prettytime
Botox

Botox Cuping Hidung: Kapan Efeknya Muncul dan Berapa Lama Bertahan?

By Dr. Lee6 min read

Coba berdiri di depan cermin dan tersenyum lebar, ada orang yang cuping hidungnya langsung melebar ke samping sehingga lubang hidung terlihat lebih besar. Perubahan ini biasanya tidak terlihat saat wajah diam, tapi jadi jelas ketika tersenyum, berbicara, atau menarik napas dalam. Kondisi ini disebut pelebaran cuping hidung, dan penyebabnya bukan bentuk hidung itu sendiri, melainkan seberapa kuat otot kecil di sekitar hidung menarik jaringan di sekitarnya.

Karena itu, pendekatannya pun berbeda dari prosedur yang memangkas atau meninggikan hidung. Botox cuping hidung tidak menyentuh tulang atau tulang rawan sama sekali, hanya mengurangi kekuatan otot yang menarik cuping ke samping. Pergerakan satu otot saja bisa mengubah ekspresi wajah begitu banyak, jadi mari kita bahas otot apa yang dimaksud dan apa yang dilakukan botox di sana.

Kenapa Cuping Hidung Melebar Hanya Saat Tersenyum?

Saat wajah diam, cuping hidung biasanya tidak banyak bergerak. Masalahnya muncul saat berekspresi. Ketika tersenyum lebar atau berbicara, seluruh otot wajah bergerak bersamaan, dan otot di samping hidung ikut berkontraksi sambil menarik cuping ke arah luar dan bawah.

Hal serupa juga terjadi saat menarik napas dalam. Pada momen tubuh membutuhkan banyak udara, ada gerakan refleks untuk melebarkan lubang hidung agar udara lebih mudah masuk. Ini sebenarnya fungsi alami untuk membantu pernapasan, tapi pada orang yang ototnya cukup berkembang atau sering aktif, cuping hidung jadi melebar dengan jelas setiap kali berekspresi.

Jadi pelebaran cuping hidung bukan masalah struktur hidung, melainkan reaksi otot yang cukup kuat. Kalau dibandingkan foto saat diam dan foto saat tersenyum, bentuk hidungnya sebenarnya sama saja, hanya cuping hidung yang terlihat lebih besar di foto senyum karena reaksi otot ini.

Otot Apa yang Menarik Cuping Hidung?

Gerakan ini dihasilkan oleh salah satu otot nasalis (otot di sekitar hidung) yang menempel di samping hidung. Karena fungsinya membuka cuping hidung, otot ini disebut dilator naris, atau otot pelebar cuping hidung. Letaknya tipis dan menyebar mengikuti tepi lubang hidung.

Otot ini paling mudah dipahami kalau dibayangkan seperti karet gelang. Biasanya kendur, tapi begitu diberi tenaga, otot ini menegang dan menarik cuping ke samping. Arah kontraksi otot ini persis sama dengan arah tarikan yang membuat cuping melebar ke luar, jadi semakin kuat otot ini bekerja, semakin lebar juga cuping hidungnya.

Di sampingnya ada satu otot lagi yang mengangkat bibir atas sambil ikut menarik cuping hidung. Karena otot ini menarik bibir atas dan cuping hidung secara bersamaan, gerakan sudut bibir naik saat tersenyum lebar sering muncul bersamaan dengan pelebaran cuping. Karena kedua otot ini menarik ke arah yang mirip dari posisi berbeda, tingkat kekuatan masing-masing otot pada tiap orang berbeda, sehingga derajat dan bentuk pelebaran cuping hidung juga sedikit berbeda antar individu.

Bagaimana Botox Bekerja pada Otot?

Botox, atau lebih tepatnya botulinum toxin, bukan obat yang menghilangkan otot itu sendiri. Botox bekerja di titik pertemuan antara saraf dan otot, dengan menghambat sinyal perintah gerak dari saraf agar tidak sampai ke otot.

Bayangkan otot sebagai speaker dan saraf sebagai kabel yang mengirim sinyal ke speaker itu. Botox tidak merusak speaker, tapi melemahkan sinyal di kabelnya. Kalau sinyalnya melemah, speaker atau otot itu tidak bisa merespons sekuat biasanya meskipun tetap menerima perintah.

Prinsip ini diterapkan langsung pada otot dilator naris untuk botox cuping hidung. Ketika sejumlah kecil botox disuntikkan ke otot ini, sinyal saraf yang menuju otot tersebut melemah, sehingga kekuatan kontraksi otot saat tersenyum atau menarik napas dalam juga ikut berkurang. Otot ini bukan berhenti bergerak sama sekali, hanya tidak lagi cukup kuat untuk menarik cuping hidung sekencang sebelumnya. Karena itu, pernapasan sehari-hari tetap normal, sementara pelebaran saat tersenyum berkurang.

Kapan Efek Muncul dan Berapa Lama Bertahan?

Butuh waktu bagi botox untuk menghambat sinyal antara saraf dan otot. Efeknya tidak langsung terasa begitu disuntikkan, tapi biasanya berkembang secara bertahap selama beberapa hari hingga 1 sampai 2 minggu, karena tubuh perlu waktu untuk menyesuaikan ulang penghantaran sinyal di area tersebut.

Setelah efeknya stabil pun, hasilnya tidak bertahan selamanya. Seiring waktu, tubuh akan membentuk sambungan saraf baru di sekitar ujung saraf yang sempat terhambat, dan melalui proses ini otot secara bertahap mendapatkan kembali kekuatannya. Seperti area lain yang disuntik botox, efek pada cuping hidung juga umumnya bertahan selama beberapa bulan sebelum perlahan memudar.

Karena itu, ini bukan prosedur sekali selesai, melainkan perlu diulang lagi saat efeknya mulai memudar agar hasilnya tetap terjaga. Ada juga laporan bahwa penyuntikan berulang membuat otot secara bertahap mengecil sehingga masa efeknya jadi sedikit lebih panjang, tapi ini bisa berbeda pada tiap orang tergantung ketebalan otot dan kebiasaan penggunaannya.

Apakah Ada Cuping Hidung yang Lebih Responsif terhadap Botox?

Pelebaran cuping hidung bisa disebabkan oleh faktor otot, atau bisa juga karena struktur tulang rawan dan tulang hidung yang memang lebar, atau gabungan keduanya. Karena botox bekerja mengurangi pergerakan otot, prosedur ini paling terlihat hasilnya pada kasus di mana cuping hidung normal saat diam tapi melebar jelas saat tersenyum atau berekspresi.

Sebaliknya, kalau cuping hidung sudah lebar bahkan saat diam dan tidak berubah apa pun ekspresinya, kemungkinan besar faktor strukturnya yang lebih dominan dibanding otot. Pada kasus seperti ini, mengurangi kekuatan otot saja mungkin hanya memberi perubahan terbatas. Karena itu, membandingkan bentuk cuping hidung saat diam dan saat tersenyum sebelum prosedur sangat membantu untuk menentukan kecocokan.

Selain itu, orang yang sulit bernapas lewat hidung atau sering mengalami hidung tersumbat karena rinitis, bisa jadi otot dilator naris-nya memang sudah bekerja cukup keras untuk membantu pernapasan. Kalau otot ini dilemahkan, pernapasan justru bisa terasa lebih tidak nyaman, sehingga kondisi pernapasan perlu diperiksa lebih dulu sebelum prosedur.

Empat Hal yang Dicek Sebelum Disuntik

Karena botox cuping hidung menyasar area kecil dan pengaturan kekuatannya penting, biasanya beberapa hal berikut ikut diperhatikan sebelum prosedur dilakukan.

  • Pengaturan dosis: Kalau disuntikkan terlalu banyak, cuping hidung bisa tertekan sepenuhnya sehingga bernapas lewat hidung terasa tidak nyaman. Karena itu, memulai dengan dosis kecil dulu lalu melihat reaksinya adalah cara yang lebih aman. Tujuannya mengurangi kekuatan otot, bukan menghilangkannya sama sekali.
  • Keseimbangan dengan otot di sekitarnya: Kalau otot pengangkat bibir atas ikut terpengaruh, bibir atas bisa terlihat kurang naik saat tersenyum. Karena posisi kedua otot ini berdekatan, titik suntikan yang meleset sedikit saja bisa memengaruhi otot lain, sehingga ketepatan lokasi suntikan sangat penting.
  • Pemeriksaan asimetri kiri kanan: Banyak orang yang derajat pelebaran cuping hidungnya berbeda antara sisi kiri dan kanan. Karena itu, dosisnya kadang disesuaikan dengan tingkat pelebaran masing-masing sisi, bukan disamakan begitu saja. Ini karena kekuatan tarikan otot memang berkembang berbeda di kedua sisi sejak awal.
  • Pemeriksaan kondisi pernapasan sebelumnya: Kalau sering mengalami hidung tersumbat atau septum yang bengkok, otot dilator naris mungkin juga berperan membantu pernapasan. Karena itu, pemeriksaan lebih dulu disarankan untuk memperkirakan kemungkinan bernapas jadi tidak nyaman setelah kekuatan otot ini dikurangi.

Hal yang Perlu Diperhatikan Beberapa Hari Setelah Prosedur

Selama beberapa hari saat botox baru bekerja, disarankan untuk tidak menekan atau memijat area suntikan terlalu keras. Kalau obat yang belum menetap ini menyebar ke area sekitarnya, otot yang tidak dimaksud bisa ikut melemah.

Pada beberapa hari pertama setelah prosedur, bengkak ringan atau memar kecil bisa muncul, tapi biasanya mereda sendiri seiring waktu. Area seperti cuping hidung yang kulitnya tipis dengan pembuluh darah di bawahnya cenderung lebih mudah menunjukkan memar dibanding area lain.

Selama 1 sampai 2 minggu saat efeknya mulai muncul, ada baiknya sesekali bercermin sambil tersenyum untuk melihat perubahannya sendiri. Karena kecepatan respons tiap otot berbeda, kalau di periode ini terasa efeknya belum cukup, disarankan untuk menunggu sedikit lebih lama dulu. Dan kalau muncul rasa tidak nyaman saat bernapas, sebaiknya segera menghubungi klinik tempat prosedur dilakukan.

Referensi

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Botox

Botox Pita Vertikal Leher: Efek, Lama Bertahan, dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Garis vertikal yang jelas terlihat di leher disebabkan oleh kontraksi otot tipis bernama platysma. Botox mengurangi kekuatan otot ini sehingga garis tersebut tidak terlalu menonjol. Berikut penjelasan mengapa otot ini membentuk garis vertikal dan bagaimana Botox bekerja pada otot tersebut.

By Dr. Kim

Botox

Botox bunny lines: efek, lama bertahan, dan efek samping

Bunny lines adalah garis-garis halus melintang di batang hidung yang muncul saat tersenyum lebar atau mengerutkan hidung, akibat kontraksi otot yang menekan area tersebut. Artikel ini membahas kenapa otot ini bergerak, bagaimana Botox meredakan gerakannya, dosis dan daya tahan efeknya, hingga efek samping yang perlu diwaspadai.

By Dr. Lee

Diet

Efek pijat selulit: berapa lama bertahan?

Selulit adalah lekukan pada kulit yang muncul karena pita jaringan ikat yang menghubungkan kulit dan fascia otot menarik lemak ke bawah. Artikel ini merangkum cara pijat membantu sirkulasi dan mengurangi bengkak sementara, serta bagaimana perannya berbeda dari prosedur yang mengubah struktur jaringan itu sendiri.

By Dr. Kim

Back to articles