prettytime
Skincare

Ruam Merah yang Terus Muncul di Sekitar Mulut, Prinsip di Balik Salep Steroid dan Bahan Iritan serta Cara Mengatasinya

By Dr. Kim6 min read

Kalau ruam merah kecil seperti biji-bijian terus muncul di sekitar bibir, kondisi ini bisa jadi dermatitis perioral. Sesuai namanya, ruam ini muncul mengelompok di sekitar mulut, dan uniknya, area tipis tepat di pinggir bibir biasanya bersih, sementara bintik-bintik kecil itu justru berkumpul di luar garis tersebut.

Kondisi ini sering dikira jerawat, padahal berbeda karena tidak ada komedo hitam, dan lokasinya bisa menyebar ke sekitar hidung bahkan bawah mata. Selain itu, kalau diobati dengan obat jerawat atau salep steroid, awalnya memang tampak mereda, tapi kemudian sering kambuh lebih parah. Karena itu banyak orang yang malah membiarkannya atau terus memakai salep yang salah sampai kondisinya makin buruk. Berikut penjelasan mengapa hal ini bisa terjadi hanya di area sekitar mulut.

Mengapa Ruam Merah Berkumpul Hanya di Sekitar Mulut?

Kulit di sekitar mulut bergerak ratusan kali sehari. Saat kita bicara, makan, dan menelan air liur, kulit ini terus meregang dan melipat, sehingga sawar kulitnya lebih sering terpapar gesekan dan iritasi dibanding area lain.

Area ini juga terus-menerus tersentuh air liur, sisa makanan, busa pasta gigi, dan lip balm setiap hari. Sawar kulit adalah lapisan tanduk yang bekerja seperti tembok penyaring kelembapan dan zat iritan. Kalau tembok ini berulang kali terpapar berbagai iritasi, lama-lama menipis dan menjadi longgar. Melalui celah yang longgar itu, zat iritan dan bakteri lebih mudah masuk, sehingga muncul peradangan kecil di sekitar folikel rambut. Bagian tipis tepat di pinggir bibir kosong dari ruam karena area itu dekat dengan selaput lendir dan hampir tidak memiliki folikel rambut.

Bagaimana Salep Steroid Justru Memperbesar Ruam

Penyebab paling umum yang sering disebut adalah salep steroid. Kalau ada kemerahan di wajah, banyak orang langsung memakai salep steroid yang ada di rumah, dan beberapa hari pertama kemerahan memang mereda sehingga terasa seperti berhasil.

Steroid adalah obat yang menekan reaksi imun penyebab peradangan itu sendiri. Ibaratnya seperti mobil pemadam kebakaran yang memaksa memadamkan sinyal peradangan, tapi masalahnya, penyebab api itu sendiri tetap ada. Selain itu, kalau steroid dipakai terus-menerus, fungsi pengawasan imun normal kulit juga ikut tertekan, sehingga bakteri dan reaksi iritan yang seharusnya terkendali justru mendapat ruang untuk berkembang.

Karena itu, begitu salep dihentikan, peradangan yang tadinya tertahan sering meledak sekaligus, membuat ruam menjadi lebih merah dan lebih luas dari sebelumnya. Kondisi ini biasa disebut steroid rebound, mirip seperti pegas yang ditekan lalu dilepas, akan melenting lebih kuat. Karena itu, kalau dicurigai dermatitis perioral, dianjurkan untuk mencari tahu penyebabnya lebih dulu daripada langsung memakai salep steroid sendiri.

Bagaimana Pasta Gigi Berfluoride dan Bahan Iritan Merusak Sawar Kulit

Pasta gigi yang mengandung fluoride juga sudah lama dicurigai sebagai salah satu penyebabnya. Saat menyikat gigi, busa pasta gigi otomatis mengenai kulit sekitar mulut, dan ada laporan bahwa kandungan fluoride dapat mengiritasi kulit di area ini sehingga melemahkan sawarnya.

Kandungan surfaktan juga sama berpengaruhnya. Surfaktan yang membuat pasta gigi berbusa memiliki daya bersih yang kuat untuk mengangkat kotoran berminyak, sehingga lapisan lipid alami di permukaan kulit pun ikut terangkat. Lapisan lipid ini adalah zat berminyak yang mengisi celah antar sel kulit mati. Kalau lapisan ini terkikis, kelembapan lebih mudah menguap dan iritasi dari luar lebih mudah masuk lebih dalam. Bayangkan seperti semen di antara batu bata yang lepas, sehingga seluruh dinding jadi longgar, prinsipnya kurang lebih sama.

Karena itu, bagi yang sering mengalami dermatitis perioral berulang, mengganti ke pasta gigi bebas fluoride atau dengan surfaktan yang lebih lembut bisa dicoba. Namun setiap orang bereaksi berbeda terhadap kandungan tertentu, jadi mengganti pasta gigi saja tidak selalu membuat semua orang langsung membaik.

Mengapa Krim dan Kosmetik Berat Bisa Menyumbat Folikel Rambut

Krim pelembap tebal atau kosmetik dengan kandungan minyak tinggi juga termasuk pemicu yang umum. Sekilas terlihat masuk akal bahwa semakin rajin melembapkan, kulit akan semakin baik, tapi di area sensitif seperti sekitar mulut, hal ini justru bisa berbalik arah.

Krim yang tebal menutupi permukaan kulit seperti lapisan film tipis yang menghalangi aliran udara dan kelembapan. Kondisi ini disebut oklusi, dan di bawah kulit yang teroklusi, panas dan kelembapan jadi terperangkap tanpa bisa keluar. Di dalam kondisi itu, bakteri normal dan zat iritan yang ada di sekitar folikel rambut malah mendapat lingkungan yang cocok untuk berkembang biak. Mirip seperti rumah kaca yang jadi panas dan lembap di dalamnya, kulit di bawah krim pun mengalami kondisi serupa.

Beberapa produk berikut ini sering disebut sebagai pemicu.

  • Pelembap berbasis minyak yang tebal: tujuannya untuk mengisi ulang lapisan lipid, tapi kalau dioleskan terlalu tebal, oklusi yang terjadi bisa memperburuk peradangan di sekitar folikel rambut.
  • Tabir surya dengan formula berminyak: terutama kalau ada kebiasaan mengoleskannya tebal-tebal di sekitar mulut, hal ini menciptakan oklusi dengan cara yang sama.
  • Foundation dan concealer dengan daya tutup tinggi: pigmen dan minyak yang bercampur bisa menyumbat pori, dan saat dibersihkan, gesekan tambahan justru memperburuk iritasi.

Mengapa Sering Terkelirukan dengan Jerawat atau Dermatitis Seboroik

Dermatitis perioral sering disalahartikan sebagai jerawat atau dermatitis seboroik karena tampilannya mirip. Ketiganya sama-sama menimbulkan kemerahan atau bintik-bintik kecil di wajah.

Namun jerawat biasanya diawali dengan komedo hitam atau putih yang terlihat lebih dulu, sedangkan dermatitis perioral menunjukkan bintik merah kecil yang seragam tanpa pori tersumbat. Dermatitis seboroik pun umumnya muncul di alis, samping hidung, dan kulit kepala, area yang berminyak, disertai sisik dan minyak berlebih, sementara dermatitis perioral lebih sering terlihat sebagai ruam yang terbatas di sekitar mulut tanpa banyak sisik.

Karena itu, daripada langsung memakai obat jerawat atau steroid sendiri, kalau ruam bertahan lebih dari 2 minggu, sebaiknya diperiksa untuk memastikan kondisinya secara tepat. Penyebab yang berbeda membutuhkan cara penanganan yang benar-benar berbeda pula.

Mengapa Kondisinya Justru Memburuk Setelah Berhenti Steroid?

Langkah pertama dalam penanganan dermatitis perioral biasanya adalah menghentikan salep steroid. Namun begitu benar-benar dihentikan, ruam sering justru memburuk dalam beberapa hari hingga beberapa minggu.

Ini terjadi karena reaksi rebound yang sudah dijelaskan sebelumnya. Reaksi peradangan yang lama ditekan oleh steroid langsung menyala kembali sekaligus begitu obatnya hilang. Semakin lama pegas ditekan, semakin kuat lentingannya saat dilepas, begitu pula semakin lama steroid dipakai, semakin besar reaksi pantulan setelah dihentikan.

Karena itu, daripada langsung berhenti total secara mendadak, cara yang lebih dianjurkan adalah menurunkan intensitas pemakaian secara bertahap atau menggantinya dengan pengobatan lain. Melewati fase ini dengan baik diyakini menjadi kunci agar peradangan bisa mereda dan stabil setelahnya.

Arah Dasar Pengobatan untuk Mengurangi Iritasi

Arah dasar pengobatan adalah mengurangi faktor iritan sebanyak mungkin dan memberi waktu bagi sawar kulit yang rusak untuk pulih dengan sendirinya.

Beberapa cara berikut biasa digunakan bersamaan.

  • Salep antibiotik topikal: salep dengan kandungan metronidazole atau erythromycin digunakan untuk meredakan peradangan di sekitar folikel rambut. Karena cara kerjanya menekan pertumbuhan bakteri tanpa menekan reaksi imun secara keseluruhan seperti steroid, risiko rebound-nya lebih kecil.
  • Antibiotik oral: kalau ruam meluas atau banyak muncul pustula kecil seperti biji-bijian, obat golongan tetracycline seperti doxycycline bisa diminum dalam jangka waktu tertentu. Golongan obat ini diketahui memiliki efek antibakteri sekaligus meredakan reaksi peradangan itu sendiri.
  • Meminimalkan pelembap dan kosmetik: selama masa pengobatan, disarankan hanya memakai produk yang ringan dan lembut, sementara yang lain diistirahatkan dulu. Mengurangi sumber iritasi memberi ruang bagi sawar kulit untuk pulih.

Kebiasaan yang Harus Dihindari Selama Masa Pemulihan

Selama ruam sedang mereda, hal terpenting adalah tidak menambah iritasi baru.

  • Krim pelembap tebal dan formula berminyak sebaiknya diistirahatkan dulu selama masa pemulihan, karena peradangan akibat oklusi bisa kembali menyala.
  • Kosmetik baru yang belum pernah dicoba atau produk eksfoliasi yang keras sebaiknya tidak dicoba dulu di masa ini, karena sawar kulit yang belum pulih bisa bereaksi berlebihan terhadap iritasi sekecil apa pun.
  • Sebaiknya hindari mencuci muka dengan air panas atau menggosok terlalu keras, karena panas dan gesekan sama-sama membuat sawar kulit semakin tipis.
  • Kalau masih ada sisa salep steroid, sebaiknya tidak dioleskan lagi sembarangan, karena meskipun terasa nyaman sesaat, hal ini bisa memicu rebound.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Cara Virus Moluskum Menular Lewat Kontak Kulit, Luka, dan Barang Bersama serta Cara Mencegahnya

Moluskum kontagiosum adalah penyakit kulit menular yang umum, disebabkan oleh virus dari keluarga poxvirus yang hanya bersarang di lapisan epidermis kulit. Penularannya lewat kontak langsung maupun perantara seperti handuk dan peralatan mandi, dan bisa menyebar sendiri ke bagian tubuh lain kalau digaruk. Berikut penjelasan bagaimana virus ini masuk dan menyebar di kulit.

By Dr. Kim

Back to articles