Efek RF Xerf: Apa Bedanya Memakai Dua Frekuensi Sekaligus?
By Dr. Kim9 min read

Rasa kulit wajah mulai kendur pasti pernah dialami hampir semua orang. Setiap kali bercermin, muncul rasa penasaran soal penyebabnya, tapi menjelaskan akar masalahnya secara tepat ternyata tidak semudah itu. Padahal kalau ditelusuri sampai ke lapisan kulit, jawabannya cukup sederhana, yaitu kolagen, jaringan yang berfungsi seperti tiang penyangga kulit, perlahan berkurang seiring bertambahnya usia.
Xerf adalah alat pengencangan yang merangsang kolagen tersebut menggunakan energi RF (Radiofrequency), atau gelombang frekuensi radio. Yang membedakannya dari alat RF lain adalah penggunaan dua frekuensi sekaligus, bukan hanya satu, dan alasannya cukup sederhana. Penyebab kendur di tiap kedalaman kulit sedikit berbeda, sehingga masing-masing lapisan butuh jenis rangsangan yang berbeda pula. Karena itu, mari kita bahas satu per satu bagaimana sebenarnya prinsip kerja alat ini dalam mengencangkan wajah.
Bagaimana RF berubah menjadi panas di dalam kulit?
RF adalah salah satu bentuk energi listrik. Ketika energi ini melewati jaringan kulit, air dan ion di dalam jaringan bergerak mengikuti arah medan listrik yang berubah jutaan kali per detik, dan gesekan antar partikel inilah yang menghasilkan panas.
Prinsipnya mirip kabel listrik yang jadi panas saat dialiri arus. Panas muncul karena jaringan itu sendiri menghasilkan gesekan akibat resistansi, sehingga jalur pembentukan panasnya berbeda total dari laser yang menembakkan energi cahaya ke permukaan kulit. Panas yang terbentuk lewat cara ini kemudian merambat ke serat kolagen di dermis, dan di titik inilah reaksi pengencangan mulai terjadi.
Ini mirip saat menggosokkan kedua telapak tangan dengan cepat sampai terasa hangat. Semakin sering digosok, semakin banyak panas yang terkumpul, dan RF pun bekerja dengan logika serupa, yaitu jumlah panas yang dihasilkan tergantung seberapa sering arah energinya berubah dalam waktu singkat. Karena itu, kemampuan menghantarkan energi secara rapat sampai ke dalam jaringan menjadi kunci utama alat ini.
Keunggulan metode ini terletak pada cara pemanasannya yang dimulai dari dalam, bukan dari permukaan. Bayangkan microwave yang memanaskan makanan secara merata sampai ke bagian dalam, bukan hanya permukaannya saja. Dengan prinsip serupa, epidermis relatif tidak terlalu terpapar panas, sementara dermis di bawahnya bisa diatur untuk menyerap panas lebih banyak.
Kedalaman jangkauan menurut frekuensi
Meski sama-sama RF, kedalaman yang bisa dicapai di dalam kulit tetap berbeda tergantung nilai frekuensinya. Frekuensi rendah cenderung menghadapi resistansi jaringan yang lebih kecil sehingga energi bisa menembus lebih dalam, sementara frekuensi tinggi cenderung habis terpakai di lapisan yang lebih dangkal.
Bayangkan siaran radio. Frekuensi rendah bisa menembus banyak halangan dan menjangkau area yang luas, sedangkan frekuensi tinggi lebih terkonsentrasi pada jarak dekat. Prinsip inilah yang dimanfaatkan Xerf untuk menargetkan kedalaman yang berbeda-beda.
Selain itu, seberapa baik listrik dapat mengalir di tiap jenis jaringan, yang disebut nilai resistansi atau impedansi, juga memengaruhi kedalaman panas. Lapisan lemak memiliki kadar air yang rendah sehingga resistansinya besar, sedangkan dermis memiliki kadar air lebih tinggi sehingga resistansinya lebih kecil. Perbedaan resistansi antar jaringan ini turut diperhitungkan alat agar panas terkonsentrasi tepat di kedalaman yang diinginkan.
Melewati jaringan dengan resistansi besar itu mirip berjalan di atas pasir pantai, setiap langkah terasa lebih berat dan energi banyak terbuang menjadi panas di tempat itu juga. Sebaliknya, jaringan dengan resistansi kecil ibarat berjalan di jalan beraspal, energinya lebih mudah melintas dan bisa mencapai lapisan yang lebih jauh. Karena itu, panas cenderung menumpuk di sekitar lapisan lemak, sementara di dermis yang kaya air, energi relatif lebih mudah melewatinya.
Mengapa dua frekuensi dipakai bersamaan?
Kendurnya wajah tidak hanya terjadi di satu lapisan saja. Di dermis yang lebih dangkal, berkurangnya kolagen memicu kerutan halus dan kendur ringan, sementara di lapisan yang lebih dalam, fasia (SMAS, lapisan tipis yang membungkus seluruh wajah, berfungsi seperti lapisan dalam pakaian) yang mengendur membuat volume wajah secara keseluruhan terlihat turun.
Xerf memancarkan frekuensi untuk lapisan dangkal dan frekuensi untuk lapisan dalam secara bersamaan sehingga kedua lapisan itu dirangsang dalam satu waktu. Karena itulah alat ini dianggap bisa menyasar beberapa penyebab kendur sekaligus, berbeda dari alat yang hanya memanaskan satu lapisan.
Alasan memisahkan rangsangan per lapisan juga cukup jelas. Jika energi sekuat untuk memanaskan lapisan dangkal justru dipusatkan hanya ke lapisan dalam, epidermis akan kekurangan rangsangan sementara lapisan dalam bisa terlalu panas. Sebaliknya, jika intensitas disesuaikan untuk lapisan dangkal saja, panas yang sampai ke lapisan dalam menjadi tidak cukup. Karena itu, dibutuhkan intensitas berbeda yang disesuaikan untuk tiap lapisan dan disalurkan secara bersamaan.
Sebagai gambaran, ini seperti menutup tubuh dengan dua selimut berbeda ketebalan yang ditumpuk, dibanding hanya satu selimut tipis, hasilnya seluruh tubuh terasa hangat merata. Ketika intensitas yang sesuai untuk lapisan dangkal dan lapisan dalam dialirkan bersamaan, risiko fokus di satu sisi sambil melupakan sisi lain jadi berkurang. Area seperti dahi atau pipi yang memiliki lemak dan fasia sekaligus memang sering kali sulit dikencangkan kalau hanya satu lapisan yang dirangsang, sehingga pendekatan dua frekuensi ini lebih disukai dalam praktik klinis.
Mengapa kulit terasa kencang langsung setelah prosedur?
Kolagen memiliki struktur heliks yang terbentuk dari tiga untaian yang terpilin. Saat struktur heliks ini dipanaskan melewati suhu tertentu, ikatannya melonggar dan panjangnya memendek secara instan, mirip pegas yang mengerut ketika terkena panas.
Karena itu, tidak jarang kulit langsung terasa sedikit kencang begitu prosedur selesai, sebagai reaksi kolagen yang berkontraksi seketika akibat panas. Namun reaksi instan ini baru permulaan, sedangkan perubahan sesungguhnya justru berlangsung perlahan setelahnya.
Fenomena ini juga bisa dilihat saat memanggang daging. Serat daging yang tadinya membentang, begitu terkena panas akan sedikit mengerut dan terlihat lebih padat, dan komponen yang mengerut itu tidak lain adalah kolagen di dalam daging. Kolagen di kulit manusia adalah protein yang sama, sehingga reaksinya terhadap panas pun mirip.
Bedanya, kulit manusia tidak dipanaskan terus-menerus seperti daging, melainkan hanya dipanaskan sesaat sampai suhu yang tidak sampai merusak jaringan. Kontraksi terjadi, tapi jaringan tetap dijaga agar tidak rusak, dan inilah teknik inti dari prosedur ini. Kolagen yang berkontraksi memang langsung memberi efek kencang, tapi sebagian bisa kembali melemas seiring waktu, sehingga terlalu dini menilai hasil akhir hanya dari sensasi kencang di awal.
Bagaimana kolagen baru menumpuk selama beberapa bulan?
Jaringan yang terkena rangsangan panas akan memulai respons pemulihan, seolah mengalami luka kecil. Fibroblas di dermis (bisa dibayangkan seperti pabrik kecil penghasil kolagen) menjadi aktif dan mulai memproduksi kolagen serta elastin baru.
Proses ini tidak selesai dalam satu dua hari, melainkan biasanya berlangsung bertahap selama empat minggu hingga enam bulan setelah prosedur. Karena itu, tidak sedikit laporan yang menyebutkan bahwa hasil Xerf justru lebih terlihat jelas seiring waktu, bukan langsung pada hari prosedur.
Sama seperti membongkar tembok lama lalu menyusun kembali batu bata baru satu per satu yang butuh waktu, sel-sel kulit juga perlu waktu untuk membentuk untaian protein baru dan menyusunnya secara rapat. Jika proses ini dipaksa lebih cepat, jaringan justru bisa tersusun kurang rapi, sehingga proses bertahap selama empat hingga dua belas minggu dinilai memberikan hasil yang lebih kokoh.
Kolagen yang terbentuk baru di periode ini pada awalnya didominasi kolagen tipe 3. Sama seperti luka yang mula-mula ditutupi jaringan baru yang belum sempurna, jaringan yang terkena rangsangan panas juga lebih dulu mengisi area itu dengan kolagen tipe 3 yang tipis dan lentur di fase awal pemulihan. Pada dermis orang dewasa yang sehat, sekitar 80% hingga 90% biasanya terisi kolagen tipe 1 yang lebih padat, tapi seiring bertambahnya usia atau paparan sinar matahari yang berkepanjangan, kolagen tipe 1 ini berkurang sehingga proporsi tipe 3 relatif meningkat. Jadi meningkatnya kolagen tipe 3 bukan tanda kulit yang sehat seperti pada usia muda, melainkan justru lebih dekat dengan perubahan yang terjadi pada kulit yang menua.
Seiring waktu, kolagen tipe 3 di fase awal ini secara bertahap disusun ulang menjadi kolagen tipe 1 yang lebih padat dan tersusun rapi. Alurnya mirip proyek konstruksi yang mula-mula memakai rangka sementara, lalu perlahan digantikan struktur baja yang jauh lebih kokoh. Jadi perubahan sesungguhnya yang terjadi dalam hitungan minggu hingga bulan setelah prosedur Xerf adalah proses di mana jumlah kolagen bertambah, sekaligus struktur tipe 3 yang belum rapi tersebut kembali tersusun menjadi komposisi yang didominasi tipe 1 yang lebih padat.
Berapa sesi dan berapa lama bertahan?
Karena pembentukan kolagen baru memerlukan waktu, Xerf umumnya lebih disarankan dilakukan tiga hingga empat kali dengan jarak tiga sampai empat minggu antar sesi, bukan hanya satu kali. Berikut alasan di balik pembagian sesi ini.
- Satu sesi saja umumnya belum cukup untuk merangsang fibroblas secara maksimal, sehingga rangsangan berulang dipakai untuk mengakumulasi jumlah kolagen yang terbentuk.
- Kolagen membutuhkan waktu untuk terbentuk dan tersusun ulang, sehingga sesi berikutnya biasanya dijadwalkan dengan jarak tiga sampai empat minggu.
- Kolagen juga secara alami akan berkurang lagi seiring waktu, sehingga untuk mempertahankan hasil, prosedur perawatan biasanya diulang setiap enam hingga dua belas bulan.
Sama seperti latihan otot di gym yang tidak langsung mengubah bentuk tubuh hanya dengan sekali sesi, kolagen pun sulit menunjukkan perubahan berarti hanya dari satu kali rangsangan. Semakin banyak rangsangan yang terkumpul, semakin banyak pula fibroblas yang ikut merespons, sehingga pengulangan dengan jarak tiga hingga empat minggu dinilai lebih efektif untuk membangun hasil secara bertahap. Jika jaraknya terlalu pendek, jaringan bisa kembali dirangsang sebelum sempat pulih sepenuhnya sehingga membebani kulit, sedangkan jika terlalu panjang, efek dari sesi sebelumnya keburu memudar sebelum rangsangan berikutnya diberikan, sehingga hasilnya kurang maksimal.
Durasi hasil bertahan cukup bervariasi tergantung kondisi kulit dan kecepatan penuaan tiap orang, tapi umumnya berkisar antara enam hingga dua belas bulan. Namun, terlepas dari proses pembentukan kolagen baru, penuaan alami tetap berlanjut seiring waktu, sehingga penting diketahui bahwa ini bukan prosedur yang hasilnya bertahan seumur hidup hanya dengan satu rangkaian sesi, agar ekspektasi bisa lebih realistis.
Siapa yang cocok dan hal yang perlu diketahui
Xerf umumnya dipertimbangkan untuk mereka yang mengalami kendur di tahap ringan hingga sedang. Sama seperti karet gelang yang sudah terlalu lama terpakai dan melar, betapapun ditarik pun tidak akan kembali ke elastisitas semula, kulit dengan kondisi kendur yang sudah cukup berat memiliki keterbatasan jika hanya mengandalkan rangsangan panas. Inilah alasan mengapa untuk jaringan yang sudah kendur cukup jauh, hasil yang didapat bisa berbeda dibanding prosedur pengencangan bedah.
Prosedur ini sebaiknya dihindari oleh mereka yang menggunakan alat pacu jantung, sedang hamil, atau memiliki peradangan akut maupun luka terbuka di kulit. Bagi yang memiliki implan logam di dalam tubuh, sebaiknya menginformasikan hal ini terlebih dahulu karena arus listrik bisa terkonsentrasi ke area tersebut.
Kemerahan atau bengkak sementara bisa muncul segera setelah prosedur, dan ini dilaporkan sebagai respons normal terhadap rangsangan panas. Sebagian besar alat juga dilengkapi sensor yang mengukur suhu jaringan secara real-time di ujung tip untuk memastikan suhu tidak melewati batas yang ditetapkan, sehingga membantu mencegah panas berlebih. Cara kerjanya mirip panel indikator kecepatan di dashboard mobil yang terus menampilkan angka agar pengemudi tidak melaju terlalu cepat, sensor ini pun berfungsi memberi peringatan sebelum suhu naik ke level berisiko. Untuk memastikan prosedur ini sesuai dengan kondisi kulit, tingkat kendur, dan riwayat kesehatan masing-masing, konsultasi menyeluruh dengan dokter spesialis sebelum prosedur sangat dianjurkan.
References
Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Efek RF Density: berapa kali sesi dan berapa lama bertahan?
Density RF memadukan dua mode radiofrekuensi yang punya karakter berbeda untuk mengejar dua hal sekaligus, kekencangan yang terasa langsung setelah perawatan dan regenerasi kolagen yang terbentuk perlahan selama 4 hingga 12 minggu. Artikel ini mengulas kenapa dua mode itu dibutuhkan, urutan panas bekerja di dalam kulit, sampai alasan kenapa perawatan ini perlu dijalani bertahap dalam beberapa sesi.
By Dr. Kim

Perbedaan Lifting Radiofrekuensi dan Ultrasound: Efek dan Lama Bertahan
RF menghangatkan dermis dengan panas resistansi dari arus listrik untuk merangsang kolagen, sementara HIFU memfokuskan energi pada satu titik hingga menembus lapisan fasia yang lebih dalam. Berikut penjelasan mengapa kedua alat ini menyasar kedalaman kulit yang berbeda dan bagaimana perbedaan itu memengaruhi daya tahan hasilnya.
By Dr. Lee

Body Onda: efek, pendekatan tiap area, jumlah sesi, dan lama bertahan
Body Onda adalah perawatan pembentukan tubuh non-bedah yang memanaskan lapisan lemak di bawah kulit secara selektif dengan gelombang mikro, sehingga sel lemak mengecil sekaligus kulit menjadi lebih kencang. Artikel ini mengulas mengapa panas hanya menyasar lapisan lemak, mengapa pengurangan lemak dan pengencangan kulit terjadi bersamaan, bagaimana perbedaan pendekatan di perut, lengan, dan pinggang, serta berapa jumlah sesi dan berapa lama hasilnya bertahan.
By Dr. Kim