prettytime
Skincare

Alasan Pink Peel Ramah untuk Kulit Sensitif dan Cara Isoflavon Akar Kudzu Merangsang Kolagen Dermis

By Dr. Kim5 min read

Kalau mendengar kata peeling, bayangan yang muncul biasanya wajah mengelupas dan memerah. Tapi pink peel justru termasuk peeling yang lembut, sesuai namanya. Alasannya karena bahan utamanya bukan asam kuat, melainkan ekstrak fermentasi kudzu, tanaman dari keluarga kacang-kacangan. Jadi bukan cuma mengangkat sel kulit mati, pink peel juga bekerja dengan merangsang kolagen baru terbentuk di dalam kulit. Inilah yang membuat orang dengan kulit sensitif cukup tertarik mencobanya.

Warna pink dalam namanya pun diambil dari kondisi kulit yang tampak memerah samar setelah perawatan. Kemerahan ini dijelaskan bukan sensasi panas seperti peeling asam kuat, melainkan lebih mirip rona merah tipis akibat peredaran darah yang sedikit meningkat. Untuk memahami perbedaan ini, ada baiknya kita lihat dulu bagaimana kandungannya bekerja di dalam tubuh.

Pink Peel Terbuat dari Bahan Apa?

Bahan utama pink peel adalah ekstrak pekat dari akar kudzu yang difermentasi. Di dalam kudzu terkandung isoflavon, senyawa dari golongan yang sama dengan yang ada di kedelai, tapi kadarnya di kudzu diketahui jauh lebih tinggi.

Bentuk molekul isoflavon mirip dengan hormon estrogen pada wanita. Kalau diibaratkan kunci dan gembok, akan lebih mudah dipahami. Estrogen adalah kunci yang memang cocok dengan lubang gemboknya, sementara isoflavon punya bentuk yang mirip sehingga bisa ikut membuka pintu yang sama.

Karena itu, ketika isoflavon menempel pada reseptor estrogen di permukaan sel kulit, sel akan bereaksi seolah-olah estrogen asli yang datang. Reaksi inilah yang nantinya berkaitan dengan pembentukan kolagen, seperti yang akan dijelaskan berikutnya.

Meski begitu, isoflavon bukan estrogen sungguhan, melainkan senyawa nabati yang strukturnya mirip. Kekuatannya membuka gembok memang lebih lemah dibanding kunci aslinya, tapi justru di situlah keunggulan pink peel, memberi sinyal ke arah yang sama tanpa membebani tubuh terlalu berat.

Apa yang Dilakukan Isoflavon di Dalam Kulit

Estrogen memang salah satu hormon yang merangsang fibroblas, yaitu sel yang bertugas membentuk kolagen dan elastin di dalam kulit. Karena itu, saat wanita memasuki masa menopause dan kadar estrogen menurun, kolagen di kulit pun cenderung ikut berkurang.

Titik inilah yang menjadi sasaran pink peel. Ketika isoflavon merangsang reseptor estrogen, fibroblas kembali aktif dan memproduksi kolagen serta elastin yang baru.

Kolagen bisa diibaratkan tiang penyangga kulit dari bawah, sedangkan elastin adalah karet yang menghubungkan antar tiang tersebut. Ketika tiang dan karetnya sama-sama terisi kembali, kulit pun mendapatkan kembali kekenyalannya, dan efeknya terlihat sebagai kulit yang tampak lebih kencang, tidak kendur.

Selain itu, sinyal dari golongan estrogen juga diketahui berperan dalam pembentukan asam hialuronat, yang bertugas mengikat kelembapan di dalam kulit. Jadi bukan cuma tiang dan karetnya yang baru, kelembapan yang mengisi ruang di antaranya pun ikut bertambah, sehingga tekstur kulit terasa lebih lembap.

Bedanya dengan Peeling Biasa

Peeling yang umum dikenal biasanya memakai bahan asam seperti AHA (asam glikolat atau laktat yang larut air dan mengangkat sel kulit mati), BHA (seperti asam salisilat yang larut minyak sehingga bisa masuk ke dalam pori), atau TCA (asam trikloroasetat, asam kuat yang mengelupas permukaan kulit secara kimiawi) untuk menipiskan lapisan sel kulit mati. Cara kerjanya merapikan permukaan agar terlihat lebih halus.

Sebaliknya, pink peel memakai porsi asam yang rendah, dan peran utamanya justru dipegang oleh ekstrak fermentasi nabati. Karena itu, daya angkat sel kulit matinya relatif lebih ringan, tapi iritasi akibat pengelupasan pun jauh lebih minim.

Singkatnya, pink peel lebih menitikberatkan pada mengisi dari dalam ketimbang mengelupas dari luar. Bukan berarti efek merapikan sel kulit mati sama sekali tidak ada. Ekstrak fermentasinya sendiri tetap punya efek eksfoliasi ringan, jadi meski tidak kuat, tekstur kulit tetap terasa lebih halus setelahnya.

Kenapa Cocok untuk Kulit Sensitif?

Kulit sensitif sering kali memiliki skin barrier, yaitu lapisan pelindung yang dibentuk sel kulit mati, dalam kondisi melemah. Kalau barrier ini menipis, kulit jadi gampang memerah dan perih walau hanya terkena iritasi kecil.

Peeling asam kuat bekerja dengan mengelupas barrier ini sekali lagi, sehingga bisa membebani kulit sensitif. Pink peel sebaliknya, tidak mengelupas sel kulit mati secara agresif, melainkan bekerja lewat penyerapan ekstrak fermentasi di permukaan kulit. Jadi caranya lebih dekat dengan mengisi bahan dari dalam dinding, bukan mengikis dindingnya.

Karena itu, pink peel banyak diperkenalkan sebagai pilihan yang relatif lebih mudah dicoba, bahkan untuk kulit yang mudah memerah atau sensitif. Meski begitu, kulit sensitif bukan berarti sama sekali tidak bisa terpapar iritasi apa pun, jadi pemeriksaan kondisi kulit sebelum perawatan tetap diperlukan.

Khususnya saat skin barrier sedang menipis secara nyata, misalnya baru saja menjalani perawatan lain atau sedang mengalami peradangan seperti eksim atopik, peeling selembut apa pun tetap bisa terasa sebagai iritasi. Jadi justru semakin lembut sebuah peeling, semakin penting untuk lebih dulu memeriksa kondisi kulit.

Bagaimana Prosedurnya Berlangsung?

Prosedur pink peel terbilang sederhana. Pertama, kondisi kulit diperiksa, lalu wajah dibersihkan untuk mengangkat minyak dan kotoran. Setelah itu, bahan pink peel dioleskan ke seluruh wajah atau area yang dibutuhkan, sambil memantau reaksi kulit. Tahap terakhir adalah menenangkan dan melembapkan kulit.

Karena tidak selalu memerlukan proses netralisasi seperti peeling asam kuat, waktu perawatannya cenderung lebih singkat. Sesaat setelah perawatan, kulit bisa terasa sedikit tertarik namun lembap, yang dijelaskan sebagai efek ekstrak fermentasi yang mengaktifkan ikatan kelembapan di permukaan kulit.

Kapan Hasilnya Mulai Terlihat?

Pink peel bukan jenis peeling yang memberi perubahan besar hanya dalam satu kali perawatan, melainkan hasil yang terlihat perlahan setelah dilakukan berulang kali. Rasa kencang yang terasa segera setelah perawatan lebih dekat dengan efek kelembapan yang terisi sementara, sedangkan kolagen dan elastin yang benar-benar terbentuk baru membutuhkan waktu lebih lama.

Proses fibroblas yang terstimulasi lalu memproduksi kolagen mengikuti kecepatan pemulihan alami tubuh, jadi tidak selesai dalam satu dua hari. Karena itu, biasanya setelah dilakukan berulang sekitar 3 sampai 5 kali dengan jarak tertentu, hasil berupa kekenyalan dan tekstur kulit yang membaik akan terasa lebih nyata.

Perawatan dan Hal yang Perlu Diperhatikan Setelah Prosedur

Beberapa hal berikut bisa membantu pemulihan setelah menjalani pink peel.

  • Lembapkan kulit lebih dari biasanya. Setelah sel kulit mati dirapikan, skin barrier untuk sementara menipis sehingga kelembapan lebih mudah menguap.
  • Perhatikan penggunaan tabir surya dengan teliti. Kolagen yang baru mulai terbentuk dan lapisan kulit yang baru dirapikan bisa lebih sensitif terhadap paparan sinar UV.
  • Hindari sauna atau ruang uap panas pada hari perawatan. Panas dapat melebarkan pembuluh darah di kulit sehingga kemerahan atau sensasi panas bisa bertahan lebih lama.
  • Kemerahan, kekeringan, atau sensitivitas sementara bisa saja muncul, namun umumnya mereda dengan sendirinya seiring waktu.

Dengan menjaga perawatan ini dan mengulang perawatan sesuai jarak yang tepat, perubahan di dalam kulit bisa terbangun perlahan tanpa iritasi berlebihan. Daripada terburu-buru menjalani beberapa kali dalam waktu berdekatan, lebih aman mengatur jarak sambil memperhatikan bagaimana kulit merespons. Sehalus apa pun peelingnya, kulit tetap butuh waktu untuk memulihkan dirinya sendiri.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Prinsip Peeling FCR Membersihkan Sebum dan Sel Kulit Mati dengan Kristal Mikro dari Karang, serta Cara Merawat Kulit Setelahnya

Peeling FCR adalah peeling fisik yang menggunakan kristal kecil berbentuk duri dari karang, digosokkan ke kulit untuk membersihkan sel kulit mati dan sebum sekaligus. Cara kerjanya berbeda dari peeling kimia yang melarutkan lapisan kulit dengan asam, sehingga relatif lebih nyaman dicoba oleh pemilik kulit sensitif maupun kulit berjerawat. Berikut prinsip kerja dan cara merawatnya.

By Dr. Kim

Skincare

Cara Milk Peel Melarutkan Sel Kulit Mati dengan Asam Laktat, tapi Iritasinya Tetap Rendah

Milk peel adalah perawatan peeling yang mengangkat sel kulit mati menggunakan asam laktat, salah satu jenis AHA. Molekul asam laktat berukuran lebih besar sehingga tidak menembus kulit terlalu cepat, dan sifatnya yang mengikat air membuat kulit tetap lembap sekaligus lebih halus. Berikut penjelasan cara kerjanya yang lembut di kulit.

By Dr. Kim

Lifting

Cara Kerja Jarum RF Morpheus8 Menghantarkan Panas ke Dalam Dermis untuk Mengencangkan Kulit dan Standar Perawatan Pemulihannya

Morpheus8 adalah perangkat microneedling RF dengan jarum halus berlapis yang menghantarkan panas radiofrekuensi hingga ke lapisan kulit yang dalam. Panas di ujung jarum merangsang lemak dan jaringan ikat sehingga menghasilkan efek kencang instan sekaligus regenerasi kolagen jangka panjang. Berikut penjelasan tentang cara kerja pengaturan kedalaman penetrasi dan alasan pemulihannya cepat.

By Dr. Kim

Back to articles