PDT untuk Jerawat: Efek, Jumlah Sesi, dan Downtime
By Dr. Kim8 min read

Sudah minum antibiotik dan rutin memakai obat oles, tapi jerawat merah meradang di pipi dan rahang tetap terus muncul, biasanya di titik ini orang mulai mencari cara lain. Terapi fotodinamik, atau disingkat PDT, adalah tindakan yang mengoleskan obat tertentu ke kulit sehingga area itu saja jadi peka terhadap cahaya tertentu, lalu disinari cahaya tersebut untuk mengecilkan kelenjar minyak dan menekan bakteri jerawat. Sederhananya, area yang berjerawat diberi "penanda" terlebih dahulu, lalu penanda itu saja yang disinari cahaya secara tepat sasaran untuk dihilangkan.
Obat yang berperan sebagai penanda ini disebut fotosensitizer, dan yang paling umum dipakai adalah ALA atau MAL, dipadukan dengan sumber cahaya seperti blue light, red light, atau IPL yang menyinarkan beberapa panjang gelombang sekaligus. Belakangan ini juga dipakai metode Gold PTT atau Platinum Angle, yaitu tanpa fotosensitizer sama sekali, partikel sangat kecil dari emas atau platinum dimasukkan ke kulit lalu dipanaskan dengan energi laser. Artikel ini merangkum angka penurunan lesi, tingkat kekambuhan, sampai masa pemulihan, semuanya berdasarkan studi nyata pada jerawat meradang tingkat sedang hingga berat.

Bagaimana PDT Mengurangi Jerawat?
PDT bekerja dalam dua tahap. Pertama, fotosensitizer seperti ALA (asam aminolevulinat) atau MAL (asam metil aminolevulinat), yaitu zat penanda yang bereaksi terhadap cahaya, dioleskan ke wajah dan dibiarkan meresap selama waktu tertentu. Zat ini punya sifat khusus, gampang menumpuk di kelenjar minyak yang aktif memproduksi sebum dan di dalam bakteri jerawat, sehingga penanda ini jadi lebih pekat justru di titik-titik yang berjerawat.
Setelah penanda ini menumpuk, kulit disinari cahaya dengan panjang gelombang tertentu sehingga fotosensitizer aktif dan menghasilkan radikal bebas, yaitu zat reaktif yang merusak bakteri dan sel. Radikal bebas inilah yang mengecilkan kelenjar minyak, membunuh bakteri jerawat, sekaligus meredakan reaksi peradangan itu sendiri.
Berbeda dengan obat oles atau antibiotik yang hanya menekan satu sisi dari peradangan, PDT menyentuh beberapa penyebab jerawat sekaligus, mulai dari produksi minyak berlebih, bakteri, hingga peradangan itu sendiri. Karena itu, PDT sering direkomendasikan khusus untuk jerawat meradang tingkat sedang hingga berat yang sulit membaik dengan pengobatan lain.
Tindakan ini dimulai dengan mencuci wajah, lalu mengoleskan fotosensitizer dan menunggu sekitar 30 menit sampai 1 jam agar meresap, baru kemudian disinari cahaya dengan panjang gelombang tertentu selama sekitar 10 sampai 20 menit. Selama masa tunggu, pasien menunggu di ruangan yang minim cahaya, dan semakin lama waktu tunggu ini, fotosensitizer bisa meresap lebih dalam ke kelenjar minyak sehingga memengaruhi hasil akhir. PDT bukan tindakan sekali kunjungan, melainkan perawatan yang diulang beberapa kali dengan jarak beberapa minggu untuk mengecilkan kelenjar minyak secara bertahap.

Tingkat Penurunan Menurut Kombinasi Obat dan Cahaya
Meski sama-sama PDT, hasilnya bisa cukup berbeda tergantung jenis fotosensitizer, sumber cahaya, dan jumlah sesi. Dalam sebuah studi acak terkontrol yang memakai MAL sebagai fotosensitizer, yaitu studi dengan tingkat kepercayaan tinggi karena kelompok yang diberi perawatan dan kelompok pembanding dibagi secara acak, kelompok yang menjalani 2 kali perawatan di pipi mengalami penurunan lesi meradang sebesar 74% dari kondisi awal pada minggu ke-20, sementara kelompok yang menjalani 4 kali perawatan turun hingga 85%. Artinya, semakin banyak jumlah sesi, semakin besar pula penurunannya.
Red light, blue light, dan IPL punya panjang gelombang yang sedikit berbeda untuk mengaktifkan fotosensitizer, sehingga masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Red light menembus lebih dalam ke kulit sehingga kuat untuk lesi meradang yang letaknya lebih dalam, sedangkan blue light lebih unggul dalam menekan bakteri jerawat itu sendiri. IPL menyinarkan beberapa panjang gelombang sekaligus dalam satu kali sesi, jadi cakupannya lebih luas dan sering kali sekaligus memperbaiki kemerahan atau pigmentasi kulit.
Jarak antar sesi biasanya 1 sampai 2 minggu, dengan total 3 sampai 4 kali perawatan. Semakin banyak jumlah sesi, efeknya memang semakin besar, tetapi masa pemulihan dan rasa nyeri juga ikut bertambah, sehingga jumlah sesi biasanya ditentukan dengan mempertimbangkan kondisi kulit dan jadwal pasien.

Metode Gold PTT dan Platinum Angle
Gold PTT berbeda dari PDT konvensional yang memakai ALA atau MAL karena tidak memakai fotosensitizer sama sekali. Sebagai gantinya, partikel sangat kecil berlapis emas dioleskan ke kulit, lalu didorong masuk ke dalam folikel rambut dengan getaran atau gelombang ultrasonik hingga menempel di samping kelenjar minyak. Sederhananya, butiran logam kecil ditanam lebih dulu di samping kelenjar minyak, lalu disinari laser near-infrared, yaitu cahaya tak kasat mata yang bisa menembus jauh ke dalam kulit, sehingga hanya butiran itu saja yang jadi panas. Panas dari butiran ini secara selektif merusak kelenjar minyak di sekitarnya sehingga produksi sebum berkurang.
Studi yang menguji metode ini menemukan bahwa pada minggu ke-12, kelompok yang mendapat perawatan mengalami penurunan rata-rata 14,3 lesi meradang, jauh lebih besar dibanding kelompok kontrol yang hanya turun 5,1 lesi. Saat pengamatan dilanjutkan sampai minggu ke-28, penurunannya bertambah hingga 61%. Uji klinis lain juga menunjukkan hasil serupa, di minggu ke-16 kelompok perawatan aktif turun 53% sedangkan kelompok plasebo hanya 30%, dan perbedaan ini signifikan secara statistik.
Di Korea, versi generasi kedua yang menambahkan partikel platinum ke dalam metode ini disebut Platinum Angle. Kombinasi partikel emas dan platinum ini disebut bertujuan membuat reaksi panas di sekitar kelenjar minyak menjadi lebih presisi dan mengurangi iritasi, tetapi studi besar yang menguji kombinasi ini secara khusus masih terbatas, jadi lebih aman menilainya berdasarkan bukti Gold PTT yang sudah ada.

Berapa Lama Pemulihan Setelah Prosedur?
Setelah menjalani PDT, biasanya muncul kemerahan dan sensasi panas selama sekitar 24 sampai 48 jam. Hari ke-3 sampai ke-5 adalah puncak bengkak dan peradangan, lalu antara hari ke-2 sampai ke-7 mulai muncul pengelupasan atau keropeng. Keropeng biasanya lepas dalam 6 sampai 14 hari, dan setelah 10 sampai 14 hari, kemerahan sebagian besar sudah mereda.
Pada masa ini, kandungan fotosensitizer yang dioleskan belum sepenuhnya hilang dari tubuh, sehingga kulit menjadi sangat sensitif terhadap cahaya. Selama kurang lebih dua hari setelah tindakan, sebaiknya hindari sinar matahari langsung maupun cahaya lampu ruangan yang terang, dan tabir surya juga perlu dioleskan lebih teliti dari biasanya.
Dalam sebuah studi yang menggabungkan IPL dan PDT, 3 minggu setelah perawatan, 87,1% pasien mencapai kriteria keberhasilan berupa penurunan lesi lebih dari 75%. Pada titik 2 bulan berikutnya, tingkat kekambuhan tergolong rendah yaitu 9,68%, dan tidak ditemukan efek samping serius. Downtime, yaitu masa yang dibutuhkan kulit untuk pulih sepenuhnya setelah tindakan, kalau dilewati dengan sabar, cenderung memberi efek yang bertahan lebih lama.
Apa Bedanya Keempat Metode?
Keempat metode ini berbeda dalam hal ada tidaknya fotosensitizer, jenis sumber cahaya, dan cara pelaksanaannya. Tujuannya sebenarnya sama, yaitu mengecilkan kelenjar minyak dan menekan bakteri jerawat sehingga jerawat meradang lebih jarang muncul kembali. Hanya saja, tergantung ada tidaknya fotosensitizer dan jenis panjang gelombang cahaya yang dipakai, downtime serta manfaat tambahan yang didapat juga sedikit berbeda. Berikut perbandingannya dalam bentuk tabel.
| Metode | Fotosensitizer | Sumber cahaya | Jarak sesi | Ciri khas |
|---|---|---|---|---|
| ALA-PDT | ALA | Merah atau biru | 1-2 minggu, 3-4 kali | Kombinasi paling umum di Korea |
| MAL-PDT | MAL | Red light | 1-2 minggu, 2-4 kali | Data studi Eropa melimpah |
| Gold PTT | Tidak ada, partikel emas mikro | Laser near-infrared | 1 minggu, 3 kali | Risiko fotosensitivitas rendah |
| IPL-PDT | Dikombinasikan ALA | IPL | 2-4 minggu | Sekaligus memperbaiki kemerahan dan pigmentasi |
ALA-PDT dan MAL-PDT yang memakai fotosensitizer relatif punya bukti ilmiah yang lebih banyak. Gold PTT tidak memakai obat oles sehingga reaksi fotosensitivitas terhadap cahaya lebih jarang terjadi, sehingga bisa jadi alternatif kalau ingin downtime yang lebih singkat. IPL-PDT layak dipertimbangkan kalau selain jerawat, kemerahan atau hiperpigmentasi juga jadi perhatian.
Apa pun metode yang dipilih, hasilnya tidak akan muncul dalam sekali tindakan. Setiap klinik punya alat dan sumber cahaya yang berbeda, jadi sebaiknya tanyakan dulu saat konsultasi kombinasi apa yang dipakai dan berapa kali sesi yang direkomendasikan sebelum memulai.
Hal yang Dicek Sebelum Prosedur dan Siapa yang Cocok
PDT cocok khususnya untuk jerawat meradang tingkat sedang hingga berat yang sulit dikendalikan dengan antibiotik atau obat oles, terutama kalau menyebar luas di seluruh wajah. PDT juga sering direkomendasikan untuk kulit dengan produksi minyak berlebih yang sering kambuh.
Sebelum tindakan, penting untuk memberi tahu dokter kalau sedang hamil atau menyusui, atau sedang mengonsumsi obat fotosensitisasi yang bisa menimbulkan efek samping saat bereaksi dengan cahaya. Perlu juga direncanakan bahwa beberapa hari setelah tindakan akan ada kemerahan dan pengelupasan dalam keseharian.
Karena perawatan ini membutuhkan beberapa kali kunjungan, sebaiknya dipertimbangkan juga apakah jadwal memungkinkan untuk menjaga jarak antar sesi. Kalau jaraknya terlalu renggang di tengah jalan, efeknya bisa tidak terkumpul sebesar yang diharapkan. Kepuasan biasanya lebih tinggi kalau ekspektasi hasil dan masa pemulihan dipahami sejak awal.
| Poin | Yang perlu dipastikan |
|---|---|
| Cocok untuk | Jerawat meradang sedang-berat, produksi minyak berlebih luas |
| Fotosensitivitas | 48 jam pertama wajib hindari matahari langsung dan pakai tabir surya |
| Hamil menyusui | Wajib konsultasi dokter sebelum tindakan |
| Susunan sesi | Umumnya jarak 1-2 minggu, 3-4 kali |
PDT bukan tindakan yang selesai dalam sekali sesi, melainkan perawatan yang membutuhkan beberapa sesi selama beberapa minggu, lengkap dengan downtime di antaranya. Karena itu, penting untuk mengecek dulu bukti soal efektivitas dan tingkat kekambuhannya, lalu menentukan metode yang sesuai dengan tingkat keparahan jerawat dan jadwal masing-masing bersama dokter.
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Subcision: Efek, Beda Jika Dikombinasikan, Efek Samping, dan Masa Pemulihan
Apa itu subcision, bekas luka jerawat mana yang cocok dan mana yang tidak, bagaimana hasilnya berbeda saat dikombinasikan dengan filler atau laser, seperti apa memar dan downtime-nya, serta siapa yang paling diuntungkan dari prosedur ini. Dijelaskan dengan angka penelitian nyata, tanpa berlebihan.
By Dr. Lee

TCA CROSS untuk Bekas Jerawat Icepick: Efek dan Perawatan Pigmentasi
Apa itu TCA CROSS, mengapa efektif untuk bekas jerawat icepick yang sempit dan dalam, perbedaan hasil berdasarkan konsentrasi, cara mencegah hiperpigmentasi pasca-inflamasi dengan persiapan yang tepat, serta kombinasi dengan prosedur lain, berdasarkan data studi klinis.
By Dr. Lee

Filler Belotero Soft untuk Kerutan Leher: Lama Bertahan dan Jumlah Sesi
Saat mengisi kerutan horizontal di leher dengan filler, penjelasan lengkap kenapa harus memakai filler lembut seperti Belotero Soft secara dangkal dan dalam jumlah sedikit, bukan filler keras seperti yang dipakai di dagu atau pipi, berapa lama efeknya bertahan, berapa kali sesi yang dibutuhkan, serta bagaimana risiko efek Tyndall dan keamanannya berdasarkan studi klinis.
By Dr. Kim