prettytime
Lifting

Perbedaan Lifting Radiofrekuensi dan Ultrasound: Efek dan Lama Bertahan

By Dr. Lee6 min read

RF (radiofrequency) dan HIFU sama-sama dipakai untuk perawatan pengencangan kulit, tapi cara kerjanya jauh berbeda. Saat konsultasi, dua alat ini sering disebut sebagai "perawatan kekencangan kulit" begitu saja, sehingga terasa seolah namanya saja yang beda padahal prinsipnya sama.

Padahal cara menghasilkan panas dan kedalaman kulit yang dicapai keduanya sangat berbeda. RF memanaskan dermis lewat panas resistansi yang muncul saat arus listrik mengalir, sedangkan HIFU memfokuskan energi ke satu titik seperti lensa mengumpulkan cahaya, sehingga bisa menembus lapisan yang jauh lebih dalam. Mari kita bahas satu per satu alasan di balik perbedaan ini.

Bagaimana Radiofrekuensi Memanaskan Kulit?

RF (radiofrequency) memanfaatkan arus listrik yang dialirkan ke tubuh. Ketika arus melewati jaringan kulit, jaringan tersebut memberi hambatan terhadap aliran itu, dan hambatan atau resistansi inilah yang mengubah energi listrik menjadi panas. Prinsipnya sama seperti kabel yang jadi panas saat dialiri arus besar.

Panas ini terutama terbentuk bukan di permukaan kulit, melainkan di dermis, lapisan tempat kolagen berada. Saat suhu dermis naik sampai sekitar 60 derajat Celsius, ikatan struktur heliks pada serat kolagen jadi longgar sehingga serat itu memendek dan menebal. Perubahannya mirip seperti mi yang mengkerut saat direbus.

Pengencangan instan inilah yang membuat kulit terasa kencang segera setelah perawatan. Rangsangan panas ini juga memicu respons pemulihan tubuh, yang kemudian berlanjut ke perubahan tahap kedua berupa pembentukan kolagen baru selama beberapa minggu ke depan.

Bagaimana Ultrasound Menjangkau Lebih Dalam?

HIFU (high intensity focused ultrasound) tidak menggunakan arus listrik, melainkan energi ultrasound, sejenis gelombang suara. Alat ini memfokuskan energi dari berbagai arah ke satu titik, mirip lensa cembung yang mengumpulkan sinar matahari hingga hanya satu titik saja yang panas.

Titik fokus energi ini berada pada kedalaman yang sudah ditentukan sebelumnya oleh alat. Pada wajah, titik ini umumnya berada di lapisan fasia (SMAS, selaput tipis yang membungkus otot wajah di bawah kulit). Lapisan ini terletak jauh lebih dalam dibanding dermis yang dipanaskan RF.

Hanya pada titik fokus itu suhu naik sesaat hingga 60 sampai 70 derajat Celsius sehingga jaringan mengalami koagulasi. Satu titik koagulasi memang sangat kecil, tapi bila ditanam rapat di seluruh area perawatan, efeknya terasa seolah seluruh permukaan ikut terstimulasi. Setiap titik koagulasi dianggap tubuh sebagai luka kecil, sehingga memicu respons pemulihan sekaligus pembentukan kolagen baru.

Sebuah meta-analisis yang menggabungkan 17 studi HIFU dan 477 pasien menemukan skor perbaikan yang dinilai dokter sebesar 2.74 dari 5, sementara kepuasan yang dirasakan pasien mencapai 2.68. Kedua skor berada di kisaran menengah, jadi lebih realistis mengharapkan perbaikan bertahap ketimbang perubahan dramatis.
Sebuah meta-analisis yang menggabungkan 17 studi HIFU dan 477 pasien menemukan skor perbaikan yang dinilai dokter sebesar 2.74 dari 5, sementara kepuasan yang dirasakan pasien mencapai 2.68. Kedua skor berada di kisaran menengah, jadi lebih realistis mengharapkan perbaikan bertahap ketimbang perubahan dramatis.

Apa Beda Kedalaman Jangkauan Keduanya?

Perbedaan terbesar antara RF dan HIFU terletak pada kedalaman yang dicapai energinya. RF memanaskan area yang relatif luas namun dangkal, yaitu dermis secara menyeluruh, mengikuti jalur arus listrik. Sebaliknya, HIFU memfokuskan energi ke satu titik sehingga bisa menyasar satu kedalaman tertentu secara presisi.

Perbedaan ini juga memengaruhi tujuan perawatannya. RF yang memanaskan dermis cenderung lebih cocok untuk memperbaiki tekstur dan kekenyalan permukaan kulit, seperti kerutan halus dan pori. HIFU yang menembus hingga fasia cenderung lebih cocok untuk pengencangan yang lebih struktural, yaitu mengatasi kendur pada wajah secara keseluruhan.

Tentu saja, kedua alat ini punya tujuan yang sama, yaitu merangsang pembentukan kolagen. Hanya saja lapisan tempat kolagen baru itu terbentuk berbeda, sehingga karakter hasil yang terlihat pun sedikit berbeda.

Karena itulah, dalam konsultasi terkadang kedua perawatan ini disarankan bersamaan. Logikanya, dengan merangsang dermis dan fasia secara bersamaan, perbaikan tekstur permukaan dan perbaikan kendur yang lebih dalam bisa didapat sekaligus. Namun perlu diingat kombinasi keduanya sangat tergantung kondisi kulit dan area yang ingin disasar, dan pada banyak kasus satu perawatan saja sudah cukup.

Bagaimana Kolagen Baru Terbentuk?

Inti dari kedua perawatan ini sama-sama panas. Panas itu sendiri tidak langsung membentuk kolagen, yang penting adalah kerusakan akibat panas ini memicu respons pemulihan tubuh.

Di sekitar jaringan yang mengalami kerusakan akibat panas, timbul respons inflamasi kecil. Respons ini menarik fibroblas (sel di dalam kulit yang memproduksi kolagen) ke area tersebut, dan fibroblas kemudian merajut serat kolagen baru selama beberapa minggu. Proses ini disebut remodeling, yaitu membersihkan sebagian kolagen lama sekaligus mengisi dengan kolagen baru.

Penelitian pada hewan dan pemeriksaan histologis melaporkan peningkatan kepadatan kolagen dermis pada area yang dirawat, baik dengan RF maupun HIFU. Namun tingkat responnya berbeda-beda pada tiap orang, tergantung usia kulit, kemampuan sintesis kolagen bawaan, dan intensitas energi yang digunakan. Karena itu, efeknya sulit dipastikan dalam angka baku.

Inilah alasan mengapa proses remodeling ini tidak selesai dalam satu kali perawatan. Kecepatan fibroblas merajut kolagen relatif lambat, sehingga hasilnya terkumpul perlahan selama beberapa minggu hingga bulan setelah stimulasi diberikan. Oleh karena itu, banyak laporan menyebutkan kolagen terbentuk lebih tebal ketika kedua perawatan ini dilakukan berulang dengan jeda waktu, bukan hanya sekali.

Pemeriksaan lanjutan dua bulan setelah perawatan RF monopolar pada 32 pasien menemukan bahwa lebih dari separuh, yaitu 53.1%, menilai perbaikan kendur kulit mereka 50% atau lebih. Biopsi jaringan pada periode yang sama juga mengonfirmasi peningkatan kepadatan kolagen dan serat elastis.
Pemeriksaan lanjutan dua bulan setelah perawatan RF monopolar pada 32 pasien menemukan bahwa lebih dari separuh, yaitu 53.1%, menilai perbaikan kendur kulit mereka 50% atau lebih. Biopsi jaringan pada periode yang sama juga mengonfirmasi peningkatan kepadatan kolagen dan serat elastis.

Perbedaan Nyeri dan Masa Pemulihan

Perbedaan tingkat nyeri yang dirasakan juga ada alasannya. Pada HIFU, energi terfokus di dekat lapisan fasia, yaitu lapisan dalam yang lebih banyak dilalui saraf, sehingga sering terasa nyeri menyengat sesaat. Karena energinya terkonsentrasi pada satu titik sempit, rangsangan di titik itu pun terasa lebih kuat.

Pada RF, energi menyebar ke area yang lebih luas, sehingga sensasinya cenderung terasa seperti hangat yang cukup panas, relatif lebih ringan dibanding sensasi terfokus pada HIFU. Meski begitu, sensasi yang dirasakan sangat bergantung pada ambang nyeri masing-masing orang dan output alat yang digunakan.

Pemulihan permukaan kulit pada kedua perawatan ini relatif cepat. Kemerahan atau bengkak umumnya dilaporkan mereda dalam beberapa hari. Namun untuk melihat hasil kolagen yang tampak jelas dibutuhkan waktu lebih lama, biasanya berlangsung bertahap selama 4 sampai 12 minggu.

Berapa Lama Efeknya Bertahan?

Berapa lama hasil perawatan bertahan tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Berikut beberapa faktor yang diketahui saling memengaruhi.

  • Output alat dan jumlah sesi: Pada area yang sama, semakin kuat energi dan semakin sering dilakukan, semakin besar rangsangan kolagen yang dihasilkan sehingga efeknya cenderung bertahan lebih lama. Ini karena total rangsangan yang diterima jadi lebih besar.
  • Kedalaman dan lapisan yang disasar: HIFU yang menembus hingga fasia dilaporkan berperan lebih lama pada dukungan struktural dibanding RF yang hanya memanaskan dermis. Sebab fasia sendiri adalah lapisan yang berfungsi menopang kulit.
  • Kecepatan penuaan kulit tiap individu: Paparan sinar UV, kebiasaan merokok, dan kemampuan sintesis kolagen bawaan memengaruhi seberapa lama kolagen baru bisa bertahan. Sebab kolagen pada akhirnya tetap merupakan protein yang akan terurai lagi seiring waktu.
  • Perawatan setelah tindakan: Pijatan berlebihan atau paparan sinar UV yang kuat berisiko mengganggu jaringan yang masih dalam proses pemulihan, sehingga perlu dihindari.

Secara umum, daya tahan kedua perawatan ini sering dilaporkan berkisar antara 6 sampai 12 bulan, tetapi karena faktor-faktor di atas, rentangnya bisa sangat berbeda pada tiap orang.

Perawatan dan Hal yang Perlu Diperhatikan Setelah Prosedur

Inti perawatan pasca tindakan pada kedua metode ini sama, yaitu tidak mengganggu respons pembentukan kolagen yang sedang berlangsung.

Beberapa hari setelah perawatan, disarankan untuk menghindari tempat bersuhu tinggi seperti sauna atau spa panas. Sebab paparan panas berisiko membuat jaringan yang baru mulai terbentuk kembali bengkak dan longgar.

Penggunaan tabir surya sebaiknya tetap dijaga, terlepas dari apakah sedang menjalani perawatan atau tidak. Sinar UV diketahui meningkatkan aktivitas enzim yang mengurai kolagen, sehingga penggunaan tabir surya membantu memperlambat proses rusaknya kolagen yang baru saja terbentuk.

Pijatan berlebihan atau tekanan kuat juga sebaiknya dihindari selama masa pemulihan. Sebab rangsangan fisik yang datang sebelum jaringan benar-benar stabil bisa mengganggu respons pemulihan yang sedang berjalan.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Lifting

Liftera2 HIFU: Efek, Lama Bertahan, dan Beda dengan Model Atas

Liftera2 adalah alat HIFU yang memusatkan energi ultrasound pada satu titik untuk merangsang lapisan fasia di bawah kulit. Artikel ini mengupas mengapa prinsip tersebut bisa membuat kulit terangkat, dan perbedaan apa yang muncul pada daya tahan hasil karena harganya lebih terjangkau.

By Dr. Kim

Lifting

Efek RF Xerf: Apa Bedanya Memakai Dua Frekuensi Sekaligus?

Xerf adalah alat pengencangan wajah berbasis RF (radiofrequency) yang menggunakan dua frekuensi berbeda secara bersamaan untuk merangsang lapisan dermis yang dangkal sekaligus lapisan fasia yang lebih dalam. Artikel ini membahas prinsip mengapa kedalaman panas berbeda tergantung frekuensi, proses kontraksi kolagen yang langsung terasa hingga regenerasi jangka panjang, sampai jumlah sesi dan durasi hasil yang disarankan.

By Dr. Kim

Skincare

Skin Booster Area Mata: Efek, Beda PN dan HA, serta Lama Bertahan

Skin booster mata adalah prosedur yang memakai PN (polynucleotide) dan hyaluronic acid (HA) berkonsentrasi rendah untuk mengisi kolagen dan kelembapan pada kulit mata yang tipis dan sensitif. Berikut penjelasan mengapa lingkaran hitam dan kerutan halus bisa memudar, bagaimana kedua bahan ini bekerja secara berbeda, dan apa yang menentukan masa bertahan hasilnya.

By Dr. Lee

Back to articles