prettytime
Skincare

Penyebab dan Cara Mengatasi Biduran: Mengapa Terus Kambuh?

By Dr. Kim6 min read

Biduran adalah kondisi kulit yang tiba-tiba memerah, bentol, dan terasa gatal. Bentolnya tidak mudah hilang meski ditekan, bahkan bisa berpindah ke area lain dalam hitungan jam. Banyak orang penasaran, kenapa biduran bisa muncul lalu hilang tanpa sebab yang jelas, dan kenapa pada sebagian orang justru terus kambuh selama berbulan-bulan.

Biduran bukan sekadar masalah kulit biasa, melainkan reaksi yang dihasilkan oleh sel imun di dalam tubuh. Pusat dari reaksi ini adalah sel mast (mast cell, sel imun yang tersebar di kulit dan selaput lendir). Mari kita bahas satu per satu, kenapa dan bagaimana sel ini bisa memicu reaksi tersebut.

Mengapa biduran muncul dan terasa gatal?

Di dalam kulit, sel mast tersebar di berbagai tempat. Di dalam sel ini tersimpan histamin (histamine, zat yang melebarkan pembuluh darah dan menimbulkan rasa gatal) dalam bentuk butiran kecil.

Saat ada rangsangan tertentu, sel mast akan memecahkan seluruh butiran itu sekaligus dan melepaskan histamin ke luar sel. Proses ini disebut degranulasi, mirip seperti balon yang pecah dan isinya menyebar dalam sekejap. Begitu histamin menyebar, pembuluh darah di sekitarnya melebar dan dindingnya sedikit merenggang, sehingga cairan dari dalam pembuluh darah merembes ke jaringan kulit. Inilah yang membuat kulit membengkak dan memerah.

Rasa gatal muncul karena alasan yang sama. Histamin langsung merangsang ujung saraf di kulit, sehingga bengkak dan gatal biasanya muncul hampir bersamaan.

Apa yang merangsang sel mast?

Sel mast tidak pecah begitu saja tanpa alasan. Salah satu pemicu utamanya adalah antibodi bernama IgE (protein semacam kartu pengenal yang dibuat tubuh untuk bereaksi terhadap zat tertentu).

Kalau tubuh keliru menganggap suatu zat sebagai ancaman lalu membentuk IgE, maka saat zat itu masuk lagi ke tubuh, IgE yang sudah menempel di permukaan sel mast akan mengirim sinyal. Seperti kunci dan gembok, ketika zat tersebut cocok mengikat IgE, sinyal itu diteruskan ke dalam sel mast dan menyalakan saklar yang memecahkan butiran histamin.

Namun, sel mast juga bisa bereaksi tanpa keterlibatan IgE. Rangsangan fisik seperti perubahan suhu atau tekanan bisa langsung mengguncang membran sel dan memecahkan butiran histamin. Karena itu, penyebab biduran tidak bisa dijelaskan lewat satu jalur saja.

Penyebab biduran akut dalam 6 minggu

Gejala yang muncul dalam waktu kurang dari 6 minggu digolongkan sebagai biduran akut. Pada masa ini, penyebabnya relatif lebih mudah ditemukan. Beberapa pemicu yang paling sering ditemui adalah sebagai berikut.

  • Makanan: Protein dari makanan laut bercangkang, kacang-kacangan, atau telur bisa merangsang IgE dan memicu sel mast pecah. Ini terjadi karena tubuh keliru menyimpan protein tersebut sebagai zat ancaman.
  • Obat: Antibiotik atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) bisa memicu sel mast bukan hanya lewat jalur IgE, tetapi juga dengan langsung memengaruhi jalur enzim yang mengatur peradangan.
  • Infeksi: Saat tubuh mengalami infeksi virus seperti flu, seluruh sistem imun menjadi lebih sensitif, sehingga sel mast pun jadi lebih mudah bereaksi terhadap rangsangan dibanding biasanya.
  • Sengatan atau gigitan serangga: Racun serangga mengandung zat yang langsung merangsang sel mast, sehingga reaksi kuat muncul cepat di area yang tersengat.

Pada sebagian besar kasus ini, gejala muncul dalam hitungan menit hingga paling lama satu sampai dua hari setelah terpapar, sehingga penyebabnya relatif mudah ditebak.

Mengapa penyebab biduran kronis sulit ditemukan?

Biduran yang berlangsung lebih dari 6 minggu digolongkan sebagai biduran kronis. Namun, pada lebih dari separuh kasus biduran kronis, penyebab eksternal yang jelas tidak dapat ditemukan.

Penyebabnya sulit ditemukan karena saklar yang memicu sel mast justru berada di dalam tubuh sendiri. Penelitian terbaru melaporkan adanya autoantibodi, yaitu antibodi yang seharusnya menyasar zat asing dari luar, tetapi justru keliru mengenali reseptor di permukaan sel mast milik tubuh sendiri dan terus-menerus merangsangnya. Artinya, saklar itu bisa terus tertekan dari dalam tubuh meskipun tidak ada zat baru yang masuk dari luar. Itulah sebabnya tes alergi makanan sering kali tidak menunjukkan penyebab yang jelas pada kasus seperti ini.

Diperkirakan 30% hingga 50% kasus biduran kronis disebabkan oleh autoantibodi yang diproduksi tubuh sendiri, yang terus-menerus memicu sel mast. Jadi, meski tidak ditemukan penyebab dari luar, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja, karena pemicunya bisa jadi ada di dalam tubuh sendiri.
Diperkirakan 30% hingga 50% kasus biduran kronis disebabkan oleh autoantibodi yang diproduksi tubuh sendiri, yang terus-menerus memicu sel mast. Jadi, meski tidak ditemukan penyebab dari luar, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja, karena pemicunya bisa jadi ada di dalam tubuh sendiri.

Apa yang merangsang biduran fisik?

Ada juga jenis biduran yang muncul setiap kali terkena rangsangan tertentu. Jenis ini disebut biduran fisik, dan hubungan antara rangsangan dengan gejalanya relatif jelas.

  • Udara dingin atau air dingin: Saat suhu kulit turun mendadak, sel mast di area tersebut mengenali hawa dingin itu sendiri sebagai rangsangan dan bereaksi.
  • Pakaian ketat atau tekanan pada kulit: Tekanan pada kulit secara fisik mengguncang membran sel mast dan memecahkan butiran histamin di dalamnya.
  • Saat suhu tubuh naik akibat olahraga atau mandi air hangat: Kondisi ini disebut biduran kolinergik, yang dijelaskan terjadi karena saraf di sekitar kelenjar keringat aktif dan sinyalnya diteruskan ke sel mast di dekatnya.
  • Saat terpapar sinar matahari: Sinar ultraviolet diketahui mengubah struktur zat tertentu di dalam kulit menjadi bentuk yang bisa dikenali oleh sel mast, sehingga muncul reaksi.

Jenis biduran ini biasanya mereda dalam 1 hingga 3 jam setelah rangsangan dihilangkan, sehingga cukup mudah dikelola begitu pemicunya diketahui.

Bagaimana stres memengaruhi biduran?

Stres sendiri tidak menciptakan biduran baru. Namun, stres diketahui menurunkan ambang reaksi sel mast yang sudah sensitif, sehingga sel itu jadi lebih mudah bereaksi.

Saat stres, tubuh melepaskan berbagai neurotransmiter dan hormon, dan sebagian di antaranya bekerja pada reseptor di permukaan sel mast sehingga butiran histamin lebih mudah pecah meski rangsangannya lebih kecil dari biasanya. Itulah sebabnya banyak orang merasa biduran lebih sering muncul saat masa ujian atau pekerjaan sedang menumpuk. Kondisi ini bisa dijelaskan karena tubuh yang sedang sensitif membuat rangsangan yang sebelumnya sudah ada menjadi lebih mudah memicu reaksi.

Cara mengatasi biduran dan lama pemulihan

Inti dari perawatan biduran adalah menekan proses sel mast melepaskan histamin itu sendiri. Obat antihistamin bekerja dengan cara memblokir reseptor tempat histamin biasanya menempel pada saraf dan pembuluh darah, sehingga meski histamin tetap dilepaskan, reaksinya menjadi lebih ringan.

Biduran akut umumnya mereda dalam beberapa hari hingga 4 minggu setelah pemicunya hilang. Sementara itu, lama pemulihan biduran kronis sangat bervariasi antarindividu, dan menurut laporan, membaik dengan sendirinya dalam kurun waktu 6 hingga 12 bulan cukup umum terjadi. Tentu saja ada juga kasus yang berlangsung lebih lama atau kambuh kembali, sehingga pemantauan dan perawatan yang konsisten tetap diperlukan.

Bahkan pada biduran kronis yang penyebabnya sulit dipastikan, mengurangi faktor-faktor yang berpotensi menjadi pemicu satu per satu, seperti pakaian ketat, stres berlebihan, atau obat tertentu, diketahui membantu menurunkan frekuensi gejala. Daripada terburu-buru mencari satu penyebab tunggal, mengamati sinyal yang diberikan tubuh secara konsisten sering kali justru lebih membantu.

Saat gejala sedang parah, mengompres dingin sebentar pada area yang terkena bisa membuat pembuluh darah menyempit sehingga gatal dan bengkak mereda sementara. Namun, pada jenis biduran dingin yang justru dipicu oleh hawa dingin itu sendiri, cara ini bisa membuat reaksi semakin besar. Karena itu, lebih aman untuk mengenali dulu jenis biduran yang dialami. Mencatat singkat waktu dan situasi saat gejala muncul juga akan sangat membantu dokter mempersempit kemungkinan penyebab saat konsultasi nanti.

Dari gabungan beberapa studi pada pasien biduran kronis, rata-rata 17% sembuh dengan sendirinya dalam satu tahun, dan angka ini naik menjadi 45% setelah lima tahun. Artinya, semakin lama waktu berjalan, semakin banyak orang yang membaik dengan sendirinya, jadi tidak ditemukannya penyebab pasti bukan berarti kondisi ini tidak akan pernah membaik.
Dari gabungan beberapa studi pada pasien biduran kronis, rata-rata 17% sembuh dengan sendirinya dalam satu tahun, dan angka ini naik menjadi 45% setelah lima tahun. Artinya, semakin lama waktu berjalan, semakin banyak orang yang membaik dengan sendirinya, jadi tidak ditemukannya penyebab pasti bukan berarti kondisi ini tidak akan pernah membaik.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Penyebab Kulit Kepala Seboroik dan Perawatannya: Mengapa Ketombe Terus Kambuh?

Dermatitis seboroik pada kulit kepala terjadi karena minyak, jamur, dan reaksi peradangan tubuh saling terkait satu sama lain. Artikel ini menjelaskan dengan mudah mengapa ketombe justru muncul di area yang berminyak, dan mengapa rasa gatal selalu kembali hanya dalam 2 sampai 3 hari meski sudah keramas.

By Dr. Lee

Skincare

Pigmentasi dan kerusakan kolagen akibat cahaya biru: penyebab dan cara mengatasinya

Cahaya biru adalah gelombang yang keluar dari layar ponsel dan komputer, panjang gelombangnya lebih panjang dari sinar UV sehingga bisa menembus sampai ke dermis, lapisan kulit yang lebih dalam. Artikel ini merangkum bagaimana cahaya ini memicu radikal bebas di dalam sel kulit dan merangsang sel pigmen hingga akhirnya menyebabkan flek dan kerusakan kolagen. Cara mengurangi paparan layar dan merawat kulit juga dibahas di sini.

By Dr. Lee

Back to articles