prettytime
Skincare

Cara Menghilangkan Milia di Sekitar Mata, Ekstraksi Manual, Laser CO2 dan Erbium YAG, serta Perawatan agar Tidak Kambuh

By Dr. Lee7 min read

Kadang muncul butiran putih kecil seperti biji beras yang menonjol di sekitar mata atau pipi. Dipencet susah keluar, ditutup dengan makeup pun tetap terasa kasar, jadi cukup mengganggu. Butiran putih seperti ini sering kali adalah milia.

Milia adalah kista kecil yang terbentuk ketika sel kulit mati terperangkap di bawah permukaan kulit. Kabar baiknya, milia lebih mudah ditangani dan lebih jarang kambuh dibanding syringoma di bawah mata, jadi kalau dikeluarkan dengan benar biasanya bisa bersih rapi. Hanya saja, memencetnya sendiri secara paksa di rumah bisa meninggalkan bekas atau malah menambah jumlahnya, jadi lebih baik memahami dulu cara kerjanya. Kenapa milia bisa muncul, apa bedanya dengan syringoma yang sekilas mirip, kapan ekstraksi manual dan laser CO2 atau Erbium YAG dipakai, apakah boleh dikeluarkan sendiri dengan jarum di rumah, dan seberapa sering kambuh, semuanya saya rangkum satu per satu dari jurnal yang sebenarnya.

Milia terbagi menjadi tipe primer yang muncul dengan sendirinya dan tipe sekunder yang muncul setelah cedera, sedangkan milia pada bayi baru lahir hilang sendiri
Milia terbagi menjadi tipe primer yang muncul dengan sendirinya dan tipe sekunder yang muncul setelah cedera, sedangkan milia pada bayi baru lahir hilang sendiri

Kenapa Milia Bisa Muncul?

Milia adalah kista kecil yang terbentuk ketika sel kulit mati, yaitu keratin, terperangkap di bawah epidermis. Bentuknya butiran halus berwarna putih atau kuning pucat, dan ukurannya umumnya kecil, sekitar 1 sampai 2mm. Biasanya muncul di kelopak dan sekitar mata, pipi, serta dahi. Ciri khasnya, kalau dipencet keluar gumpalan keratin putih dari dalamnya.

Milia dibagi menjadi dua jenis besar. Tipe primer muncul dengan sendirinya tanpa penyebab khusus dan ini yang paling umum. Tipe sekunder muncul setelah kulit mengalami cedera, dengan pemicu seperti luka bakar, chemical peeling, penyakit yang menimbulkan lepuh, atau pemakaian steroid topikal dalam jangka panjang. Milia juga bisa muncul setelah tindakan laser atau prosedur lain, jadi tindakan itu sendiri kadang justru memicu milia baru.

Satu hal yang menenangkan, milia sangat umum pada bayi baru lahir. Sekitar 40 sampai 50% bayi baru lahir yang sehat memiliki milia, dan biasanya hilang dengan sendirinya tanpa bekas dalam beberapa minggu setelah lahir. Milia pada orang dewasa memang bisa saja tidak hilang sendiri, tetapi kalau diangkat, hasilnya cenderung baik. Karena pendekatannya sedikit berbeda tergantung penyebab, membedakan apakah ini tipe primer atau sekunder juga membantu. Khususnya untuk tipe sekunder, iritasi pemicunya perlu ikut dikurangi supaya tidak muncul lagi.

Milia adalah kista keratin yang dangkal di dekat epidermis, sedangkan syringoma adalah tumor kelenjar keringat di lapisan dermis yang lebih dalam, sehingga prognosisnya berbeda
Milia adalah kista keratin yang dangkal di dekat epidermis, sedangkan syringoma adalah tumor kelenjar keringat di lapisan dermis yang lebih dalam, sehingga prognosisnya berbeda

Apa Bedanya dengan Syringoma?

Di antara bintik seperti biji beras yang muncul di sekitar mata, syringoma juga umum, jadi keduanya mudah tertukar. Padahal sifatnya benar-benar berbeda. Milia adalah kista keratin yang terperangkap di lapisan epidermis yang dangkal. Butirannya putih seperti mutiara, dan kalau dibuka sedikit, keratin di dalamnya keluar sehingga biasanya beres dalam sekali tindakan.

Syringoma berbeda dengan itu. Ini adalah tumor jinak yang berasal dari kelenjar keringat dan bercokol di lapisan dermis yang dalam, jadi tidak ada butiran putih yang keluar dan terasa sebagai papula padat berwarna kulit saat diraba. Karena akarnya dalam, kalau hanya permukaannya yang ditangani akan mudah kambuh. Jadi, kalau keluar butiran putih itu milia, sedangkan kalau ada beberapa papula padat berwarna kulit yang tersusun simetris di bawah mata, kemungkinan besar itu syringoma.

Alasan membedakan keduanya penting adalah karena tingkat kesulitan penanganan dan prognosisnya berbeda. Milia letaknya dangkal sehingga cukup mengeluarkan keratinnya saja, jadi relatif sederhana dan jarang kambuh. Syringoma akarnya dalam, jadi didekati dengan konsep dikelola sambil memperhitungkan kemungkinan kambuh. Ada juga kasus keduanya muncul bersamaan di satu wajah, jadi memilah dulu mana yang mana adalah titik awal penanganan yang tepat. Kalau dari tampilan luar saja masih ambigu, bisa dilihat dengan pembesaran atau bila perlu dipastikan melalui pemeriksaan jaringan, dan dengan membedakannya seperti ini, tindakan yang berulang-ulang tanpa perlu bisa dikurangi.

Untuk milia yang dangkal, ekstraksi manual jadi pilihan pertama, sedangkan bila banyak atau dalam, dipakai laser
Untuk milia yang dangkal, ekstraksi manual jadi pilihan pertama, sedangkan bila banyak atau dalam, dipakai laser

Apakah Ekstraksi Manual Jadi Pilihan Pertama?

Dasar penanganan milia adalah ekstraksi manual. Caranya, permukaan dibuka sedikit dengan jarum steril atau pisau kecil, lalu gumpalan keratin di dalamnya ditekan supaya keluar. Karena lesinya berada dangkal, cara ini saja umumnya sudah bisa membereskannya dengan rapi. Waktu pemulihannya juga singkat, hanya berupa keropeng kecil atau kemerahan yang sebentar muncul lalu mereda.

Jadi kalau milianya sedikit dan dangkal, sering kali cukup dengan ekstraksi tanpa perlu sampai laser. Hampir tidak meninggalkan bekas, dan waktu tindakannya pun singkat. Namun bila lokasinya sulit atau lesinya bercokol dalam, atau jumlahnya sangat banyak, ekstraksi saja punya keterbatasan.

Dalam situasi seperti ini, laser CO2 atau Erbium YAG menjadi pilihan. Cara kerjanya membuka secara halus untuk mengeluarkan keratin, jadi menguntungkan untuk area yang halus seperti sekitar mata atau untuk kasus yang banyak. Untuk milia sekunder yang banyak atau sering kambuh, kadang retinoid topikal dipakai bersamaan, yang membantu mengurangi milia baru yang muncul. Singkatnya, kalau dangkal dan sedikit pakai ekstraksi, kalau banyak atau dalam atau lokasinya sulit didekati dengan laser. Apa pun pilihannya, karena lesinya sendiri dangkal, pemulihannya cenderung mudah.

Laser CO2 dan Erbium YAG dipakai secara presisi untuk milia yang banyak atau berlokasi sulit

Kapan Laser CO2 dan Erbium YAG Dipakai?

Laser terutama membantu saat lesinya banyak atau lokasinya sulit. Pada kasus milia multipel yang ditangani dengan laser CO2, setelah beberapa kali tindakan hasilnya membaik secara jelas, dan pada pemantauan 12 sampai 36 bulan pun tidak ada kekambuhan maupun efek samping yang tidak biasa. Milia yang menyebar luas di sekitar mata juga menunjukkan hasil yang baik.

Laser Erbium YAG punya penyerapan tinggi terhadap air sehingga menangani jaringan secara dangkal dan presisi, dengan kerusakan panas ke sekitar yang minim. Karena itu menguntungkan untuk area halus seperti sekitar mata. Pada kasus milia yang membandel dan menyebar di sekitar mata yang ditangani dengan Erbium YAG, milianya hampir sepenuhnya hilang, dan pada pemantauan 12 bulan tidak ada bekas luka, perubahan pigmen, maupun komplikasi pada mata.

Kedua laser sama-sama menangani secara dangkal dan presisi. Hanya saja, karena keduanya laser ablatif, pada kulit yang lebih gelap perlu diperhatikan risiko hiperpigmentasi, jadi sebaiknya intensitas tindakan diatur dan perawatan terhadap sinar UV setelah tindakan ikut dijalankan. Penelitian pembanding besar yang menentukan mana yang lebih baik antara CO2 dan Erbium YAG belum ada, jadi pilihannya menyesuaikan kedalaman lesi dan kondisi kulit. Karena lesi milia cenderung dangkal, pemulihan dan hasilnya umumnya lebih mudah dibanding syringoma. Cukup pilih antara ekstraksi dan laser sesuai lokasi, jumlah, dan kondisi kulit.

Kalau dipencet paksa dengan jarum di rumah, bisa terjadi infeksi, bekas luka, atau muncul milia baru
Kalau dipencet paksa dengan jarum di rumah, bisa terjadi infeksi, bekas luka, atau muncul milia baru

Bolehkah Mengeluarkannya Sendiri dengan Jarum di Rumah?

Begitu melihat butiran putih, muncul keinginan untuk langsung mengeluarkannya sendiri dengan jarum di rumah. Tetapi bagian ini sebaiknya hati-hati. Milia ditutupi oleh epidermis normal di atasnya, jadi kalau dipaksa dibuka, bisa timbul berbagai masalah. Walau dari luar tampak sudah keluar semua, kalau dinding kistanya tertinggal, milia bisa terisi lagi.

Yang paling sering terjadi adalah infeksi dan bekas luka. Terutama di sekitar kelopak mata, kulitnya tipis sehingga kalau salah tangani mudah meninggalkan bekas. Yang lebih ironis, iritasi yang diberikan ke kulit itu sendiri bisa memicu milia baru. Milia sekunder yang tadi disebut memang muncul setelah cedera, jadi upaya mengeluarkan sendiri yang keliru justru bisa menambah lesinya. Kalau berniat menghilangkan satu tetapi malah muncul beberapa lagi di sekitarnya, malah lebih merepotkan.

Jadi lebih aman ditangani dokter spesialis dengan alat yang steril. Kalau lokasinya sulit atau jumlahnya banyak tinggal pakai laser, kalau dangkal dan sedikit cukup diekstraksi sederhana di klinik. Jauh lebih rapi dan risikonya lebih kecil dibanding ditangani sendiri di rumah. Terutama memencetnya dengan kuku atau jarum yang tidak steril berisiko infeksi tinggi, jadi sebaiknya dihindari. Semakin halus areanya seperti sekitar mata, semakin baik menyerahkannya kepada profesional untuk hasil yang lebih baik.

Milia lebih jarang kambuh dibanding syringoma sehingga perawatannya lebih mudah

Apakah Milia Jarang Kambuh?

Hal yang menyenangkan dari milia adalah lebih jarang kambuh dibanding syringoma. Karena lesinya adalah kista keratin yang dangkal, asal keratinnya dikeluarkan dengan benar, area itu biasanya beres dengan rapi. Ini berbeda dengan syringoma yang akarnya tertinggal di lapisan dermis yang dalam.

Namun tipe primer dan sekunder perlu dilihat sedikit berbeda. Tipe primer yang muncul sendiri prognosisnya cenderung baik setelah diangkat. Sebaliknya, tipe sekunder bisa muncul lagi kalau faktor pemicunya terus ada. Jadi mengelola bersama iritasi yang memicu milia, seperti chemical peeling berulang, lepuh, atau penyalahgunaan steroid, adalah kunci pencegahan kambuh. Angka kekambuhan yang pasti memang sulit dipatok dengan satu nilai, tetapi secara umum tergolong rendah.

Pada akhirnya, milia bukanlah lesi yang perlu terlalu dikhawatirkan. Sifatnya jinak dan tidak membahayakan kesehatan, kalau dikeluarkan dengan benar akan bersih, dan jarang kambuh. Kalaupun ada yang baru muncul, kalau ditangani sejak dini bebannya kecil. Membiasakan perawatan sel kulit mati atau perawatan dasar yang minim iritasi juga membantu menjaga kondisi kulit. Hanya saja, karena sekitar mata adalah area yang halus, membereskannya dengan aman di klinik dan mengelola faktor pemicunya adalah jalan paling rapi dibanding mengeluarkannya sendiri.

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Back to articles