prettytime
Botox

Prinsip Garis Vertikal Leher Akibat Kontraksi Otot Platysma dan Cara Botox Melemaskannya

By Dr. Kim6 min read

Saat bercermin, terkadang yang terlihat bukan kerutan horizontal di leher, melainkan garis vertikal panjang yang membentang dari bawah dagu ke arah tulang selangka. Garis ini semakin jelas saat tersenyum, berbicara, atau menundukkan kepala. Orang sering menyebutnya neck band, dan penyebabnya sedikit berbeda dari kerutan akibat kulit kendur.

Garis vertikal ini sebenarnya berasal dari otot tipis yang menutupi bagian depan leher secara luas. Berikut penjelasan mengapa otot ini bisa muncul sebagai garis, dan bagaimana Botox bekerja pada otot tersebut untuk meredakannya.

Apa Peran Otot Platysma?

Di bagian depan leher terdapat otot bernama platysma. Otot ini juga disebut otot leher lebar, dan berbeda dari otot tebal yang melekat pada tulang untuk menghasilkan tenaga besar. Platysma justru sangat tipis dan melebar, mirip otot ekspresi wajah. Otot ini dimulai dari tulang selangka dan bagian atas dada, melewati garis rahang, hingga mencapai sudut mulut.

Karena ketipisannya, bentuknya mirip sarung tangan lateks yang dibentangkan menutupi seluruh leher. Otot ini ikut berkontraksi saat membentuk ekspresi wajah, terutama ketika mengatupkan rahang atau menunjukkan raut terkejut. Saat leher terlihat seperti mengencang karena marah, sebenarnya otot inilah yang sedang tertarik.

Karena berkontraksi setiap kali ekspresi berubah, otot ini menegang dan mengendur puluhan kali sehari. Platysma tidak menggerakkan tulang atau sendi, melainkan hanya menarik kulit. Struktur yang menempel tipis tepat di bawah kulit inilah yang menjadi latar belakang terbentuknya garis vertikal.

Bagaimana Garis Vertikal Terbentuk

Meski terlihat seperti satu lembar otot yang lebar, platysma sebenarnya terdiri dari beberapa berkas otot yang tersusun berdampingan. Pada kulit yang masih muda dan elastis, celah antar berkas ini tertutup rapi sehingga tidak terlihat dari luar.

Namun seiring bertambahnya usia, elastisitas kulit dan fasia menurun sehingga daya tutup pada celah antar berkas melemah. Akibatnya, setiap kali otot berkontraksi, masing-masing berkas menonjol secara terpisah dan tampak seperti garis vertikal. Ini mirip dengan stoking ketat yang mulai kendur, sehingga bentuk otot dan urat di dalamnya jadi terlihat dari luar.

Otot ini juga sering berpasangan di sisi kiri dan kanan, sehingga umumnya muncul sebagai dua garis yang terpisah dari titik tengah. Setiap kali otot bergerak, kedua garis ini terus melipat dan meregang berulang kali, sehingga kerutan semakin jelas seiring waktu.

Cara Botox Melemaskan Otot

Botox mengandung bahan bernama toxin botulinum, yang berfungsi menghambat sementara sinyal dari saraf yang memerintahkan otot untuk berkontraksi. Di titik pertemuan antara saraf dan otot, Botox mengurangi pelepasan zat yang menghantarkan sinyal tersebut, sehingga otot tidak dapat berkontraksi sekuat sebelumnya.

Cara kerjanya bisa dibayangkan seperti menekan saklar lampu perlahan untuk meredupkan cahaya, bukan mematikannya sepenuhnya. Otot tidak dimatikan total, tetapi kekuatan kontraksinya dikurangi. Ketika kekuatan kontraksi platysma berkurang, garis vertikal yang muncul setiap kali otot tertarik pun ikut mereda.

Inilah alasan Botox disuntikkan ke banyak titik sekaligus. Karena berkas otot terbagi menjadi beberapa jalur, penyuntikan dalam dosis kecil harus mengikuti jalur setiap berkas agar kekuatan seluruh otot berkurang secara merata. Jika suntikan hanya terpusat pada satu titik, berkas otot lain tetap berkontraksi penuh sehingga garis tidak memudar secara merata.

Mengapa Botox Lebih Dipertimbangkan daripada Filler untuk Kerutan Leher

Kerutan leher terbagi menjadi garis vertikal dan kerutan horizontal, dan keduanya memiliki penyebab yang berbeda. Garis vertikal, seperti yang telah dijelaskan, terbentuk akibat kontraksi otot yang berulang, sedangkan kerutan horizontal muncul karena kulit itu sendiri terlipat atau kehilangan volume.

Karena itu, Botox yang mengurangi kekuatan otot langsung menyentuh akar penyebab garis vertikal. Sebaliknya, kerutan horizontal bukan masalah otot, melainkan masalah kulit yang tertekan dan terlipat, sehingga mengurangi kekuatan otot dengan Botox tidak banyak mengubah kerutan tersebut. Untuk kasus ini, filler atau perawatan yang meningkatkan elastisitas kulit lebih sesuai dengan penyebabnya.

Inilah alasan pendekatan berbeda diperlukan tergantung apakah kerutan leher berupa garis atau lipatan. Yang perlu dilakukan lebih dulu adalah membedakan apakah garis tersebut berdiri vertikal atau tertekan secara horizontal.

Waktu Munculnya Efek dan Durasi Bertahannya

Botox bekerja dengan menghambat penghantaran sinyal antara saraf dan otot secara bertahap, sehingga efeknya tidak muncul seketika. Dalam beberapa hari setelah perawatan, kekuatan otot mulai berkurang perlahan, dan efek dilaporkan paling terlihat sekitar satu hingga dua minggu kemudian.

Setelah itu, seiring waktu, ujung saraf yang tadinya terhambat akan tumbuh kembali dan penghantaran sinyal berangsur pulih. Otot pun kembali mendapatkan kekuatannya, dan garis vertikal yang tadinya mereda akan perlahan muncul kembali. Karena itu, banyak orang mempertimbangkan perawatan ulang sebelum kekuatan otot benar-benar pulih agar hasilnya tetap terjaga.

Durasi bertahannya berbeda-beda tergantung ketebalan otot, dosis yang disuntikkan, dan kecepatan metabolisme masing-masing orang. Otot yang lebih tebal dan aktivitas yang lebih tinggi cenderung membuat saraf pulih lebih cepat, sehingga durasi yang dirasakan setiap orang bisa cukup bervariasi.

Bagi yang sering berbicara atau menunjukkan ekspresi yang kuat, otot akan lebih sering bergerak sehingga pemulihan saraf terasa lebih cepat. Sebaliknya, bila gerakan leher tidak terlalu aktif, efek dengan dosis yang sama bisa bertahan sedikit lebih lama.

Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum dan Sesudah Perawatan

Otot platysma yang tipis dan menyebar luas memerlukan pendekatan yang lebih cermat dibanding perawatan otot lainnya. Berikut beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan bersama.

  • Periksa dulu jumlah dan posisi garis. Posisi dan jumlah berkas otot yang menonjol berbeda pada setiap orang, sehingga jika suntikan hanya dilakukan pada titik yang sudah ditentukan tanpa pemeriksaan awal, sebagian garis bisa tetap tersisa.
  • Dosis dibagi dan disesuaikan dengan hati-hati. Di bawah otot platysma terdapat otot yang lebih dalam yang berperan dalam gerakan menelan, sehingga dosis yang terlalu banyak atau suntikan yang terlalu dalam dapat memengaruhi otot tersebut.
  • Tingkat kekendoran kulit juga perlu diperiksa. Terlepas dari masalah otot, jika kulit sudah cukup kendur, Botox saja mungkin tidak cukup meredakan garis vertikal, sehingga metode lain perlu dipertimbangkan bersamaan.
  • Hindari memijat atau menekan leher terlalu keras segera setelah perawatan. Zat yang belum menetap sempurna dapat menyebar ke otot sekitar, sehingga kekuatan otot di luar area yang dituju bisa ikut melemah.

Apa yang Perlu Diperhatikan Setelah Perawatan?

Selama beberapa jam setelah perawatan, disarankan untuk menghindari posisi berbaring atau menundukkan kepala terlalu dalam. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan zat menyebar ke arah yang tidak diinginkan akibat gravitasi.

Pada hari yang sama, sebaiknya hindari juga tempat bersuhu tinggi seperti sauna atau ruang uap. Panas dapat meningkatkan aliran darah sehingga zat berpotensi menyebar lebih luas dari yang direncanakan. Untuk alasan yang sama, olahraga berat juga sebaiknya ditunda selama beberapa hari.

Area yang disuntik terkadang bisa bengkak atau sedikit memar, dan umumnya dijelaskan akan mereda dalam beberapa hari. Karena leher terus bergerak setiap kali membentuk ekspresi wajah, selama masa pemulihan lebih disarankan untuk bergerak secara alami seperti biasa daripada melakukan latihan otot yang berlebihan.

Menengadahkan kepala terlalu keras atau meletakkan benda berat di leher juga sebaiknya dihindari selama beberapa hari. Jika area yang belum stabil menerima tekanan, proses zat untuk menetap bisa terganggu.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Botox

Cuping Hidung Melebar Saat Tersenyum, Begini Cara Botox Melemahkan Otot Pelebar Cuping dan Berapa Lama Hasilnya Bertahan

Botox cuping hidung adalah prosedur untuk mengurangi kekuatan otot kecil yang membuat sisi hidung melebar saat tersenyum atau menarik napas dalam. Berbeda dari prosedur hidung lain, cara kerjanya bukan memangkas atau meninggikan tulang hidung, melainkan hanya mengatur gerakan otot. Berikut penjelasan otot mana yang bermasalah dan bagaimana botox bekerja pada otot tersebut.

By Dr. Lee

Back to articles