prettytime
Skincare

Dampak Polusi Udara pada Skin Barrier dan Kolagen

By Dr. Kim7 min read

Banyak orang merasa riasan jadi cepat menggumpal dan kulit terasa perih saat kadar polusi udara sedang tinggi. Ini bukan sekadar perasaan. Ukuran partikel polusi udara hanya beberapa puluh kali lebih kecil dari diameter sehelai rambut, sehingga tidak berhenti menempel di permukaan kulit saja, tetapi menyusup lewat pori dan celah lapisan tanduk. Di dalam sana, partikel ini memicu lonjakan radikal bebas dan reaksi peradangan yang ikut mengganggu skin barrier serta kolagen. Berikut penjelasan jalur masuk polusi udara ke kulit, alasan reaksi ini bisa terjadi, dan hal yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasinya.

Kandungan Apa yang Ada di Polusi Udara?

Polusi udara bukan satu jenis zat tunggal, melainkan gumpalan berbagai komponen. Partikel karbon, logam berat, dan sulfat saling menempel membentuk satu kesatuan, sehingga begitu menyentuh kulit, ada banyak zat yang bisa memicu iritasi sekaligus. Karena itu, polusi udara lebih tepat disebut gumpalan bahan kimia kecil ketimbang sekadar debu biasa.

Kulit adalah organ dengan area kontak paling luas dengan udara luar. Paru-paru hanya bersentuhan dengan udara saat bernapas, sedangkan kulit terpapar sepanjang hari. Meski begitu, dampak polusi udara pada kulit tidak sebesar dampaknya pada penyakit paru karena efeknya menumpuk perlahan. Dalam sehari dua hari mungkin belum terlihat, tetapi kalau paparan terus berulang, skin barrier dan kolagen perlahan terkikis.

Semakin kecil ukuran partikelnya, semakin bermasalah efeknya. Debu berukuran besar biasanya tersaring di permukaan lapisan tanduk, sedangkan partikel yang disebut PM2.5 atau ultrahalus bisa menyelinap lewat celah sempit antar sel kulit mati. Ukuran yang kecil justru berarti daya tembus yang lebih besar.

Dalam studi kohort di Tiongkok, setiap kenaikan konsentrasi PM2.5 dalam ruangan sebesar rentang interkuartil kelompok dikaitkan dengan bertambahnya bintik pigmen di dahi sebesar 12.5% dan kerutan di bibir atas sebesar 7.7%. Artinya, semakin paparan menumpuk, semakin cepat pula usia kulit bertambah tua.
Dalam studi kohort di Tiongkok, setiap kenaikan konsentrasi PM2.5 dalam ruangan sebesar rentang interkuartil kelompok dikaitkan dengan bertambahnya bintik pigmen di dahi sebesar 12.5% dan kerutan di bibir atas sebesar 7.7%. Artinya, semakin paparan menumpuk, semakin cepat pula usia kulit bertambah tua.

Lewat Jalur Mana Polusi Masuk ke Kulit?

Polusi udara tidak hanya masuk lewat pori. Folikel rambut, yaitu lubang kecil tempat rambut tumbuh, juga menjadi jalur utama. Bentuknya seperti saluran yang menjorok ke dalam dari permukaan kulit, sehingga partikel halus bisa mencapai lapisan yang lebih dalam tanpa harus melewati lapisan tanduk terlebih dahulu, semacam jalan pintas.

Begitu sampai di dekat sel kulit mati, polusi udara akan menempel pada reseptor tertentu di permukaan sel. Salah satu yang paling dikenal adalah aryl hydrocarbon receptor (AhR), semacam antena sensor di permukaan sel. Fungsi aslinya adalah mendeteksi zat kimia asing yang masuk ke tubuh lalu menyalakan respons tertentu, tetapi komponen dalam polusi udara juga bisa menyalakan antena ini.

Masalahnya ada pada reaksi yang muncul begitu antena ini aktif. Setelah sinyal menyala, radikal bebas di dalam sel meningkat dan zat pemicu peradangan ikut disekresikan. Jadi polusi udara sebenarnya tidak langsung melukai kulit secara langsung, melainkan respons pertahanan sel sendiri saat menganggap partikel ini sebagai ancaman, dan respons itu justru jadi beban bagi kulit.

Bagaimana Polusi Mengurangi Kolagen?

Reaksi antena yang aktif tadi tidak berhenti sampai di situ. Penelitian menemukan bahwa pada fibroblas kulit (sel di lapisan dermis yang memproduksi kolagen) yang terpapar polusi udara, ekspresi enzim pengurai kolagen bernama MMP (matrix metalloproteinase) meningkat jelas, sementara ekspresi gen kolagen (COL1A1, COL1A2) justru menurun.

Artinya, dua perubahan terjadi bersamaan, yaitu kecepatan produksi kolagen melambat sementara kecepatan penguraiannya meningkat. Ibarat neraca dengan satu sisi dikurangi bebannya dan sisi lain ditambahi beban, hasil akhirnya neraca condong ke arah berkurangnya total kolagen.

Radikal bebas menjadi mediator utama dalam proses ini. Zat ini menimbulkan kerusakan yang mirip proses karat pada logam di dalam sel, dan radikal bebas yang meningkat akibat polusi udara ini mengganggu fungsi normal fibroblas dalam mensintesis kolagen. Karena itu, polusi udara sering disebut sebagai faktor percepatan penuaan kulit setara sinar UV, meski kecepatannya berbeda-beda tergantung jumlah dan durasi paparan setiap orang.

Dalam eksperimen pada fibroblas kulit yang terpapar debu halus, MMP-1 yang memecah kolagen meningkat 2.46 kali lipat, sementara prokolagen, bahan dasar kolagen, justru menurun 1.3 kali lipat. Kecepatan pembentukan melambat sementara kecepatan penghancuran meningkat, sehingga keseimbangan condong ke arah berkurangnya kolagen.
Dalam eksperimen pada fibroblas kulit yang terpapar debu halus, MMP-1 yang memecah kolagen meningkat 2.46 kali lipat, sementara prokolagen, bahan dasar kolagen, justru menurun 1.3 kali lipat. Kecepatan pembentukan melambat sementara kecepatan penghancuran meningkat, sehingga keseimbangan condong ke arah berkurangnya kolagen.

Perubahan Saat Skin Barrier Menipis

Skin barrier sering diibaratkan seperti susunan bata dan semen. Sel kulit mati berperan sebagai bata, sementara komponen lipid seperti ceramide berfungsi sebagai semen yang mengisi celah di antaranya. Struktur ini harus rapat agar kelembapan tidak mudah menguap dan iritasi dari luar bisa tertahan.

Penelitian menemukan bahwa pada kulit yang terpapar polusi udara, ekspresi protein utama penyusun skin barrier ini menurun. Karena komponen semen ini berkurang, celah antar bata pun melebar. Lewat celah inilah kelembapan keluar dan zat iritan dari luar lebih mudah masuk.

Itu sebabnya, paparan polusi udara yang sering bisa membuat kulit terasa kencang, kemerahan, dan mudah perih tanpa alasan jelas. Barrier yang menipis membuat kulit bereaksi lebih sensitif terhadap rangsangan yang biasanya tidak jadi masalah. Regenerasi lapisan tanduk sampai kembali penuh biasanya butuh waktu beberapa minggu, jadi skin barrier juga perlu waktu dan perawatan rutin sebanyak itu untuk kembali rapat.

Apakah Polusi Memicu Jerawat dan Kemerahan?

Polusi udara juga berperan sebagai benda asing fisik yang menyumbat pori. Saat bercampur dengan sebum dan sel kulit mati lalu mempersempit muara pori, lingkungan di dalamnya jadi lebih mendukung pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Kotoran yang menumpuk di saluran yang menyempit ini membuat kondisi jadi lebih rentan berkembang menjadi jerawat inflamasi.

Bersamaan dengan itu, reaksi radikal bebas yang dijelaskan sebelumnya juga meningkatkan sekresi zat pemicu peradangan di dalam kulit. Ada juga laporan bahwa struktur bernama inflammasome, semacam alarm yang memperkuat sinyal peradangan di dalam sel, bisa aktif akibat rangsangan polusi udara. Mirip seperti alarm yang begitu berbunyi, reaksi peradangan di sekitarnya ikut membesar secara berantai.

Karena itu, saat kadar polusi udara tinggi, jerawat dan bruntusan cenderung bertambah, dan orang yang kulitnya memang cenderung kemerahan atau punya rosacea biasanya melaporkan gejala yang lebih menonjol. Saat barrier menipis dan reaksi peradangan menumpuk bersamaan, pembuluh darah lebih mudah melebar sehingga kemerahan jadi lebih terlihat.

Berapa Kali Sehari Double Cleansing yang Pas?

Sebagian besar komponen dalam polusi udara bersifat larut minyak sehingga mudah bercampur dengan lemak. Kalau hanya dibilas dengan air, zat larut minyak ini sulit terangkat dan bisa tertinggal di celah lapisan tanduk. Karena itu, double cleansing dengan cleansing oil atau cleansing balm terlebih dahulu sering direkomendasikan. Caranya memanfaatkan prinsip minyak mudah bercampur dengan minyak, jadi kotoran dilarutkan dalam komponen minyak lalu dibilas bersamaan.

Namun, membersihkan wajah terlalu sering dan terlalu keras juga menimbulkan masalah lain. Menggosok kulit berkali-kali sehari dengan produk berdaya bersih tinggi bisa ikut menghilangkan komponen semen pada skin barrier yang dijelaskan sebelumnya. Jadi dibutuhkan keseimbangan, menghilangkan kotoran sambil tetap menjaga barrier.

Secara praktis, double cleansing sekali sehari setelah beraktivitas di luar biasanya sudah cukup, dan setelah membersihkan wajah dianjurkan langsung memakai produk pelembap untuk mengisi kembali barrier. Membersihkan dan mengisi kembali adalah dua langkah yang harus berjalan berpasangan agar hasilnya terasa.

Kebiasaan Merawat Kulit di Hari Berpolusi

Melindungi kulit dari polusi udara lebih efektif kalau mengandalkan beberapa kebiasaan sekaligus, bukan hanya satu produk saja. Sebab masing-masing kebiasaan bekerja di titik yang berbeda.

  • Double cleansing sepulang beraktivitas: langkah pertama untuk membersihkan zat larut minyak dengan prinsip di atas. Semakin ditunda, semakin lama zat itu tertinggal di lapisan tanduk.
  • Tambahan antioksidan: kandungan seperti vitamin C dan niacinamide diketahui membantu menurunkan radikal bebas yang meningkat akibat polusi udara, karena langsung menyasar sumber penyebab kerusakannya.
  • Pelembap berbahan ceramide: berfungsi menambah komponen semen pada barrier dari luar, semacam buffer selama barrier memulihkan diri sendiri.
  • Tabir surya: polusi udara dan sinar UV sama-sama meningkatkan radikal bebas lewat jalur berbeda, sehingga kalau terpapar bersamaan kerusakannya bisa bertumpuk. Mengurangi dua rangsangan ini sekaligus jauh lebih efisien.
  • Hindari eksfoliasi berlebihan: menambah rangsangan fisik pada barrier yang sudah menipis justru bisa memperlambat pemulihan. Saat barrier sedang sensitif, lebih baik fokus mengisi ketimbang menambah rangsangan.

Kalau kebiasaan ini dijalankan secara konsisten, skin barrier bisa kembali rapat dan stres oksidatif yang menggerogoti kolagen pun ikut berkurang. Polusi udara memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi beban yang diterima kulit bisa dikurangi cukup banyak lewat perawatan yang tepat.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Carbon peel (black peel): cara kerja, efek, dan perhatian setelah tindakan

Carbon peel black peel adalah perawatan di mana partikel karbon yang sangat halus menempel pada minyak dan sel kulit mati di dalam pori, lalu laser secara selektif membakar partikel karbon tersebut sehingga ikut terangkat keluar. Berikut penjelasan bagaimana karbon menyerap energi laser, dan mengapa panas yang menyentuh dermis dalam proses ini bisa memperbaiki tekstur kulit.

By Dr. Lee

Skincare

Penyebab Skin Barrier Rusak dan Cara Mengisi Ceramide hingga Pulih

Skin barrier adalah lapisan pelindung tipis yang terbentuk dari sel kulit mati dan lipid yang tersusun berlapis-lapis. Saat ceramide berkurang, muncul celah di lapisan ini sehingga kelembapan mudah menguap dan iritasi dari luar lebih gampang masuk. Berikut penjelasan kenapa skin barrier bisa rusak dan bagaimana ceramide mengisi kembali celah tersebut.

By Dr. Kim

Lifting

Benang PDO Collaum dan benang cog: perbedaan dan perbandingan efek kolagen

Collaum bukan menarik kulit kuat-kuat dengan benang tebal, melainkan menanam banyak helai benang PDO halus secara rapat untuk memicu produksi kolagen. Satu helai memang efeknya kecil, tapi begitu berkumpul jadi satu kelompok, area rangsangan di dalam kulit jadi jauh lebih luas. Berikut penjelasan bagaimana kolagen terbentuk lewat cara ini dan jenis kulit yang cocok.

By Dr. Kim

Back to articles