penasaran. Masalahnya, kebanyakan pasien datang dengan cerita sukses orang lain di kepala, tapi belum benar-benar paham apa yang sebenarnya dilakukan obat ini di dalam tubuh, apa bedanya yang satu dengan yang lain, dan apa yang terjadi kalau berhenti. Justru karena obatnya kuat, saya selalu minta pasien memahaminya dulu sebelum mulai. Obat ini bisa apa, dan tidak bisa apa, itu yang paling pertama saya jelaskan sebelum kami memutuskan untuk memulai terapi.

Tingkat penurunan berat badan rata-rata tiga obat golongan GLP-1. Liraglutide sekitar 8%, semaglutide sekitar 14,9%, tirzepatide sekitar 20,9%. Makin banyak hormon yang bekerja, makin besar penurunannya. Angka-angka ini berasal dari uji klinis yang berbeda, jadi bukan perbandingan langsung.
Tingkat penurunan berat badan rata-rata tiga obat golongan GLP-1. Liraglutide sekitar 8%, semaglutide sekitar 14,9%, tirzepatide sekitar 20,9%. Makin banyak hormon yang bekerja, makin besar penurunannya. Angka-angka ini berasal dari uji klinis yang berbeda, jadi bukan perbandingan langsung.

Sebenarnya, Obat Apa Ini?

Grafik di atas menjajarkan rata-rata penurunan berat badan dari tiga kelompok obat golongan GLP-1. Liraglutide sekitar 8%, semaglutide sekitar 14,9%, dan tirzepatide sekitar 20,9%. Makin banyak hormon yang dituju, makin besar penurunannya. Tapi ingat, ketiga angka ini datang dari uji klinis yang berbeda-beda, bukan dari satu percobaan yang menjajarkan ketiganya langsung.

Mounjaro maupun Wegovy sama-sama suntikan yang meniru kerja hormon bernama GLP-1. Hormon ini termasuk golongan inkretin, dilepas usus setelah kita makan. Tugasnya merangsang pelepasan insulin supaya gula darah turun, sekaligus mengirim sinyal kenyang ke pusat nafsu makan di otak. Anggap saja semacam tombol "berhenti makan" yang dinyalakan tubuh sendiri begitu kita sudah cukup makan. Wegovy mengandung semaglutide, yang dibuat untuk melakukan persis pekerjaan GLP-1 tadi. Bedanya, GLP-1 alami di tubuh kita habis terurai dalam hitungan menit, sedangkan struktur semaglutide diutak-atik supaya kerjanya bertahan sekitar seminggu. Obat ini awalnya dikembangkan untuk diabetes, tapi efek penurunan berat badannya begitu mencolok sampai akhirnya dipakai juga untuk terapi obesitas.

Mounjaro melangkah satu tingkat lebih jauh. Kandungannya, tirzepatide, tidak cuma menyentuh GLP-1, tapi juga hormon inkretin lain bernama GIP sekaligus. Karena itulah ia disebut dual agonist, obat yang menuju dua reseptor sekaligus. Anggap saja menekan dua tombol kenyang sekaligus, bukan satu. Peran GIP kalau berdiri sendiri memang belum sepenuhnya dipahami, tapi menstimulasi dua inkretin bersamaan ternyata menghasilkan perubahan yang lebih besar dalam menekan nafsu makan dan mengatur metabolisme.

Ada satu hal yang ingin saya tegaskan: obat ini tidak "melelehkan lemak" atau "membakar kalori" secara langsung. Yang diubahnya adalah seberapa banyak kita makan dan seberapa lapar kita merasa. Yang disasar bukan jaringan lemak, melainkan otak dan lambung. Kalau ini disalahpahami, lalu pasien berpikir "tinggal disuntik, berat badan turun sendiri" sambil membiarkan pola makannya, efeknya akan jauh berkurang, dan begitu berhenti, berat badan gampang naik lagi. Perbedaan angka penurunan antarobat tadi pun sebenarnya mencerminkan seberapa besar masing-masing mengubah nafsu makan ini.

Perubahan berat badan saat terapi dilanjutkan dibandingkan saat dihentikan. Kelompok yang melanjutkan turun rata-rata 7,9% lagi, sedangkan yang berhenti naik kembali rata-rata 6,9%. Begitu obat dihentikan, sebagian besar berat yang sudah turun balik lagi. (Studi STEP 4)
Perubahan berat badan saat terapi dilanjutkan dibandingkan saat dihentikan. Kelompok yang melanjutkan turun rata-rata 7,9% lagi, sedangkan yang berhenti naik kembali rata-rata 6,9%. Begitu obat dihentikan, sebagian besar berat yang sudah turun balik lagi. (Studi STEP 4)

Bagaimana Cara Kerjanya sampai Berat Badan Bisa Turun?

Kuncinya ada di penekanan nafsu makan. Tapi ini lain dengan menahan lapar pakai tekad. Obat ini bekerja langsung di pusat nafsu makan di otak, sehingga rasa lapar sudah berkurang sejak awal dan rasa kenyang datang lebih cepat walau baru makan sedikit. Orang yang biasanya menghabiskan satu porsi penuh bisa jadi sudah meletakkan sendok di tengah jalan. Bukan karena memaksa diri berhenti, tapi karena memang sudah tidak ingin tambah lagi. Inilah yang membuat bagian tersulit dari diet, yaitu "perang melawan rasa lapar", terasa jauh lebih ringan dijalani.

Di atas itu ada efek tambahan, yaitu pengosongan lambung yang melambat. Makanan bergerak lebih pelan dari lambung ke usus. Karena makanan menetap lebih lama di lambung, rasa kenyang bertahan lebih panjang dan keinginan ngemil di sela waktu makan ikut menurun. Ibarat keran pembuangan tangki air yang dikecilkan sedikit: yang tadinya habis dalam sejam, sekarang baru kosong dalam dua sampai tiga jam. Efek inilah yang di awal pemakaian sering bikin perut begah atau mual, tapi biasanya lebih bisa ditahan kalau porsi makan dikurangi dan makanan yang terlalu berlemak dihindari.

Pertanyaan yang sering masuk: "Kalau pakai obat ini, berarti tidak perlu olahraga?" Betul, obat ini memang membantu mengurangi asupan kalori. Tapi saat berat badan turun, yang berkurang bukan cuma lemak; massa otot pun ikut menyusut. Asupan protein yang cukup dan latihan beban tetap perlu, supaya berat yang turun kualitasnya bagus dan risiko naik lagi setelah berhenti bisa ditekan.

Karena itu, perubahan yang paling pertama dirasakan pasien biasanya bukan angka di timbangan, melainkan nafsu makannya sendiri. Banyak yang cerita, "Pikiran soal makanan jadi berkurang," atau "Tahu-tahu saya sudah berhenti makan padahal piring belum habis." Berat badan turun belakangan, pelan-pelan, sebagai akibatnya. Sebaliknya, begitu obat dihentikan dan nafsu makan balik, perubahan tadi ikut hilang. Grafik di atas menunjukkan hal itu: kelompok yang meneruskan terapi rata-rata turun 7,9% lagi, sedangkan yang berhenti malah naik rata-rata 6,9%. Dua batang yang bergerak berlawanan arah ini intinya satu, yaitu begitu efek penekan nafsu makan hilang, sebagian besar berat yang sudah turun cenderung balik. Inilah kenapa terapi ini harus dilihat sebagai komitmen jangka panjang, yang akan saya bahas lagi nanti.

Tingkat penurunan berat badan rata-rata per dosis. Semaglutide 2,4mg sekitar 14,9%, tirzepatide 5mg sekitar 15%, 10mg sekitar 19,5%, 15mg sekitar 20,9%. Makin tinggi dosis, makin besar penurunannya. (STEP 1·SURMOUNT-1)
Tingkat penurunan berat badan rata-rata per dosis. Semaglutide 2,4mg sekitar 14,9%, tirzepatide 5mg sekitar 15%, 10mg sekitar 19,5%, 15mg sekitar 20,9%. Makin tinggi dosis, makin besar penurunannya. (STEP 1·SURMOUNT-1)

Berapa Persen yang Bisa Turun dalam Uji Klinis?

Karena perasaan saja susah jadi ukuran, mari kita pakai angka dari penelitian betulan. Grafik di atas memperlihatkan semaglutide 2,4mg menurunkan berat badan rata-rata sekitar 14,9%, sedangkan tirzepatide 5mg sekitar 15%, 10mg sekitar 19,5%, dan 15mg sekitar 20,9%. Polanya gamblang: makin tinggi dosis, makin besar rata-rata penurunannya.

Dasar utama untuk Wegovy datang dari studi STEP 1. Di penelitian ini, orang dewasa dengan obesitas diberi semaglutide 2,4mg seminggu sekali selama 68 minggu, dan berat badan turun rata-rata sekitar 14,9%. Artinya, orang dengan berat 100 kg rata-rata bisa kehilangan hampir 15 kg. Dibandingkan kelompok pembanding yang cuma mengatur gaya hidup dan turun sekitar 2,4%, selisihnya jelas besar. Tapi tolong diingat, 14,9% itu rata-rata. Respons tiap orang terhadap obat dan dosis yang sama bisa beda jauh; ada yang hasilnya melampaui harapan, ada yang kurang dari perkiraan. Jadi daripada terlanjur yakin "saya pasti turun 15 kg," lebih bijak memulai terapi, memantau respons tubuh selama beberapa bulan, lalu menilai hasilnya bersama dokter.

Dasar untuk Mounjaro datang dari studi SURMOUNT-1. Tirzepatide diberikan seminggu sekali selama 72 minggu, dan hasilnya berbeda menurut dosis: sekitar 15% pada 5mg, sekitar 19,5% pada 10mg, dan sekitar 20,9% pada dosis tertinggi 15mg. Makin tinggi dosis, makin besar efeknya, dan tren ini konsisten di semua kelompok.

Tapi ada catatan penting yang tidak boleh dilewatkan. Kedua angka tadi berasal dari uji klinis yang berbeda, bukan dari satu percobaan yang menjajarkan keduanya secara langsung. Pesertanya, durasinya, sampai cara pengelolaannya berbeda. Jadi tidak tepat menyimpulkan "Mounjaro sekian persen lebih bagus dari Wegovy" secara pasti. Yang bisa dikatakan secara umum: keduanya sama-sama menurunkan berat badan secara bermakna, dan tirzepatide dosis tinggi melaporkan angka yang lebih besar di uji klinisnya masing-masing.

Kemasan berisi berbagai jenis pil

Apa Perbedaan Mendasar Keduanya?

Perbedaan paling mendasar ada pada jumlah hormon yang dituju. Wegovy hanya menyentuh satu reseptor, yaitu GLP-1, sedangkan Mounjaro menyentuh GLP-1 dan GIP sekaligus. Kerja ganda inilah yang diduga membuat tirzepatide menunjukkan penurunan lebih besar di uji klinis. Tentu, efek yang lebih besar juga berarti perubahan nafsu makan dan gangguan saluran cerna bisa terasa lebih kentara.

Cara pakainya mirip untuk keduanya. Sama-sama disuntik sendiri seminggu sekali, di bawah kulit perut atau paha. Bukan tiap hari, cukup seminggu sekali. Pennya pun dirancang supaya pasien bisa menyuntik sendiri tanpa perlu petugas medis tiap kali. Keduanya juga dimulai dari dosis rendah, lalu dinaikkan bertahap kira-kira tiap empat minggu. Menaikkan dosis pelan-pelan ini bukan formalitas; tujuannya menekan efek samping di pencernaan. Kalau dosis dikejar terlalu cepat, mual yang hebat kerap memaksa pasien menghentikan pengobatan. Jadi walau di awal terasa lambat, mengikuti tahapan yang ditentukan justru membawa hasil lebih jauh dalam jangka panjang.

Supaya tidak bingung, ada baiknya juga membedakan nama produk dari nama zat aktifnya. Mounjaro itu nama produk, zat aktifnya tirzepatide. Wegovy nama produk, zat aktifnya semaglutide. Zat aktif yang sama, semaglutide, juga ada di Ozempic, yang diindikasikan untuk diabetes dengan dosis berbeda. Saxenda, yang barangkali sudah lebih dikenal banyak orang di Indonesia, mengandung liraglutide, GLP-1 jenis lain, dan disuntik setiap hari, beda dengan dua produk di atas yang cukup seminggu sekali. Nama-nama ini memang gampang tertukar.

Angka kejadian efek samping pencernaan yang sering dilaporkan pada pengguna semaglutide 2,4mg. Mual 43,9%, diare 29,7%, muntah 24,5%. Mual paling sering, hampir separuh pengguna. (Analisis gabungan STEP 1·2·3)
Angka kejadian efek samping pencernaan yang sering dilaporkan pada pengguna semaglutide 2,4mg. Mual 43,9%, diare 29,7%, muntah 24,5%. Mual paling sering, hampir separuh pengguna. (Analisis gabungan STEP 1·2·3)

Efek Samping dan Hal Penting yang Harus Diketahui

Efek samping yang paling umum berkumpul di saluran pencernaan. Grafik di atas menunjukkan, pada pengguna semaglutide 2,4mg, mual dialami 43,9%, diare 29,7%, dan muntah 24,5%. Mual, batang tertinggi di grafik, dialami hampir separuh pengguna, jadi inilah gejala yang besar kemungkinan paling pertama muncul saat memulai terapi. Mual, muntah, diare, dan sembelit adalah keluhan yang paling sering dilaporkan. Semua ini langsung berkaitan dengan melambatnya pengosongan lambung tadi, dan dari sisi lain bisa dibaca sebagai tanda bahwa obatnya sedang bekerja. Biasanya gejala ini paling terasa saat baru mulai atau begitu dosis dinaikkan, lalu mereda saat tubuh menyesuaikan diri. Itu sebabnya dosis dinaikkan pelan-pelan selama beberapa minggu, bukan langsung dilompatkan ke yang tertinggi.

Ada kontraindikasi yang wajib dipahami sebelum mulai. Pasien yang punya riwayat, baik pada dirinya maupun keluarga kandung, kanker tiroid meduler (medullary thyroid carcinoma) atau sindrom neoplasia endokrin multipel tipe 2 (MEN2) tidak boleh memakai obat ini. Risiko tumor tiroid ditemukan dalam studi pada hewan, sehingga keduanya tergolong kontraindikasi mutlak dengan peringatan kotak hitam (black box warning). Di luar itu, pasien yang pernah kena pankreatitis, punya penyakit kandung empedu, sedang hamil, atau berencana hamil, harus berbicara dulu dengan dokter sebelum memulai. Karena itulah obat ini tidak boleh dibeli atau dipakai sendiri cuma karena ingin menurunkan berat badan. Riwayat medis perlu ditelusuri menyeluruh dulu sebelum diputuskan.

Terakhir, dan ini yang paling sering terlewat: berat badan cenderung naik lagi cukup banyak setelah obat dihentikan. Begitu efek penekan nafsu makan hilang, asupan makan balik ke pola lama. Maka obat ini bukan resep jangka pendek yang dipakai dua-tiga bulan lalu selesai, melainkan terapi yang harus dijalani bersama perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup secara menyeluruh untuk jangka panjang. Ini bukan urusan yang beres hanya dengan suntikan. Hal ini sebaiknya dipahami jelas sejak awal.

Tenaga medis mengukur tekanan darah pasien

Bagaimana Situasinya di Indonesia?

Di Indonesia, Saxenda (liraglutide) sudah tersedia dan dipakai untuk terapi obesitas. Ozempic (semaglutide untuk diabetes) juga sudah dikenal luas dan sering ditanyakan pasien yang ingin menurunkan berat badan, walaupun pemakaiannya untuk tujuan itu harus menyesuaikan indikasi dan tetap diawasi dokter. Untuk Wegovy, yaitu formulasi semaglutide khusus obesitas, dan Mounjaro (tirzepatide) yang lebih baru, ketersediaannya di Indonesia sebaiknya dipastikan langsung ke fasilitas kesehatan yang dituju, karena pasokan bisa berubah dari waktu ke waktu dan kabar terbarunya perlu dicek ke sumber resmi.

Yang juga perlu diketahui, obat-obat ini umumnya tidak ditanggung asuransi dan biaya per bulannya tidak kecil. Karena terapi yang efektif sering harus dijalani lama untuk mempertahankan hasil, biaya yang menumpuk perlu dihitung sejak awal. Ada yang tergoda mencarinya lewat jalur daring atau tidak resmi dengan harga lebih murah, dan ini sangat tidak saya anjurkan. Risiko obat rusak karena penyimpanan yang tidak benar itu nyata, dan soal apakah obat ini cocok untuk kondisi Anda, berapa dosis yang pas, sampai bagaimana menangani efek samping yang muncul, semuanya hanya bisa dinilai lewat konsultasi medis yang benar.

Satu pesan penutup: Mounjaro maupun Wegovy memang obat yang kuat, tapi bukan untuk semua orang. Kondisi berat badan saat ini, penyakit penyerta, riwayat medis yang jadi kontraindikasi, sampai kesanggupan menjalani terapi jangka panjang, semuanya perlu ditimbang bersama dulu sebelum memutuskan mulai. Memakainya semata demi alasan estetika pada orang yang indeks massa tubuhnya belum memenuhi kriteria klinis pun tidak saya anjurkan. Kalau ada yang ingin ditanyakan, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mencari atau memakai obat ini.

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Back to articles