Dermatitis atopik: penyebab, cara memakai pelembap, salep, dan pengelolaan hidup
By Dr. Kim6 min read

Dermatitis atopik sering kali sudah membaik, tapi tak lama kemudian gatal lagi di tempat yang sama. Banyak yang bingung, salep sudah dioleskan dan kulit sudah tenang, tapi kenapa beberapa hari atau minggu kemudian area yang sama memerah lagi.
Alasannya sebenarnya sederhana. Dermatitis atopik bukan penyakit dengan satu penyebab tunggal. Ada dua kondisi yang berjalan bersamaan, yaitu skin barrier yang melemah dan sistem imun yang jadi terlalu reaktif, dan keduanya saling memicu sehingga membentuk lingkaran setan. Itulah sebabnya merawat barrier saja atau meredakan peradangan saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini sampai tuntas. Mari kita bahas satu per satu bagaimana mekanismenya bekerja.
Kenapa dermatitis atopik reda lalu kambuh lagi?
Kulit yang mengalami dermatitis atopik bisa terlihat baik-baik saja dari luar, padahal di dalamnya kelembapan terus menguap keluar. Lapisan terluar kulit, yaitu stratum korneum, seharusnya tersusun rapat seperti batu bata dan semen dari sel-sel kulit dan lemak, tapi pada kulit atopik struktur ini memang sudah longgar sejak awal.
Struktur yang longgar ini menimbulkan dua masalah sekaligus. Pertama, kelembapan jadi lebih mudah menguap keluar. Kedua, debu, bakteri, dan zat pemicu alergi dari luar jadi lebih mudah masuk ke dalam. Bayangkan rumah dengan pintu yang longgar, udara hangat dari pemanas gampang bocor keluar dan serangga gampang masuk, kira-kira seperti itulah yang terjadi pada kulit. Jadi walaupun gejala di permukaan sudah mereda, kalau barriernya sendiri belum pulih, iritasi akan masuk lagi dan peradangan pun kambuh.
Selain itu, permukaan kulit normalnya dihuni berbagai bakteri baik yang hidup seimbang. Namun di area yang barriernya melemah, keseimbangan ini ikut terganggu. Yang paling sering terlihat adalah bakteri Staphylococcus aureus yang berkembang jauh lebih banyak dari kondisi normal. Bakteri ini punya kemampuan menempel yang kuat di kulit, dan di tempat ia menempel, ia melepaskan zat yang justru memperparah peradangan, sehingga gejala jadi lebih lama sembuh.

Skin barrier yang lemah sejak awal karena kurang filaggrin
Di balik pelemahan barrier ini ada peran filaggrin, protein yang bertugas mengikat serat keratin dengan rapat di dalam sel kulit dan nantinya terurai menjadi natural moisturizing factor. Banyak orang dengan dermatitis atopik memiliki mutasi pada gen yang memproduksi filaggrin, sehingga sejak lahir barrier kulitnya memang tidak serapat kulit pada umumnya.
Kalau filaggrin kurang, kemampuan stratum korneum untuk menahan air pun ikut menurun. Natural moisturizing factor atau NMF yang terbentuk dari penguraian filaggrin ini bekerja seperti spons di dalam sel kulit, mengikat air agar tetap tertahan di sana. Kalau filaggrinnya kurang, fungsi spons ini pun ikut berkurang. Itulah kenapa kulit atopik kehilangan kelembapan lebih cepat dan lebih mudah kering dibanding kulit lain, meski berada di kelembapan udara yang sama.
Apa yang terjadi jika ceramide kurang?
Ceramide, lemak yang mengisi celah antar sel di stratum korneum agar kelembapan tidak bocor keluar, juga sering ditemukan berkurang jumlahnya pada kulit atopik. Kalau tadi filaggrin diibaratkan semen antar batu bata, ceramide adalah bahan pengisi yang menutup celah di antara batu bata itu sendiri, dan pada kulit atopik bahan pengisi ini memang tidak cukup.
Di sinilah muncul masalah lain yang membuat keadaan makin rumit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa IL-4, protein sinyal pemicu peradangan, justru mengganggu proses pembentukan ceramide itu sendiri. Artinya, kalau peradangan muncul, barrier jadi makin lemah, dan kalau barrier makin lemah, iritasi jadi lebih mudah masuk sehingga peradangan kembali memburuk. Karena itulah dermatitis atopik jarang berhenti setelah satu kali kambuh, tapi cenderung berulang di area yang sama.
Kenapa gatal dan menggaruk saling memperparah?
Ketika debu atau tungau debu rumah masuk lewat celah barrier yang melemah, sel imun tubuh mengenalinya sebagai ancaman dan langsung bereaksi. Sinyal utama yang dilepaskan dalam reaksi ini adalah IL-4 dan IL-13. Keduanya sebenarnya sinyal yang biasa dipakai tubuh untuk melawan parasit, tapi pada dermatitis atopik reaksi ini justru menyala terlalu kuat dan terlalu sering.
Sinyal ini juga merangsang saraf yang memicu rasa gatal. Kalau digaruk karena gatal, stratum korneum rusak secara fisik, dan di area yang rusak itu zat iritan jadi lebih gampang masuk sehingga sinyal peradangan kembali membesar. Alur di mana gatal, garukan, dan peradangan saling memperparah satu sama lain ini biasa disebut siklus gatal-garuk atau itch-scratch cycle. Memutus salah satu titik saja dari siklus ini sudah cukup untuk membuat keseluruhan alurnya perlahan mereda.
Siklus ini cenderung memburuk di malam hari. Saat malam, suhu tubuh naik sehingga aliran darah ke kulit meningkat, dan berbagai gangguan yang biasanya mengalihkan perhatian dari rasa gatal di siang hari pun berkurang, sehingga gatal terasa lebih menonjol. Itulah sebabnya garukan tanpa sadar saat tidur sering terjadi berulang, dan meski perawatan siang hari sudah dilakukan dengan baik, luka baru bisa muncul lagi semalaman.
Kapan dan seberapa banyak pelembap dioles?
Pelembap adalah alat paling dasar dalam perawatan dermatitis atopik. Fungsinya mengisi kembali lemak dan kelembapan yang hilang dari luar, sehingga barrier yang rusak bisa tertutup, setidaknya untuk sementara.
Beberapa prinsip berikut membantu memaksimalkan efeknya.
- Oleskan dalam 3 menit setelah mandi: kelembapan lebih mudah terkunci di kulit saat kondisinya masih lembap. Kalau dioleskan di kulit yang sudah kering, penyerapannya jadi lebih lambat dan efeknya pun berkurang.
- Pilih produk yang mengandung ceramide dan kolesterol: semakin mirip komposisi lemak dalam produk dengan lemak alami stratum korneum, semakin efektif produk itu menutup barrier yang rusak.
- Pakai minimal 2 kali sehari, dengan jumlah yang cukup: kalau dioleskan terlalu tipis, produk cepat kering dan kelembapan cepat hilang lagi. Takaran seruas jari biasa dijadikan patokan.
- Utamakan produk rendah pewangi dan alkohol: pewangi dan alkohol bisa jadi iritan tambahan bagi kulit yang sudah sensitif.
Salep dan cara mengelola gaya hidup
Untuk peradangan yang tidak mereda hanya dengan pelembap, kortikosteroid topikal atau topical calcineurin inhibitor (tacrolimus, pimecrolimus, salep yang menekan reaksi imun tanpa mengandung steroid) biasa digunakan bersamaan. Keduanya bekerja menekan sinyal peradangan itu sendiri, sehingga siklus gatal-garuk bisa diputus.
Untuk kasus yang gejalanya luas dan berat, obat biologis (seperti dupilumab) yang langsung memblokir sinyal IL-4 dan IL-13 juga bisa jadi pilihan. Dengan menutup satu jalur tempat kedua sinyal ini bertemu, ambang batas munculnya reaksi peradangan pun jadi lebih tinggi. Pada beberapa laporan, komposisi ceramide di barrier kulit terlihat ikut pulih setelah menjalani pengobatan ini.
Perawatan sehari-hari juga tetap dibutuhkan. Mandi singkat dengan air hangat kuku, membersihkan keringat dan debu secara rutin, serta menjaga kelembapan ruangan agar tidak terlalu rendah, semuanya disebutkan membantu. Semua langkah ini punya kesamaan, yaitu mengurangi rangsangan yang membebani barrier kulit.
Bahan pakaian juga sering luput diperhatikan. Wol atau serat sintetis yang kasar bisa menggesek permukaan kulit secara halus dan memicu rasa gatal lebih mudah. Karena itu, memakai bahan katun yang lembut dengan potongan longgar disarankan untuk mengurangi gesekan ini. Mencuci pakaian baru sebelum dipakai juga membantu menghilangkan sisa bahan kimia proses produksi yang masih menempel di permukaan kain.
Biasanya dibutuhkan sekitar 4 sampai 12 minggu perawatan rutin sebelum gejala terlihat mereda secara nyata. Namun karena dermatitis atopik adalah kondisi kronis yang tujuannya lebih ke arah pengendalian daripada penyembuhan total, melanjutkan pelembap dan perawatan barrier selama 6 sampai 12 bulan lebih, bahkan saat kulit sedang bebas gejala, disebutkan membantu mengurangi risiko kambuh.

References
Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Penyebab Kulit Kepala Seboroik dan Perawatannya: Mengapa Ketombe Terus Kambuh?
Dermatitis seboroik pada kulit kepala terjadi karena minyak, jamur, dan reaksi peradangan tubuh saling terkait satu sama lain. Artikel ini menjelaskan dengan mudah mengapa ketombe justru muncul di area yang berminyak, dan mengapa rasa gatal selalu kembali hanya dalam 2 sampai 3 hari meski sudah keramas.
By Dr. Lee

Penyebab Skin Barrier Rusak dan Cara Mengisi Ceramide hingga Pulih
Skin barrier adalah lapisan pelindung tipis yang terbentuk dari sel kulit mati dan lipid yang tersusun berlapis-lapis. Saat ceramide berkurang, muncul celah di lapisan ini sehingga kelembapan mudah menguap dan iritasi dari luar lebih gampang masuk. Berikut penjelasan kenapa skin barrier bisa rusak dan bagaimana ceramide mengisi kembali celah tersebut.
By Dr. Kim

Jerawat Akibat Masker: Penyebab dan Cara Merawat, Kenapa Muncul di Dagu dan Pipi?
Banyak orang merasa jerawat di area dagu dan pipi bertambah setelah lama memakai masker. Penyebabnya adalah kombinasi gesekan, kelembapan tinggi, dan penyumbatan pori yang bersama-sama membuat skin barrier melemah dan peradangan lebih mudah muncul. Berikut penjelasan mengapa hal ini terjadi dan cara merawatnya, disusun berdasarkan prinsip dasarnya.
By Dr. Kim