Cara Milk Peel Melarutkan Sel Kulit Mati dengan Asam Laktat, tapi Iritasinya Tetap Rendah
By Dr. Kim5 min read

Kalau mendengar kata peeling, banyak orang langsung membayangkan kulit perih dan memerah. Milk peel sering diperkenalkan sebagai jenis peeling yang lebih ramah untuk kekhawatiran seperti itu. Karena namanya, ada yang mengira perawatan ini memakai susu langsung ke kulit, padahal bahan utamanya adalah asam laktat. Mari kita bahas satu per satu bagaimana asam laktat bisa mengangkat sel kulit mati sambil tetap menjaga iritasi tetap rendah.
Dari Mana Asal Nama Milk Peel?
Mendengar nama milk peel, wajar kalau langsung terbayang susu dioleskan ke kulit. Padahal bahan aktif utamanya bukan susu, melainkan lactic acid (asam laktat). Nama lactic acid sendiri berasal dari kata Latin untuk susu. Nama ini muncul karena asam ini terbentuk secara alami saat susu atau yoghurt mengalami fermentasi.
Produk milk peel yang dipakai sekarang sebagian besar bukan diekstrak langsung dari susu, melainkan lactic acid sintetis yang dimurnikan di laboratorium dengan konsentrasi tertentu. Jadi asal-usul namanya memang dari susu, tapi zat yang benar-benar bekerja adalah asam murni hasil pemurnian.
Bagaimana Asam Laktat Melarutkan Sel Kulit Mati?
Lactic acid termasuk dalam golongan AHA (alpha hydroxy acid, sejenis asam yang biasa diperoleh dari buah atau hasil fermentasi). Lapisan terluar kulit, yaitu stratum korneum, tersusun dari sel kulit mati yang saling melekat erat. Yang berperan seperti lem yang mengikat sel-sel ini adalah lipid antar sel dan protein pengikat di antaranya.
Lactic acid melonggarkan ikatan ini secara kimiawi. Ketika sifat asamnya melemahkan daya rekat antar sel kulit mati, lapisan kulit tua yang seharusnya sudah luruh secara alami jadi lebih mudah terangkat. Mirip seperti semen tua yang mulai rapuh, membuat batu bata di atasnya jadi lebih mudah lepas satu per satu.
Pada kulit yang masih muda, sel kulit mati terbentuk dan luruh secara alami dalam siklus sekitar satu bulan. Namun seiring bertambahnya usia atau ketika kulit mengalami dehidrasi, siklus ini melambat sehingga sel kulit mati terus menumpuk di permukaan. Lactic acid dijelaskan bekerja dengan mengembalikan siklus yang melambat ini ke kecepatan semula.
Mengapa Iritasinya Lebih Ringan Dibanding Peeling Lain?
Salah satu alasan tingkat iritasi berbeda-beda antar bahan peeling adalah ukuran molekulnya. Meski sama-sama golongan AHA, glycolic acid punya molekul kecil sehingga cepat dan dalam menembus kulit. Sementara itu, lactic acid punya satu gugus tambahan pada strukturnya sehingga ukuran molekulnya relatif lebih besar.
Molekul yang lebih besar membuat proses penetrasi lewat lapisan pelindung kulit jadi lebih lambat. Bayangkan seperti kasa nyamuk yang rapat. Serangga kecil bisa lolos dengan mudah, tapi serangga yang lebih besar tersangkut dan sulit masuk. Karena lactic acid hanya bisa melewati kasa ini secara perlahan dan hanya sampai kedalaman dangkal, kerjanya lebih terfokus di permukaan stratum korneum dan jarang memicu iritasi mendadak di lapisan yang lebih dalam.
Karena itu, pada konsentrasi yang sama, peeling lactic acid dikenal lebih jarang menimbulkan kemerahan atau rasa perih dibanding peeling glycolic acid.
Mengapa Efek Melembapkan Ikut Muncul?
Alasan lain lactic acid sering disebut sebagai peeling rendah iritasi adalah efek melembapkannya. Stratum korneum kulit secara alami mengandung natural moisturizing factor (NMF), dan salah satu komponen penyusun NMF itu justru lactic acid.
Artinya, lactic acid adalah zat yang memang sudah ada secara alami di kulit, sehingga saat mengangkat sel kulit mati, ia sekaligus membantu mengikat air di dalam kulit. Bahan yang mengelupas sel kulit mati ini justru ikut menarik kelembapan, sehingga rasa kencang atau kering yang biasanya muncul setelah peeling cenderung lebih ringan dibanding bahan asam lainnya. Bayangkan seperti mengelupas wallpaper lama sambil langsung mengoleskan krim pelembap di tempat yang sama, gambaran itu memudahkan untuk memahaminya.
Peeling pada umumnya sering dianggap punya dua efek yang berlawanan arah, yaitu mengelupas sel kulit mati sekaligus mengisi kelembapan. Namun lactic acid membawa dua fungsi itu dalam satu molekul, sehingga sedikit banyak mencegah kulit terlalu kering selama proses pengangkatan sel kulit mati berlangsung.
Bedanya dengan Glycolic Acid dan Salicylic Acid
Di antara golongan AHA, glycolic acid paling banyak dikenal, sementara untuk kulit berminyak biasanya digunakan salicylic acid yang termasuk golongan BHA (beta hydroxy acid). Glycolic acid punya molekul kecil sehingga daya penetrasinya bagus dan proses pengangkatan sel kulit mati lebih cepat, tapi risiko iritasinya juga ikut lebih besar.
Salicylic acid punya sifat larut minyak sehingga bisa masuk sampai ke sebum di dalam pori. Ini menguntungkan untuk kulit yang sering berjerawat atau berkomedo, tapi bisa jadi terlalu keras untuk kulit yang tipis atau kering.
Dibandingkan kedua bahan itu, lactic acid punya kecepatan penetrasi yang lebih lambat dan efek melembapkan yang menyertainya, sehingga hasil pengangkatan sel kulit mati tetap terasa, tapi pemulihannya lebih cepat. Karena itu, lactic acid sering direkomendasikan sebagai langkah awal untuk kulit tipis, sensitif, atau untuk orang yang baru pertama kali mencoba peeling.
Jenis Kulit yang Cocok
Berikut jenis kulit yang relatif cocok dengan milk peel.
- Kulit tipis dan sensitif: karena molekulnya besar dan hanya bekerja sampai kedalaman dangkal, kemungkinan munculnya reaksi iritasi mendadak lebih kecil, bahkan pada kulit dengan skin barrier yang lemah.
- Kulit kering dan sering terasa kencang: lactic acid sendiri merupakan komponen NMF, sehingga selain mengangkat sel kulit mati, ia juga ikut mengikat kelembapan di kulit.
- Baru pertama kali mencoba peeling: karena iritasinya relatif ringan, lactic acid dianggap pilihan yang aman untuk mengenali dulu bagaimana reaksi kulit terhadap peeling.
- Hiperpigmentasi yang letaknya dangkal: karena bekerja terutama di stratum korneum, lactic acid dikenal membantu mengangkat pigmen dangkal bersamaan dengan sel kulit mati yang menumpuk.
Sebaliknya, untuk kulit dengan produksi sebum berlebih dan masalah kotoran di dalam pori, golongan salicylic acid yang larut minyak dan bisa masuk ke dalam pori mungkin lebih cocok.
Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum dan Sesudah Perawatan
Rendah iritasi bukan berarti tidak perlu perawatan sama sekali sesudahnya. Selama masih menggunakan bahan asam, tetap dibutuhkan waktu pemulihan minimal.
- Pada hari perawatan dan hari berikutnya, sunscreen perlu dipakai ulang lebih rutin dari biasanya. Sebab area yang lapisan sel kulit matinya menipis lebih mudah bereaksi terhadap sinar matahari.
- Selama beberapa hari, sebaiknya hindari scrub atau produk perawatan lain yang mengandung asam. Jika efek pengangkatan sel kulit mati bertumpuk, iritasi bisa muncul lebih besar dari perkiraan.
- Kemerahan atau rasa kencang ringan setelah perawatan biasanya mereda dalam satu sampai dua hari, meskipun kecepatan pemulihan bisa berbeda pada tiap orang.
Dengan menjaga beberapa hal ini, milk peel bisa dijadikan cara perawatan yang beban pemulihannya ringan, tapi tetap konsisten mengangkat sel kulit mati. Jarak antar sesi juga sebaiknya tidak dipersingkat secara berlebihan. Stratum korneum butuh waktu untuk terbentuk dan menata diri kembali, dan menjaga jarak ini penting agar efeknya tetap berkelanjutan tanpa memicu iritasi.
References
Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Cara Kerja Peeling FCR dengan Mikroduri dari Karang untuk Membersihkan Sebum dan Sel Kulit Mati Sekaligus, serta Perawatan Lanjutannya
Peeling FCR menggunakan kristal kecil berbentuk duri dari karang yang ditempelkan di kulit untuk membersihkan sel kulit mati dan sebum sekaligus. Cara kerjanya berbeda dari peeling kimia yang melarutkan dengan asam, sehingga relatif nyaman dicoba bahkan untuk kulit sensitif atau kulit berjerawat. Berikut penjelasan cara kerja dan tips perawatannya.
By Dr. Kim

Cara Kerja HILO WAVE Booster Memadukan Asam Hialuronat Berat Molekul Rendah dan Tinggi untuk Mengangkat Elastisitas Kulit
HILO WAVE adalah skin booster yang menggabungkan dua jenis asam hialuronat dengan ukuran molekul berbeda dalam satu struktur. Asam hialuronat berat molekul rendah dan tinggi bekerja pada kedalaman dan kecepatan yang berbeda, dan dipercaya sama-sama merangsang produksi kolagen serta elastin di dalam kulit. Artikel ini membahas prinsip kerja struktur asam hialuronat ganda tersebut secara mendalam.
By Dr. Kim

Cara Kerja Onda Lifting Mengatasi Lemak dan Kulit Kendur Sekaligus lewat Gelombang Mikro, serta Efeknya di Tiap Area
Onda adalah alat yang menghangatkan lapisan dalam kulit dengan gelombang mikro, jenis gelombang elektromagnetik yang sama seperti pada microwave, sehingga bekerja pada sel lemak dan kolagen secara bersamaan. Artikel ini mengupas dengan bahasa sederhana kenapa gelombang mikro bisa menembus sampai lapisan lemak, dan kenapa pengurangan lemak serta perbaikan kekencangan kulit bisa terjadi bersamaan dalam satu kali perawatan.
By Dr. Kim