prettytime
Acne

Mengapa Jerawat Nodulokistik yang Bernanah Memicu Peradangan Dalam hingga Berujung Bekas Luka

By Dr. Lee6 min read

Jerawat itu tidak semuanya sama. Jerawat kecil yang muncul di wajah, sekadar bintik-bintik halus, sangat berbeda dari jerawat nodulokistik yang terasa nyeri saat disentuh dan tampak merah membengkak. Keduanya bahkan bekerja lewat mekanisme yang berbeda di dalam kulit. Peradangan pada jerawat nodulokistik turun sampai ke dermis, lapisan kulit yang jauh lebih dalam dari permukaan, sehingga rasa nyerinya lebih hebat dan sering meninggalkan bekas meski sudah sembuh. Artikel ini akan menguraikan mengapa jenis jerawat ini begitu dalam dan bertahan lama, serta apa yang sebenarnya terjadi di baliknya.

Apa Bedanya Jerawat Nodulokistik yang Bernanah dengan Jerawat Biasa?

Jerawat pada umumnya muncul karena satu pori tersumbat oleh sebum dan sel kulit mati, membentuk benjolan kecil semacam komedo. Kondisi ini disebut komedo, atau sederhananya pori yang tersumbat. Nodul dan kista, sebaliknya, adalah bentuk peradangan yang sudah menyebar luas di bawah pori yang tersumbat tadi.

Nodul terasa sebagai benjolan keras dan nyeri di dalam kulit, sementara kista terasa lebih lunak karena berisi cairan seperti nanah, mirip kantong berisi air. Yang membedakan keduanya dari jerawat biasa adalah akarnya jauh lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan. Karena itu, sering kali saat dipencet dengan tangan, tidak ada yang keluar dari permukaan, hanya rasa sakit yang tersisa.

Kata bernanah pada namanya menunjukkan sifat khas jerawat ini yang menghasilkan nanah. Nanah sendiri adalah campuran sel darah putih dan bakteri yang sudah mati, sisa dari pertarungan sel darah putih melawan bakteri. Bedanya dengan jerawat biasa, nanah pada jerawat nodulokistik terbentuk bukan di lapisan dangkal, melainkan jauh di dalam kulit. Ini menandakan tubuh sedang bertarung lebih besar dan lebih lama di titik tersebut.

Bagaimana Proses Peradangan Menembus hingga ke Lapisan Dalam Kulit

Peradangan yang dalam ini tidak muncul tiba-tiba, tetapi melewati beberapa tahap. Mula-mula, sebum dan sel kulit mati bercampur dan menyumbat pori. Di dalam pori yang tersumbat, kadar oksigen menjadi rendah, dan bakteri penyebab jerawat, Cutibacterium acnes (bakteri yang memang sudah ada di kulit), justru menyukai kondisi minim oksigen ini sehingga berkembang biak dengan cepat.

Saat bakteri bertambah banyak, tubuh mengenalinya sebagai ancaman dan mengirim sel darah putih untuk melawan di lokasi tersebut. Zat-zat yang dilepaskan selama pertarungan ini kemudian merangsang jaringan sekitar, membuat peradangan menembus dinding pori dan turun ke bagian bawah, yaitu dermis (lapisan tebal di bawah epidermis yang berisi kolagen dan pembuluh darah).

Peradangan Menyebar Ketika Dinding Folikel Pecah

Ketika peradangan makin parah, dinding yang membungkus folikel rambut tidak lagi mampu menahan tekanan dan akhirnya pecah. Kondisi ini mirip balon yang terus ditiup hingga akhirnya meletus.

Saat sebum, sel kulit mati, bakteri, dan zat-zat peradangan yang tadinya berada di dalam folikel tumpah sekaligus ke jaringan sekitarnya, tubuh menganggapnya sebagai serangan dalam skala yang jauh lebih luas. Karena itu, respons peradangan tidak lagi terbatas pada satu pori kecil, melainkan menyebar ke seluruh jaringan dermis di sekitarnya. Inilah alasan mengapa nodul dan kista terasa jauh lebih besar dan keras saat disentuh, karena peradangan terjadi serentak di area yang luas, bukan hanya di satu titik.

Kenapa Bengkak dan Nyerinya Terasa Begitu Hebat?

Jerawat nodulokistik terasa jauh lebih nyeri dibanding jerawat lain, bahkan sering berdenyut meski tidak ditekan. Ini terjadi karena peradangan yang turun sampai ke dermis ikut merangsang saraf dan pembuluh darah di sekitarnya.

Ketika pembuluh darah melebar, darah mengalir lebih banyak ke area tersebut sehingga kulit tampak merah dan bengkak. Saat saraf ikut terstimulasi, sinyal nyeri yang dikirim pun menjadi lebih kuat. Jerawat di permukaan biasanya baru terasa sakit kalau ditekan, tetapi pada nodulokistik, peradangannya sudah begitu dekat dengan saraf sehingga rasa berdenyut bisa muncul walau tidak disentuh sama sekali.

Mengapa Sering Muncul di Rahang dan Punggung?

Pada orang yang sama, jerawat nodulokistik cenderung lebih sering dan lebih besar muncul di rahang dibanding dahi, atau di punggung dan dada dibanding wajah. Area-area ini memiliki kesamaan, yaitu kelenjar sebasea (organ kecil penghasil sebum) yang ukurannya besar dan kepadatannya tinggi. Semakin besar dan banyak kelenjar sebasea, semakin banyak pula sebum yang diproduksi, yang berarti semakin banyak bahan yang bisa menyumbat pori.

Area rahang dan leher juga termasuk yang paling dipengaruhi oleh hormon androgen, hormon pria. Androgen bekerja merangsang kelenjar sebasea untuk memproduksi lebih banyak sebum, sehingga tidak heran jika jerawat di garis rahang sering memburuk saat hormon berubah, misalnya menjelang siklus menstruasi atau saat stres meningkat. Pada punggung dan dada, pori yang lebih dalam dan kulit yang lebih tebal juga berperan, karena begitu peradangan muncul di area ini, cairan peradangan sulit keluar ke lapisan dangkal dan justru cenderung terdorong makin ke dalam.

Kenapa Kalau Dibiarkan Bisa Berujung Bekas Luka?

Ketika peradangan sudah turun ke dermis dan menyebar luas, mengembalikan area tersebut ke struktur kulit yang normal menjadi jauh lebih sulit. Di dalam dermis terdapat jaringan kolagen, serat protein yang menopang kulit dan tersusun seperti anyaman. Peradangan yang parah ikut merusak anyaman ini.

Selama proses penyembuhan, tubuh sering kali tidak mampu memulihkan bagian yang rusak persis seperti semula, dan malah buru-buru menutupnya dengan jaringan parut. Jerawat di permukaan biasanya sembuh tanpa bekas, tetapi karena peradangan pada jerawat nodulokistik begitu dalam dan luas, risiko meninggalkan bekas luka, baik yang cekung maupun yang menonjol, ikut membesar.

Kenapa Sebenarnya Tidak Boleh Dipencet?

Banyak orang mencoba memencet atau menekan jerawat nodulokistik untuk memecahkannya, padahal tindakan ini justru memperparah peradangan. Berikut alasannya.

  • Peradangan sudah berada jauh di bawah dinding folikel, sehingga menekan permukaan tidak akan menjangkau akarnya. Yang terjadi hanya tekanan tambahan, sementara penyebab peradangannya tetap ada.
  • Jika dipaksa keluar dengan tekanan, zat-zat peradangan di dalam folikel bisa tidak keluar dengan benar dan justru menyebar lebih jauh ke jaringan sekitar, mirip isi balon yang meletus dan berhamburan ke dalam, bukan keluar.
  • Saat disentuh dengan tangan, bakteri lain dari permukaan kulit bisa ikut masuk sehingga peradangan bertambah lagi. Ini sama saja menambah rangsangan baru pada luka.
  • Bila area tersebut terus-menerus dirangsang, waktu yang dibutuhkan untuk meredakan peradangan menjadi lebih lama, dan risiko bekas luka pun ikut meningkat.

Oleh sebab itu, jerawat yang sudah berkembang menjadi nodul atau kista sebaiknya tidak disentuh, melainkan ditangani dengan pengobatan yang meredakan peradangannya.

Bagaimana Sebaiknya Pendekatan Pengobatannya?

Untuk jerawat nodulokistik, sekadar merawat sel kulit mati di permukaan saja tidak cukup. Karena peradangannya sudah turun sampai ke dermis, dibutuhkan pengobatan yang juga bekerja hingga kedalaman tersebut.

Obat seperti antibiotik atau isotretinoin oral bekerja dengan mengurangi bakteri penyebab peradangan sekaligus menekan produksi sebum. Semakin sedikit bakteri, semakin berkurang pula alasan sel darah putih untuk terus berdatangan dan bertarung, sementara produksi sebum yang menurun berarti bahan penyumbat pori juga ikut berkurang sejak awal. Pada area yang peradangannya parah, dokter juga bisa menyuntikkan obat langsung ke dalam lesi untuk meredakan peradangan dengan cepat. Karena bekerja langsung pada area yang terbatas, metode ini dikenal cukup efektif meredakan reaksi peradangan yang sudah dalam di dermis dalam waktu relatif singkat.

Metode mana yang paling tepat biasanya ditentukan dengan mempertimbangkan kedalaman dan luas peradangan, serta risiko terbentuknya bekas luka. Pendekatan untuk beberapa nodul saja tentu berbeda dengan kondisi yang sudah menyebar luas di seluruh wajah.

Yang perlu diingat, meski tampilan di permukaan sudah membaik, peradangan di bawahnya butuh waktu untuk benar-benar reda sepenuhnya. Jika pengobatan dihentikan terburu-buru begitu kemerahan tampak berkurang, peradangan yang masih tersisa di dalam dermis bisa kembali membesar dan memunculkan nodul baru di titik yang sama, dan hal ini bukan kejadian yang jarang terjadi.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Acne

Cara Produk Susu dan Gula Memicu Insulin dan IGF-1 hingga Memperparah Jerawat

Dalam kaitan antara jerawat dan makanan, sorotan utama jatuh pada makanan yang cepat menaikkan gula darah dan produk susu. Artikel ini membahas bagaimana sinyal gula darah, insulin, dan IGF-1 memengaruhi kelenjar minyak dan pori kulit. Dibahas juga alasan susu skim lebih sering disebut serta bagian pola makan yang perlu dicek lebih dulu.

By Dr. Kim

Back to articles