Cara Menghilangkan Xanthelasma Kuning di Kelopak Mata, Prinsip Laser CO2 dan Er:YAG serta Alasan Sering Kambuh, Pengelolaan Kadar Lemak Darah
By Dr. Kim8 min read

Kadang muncul sesuatu yang kuning dan pipih di kelopak mata atas, tepatnya di bagian dalam dekat hidung. Tidak sakit kalau disentuh, tapi susah ditutupi make up sehingga bikin risih. Bercak kuning yang muncul di kelopak mata ini disebut xanthelasma.
Xanthelasma adalah kelainan jinak yang muncul karena penumpukan lemak seperti kolesterol di dalam kulit. Kondisi ini tidak terlalu mengancam kesehatan, tapi bisa jadi sinyal yang menunjukkan kondisi lemak darah di dalam tubuh, jadi sayang kalau dibiarkan begitu saja. Selain itu, meski sudah dihilangkan dengan tuntas, xanthelasma sering muncul lagi, jadi lebih baik memahami dulu prinsipnya sebelum menangani. Karena itu, di sini akan dibahas satu per satu apa sebenarnya xanthelasma, hubungannya dengan kolesterol, bedanya dengan milia dan syringoma yang tampilannya mirip, cara menghilangkannya dengan laser CO2 dan Er:YAG, kenapa sering kambuh, dan kapan sebaiknya periksa ke dokter, semuanya berdasarkan data penelitian nyata.
Xanthelasma Itu Sebenarnya Apa?
Xanthelasma adalah bercak kuning yang terbentuk karena penumpukan lemak, yaitu zat seperti kolesterol, di dalam kulit kelopak mata. Dalam istilah medis disebut xanthelasma palpebrarum. Bercak ini biasanya muncul di kelopak mata atas bagian dalam, dekat hidung, dan sering muncul simetris di kedua mata. Warnanya kuning atau kuning pucat keoranyean, permukaannya halus dan sedikit menonjol.
Kelainan ini biasanya tidak nyeri atau gatal, dan cenderung melebar atau bertambah banyak secara perlahan seiring waktu. Sekali muncul, xanthelasma juga tidak hilang sendiri. Untungnya, kondisi ini tidak berubah jadi kanker dan tidak mengancam penglihatan, jadi sebenarnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Meski begitu, xanthelasma tidak muncul pada semua orang. Dari seluruh populasi, sekitar 1.1% perempuan dan sekitar 0.3% laki-laki mengalaminya, dan paling sering muncul pada usia paruh baya, 30 sampai 50 tahun. Jadi, kondisi ini sedikit lebih sering ditemukan pada perempuan paruh baya. Sekilas terlihat seperti masalah kecantikan saja, tapi karena hubungannya dengan kolesterol yang akan dibahas berikutnya, xanthelasma juga jadi alasan bagus untuk mengecek kondisi tubuh bagian dalam.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Warna | Kuning, kuning pucat keoranyean |
| Lokasi | Kelopak mata atas bagian dalam, simetris |
| Tekstur | Bercak halus dan sedikit menonjol |
| Nyeri | Tidak ada |
| Perubahan | Membesar dan bertambah perlahan |
| Sifat | Jinak, tidak hilang sendiri |

Apa Hubungannya dengan Kolesterol?
Sesuai namanya, xanthelasma terbentuk karena penumpukan lemak, jadi hubungannya dengan kadar lemak darah memang erat. Ini terjadi karena sel-sel yang membawa kolesterol berkumpul di dalam kulit dan membentuk bercak kuning tersebut. Jadi, kalau muncul xanthelasma, ada baiknya kadar lemak darah dicek sekali saja.
Faktanya, sekitar setengah dari orang dengan xanthelasma memiliki kadar kolesterol atau trigliserida yang berada di luar batas normal. Bahkan beberapa penelitian melaporkan angka yang lebih tinggi, 60% hingga 80%. Kondisi ini terutama berkaitan dengan tingginya LDL, yang dikenal sebagai kolesterol jahat. Namun, sisanya, sekitar setengah lagi, punya kadar lemak yang normal, jadi xanthelasma bukan berarti pasti ada hiperlipidemia atau kolesterol tinggi.
Meski begitu, angka setengah itu tetap tidak bisa dianggap kecil. Karena itu, terlepas dari niat untuk menghilangkannya, tes darah untuk memeriksa kolesterol total, LDL, dan trigliserida tetap dianjurkan begitu xanthelasma ditemukan. Kalau muncul beberapa bercak sekaligus di usia muda, ada kemungkinan penyebabnya adalah kelainan genetik seperti hiperkolesterolemia familial, jadi perlu diperiksa lebih lanjut. Selain itu, kadar lemak darah yang tinggi dalam waktu lama juga memengaruhi kesehatan pembuluh darah, jadi pemeriksaan ini bukan cuma soal area mata, tapi juga untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan. Pada akhirnya, xanthelasma bisa dilihat sebagai masalah kecantikan, sekaligus sinyal yang dikirim tubuh tentang kondisi lemak darah.
Bagaimana Membedakannya dengan Milia dan Syringoma?
Kalau muncul sesuatu di area mata, sering kali sulit membedakan apakah itu xanthelasma atau kondisi lain. Yang paling sering tertukar adalah milia dan syringoma, padahal penyebab, warna, dan teksturnya berbeda-beda. Perlu dipastikan dulu jenisnya sebelum menentukan cara menghilangkannya.
Xanthelasma adalah bercak kuning akibat penumpukan lemak, jadi cirinya kuning dan melebar pipih. Milia sebaliknya, berupa butiran putih kecil akibat sel kulit mati yang terperangkap di bawah lapisan kulit, teraba seperti butiran putih mengkilap seperti mutiara, dan kalau dipencet keluar sel kulit mati putih. Sementara syringoma adalah tumor jinak yang berasal dari kelenjar keringat, berupa benjolan kecil keras berwarna kulit yang muncul berkelompok dan bertekstur bergerindil di bawah mata. Jadi, kalau kuning dan pipih kemungkinan besar xanthelasma, kalau butiran putih kemungkinan besar milia, dan kalau benjolan keras berwarna kulit kemungkinan besar syringoma.
Alasan membedakan ketiganya adalah karena penyebab dan penanganannya berbeda. Xanthelasma perlu diimbangi dengan pengelolaan lemak darah, milia biasanya cukup selesai dengan mengeluarkan sel kulit matinya, sedangkan syringoma punya akar yang dalam sehingga penanganannya harus mempertimbangkan kemungkinan kambuh. Kalau dari tampilan saja masih meragukan, dokter bisa melihatnya lebih dekat dengan alat pembesar atau, kalau perlu, memeriksa jaringannya. Menentukan jenisnya secara tepat membantu menghindari tindakan yang sebenarnya tidak perlu.
| Kategori | Xanthelasma | Milia | Syringoma |
|---|---|---|---|
| Penyebab | Penumpukan lemak | Kista sel kulit mati | Tumor kelenjar keringat |
| Warna | Kuning | Putih | Warna kulit |
| Tekstur | Bercak pipih | Butiran putih | Benjolan keras |
| Lokasi | Kelopak mata atas bagian dalam | Pipi area mata | Bawah mata |

Bagaimana Cara Menghilangkannya?
Ada berbagai cara untuk menghilangkan xanthelasma, tapi saat ini yang paling utama adalah laser CO2 dan laser Er:YAG. Kedua laser ini memancarkan cahaya yang mudah diserap air. Begitu mengenai bercak kuning, kandungan air di jaringan itu langsung mendidih sesaat dan jaringan menguap tipis. Proses ini disebut ablasi atau penguapan jaringan. Sederhananya, lapisan tipis tempat lemak menumpuk dikikis dan dihilangkan selapis demi selapis.
Laser Er:YAG punya daya serap air yang sangat baik, sehingga bisa bekerja sangat dangkal dan presisi dengan kerusakan panas di sekitarnya yang minim. Karena itu, laser ini cocok untuk kelopak mata yang kulitnya tipis dan sensitif. Laser CO2 juga bekerja dangkal sambil sekaligus menghentikan perdarahan pembuluh darah halus, sehingga hasil akhirnya rapi. Kalau bercaknya besar atau tertanam dalam, eksisi dengan pisau bedah bisa langsung dilakukan sejak awal untuk mengangkat sampai ke akarnya.
Dulu ada juga metode menggunakan asam ringan trichloroacetic acid (TCA) untuk membakar bercaknya. Namun, cara ini sulit dikendalikan kedalamannya, sehingga mudah meninggalkan bekas luka atau perubahan warna kulit, dan karena itu sekarang jarang dipakai lagi. Pada dasarnya, kalau bercaknya tipis dan luas, laser jadi pilihan utama, sedangkan kalau besar dan dalam, eksisi lebih dipilih. Meski begitu, metode apa pun yang dipakai tetap menyisakan tantangan kekambuhan, dan seperti terlihat pada grafik di atas, angka kekambuhannya cukup berbeda tergantung metode.

Kenapa Sering Kambuh?
Hal paling merepotkan dari xanthelasma adalah kekambuhannya yang cukup sering. Seperti terlihat pada grafik sebelumnya, laser relatif lebih rendah, laser CO2 dilaporkan sekitar 7% dan laser Er:YAG sekitar 15%. Sementara itu, ada penelitian lama yang menunjukkan eksisi dengan pisau bedah bisa mencapai sekitar 40% pada tindakan pertama, dan naik hingga sekitar 60% kalau diulang.
Ada alasan di balik seringnya kekambuhan ini. Pertama, kalau penyebab dasarnya, yaitu kadar lemak darah di dalam tubuh, tidak diperbaiki, kolesterol mudah menumpuk lagi di tempat yang sama atau di sekitarnya. Selain itu, kelopak mata atas bagian dalam terletak dekat mata, sehingga dokter harus berhati-hati kalau menangani sampai terlalu dalam, dan ini membuat pengangkatan total jadi tidak mudah. Akibatnya, meski bercak kuning yang terlihat sudah hilang, kalau akarnya masih tersisa, bercak itu bisa muncul lagi seiring waktu.
Karena itu, kunci pengelolaannya adalah menjalankan tindakan menghilangkan bercak bersamaan dengan pengendalian kadar lemak darah. Kalau memang ada hiperlipidemia, mengatur pola makan atau, kalau perlu, menggunakan obat penurun kolesterol dari dokter penyakit dalam bisa membantu mengurangi kekambuhan. Setelah tindakan, tidak memaksa mengelupas keropeng dan rajin melindungi kulit dari sinar matahari juga membantu. Kalaupun muncul lagi, menanganinya sejak dini dengan laser lebih ringan bebannya, jadi sebaiknya area ini tetap dipantau secara berkala meski sudah pernah dihilangkan.
Kapan Harus ke Dokter dan Apa yang Perlu Diperiksa?
Xanthelasma bukan kondisi yang harus segera ditangani. Meski begitu, begitu muncul bercak kuning di kelopak mata, ada baiknya sesekali memeriksakan diri ke dokter. Terlepas dari soal menghilangkannya secara estetika, ini juga jadi kesempatan untuk mengecek kondisi lemak darah di dalam tubuh.
Yang paling utama diperiksa adalah tes darah. Kolesterol total, LDL, dan trigliserida diukur untuk melihat apakah ada hiperlipidemia yang tersembunyi. Kalau bercaknya muncul banyak di usia muda, atau ada anggota keluarga yang punya riwayat penyakit jantung sejak usia dini, lebih aman mempertimbangkan kemungkinan kelainan genetik seperti hiperkolesterolemia familial dan memeriksakan diri juga ke dokter penyakit dalam. Ada juga laporan bahwa xanthelasma bisa berkaitan dengan risiko kardiovaskular, jadi pemeriksaan kadar lemak darah ini sebaiknya tidak dilewatkan begitu saja.
Setelah itu, baru soal cara menghilangkannya. Dokter kulit akan melihat ukuran, kedalaman, dan lokasi bercak untuk menentukan apakah laser atau eksisi yang lebih cocok. Pada tahap ini, lebih baik memahami dulu bahwa kekambuhan itu wajar terjadi, dan merencanakan pengelolaan lemak darah bersamaan dengan tindakannya. Pada akhirnya, xanthelasma adalah masalah kecantikan untuk merapikan area mata, sekaligus masalah kesehatan yang menunjukkan sinyal lemak darah dari dalam tubuh. Menangani keduanya bersamaan adalah cara paling tepat.
| Situasi | Anjuran |
|---|---|
| Ditemukan bercak kuning | Periksa ke dokter kulit, tes darah |
| Muncul banyak di usia muda | Periksa hiperlipidemia familial |
| Riwayat penyakit jantung keluarga | Periksa juga ke dokter penyakit dalam |
| Sebelum menghilangkan | Sertakan tes lemak darah |
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Cara Menghilangkan Milia di Sekitar Mata, Ekstraksi Manual, Laser CO2 dan Erbium YAG, serta Perawatan agar Tidak Kambuh
Kenapa milia berupa bintik putih kecil muncul di sekitar mata, apa bedanya dengan syringoma, kapan ekstraksi manual dan laser CO2 atau Erbium YAG dipakai, apakah boleh mencungkilnya sendiri dengan jarum, dan seberapa sering kambuh, dirangkum secara mudah dari jurnal yang sebenarnya.
By Dr. Lee

Perawatan syringoma di bawah mata, efek laser CO2 dan Erbium YAG, serta cara mengatasi kambuh dan hiperpigmentasi
Kenapa syringoma yang muncul kecil-kecil di bawah mata susah hilang, cara membedakannya dari milia, bedanya efek dan pemulihan laser CO2 dengan Erbium YAG, serta cara mengelola kekambuhan dan hiperpigmentasi, semua dirangkum dengan mudah berdasarkan data riset asli.
By Dr. Kim

Prinsip Laser CO2 Menghilangkan Tahi Lalat, Kambuh, Bekas Luka, Hiperpigmentasi, sampai Tanda ABCDE Melanoma
Penjelasan tentang apa itu tahi lalat, bedanya dengan keratosis seboroik, skin tag, dan kutil, cara laser CO2 menguapkan tahi lalat, cara mengelola risiko kambuh, bekas luka, dan hiperpigmentasi, alasan tahi lalat yang dalam dan besar lebih cocok dieksisi punch, sampai tanda ABCDE yang membedakan melanoma, disertai data penelitian nyata.
By Dr. Kim