Onda Lifting: Cara Kerja Gelombang Mikro Mengecilkan Lemak Dagu Ganda dan Mengencangkan Rahang
By Dr. Lee12 min read

Banyak pasien yang datang ke klinik dengan keluhan yang sama: dagu terlihat berlipat saat berfoto, garis rahang yang dulu tegas kini mulai menyatu dengan leher. Berat badan tidak naik drastis, tapi entah kenapa wajah terasa lebih bulat dan kontur bawah wajah kehilangan ketegasannya. Ini adalah keluhan khas dagu ganda—lemak yang menumpuk tepat di bawah dagu sekaligus kulit yang mulai kendur di atasnya. Masalahnya, area ini sangat keras kepala: rutin olahraga dan menjaga pola makan pun sering kali tidak membuat dagu ganda benar-benar hilang. Kulit di bawah dagu memang tipis dan mudah mengendur, sementara lemak di bawahnya memberi beban tambahan. Mengencangkan kulit saja tidak cukup—idealnya lemak berkurang dan kulit terangkat secara bersamaan.
Onda Lifting hadir sebagai salah satu jawaban atas pertanyaan itu. Prinsipnya berbeda dari laser atau HIFU yang sudah lebih dulu dikenal di Indonesia: teknologi ini menggunakan gelombang mikro sebagai energi elektromagnetik untuk memanaskan lapisan lemak secara selektif dari dalam, tanpa melukai permukaan kulit. Tidak ada jarum, tidak ada sayatan. Di situlah letak perbedaan mendasarnya dari prosedur lifting konvensional. Namun karena ini termasuk teknologi yang relatif baru, ada sejumlah hal penting yang perlu dipahami sebelum memutuskan untuk mencobanya—mulai dari cara kerja ilmiahnya, data klinis yang ada, perbedaannya dengan Thermage dan Ulthera, hingga siapa yang paling cocok menjalaninya.

Apa Sebenarnya Onda Lifting Itu?
Onda Lifting adalah perangkat berbasis gelombang mikro yang dikembangkan oleh DEKA, perusahaan medis asal Italia. Gelombang mikro yang digunakan berasal dari spektrum elektromagnetik yang sama dengan microwave di dapur—tetapi perbedaannya sangat besar. Microwave rumahan memanaskan makanan secara seragam tanpa kontrol kedalaman, sedangkan perangkat medis ini mengendalikan intensitas dan kedalaman energi dengan sangat presisi agar hanya lapisan yang dituju yang menerima panas.
Target utamanya bukan permukaan kulit, melainkan lemak subkutan—lapisan lemak yang berada tepat di bawah kulit. Ketika gelombang mikro menembus lapisan ini, panas terbentuk di dalamnya dan sel-sel lemak mengalami kerusakan terkontrol lalu perlahan menyusut. Bersamaan dengan itu, panas yang merambat ke dermis juga merangsang produksi kolagen baru. Hasilnya, dua efek terjadi sekaligus: lemak berkurang dan kulit mengencang. Ini penting karena mengurangi lemak saja tanpa mengencangkan kulit justru bisa membuat kulit terlihat lebih kendur dari sebelumnya.
Prosedur ini sepenuhnya non-invasif—tidak ada jarum, tidak ada luka. Handpiece digerakkan di atas kulit sambil memanaskan area yang ditargetkan, dan sistem pendinginan aktif bekerja bersamaan di permukaan kulit agar panas tidak berlebihan di lapisan terluar. Di Indonesia, Onda Lifting paling sering digunakan untuk mengatasi dagu ganda, mengencangkan garis rahang yang mulai kabur, dan mempertegas kontur bawah wajah. Area bawah dagu yang memiliki kombinasi lemak dan kulit kendur inilah yang menjadi indikasi utamanya.
Sensasi selama prosedur juga layak diketahui agar tidak terkejut. Handpiece bergerak perlahan di atas kulit sambil memberikan rasa hangat yang menyebar ke dalam—bukan seperti terbakar, lebih seperti kehangatan dalam yang merata. Pendinginan permukaan membuat rasa panas tidak menyengat di kulit luar. Hampir tidak diperlukan anestesi, dan setelah selesai pasien bisa langsung beraktivitas normal tanpa masa pemulihan yang berarti.
Satu hal yang perlu disampaikan sejak awal: Onda Lifting masih tergolong prosedur baru dibandingkan Thermage atau Ulthera yang data klinisnya sudah jauh lebih matang. Prinsip kerjanya jelas secara fisika, tetapi jumlah dan skala penelitian pada manusia masih terbatas. Sebagian besar studi yang dipublikasikan pun dilakukan dalam lingkungan yang dekat dengan pihak produsen. Membangun ekspektasi yang realistis—memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan prosedur ini—adalah langkah terbaik sebelum memutuskan untuk menjalaninya.

Mengapa Gelombang Mikro Lebih Efektif Bekerja pada Lemak?
Ada alasan fisika yang menjelaskan mengapa gelombang mikro lebih banyak terserap oleh lemak dibanding jaringan lainnya. Grafik di atas menunjukkan bahwa sekitar 80% energi yang dihantarkan diserap oleh lemak subkutan, sementara hanya sekitar 20% tersebar ke jaringan sekitarnya. Angka ini bukan kebetulan—ini mencerminkan karakteristik fisik bawaan gelombang mikro. Perlu dicatat bahwa data ini bersumber dari dokumen teknis produsen dan analisis terkait, sehingga konfirmasi dari penelitian independen berskala besar tetap dibutuhkan.
Mekanisme di baliknya disebut pemanasan dielektrik (dielectric heating)—prinsip fisika di mana gelombang elektromagnetik menggetarkan molekul dalam jaringan sehingga menghasilkan panas melalui gesekan internal. Setiap jaringan tubuh merespons gelombang elektromagnetik secara berbeda, dan lemak memiliki sifat yang membuatnya menyerap energi gelombang mikro lebih efisien dibanding jaringan lain di sekitarnya. Dengan intensitas energi yang sama, panas lebih banyak terbentuk di lapisan lemak—bukan karena energi "dipaksa" ke sana, melainkan karena secara fisika lemak memang lebih menariknya.
Kedalaman penetrasi juga menjadi faktor kunci. Gelombang mikro mampu menembus permukaan kulit dan mencapai lapisan lemak subkutan di bawahnya, sementara sistem pendingin aktif melindungi permukaan. Hasilnya, panas justru lebih terkonsentrasi di lapisan dalam. Prinsip mendinginkan permukaan sambil memanaskan lapisan dalam ini membuat prosedur bisa bekerja pada lapisan target tanpa mengorbankan kulit di atasnya.
Selektivitas terhadap lemak inilah fondasi keunggulan Onda Lifting. Namun perlu diingat: selektivitas fisika bukan jaminan efek klinis yang besar pada setiap individu. Seberapa banyak lemak yang berkurang sangat bergantung pada jumlah dan distribusi lemak, ketebalan kulit, dan kondisi jaringan masing-masing pasien. Data 80% adalah parameter fisika perangkat, bukan prediksi hasil akhir—dan angka tersebut pun masih menunggu validasi dari sumber yang sepenuhnya independen.

Seberapa Besar Perbaikan Dagu Ganda yang Bisa Diharapkan?
Ada penelitian yang secara langsung mengukur perubahan kekenduran kulit dagu ganda setelah prosedur ini. Grafik di atas menampilkan skor SMSLG—sistem penilaian kekenduran kulit pada skala 0 hingga 4, di mana angka lebih kecil berarti lebih sedikit kendur. Sebelum tindakan, rata-rata skor berada di 3,6. Setelah 12 minggu, turun menjadi 2,3—penurunan sekitar 36%. Dalam konteks klinis, ini berarti kekenduran berkurang lebih dari satu tingkat pada skala yang digunakan, dan perubahan ini cukup terlihat secara visual.
Namun ada keterbatasan besar yang harus disampaikan secara jujur. Penelitian ini hanya melibatkan 10 orang (Zappia dkk., Lasers Med Sci 2025;40(1):28). Dengan sampel sekecil itu, sangat sulit menarik kesimpulan yang berlaku umum. Kemungkinan besar ada variasi hasil yang cukup lebar di antara 10 subjek—rata-rata 36% tidak berarti semua orang mengalami perbaikan sebesar itu. Penelitian tahap awal seperti ini juga sering dilakukan dalam lingkungan yang memiliki keterkaitan dengan produsen perangkat, yang perlu diperhitungkan saat menilai bobot datanya.
Cara membaca angka rata-rata pun penting. Rata-rata turun dari 3,6 ke 2,3 berarti sebagian pasien mungkin mengalami perbaikan jauh lebih besar, sementara yang lain hampir tidak berubah. Di samping itu, hasil ini adalah dari 2 sesi tindakan yang diukur pada 12 minggu setelahnya—bukan dari satu kali prosedur, dan bukan gambaran hasil jangka panjang.
Sistem penilaian SMSLG itu sendiri juga perlu dicermati. Ini adalah skala yang dinilai secara visual oleh tenaga medis, bukan pengukuran objektif seperti USG. Penilaian visual semacam ini bisa berbeda antara satu dokter dengan dokter lain. Perbaikan satu tingkat skala tidak bisa langsung diartikan sebagai persentase tertentu lemak yang hilang atau ukuran sentimeter yang berkurang—ini tetap penilaian kualitatif.
Grafik ini sebaiknya dibaca sebagai sinyal awal yang menjanjikan, bukan kepastian. Ada data yang menunjukkan bahwa Onda Lifting bisa memperbaiki kekenduran dagu ganda, tetapi pondasinya masih tipis. Diperlukan penelitian dengan sampel lebih besar dan dilakukan secara independen untuk benar-benar mengonfirmasi besaran efeknya. Di klinik, ini selalu disampaikan apa adanya kepada pasien: harapkan perbaikan bertahap dan halus, bukan perubahan dramatis.

Bagaimana Kepuasan Pasien yang Sebenarnya?
Terpisah dari angka klinis objektif, penting juga mengetahui bagaimana pasien sendiri merasakan hasilnya. Dalam satu penelitian kepuasan, 70,2% pasien yang menjalani prosedur gelombang mikro untuk dagu ganda menyatakan puas atau sangat puas (Salsi & Fusco, J Cosmet Dermatol 2022;21:5657). Artinya tujuh dari sepuluh orang menilai perubahan yang mereka rasakan secara positif—sebuah indikasi bahwa efek prosedur ini memang terasa nyata bagi sebagian besar yang menjalaninya.
Penelitian ini melibatkan 47 subjek—lebih besar dibanding studi kekenduran yang hanya 10 orang—dan dilakukan dalam 6 sesi tindakan. Jumlah sampel yang lebih besar memberikan bobot yang sedikit lebih kuat pada datanya. Namun angka 70,2% perlu juga dibaca dari sisi sebaliknya: sekitar 30% pasien tidak merasa puas. Tidak ada prosedur estetika dengan kepuasan sempurna, dan Onda Lifting pun bukan pengecualian.
Sifat subjektif dari kepuasan adalah faktor penting yang perlu dipertimbangkan. Berbeda dari skor kekenduran yang dinilai oleh dokter, kepuasan adalah persepsi pasien sendiri—dan persepsi sangat dipengaruhi oleh ekspektasi awal. Pasien yang datang dengan harapan perubahan dramatis bisa merasa kecewa meski ada perbaikan nyata, sementara pasien dengan ekspektasi realistis bisa merasa sangat puas dengan hasil yang sama. Perlu juga dicatat bahwa 6 sesi tindakan adalah komitmen waktu dan biaya yang tidak kecil—pasien yang sudah berinvestasi sebesar itu mungkin cenderung menilai hasilnya lebih positif.
Jika kedua data digabungkan—skor kekenduran yang turun secara terukur dan tingkat kepuasan subjektif yang cukup tinggi—keduanya menunjukkan arah yang sama. Konsistensi dua jenis ukuran yang berbeda ini memang menambah sedikit kepercayaan. Namun keterbatasan bersama keduanya—ukuran sampel yang masih kecil, banyak sesi yang diperlukan, lingkungan penelitian yang dekat dengan produsen—tetap membuat kita perlu menahan diri dari kesimpulan yang terlalu optimistis.
Di klinik, angka kepuasan ini tidak disampaikan sebagai janji hasil, melainkan sebagai gambaran: mayoritas pasien dengan indikasi yang tepat merasakan manfaatnya, tetapi hasil tetap bervariasi antar individu. Membangun ekspektasi yang realistis sejak awal konsultasi adalah kunci agar angka 70% kepuasan itu bermakna, bukan sekadar angka di atas kertas.

Apa Bedanya dengan Thermage dan Ulthera?
Pertanyaan ini hampir selalu muncul saat konsultasi. Thermage CPT, Ulthera (HIFU), dan Onda Lifting sama-sama menawarkan pengencangan wajah tanpa operasi—tetapi ketiganya menggunakan energi yang berbeda dan menargetkan lapisan jaringan yang berbeda.
Thermage CPT menggunakan energi frekuensi radio (RF). Energi ini memanaskan lapisan dermis secara merata dan luas, menyebabkan kolagen berkontraksi seketika dan merangsang pembentukan kolagen baru dari waktu ke waktu. Efeknya paling terasa pada perbaikan elastisitas dan kekencangan kulit secara menyeluruh. Thermage bekerja paling baik ketika masalah utama adalah kulit yang kehilangan kekencangan—bukan lemak yang berlebih.
Ulthera menggunakan energi ultrasonik yang difokuskan pada satu titik (HIFU—High Intensity Focused Ultrasound), dan mampu menembus hingga lapisan SMAS—lapisan fascia dalam yang menjadi target dalam operasi facelift konvensional. HIFU menjangkau kedalaman yang tidak dicapai oleh Thermage maupun Onda, dan efek liftingnya bekerja pada struktur wajah yang lebih dalam. Di Indonesia, Ultherapy dan berbagai merek HIFU lainnya sudah sangat dikenal dan banyak dicari pasien yang menginginkan lifting tanpa operasi.
Onda Lifting menargetkan lemak subkutan—lapisan yang berada di antara dermis (target Thermage) dan lapisan SMAS (target HIFU). Keunggulan Onda justru ada pada kombinasi ini: mengurangi lemak sekaligus merangsang pengencangan kulit di atasnya. Untuk dagu ganda yang terbentuk dari kombinasi lemak dan kulit kendur—bukan sekadar kulit yang longgar tanpa lemak—Onda menawarkan pendekatan yang berbeda dari keduanya.
Yang perlu dipahami adalah ini bukan soal mana yang paling bagus secara absolut, melainkan soal masalah apa yang ingin diselesaikan. Kulit kendur tanpa lemak berlebih cenderung lebih cocok dengan Thermage. Struktur wajah yang kendur dalam membutuhkan penetrasi HIFU. Dagu ganda dengan kombinasi lemak dan kendur adalah indikasi yang paling relevan untuk Onda. Dalam banyak kasus, kombinasi dua modalitas bisa memberikan hasil yang lebih komprehensif daripada satu prosedur saja. Hingga saat ini belum ada studi perbandingan langsung yang membandingkan ketiga teknologi ini secara head-to-head, sehingga klaim "lebih baik dari yang lain" tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Siapa yang Paling Cocok, dan Apa yang Perlu Diwaspadai?
Indikasi terbaik untuk Onda Lifting cukup spesifik. Kandidat yang paling cocok adalah mereka yang mengalami dagu ganda atau garis rahang yang tidak tegas akibat kombinasi lemak dan kulit kendur—bukan hanya salah satunya. Area bawah dagu yang tidak merespons diet dan olahraga, atau kontur wajah yang mulai kabur karena penurunan elastisitas kulit, adalah kondisi yang paling sering mendapat manfaat nyata dari prosedur ini.
Sebaliknya, ada situasi di mana efeknya mungkin terbatas. Pasien dengan sedikit sekali lemak subkutan di area yang ditargetkan kemungkinan tidak akan mendapat perubahan yang signifikan—karena target utama prosedur ini adalah lemak, jika lemaknya minimal, hasilnya pun cenderung minimal. Pada kasus seperti ini, prosedur yang lebih berfokus pada stimulasi kolagen seperti Thermage atau HIFU mungkin lebih tepat. Evaluasi jumlah lemak di area target sebelum tindakan adalah langkah yang tidak boleh dilewatkan dalam konsultasi awal.
Dari sisi prosedur, Onda Lifting relatif mudah dijalani. Non-invasif, tanpa jarum, tanpa luka. Satu area membutuhkan waktu sekitar 10 menit per sesi, dan seperti yang terlihat dari penelitian yang ada, efek optimal biasanya dicapai setelah beberapa sesi—bukan dari satu kali tindakan. Penting bagi pasien untuk memahami bahwa ini adalah proses bertahap, dan perubahan umumnya terlihat secara gradual dalam beberapa minggu setelah rangkaian sesi selesai.
Efek samping yang perlu diketahui: yang paling umum adalah kemerahan sementara di area yang dipanaskan, biasanya mereda dalam beberapa jam. Bengkak ringan dan memar juga bisa terjadi. Yang lebih jarang meliputi luka bakar ringan, vesikel, benjolan keras sementara di bawah kulit, atau perubahan pigmentasi. Sebagian besar bersifat sementara dan membaik sendiri, tetapi jika ada gejala yang bertahan lama atau memburuk, segera konsultasikan ke klinik tempat prosedur dilakukan.
Benjolan keras yang terkadang teraba setelah tindakan sering membuat pasien khawatir. Ini adalah respons jaringan lemak yang sedang dalam proses pemulihan—umumnya akan melunak dalam beberapa minggu. Namun jika disertai nyeri yang memburuk atau benjolan yang berubah bentuk, jangan abaikan dan segera periksakan.
Ada kondisi di mana prosedur ini sebaiknya dihindari. Ibu hamil, area yang sedang mengalami infeksi aktif, serta pasien dengan implan logam atau alat pacu jantung di dalam tubuh perlu mendiskusikan kondisinya secara menyeluruh sebelum menjalani prosedur—gelombang mikro adalah energi elektromagnetik yang dapat berinteraksi dengan perangkat elektronik medis yang tertanam di tubuh.
Terakhir, tentang ekspektasi: Onda Lifting adalah pilihan yang relevan untuk dagu ganda dengan komponen lemak yang jelas, tetapi ini bukan prosedur dengan bukti klinis yang sudah sangat mapan. Hasilnya nyata namun bertahap—bukan perubahan dramatis dalam satu sesi. Pasien yang datang dengan ekspektasi yang tepat dan kondisi yang sesuai indikasi adalah yang paling mungkin pulang dengan kepuasan yang sesungguhnya.
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Thermage: Cara Kerja RF Mengencangkan Kulit, Bukti Klinis Nyata, dan Berapa Lama Hasilnya Bertahan
Penjelasan mendalam tentang cara kerja teknologi radio frekuensi (RF) Thermage dalam merangsang produksi kolagen di lapisan dermis, bukti klinis yang mendukung efektivitasnya, durasi hasil, perbandingan dengan Ultherapy, siapa yang paling cocok menjalani prosedur ini, serta risiko nyeri dan efek samping — dari perspektif medis.
By Dr. Kim

Belotero Revive — Skin Booster HA dan Gliserol yang Menjaga Kelembapan dan Elastisitas Kulit hingga 36 Minggu
Belotero Revive mengombinasikan HA 20 mg/ml dengan gliserol dalam teknologi CPM untuk meningkatkan hidrasi dan elastisitas kulit dari dalam. Artikel ini mengulas cara kerjanya, data klinis, durasi efek per parameter, perbedaannya dengan Juvederm Volite, dan siapa yang paling cocok menjalani prosedur ini.
By Dr. Kim

Radiesse dan CaHA Skin Booster: Cara Merangsang Kolagen untuk Mengencangkan Leher dan Kulit yang Kendur
Penjelasan mendalam tentang cara kerja CaHA dalam Radiesse — memberi volume seketika sekaligus merangsang pembentukan kolagen baru di leher, dékolté, dan punggung tangan. Dilengkapi data biopsi dan studi klinis, perbandingan dengan biostimulator lain, siapa kandidat terbaiknya, serta efek samping seperti nodul yang perlu diketahui sebelum memutuskan perawatan.
By Dr. Lee