prettytime
Acne

Jerawat dewasa: penyebab, bahan perawatan, dan kapan harus ke dokter kulit

By Dr. Kim6 min read

Sudah lewat usia dua puluhan, tapi jerawat masih muncul lagi, wajar kalau bikin bingung. Kalau semasa remaja jerawat kecil-kecil bertebaran di dahi dan hidung, jerawat dewasa justru berkumpul di garis rahang dan sekitar mulut. Bentuknya juga beda, bukan komedo tipis, melainkan bruntusan merah yang keras dan bertahan lama.

Karena sama-sama disebut jerawat, wajar kalau kita mengira cara merawatnya juga sama. Padahal jerawat dewasa bukan sekadar masalah di permukaan kulit, melainkan hasil dari hormon dalam tubuh dan skin barrier yang saling terkait. Kalau paham dulu kenapa lokasinya beda dan kenapa susah hilang, arah perawatannya jadi jauh lebih jelas.

Apa beda lokasi jerawat dewasa dengan jerawat remaja?

Jerawat remaja biasanya menyebar luas di seluruh wajah, dahi, hidung, sampai pipi. Ini terjadi karena produksi hormon seks meningkat drastis di masa itu, sehingga kelenjar minyak di seluruh wajah ikut terstimulasi bersamaan.

Sebaliknya, jerawat dewasa cenderung terkonsentrasi di area yang lebih sempit, seperti garis rahang, sekitar mulut, dan leher. Begitu muncul satu, bekas merahnya bertahan lama, lalu muncul lagi di tempat yang sama. Berbeda dari tipe remaja yang menyebar luas, jerawat dewasa lebih ke arah kelenjar minyak di area tertentu saja yang bereaksi berlebihan.

Jerawat remaja juga umumnya mereda dengan sendirinya seiring waktu. Sementara jerawat dewasa terus berulang selama gaya hidup dan siklus hormon belum berubah. Penyebabnya bukan proses pertumbuhan yang sekali terjadi, melainkan sinyal yang muncul berulang setiap bulan.

Lebih dari separuh perempuan usia 20-an, yaitu 50.9%, mengalami jerawat, dan berlanjut cukup lama dengan 35.2% di usia 30-an dan 26.3% di usia 40-an. Jadi jerawat bukan masalah yang hilang saat masa remaja berakhir, melainkan keluhan yang umum dan wajar bagi perempuan dewasa.
Lebih dari separuh perempuan usia 20-an, yaitu 50.9%, mengalami jerawat, dan berlanjut cukup lama dengan 35.2% di usia 30-an dan 26.3% di usia 40-an. Jadi jerawat bukan masalah yang hilang saat masa remaja berakhir, melainkan keluhan yang umum dan wajar bagi perempuan dewasa.

Kenapa harus di garis rahang dan sekitar mulut?

Kulit di garis rahang dan sekitar mulut punya reseptor androgen (kelompok hormon pria yang juga ada dalam jumlah kecil di tubuh wanita) yang lebih padat dibanding area lain. Reseptor ini bisa dibayangkan seperti gembok yang bereaksi begitu hormon datang mengetuk pintu. Semakin banyak gemboknya, semakin besar reaksi yang muncul meski jumlah hormonnya sama.

Menariknya, orang dengan jerawat dewasa tidak selalu punya kadar hormon androgen yang tinggi kalau diperiksa lewat tes darah. Justru kadarnya sering masih dalam rentang normal, hanya saja kelenjar minyak di area rahang dan mulut lebih sensitif merespons hormon tersebut. Jadi masalahnya bukan pada jumlah hormonnya, melainkan seberapa peka kulit di area itu menerima sinyalnya.

Saat reseptor ini teraktivasi, kelenjar minyak memproduksi sebum lebih banyak dari biasanya. Minyak berlebih ini menyumbat pori-pori, dan di dalamnya bakteri penyebab jerawat (Cutibacterium acnes) berkembang biak, hingga akhirnya muncul jerawat radang yang merah dan keras.

Ditambah lagi, garis rahang adalah area yang sering tersentuh masker, syal, atau tangan, jadi gesekan fisik ikut menambah beban. Kelenjar minyak yang sudah sensitif, ditambah gesekan terus-menerus, membuat pori lebih mudah tersumbat dan pemulihannya pun lebih lambat dibanding area lain.

Pengaruh stres dan kurang tidur

Saat stres, tubuh melepaskan lebih banyak kortisol. Kortisol pada dasarnya adalah hormon yang membuat tubuh siaga saat menghadapi tekanan, dan kelenjar minyak ikut merespons sinyal ini dengan meningkatkan produksi sebum.

Karena itu, banyak orang merasa jerawat di rahang dan sekitar mulut makin parah saat masa ujian atau deadline pekerjaan. Beberapa penelitian bahkan melaporkan bahwa semakin tinggi tingkat stres, semakin parah jerawatnya. Meski begitu, stres saja tidak langsung menyebabkan jerawat, lebih tepatnya stres menambah beban minyak pada kelenjar yang memang sudah sensitif sejak awal.

Kurang tidur bekerja lewat jalur yang mirip. Saat tidur kurang, ritme kortisol jadi kacau, dan waktu pemulihan skin barrier pun berkurang. Itu sebabnya setelah begadang beberapa malam, bruntusan bisa muncul di area yang biasanya tidak bermasalah.

Tidur dan stres juga saling memengaruhi. Stres mengganggu tidur, dan kurang tidur kembali memicu hormon stres naik, jadi lingkarannya berputar terus. Karena itu, saat jerawat sedang parah, menjaga jam tidur sama pentingnya dengan mengatur kandungan skincare.

Kenapa jerawat di dagu memburuk sebelum haid?

Sejak ovulasi hingga sebelum menstruasi dimulai, hormon progesteron meningkat. Progesteron punya sifat sedikit membengkakkan kelenjar minyak, sehingga pori-pori cenderung lebih menyempit di periode ini.

Bersamaan dengan itu, kadar estrogen, hormon yang biasanya menjaga kulit tetap halus dan lembap, justru relatif menurun. Karena kekuatan yang biasanya menahan sinyal androgen jadi berkurang, sinyal androgen pun bekerja lebih menonjol. Itu sebabnya jerawat di rahang sering muncul serentak sekitar seminggu sebelum menstruasi.

Pola ini berulang setiap bulan, jadi kalau kamu mencatat kapan jerawat memburuk, kamu bisa mengenali siklus kulitmu sendiri. Dengan mengetahui siklusnya, kamu bisa memperkuat perawatan di waktu yang tepat.

Dari 400 pasien jerawat yang disurvei, 44% mengaku jerawatnya memburuk menjelang haid. Hampir separuhnya mengalami pola yang sama setiap bulan, jadi kalau jerawat di dagu selalu muncul sebelum haid, itu hal wajar yang terkait siklus tubuh.
Dari 400 pasien jerawat yang disurvei, 44% mengaku jerawatnya memburuk menjelang haid. Hampir separuhnya mengalami pola yang sama setiap bulan, jadi kalau jerawat di dagu selalu muncul sebelum haid, itu hal wajar yang terkait siklus tubuh.

Cara merawat konsisten dengan bahan yang lembut

Jerawat dewasa cenderung sensitif terhadap iritasi, jadi lebih menguntungkan memakai kandungan yang lembut secara konsisten. Beberapa kandungan berikut dikenal membantu:

  • niacinamide: mengatur produksi sebum dan memperkuat skin barrier. Kalau barrier semakin kuat, kulit jadi lebih tahan terhadap iritasi dari luar, sehingga jerawat baru lebih jarang muncul.
  • azelaic acid: meredakan penumpukan sel kulit mati di dalam pori sekaligus menekan pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Kandungan ini menangani dua penyebab sekaligus, sumbatan pori dan peradangan.
  • retinoid (termasuk retinol): membantu sel kulit mati di dalam pori terlepas secara normal tanpa menggumpal. Biasanya butuh pemakaian konsisten selama 8 hingga 12 minggu sebelum efeknya terlihat, jadi penting untuk tidak berhenti hanya karena belum ada perubahan di awal.
  • salicylic acid (BHA): mudah larut dalam minyak, sehingga bisa menembus pori yang tersumbat sebum lalu membersihkan sel kulit mati di dalamnya. Lebih cocok untuk area rahang yang berminyak dibanding AHA yang larut dalam air.
  • benzoyl peroxide: langsung menekan jumlah bakteri penyebab jerawat. Bisa menimbulkan iritasi, jadi sebaiknya mulai dari konsentrasi rendah, dan jangan dipakai bersamaan dengan kandungan lain di waktu yang sama karena bisa memperbesar risiko iritasi, lebih baik dipakai bergantian.

Daripada langsung memakai semua kandungan sekaligus, lebih baik mulai dari satu atau dua kandungan, lalu tambah bertahap sambil melihat respons kulit. Cara ini lebih meminimalkan risiko iritasi.

Kapan harus ke dokter kulit?

Kalau perawatan di rumah sudah dijalani tapi bruntusan merah tetap berulang lebih dari sebulan, atau muncul bekas maupun bopeng di area bekas jerawat, itu tandanya sudah waktunya konsultasi ke dokter kulit. Menekan peradangan sebelum bekas terbentuk bisa mengurangi bekas yang tertinggal di kemudian hari.

Jerawat berulang yang terbatas di garis rahang kadang tidak cukup diatasi dengan obat topikal saja, sehingga dokter kulit bisa mempertimbangkan obat oral atau terapi hormonal sebagai tambahan. Metode yang paling sesuai ditentukan setelah melihat lokasi dan tingkat keparahan jerawat, serta kaitannya dengan siklus menstruasi.

Kalau jerawat muncul bersamaan dengan pertumbuhan rambut tubuh yang tiba-tiba meningkat atau siklus menstruasi yang jadi tidak teratur, sebaiknya periksa kondisi hormon secara menyeluruh, bukan sekadar masalah kulit. Kulit sering menjadi jendela yang menunjukkan sinyal dari dalam tubuh.

Setelah memulai pengobatan, biasanya butuh 4 hingga 12 minggu pemakaian konsisten sebelum perubahan mulai terlihat. Karena jerawat dewasa muncul di atas siklus yang berulang, bukan kejadian sekali waktu, lebih baik memberi waktu cukup pada satu metode daripada terburu-buru berganti untuk menilai hasilnya.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Acne

Jerawat Remaja: Penyebab, Cara Merawat, dan Kapan Perlu Berobat ke Dokter

Jerawat pada masa pubertas dimulai saat hormon androgen memicu kelenjar minyak, lalu berlanjut ke penyumbatan pori dan peradangan lewat beberapa tahap. Berikut penjelasan mengapa jerawat begitu parah di usia ini, cara merawatnya di rumah, dan kapan sebaiknya periksa ke dokter kulit.

By Dr. Lee

Acne

Jerawat punggung: penyebab, bahan pengobatan, lama sembuh, dan cara merawat

Jerawat punggung berawal dari akar yang sama dengan jerawat wajah, tetapi berkembang berbeda karena ketebalan kulit, kepadatan kelenjar minyak, keringat, dan gesekan. Berikut penjelasan kenapa jerawat lebih mudah muncul di punggung, kenapa responsnya lebih lambat terhadap perawatan, serta cara menanganinya.

By Dr. Kim

Skincare

Jerawat Setelah Bercukur: Folikulitis Pseudo dan Folikulitis Bakteri, Apa Bedanya?

Jerawat dan bekas kemerahan yang berulang setelah bercukur muncul karena beberapa mekanisme berbeda yang saling tumpang tindih, mulai dari kerusakan skin barrier, rambut yang tumbuh ke dalam, hingga infeksi bakteri. Artikel ini menjelaskan penyebab masing-masing serta bagaimana arah cukuran, kondisi pisau cukur, dan perawatan setelahnya memengaruhi tingkat keparahan masalah kulit ini.

By Dr. Kim

Back to articles