prettytime
Skincare

Penyebab Munculnya Keratosis Seboroik (Kutil Penuaan) dan Cara Mengangkatnya dengan Laser atau Krioterapi, serta Bedanya dari Tahi Lalat

By Dr. Lee6 min read

Banyak orang kaget saat bercermin dan menemukan bercak cokelat atau kehitaman yang sedikit menonjol di wajah atau leher. Jika disentuh, permukaannya terasa kasar, kadang terlihat seperti ada lapisan lilin yang menempel di kulit. Sebagian besar lesi seperti ini adalah keratosis seboroik, lesi jinak yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan kutil penuaan.

Masalahnya, kutil penuaan kadang tampilannya mirip dengan tahi lalat, bahkan dalam kasus yang jarang bisa menyerupai lesi pigmen ganas. Karena itu, sebelum membahas cara mengangkatnya, ada baiknya kita pahami dulu kenapa lesi ini muncul dan apa saja yang bisa membuatnya rancu dengan kondisi lain.

Kenapa Keratosis Seboroik Disebut Kutil Penuaan?

Keratosis seboroik adalah tumor jinak yang terbentuk karena sel keratinosit di permukaan kulit tumbuh berlebihan dan menumpuk. Keratinosit sendiri adalah sel yang menyusun lapisan terluar kulit, dan seiring bertambahnya usia, sel ini bisa berkembang biak secara tidak normal di area tertentu hingga membentuk gumpalan yang menebal.

Warna cokelat atau kehitaman yang menjadi ciri khas kutil penuaan muncul karena pigmen melanin ikut menumpuk di antara sel-sel keratinosit tersebut. Melanin sebenarnya adalah pigmen pelindung kulit dari sinar ultraviolet, tetapi ketika terperangkap dan terus terkumpul di dalam lesi, warnanya menjadi pekat. Permukaan yang tampak mengilap seperti diolesi minyak, atau justru kasar seperti ditempeli sisik, juga muncul akibat struktur berlapis dari tumpukan sel keratinosit ini.

Apa Bedanya Kutil Penuaan dengan Tahi Lalat?

Tahi lalat, atau dalam istilah medis nevus melanositik, terbentuk dari kumpulan sel melanosit, yaitu sel yang memang bertugas memproduksi pigmen. Kutil penuaan berbeda asal usulnya karena yang berkembang biak bukan sel penghasil pigmen, melainkan sel keratinosit, dan pigmennya hanya ikut menumpuk di dalamnya. Jadi kedua lesi ini sejak awal berasal dari jenis sel yang berbeda.

Dari segi tekstur pun keduanya bisa dibedakan. Tahi lalat umumnya bertekstur halus dan mirip dengan kulit di sekitarnya, sementara kutil penuaan cenderung kasar, sedikit bersudut, atau bahkan bergerindil seperti kutil biasa karena lapisan keratin yang menumpuk. Kutil penuaan juga terlihat seperti menempel di atas permukaan kulit dengan batas yang jelas dan ketebalan yang cukup terasa, sebab lesi ini hanya tumbuh di lapisan epidermis dan jarang menembus lebih dalam ke lapisan dermis.

Bagaimana Cara Kerja Laser dalam Mengangkat Lesi Ini?

Dua jenis laser yang umum dipakai untuk mengangkat kutil penuaan adalah laser CO2 dan laser Erbium YAG. Keduanya bekerja memanfaatkan panjang gelombang yang diserap oleh kandungan air di dalam kulit. Saat cahaya laser mengenai air dalam jaringan lesi, air tersebut langsung mendidih dan menguapkan jaringan di sekitarnya, sehingga lesi terkikis tipis demi tipis dan akhirnya terangkat.

Laser CO2 cenderung menyebarkan panas sedikit lebih luas ke jaringan sekitar, sehingga efek menghentikan perdarahannya lebih baik dan cocok untuk merapikan lesi tebal dalam satu kali sesi. Laser Erbium YAG sebaliknya, penyebaran panasnya lebih sempit sehingga bisa dikontrol lebih presisi untuk mengikis tipis berlapis-lapis sesuai kedalaman yang diinginkan. Karena itu, dokter akan memilih salah satu atau bahkan mengombinasikan keduanya tergantung ketebalan dan lokasi lesi.

Yang paling penting adalah menjaga agar kedalaman pengikisan berhenti di dalam lapisan epidermis. Karena kutil penuaan hampir selalu tumbuh di epidermis saja, dengan mengikis sedikit demi sedikit lapis per lapis tanpa menyentuh dermis yang lebih dalam, kemungkinan sembuh tanpa bekas jadi lebih besar. Sebaliknya, jika langsung dikikis dalam sekali sesi, pemulihan bisa lebih lama dan berisiko meninggalkan bekas, sehingga hasil prosedur ini sangat bergantung pada keterampilan dokter yang menanganinya.

Bagaimana Cara Kerja Krioterapi?

Krioterapi adalah metode dengan menyemprotkan atau mengoleskan nitrogen cair sebentar ke lesi untuk membekukan jaringan secara cepat. Air di dalam dan di luar sel seketika berubah menjadi kristal es, dan proses ini secara fisik merusak membran sel beserta struktur di dalamnya. Kristal es ini seolah merobek sel dari dalam, sehingga tanpa perlu dikikis secara manual, sel-sel lesi akan mati dengan sendirinya dan mengelupas.

Setelah proses ini, area lesi biasanya akan muncul lepuhan kecil, yang dalam beberapa hari hingga beberapa minggu berubah menjadi keropeng. Ketika keropeng ini lepas, lesi pun ikut terangkat bersamanya. Perbedaan paling mendasar dengan laser adalah krioterapi tidak langsung mengikis jaringan, melainkan mematikan sel lebih dulu lalu membiarkan tubuh membersihkannya secara alami.

Durasi dan intensitas pembekuan disesuaikan dengan ketebalan lesi. Jika terlalu singkat, sel keratinosit belum mati sepenuhnya sehingga lesi masih tersisa, sementara jika terlalu lama, jaringan sehat di bawahnya bisa ikut rusak. Karena itu, dokter biasanya membekukan dalam durasi pendek berulang kali sambil mengamati bagaimana lesi bereaksi.

Mana yang Lebih Cocok, Laser atau Krioterapi?

Kedua metode ini sama-sama banyak digunakan, tetapi kondisi yang paling cocok untuk masing-masing sedikit berbeda.

  • Ketebalan lesi: Lesi yang tipis dan rata biasanya sudah bisa diatasi cukup dengan krioterapi saja. Karena kedalaman pembekuan sulit dikontrol sedetail laser, lesi yang tebal dan menonjol lebih baik ditangani dengan laser yang mengikis berlapis-lapis, sehingga risiko bekas lebih kecil.
  • Jumlah dan lokasi lesi: Jika ada banyak lesi kecil yang tersebar di area luas seperti wajah, krioterapi lebih efisien karena bisa menangani banyak titik dalam waktu singkat. Laser lebih unggul untuk merapikan satu area secara detail, sehingga cocok untuk satu atau dua lesi besar yang cukup menonjol.
  • Risiko perubahan pigmen: Perubahan suhu yang drastis pada krioterapi kadang memicu reaksi sementara berupa pigmen yang justru menjadi lebih terang atau lebih gelap setelah tindakan. Bagi orang dengan warna kulit lebih gelap, perubahan pigmen ini bisa lebih terlihat, sehingga pendekatan laser dengan kedalaman yang bisa diatur kerap dipertimbangkan sebagai alternatif.

Perawatan Setelah Pengangkatan Lesi

Area bekas lesi kondisinya mirip seperti kulit yang sebagian epidermisnya terkelupas, sehingga perlu dilindungi sampai kulit baru benar-benar terbentuk.

  • Area yang baru ditindak disarankan tetap dijaga lembap dengan salep dan perban pelindung selama beberapa hari. Jika area luka mengering, keropeng bisa menebal dan justru memperlambat pemulihan.
  • Keropeng sebaiknya dibiarkan lepas dengan sendirinya, jangan dikelupas paksa dengan tangan. Jika dipaksa lepas, lapisan sel yang sedang meregenerasi di bawahnya bisa ikut rusak dan berujung pada bekas luka atau perubahan pigmen.
  • Perlindungan dari sinar matahari selama masa pemulihan sangat penting. Sel penghasil melanin pada kulit yang baru tumbuh masih dalam kondisi belum stabil, sehingga paparan sinar ultraviolet mudah memicu munculnya pigmen berlebih.
  • Sebaiknya hindari menggosok area tersebut atau terlalu lama terkena air panas. Iritasi yang muncul dari kebiasaan ini bisa membuat jaringan yang sedang pulih membengkak atau memicu perubahan pigmen akibat rangsangan berlebih.

Kenapa Penting Membedakan Lesi Ini dari Tahi Lalat?

Kutil penuaan bersifat jinak sehingga sebagian besar tidak membahayakan kesehatan, tetapi dalam kasus yang jarang, lesi pigmen ganas seperti melanoma bisa tampil mirip dengan kutil penuaan, sehingga tetap perlu kewaspadaan. Karena itu, sebelum lesi diangkat, sebaiknya dokter spesialis lebih dulu memeriksa bentuk, batas, dan keseragaman warnanya secara langsung maupun dengan bantuan dermatoskop untuk memastikan diagnosisnya.

Jika bentuknya tidak simetris, batasnya kabur dan tidak beraturan, ada beberapa warna bercampur dalam satu lesi, atau ukurannya membesar dengan cepat, dokter biasanya akan mencurigai kemungkinan lesi lain selain kutil penuaan dan mempertimbangkan biopsi. Ciri-ciri ini umumnya dinilai dengan lima kriteria yang dikenal sebagai asimetri, batas, warna, ukuran, dan perubahan (ABCDE). Daripada menyimpulkan sendiri hanya dari tampilan luar, jauh lebih aman memeriksakannya ke dokter spesialis berdasarkan kriteria tersebut.

Terutama jika lesi yang sudah lama tidak berubah tiba-tiba membesar, terasa gatal, atau berdarah, sebaiknya segera periksakan ke dokter saat itu juga. Kutil penuaan biasanya tumbuh lambat atau bahkan tidak berubah sama sekali, sehingga perubahan yang terjadi dalam waktu singkat justru menjadi petunjuk penting untuk membedakannya dari lesi lain.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), dan Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Kenapa Bintik Merah Cherry Angioma Muncul, dan Pilih Laser Vaskular atau Elektrokauter agar Hilang Tanpa Bekas?

Apa sebenarnya bintik merah cerah yang muncul di dada atau punggung, cherry angioma ini, kenapa jumlahnya bertambah seiring usia, bagaimana membedakannya dari tahi lalat, kutil, atau purpura, lalu antara laser vaskular seperti pulsed dye, KTP, dan long pulse Nd:YAG dengan elektrokauter, mana yang paling tepat untuk menghilangkannya serta cara mengurangi risiko bekas luka dan hiperpigmentasi, sampai kapan harus periksa ke dokter, semuanya dirangkum dengan mudah lewat data penelitian nyata.

By Dr. Kim

Skincare

Menghilangkan Kutil Datar dengan Laser CO2, Penyebab Penyebarannya, Bedanya dengan Milia dan Skin Tag, hingga Cara Mencegah Kambuh

Kutil datar yang muncul seperti bintik kecil pipih di wajah atau punggung tangan ternyata disebabkan oleh HPV. Artikel ini menjelaskan dengan mudah, berdasarkan data penelitian asli, mengapa kutil ini menyebar saat digaruk, bagaimana membedakannya dari milia dan skin tag, cara menghilangkannya dengan laser CO2 beserta risiko bekas luka dan hiperpigmentasi, serta cara mengelola kekambuhannya.

By Dr. Lee

Back to articles