prettytime
Pigment

Penyebab Melasma karena Hormon Wanita: Kenapa Makin Gelap Saat Hamil?

By Dr. Lee6 min read

Selama ini melasma sering dianggap murni akibat kulit yang terbakar sinar matahari, padahal kondisi ini jauh lebih sering muncul pada wanita, dan cenderung makin gelap saat hamil atau saat memakai pil KB. Paparan sinar UV saja sebenarnya tidak cukup untuk menjelaskan pola ini, karena dua orang yang terkena jumlah sinar matahari yang sama pun bisa punya hasil yang sangat berbeda, ada yang gampang muncul melasma, ada yang tidak.

Salah satu variabel penting yang membuat perbedaan itu adalah hormon. Estrogen dan progesteron, dua hormon wanita ini, bekerja langsung pada melanosit, yaitu sel yang memproduksi pigmen kulit, sehingga sel tersebut menjadi jauh lebih sensitif terhadap sinar UV. Karena itu, melasma lebih tepat dipahami bukan sekadar masalah sinar matahari, melainkan reaksi yang muncul ketika sinyal hormon di dalam tubuh bertemu dengan paparan UV dari luar.

Survei terhadap lebih dari 41.000 pasien yang berobat karena melasma menemukan bahwa 93% di antaranya adalah perempuan. Laki-laki juga bisa mengalami melasma, tetapi angkanya jauh di bawah 1 dari 10 orang. Karena fluktuasi hormon perempuan jauh lebih besar, melanosit, sel yang membentuk pigmen kulit, jadi jauh lebih sering terstimulasi pada perempuan.
Survei terhadap lebih dari 41.000 pasien yang berobat karena melasma menemukan bahwa 93% di antaranya adalah perempuan. Laki-laki juga bisa mengalami melasma, tetapi angkanya jauh di bawah 1 dari 10 orang. Karena fluktuasi hormon perempuan jauh lebih besar, melanosit, sel yang membentuk pigmen kulit, jadi jauh lebih sering terstimulasi pada perempuan.

Kenapa Melasma Lebih Banyak pada Perempuan?

Sebagian besar pasien melasma adalah wanita, dan angkanya jelas lebih tinggi lagi pada mereka yang pernah hamil, memakai pil KB, atau menjalani terapi hormon. Melasma memang bisa muncul pada pria, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit.

Ketimpangan ini bukan kebetulan. Estrogen dan progesteron memiliki reseptor sendiri di permukaan melanosit, semacam gembok yang hanya bisa dibuka oleh hormon tertentu. Begitu hormon itu masuk dan pas dengan gemboknya, saklar produksi pigmen di dalam melanosit ikut menyala. Pria pun sebenarnya punya reseptor ini, hanya saja kadar hormon pada wanita naik turun jauh lebih drastis akibat kehamilan, siklus ovulasi, dan pil KB, sehingga peluang saklar itu menyala jadi jauh lebih besar.

Bagaimana Hormon Memicu Produksi Pigmen?

Kedua hormon ini menuju tujuan yang sama, tapi lewat jalur yang berbeda. Estrogen berikatan langsung dengan reseptor estrogen pada melanosit, lalu meningkatkan aktivitas tirosinase, enzim utama yang membentuk melanin. Tirosinase ini ibarat mesin pertama di pabrik pigmen, jadi begitu mesin ini berputar lebih cepat, melanin yang dihasilkan pun ikut bertambah banyak.

Progesteron bekerja dengan cara yang sedikit berbeda. Setelah menempel pada reseptor progesteron, hormon ini menyalakan jalur sinyal CREB, lalu mengaktifkan MITF, semacam gen pengatur utama di dalam sel. MITF ini bisa dibayangkan seperti saklar induk yang sekaligus membuka cetak biru berbagai enzim pembentuk melanin. Karena itu, ketika kadar progesteron naik, bukan hanya tirosinase yang meningkat, tapi juga beberapa enzim lain yang terkait ikut naik bersamaan.

Selain itu, estrogen juga meningkatkan VEGF, sinyal yang memicu pembentukan pembuluh darah baru. Itulah sebabnya kalau diperhatikan lebih dekat, kulit yang mengalami melasma tidak hanya tampak lebih gelap, tapi kadang disertai kemerahan akibat pembuluh darah halus yang bertambah banyak. Perubahan pembuluh darah ini pun ternyata dipicu oleh sinyal hormon yang sama.

Bagaimana Topeng Kehamilan Terbentuk?

Selama kehamilan, kadar estrogen dan progesteron naik jauh lebih tinggi dari biasanya dan bertahan dalam waktu lama. Menjelang trimester ketiga, kadar kedua hormon ini bahkan bisa mencapai beberapa kali lipat dibanding sebelum hamil.

Paparan hormon yang tinggi dan berkepanjangan inilah yang terus merangsang melanosit. Akibatnya, bercak cokelat sering muncul secara simetris di pipi, dahi, sekitar hidung, dan di atas bibir atas, kondisi yang biasa disebut topeng kehamilan atau melasma gravidarum. Setelah melahirkan, kadar hormon berangsur kembali ke kondisi sebelum hamil dan pigmen pun sering memudar, meski tidak jarang bekasnya tetap tertinggal.

Melasma dilaporkan dialami oleh 15% hingga 50% ibu hamil dan 8% hingga 34% perempuan yang mengonsumsi pil KB. Perbedaan angka yang besar antarpenelitian ini disebabkan oleh perbedaan ras dan paparan sinar matahari, tetapi kedua kondisi ini sama-sama memiliki lonjakan hormon perempuan yang besar. Karena itu, selama hamil atau mengonsumsi pil KB, sebaiknya proteksi dari sinar matahari dilakukan lebih ketat dari biasanya.
Melasma dilaporkan dialami oleh 15% hingga 50% ibu hamil dan 8% hingga 34% perempuan yang mengonsumsi pil KB. Perbedaan angka yang besar antarpenelitian ini disebabkan oleh perbedaan ras dan paparan sinar matahari, tetapi kedua kondisi ini sama-sama memiliki lonjakan hormon perempuan yang besar. Karena itu, selama hamil atau mengonsumsi pil KB, sebaiknya proteksi dari sinar matahari dilakukan lebih ketat dari biasanya.

Apakah Pil KB dan Terapi Hormon Berpengaruh?

Pil KB kombinasi juga mengandung estrogen dan progesteron, sehingga cara kerjanya pada melanosit mirip dengan yang terjadi saat hamil. Beberapa bulan setelah mulai memakai pil KB, ada laporan munculnya melasma baru atau melasma lama yang jadi makin gelap.

Terapi hormon pengganti pada wanita menopause pun bisa memicu atau memperberat melasma dengan mekanisme yang serupa. Namun perlu diingat, sensitivitas reseptor hormon, warna kulit dasar, dan jumlah paparan sinar UV berbeda pada setiap orang, sehingga tingkat keparahan melasma bisa sangat bervariasi meski memakai obat yang sama. Jadi bukan berarti pil KB atau terapi hormon harus selalu dihindari, tapi bagi yang memang berbakat melasma, langkah yang lebih realistis adalah memperketat perlindungan dari sinar UV selama masa pemakaian.

Bagaimana Pengaruh Sinar UV pada Melasma?

Paparan sinar UV meningkatkan produksi alpha-melanocyte stimulating hormone di kulit. Zat ini, sesuai namanya, juga berfungsi merangsang melanosit, sehingga sinar UV pada dasarnya menekan sekali lagi saklar yang sudah dibuka oleh estrogen dan progesteron.

Dengan kata lain, hormon membuat melanosit menjadi lebih sensitif terlebih dahulu, lalu sinar UV berperan sebagai pemicu yang benar benar menyalakan sel yang sudah sensitif itu. Kalau hanya satu faktor saja yang bekerja, reaksinya cenderung ringan, tapi begitu keduanya bertemu, pigmen bisa menggelap secara jelas. Karena itu, bagi yang sudah punya melasma atau berbakat mengalaminya, tabir surya dianggap sama pentingnya dengan obat perawatan itu sendiri.

Kenapa Melasma Kambuh Meski Sudah Dirawat?

Setelah perawatan, pigmen memang bisa memudar, tapi tidak jarang beberapa bulan kemudian warnanya kembali menggelap. Melasma memang dikenal lebih sering kambuh dibanding gangguan pigmentasi lain, dan hormon menjadi salah satu alasan di baliknya.

Meski melanin hasil pigmentasi berhasil diangkat lewat perawatan, sel yang dulu memproduksinya, lengkap dengan reseptor hormon yang menempel di permukaannya, biasanya masih tetap ada. Jadi begitu ada pemicu lain yang datang lagi, misalnya siklus ovulasi, kehamilan, pil KB, atau paparan sinar UV, pigmen pun bisa terbentuk lagi di tempat yang sama. Ibaratnya, lahan yang pernah ditanami masih dibiarkan begitu saja, hanya daunnya saja yang dipangkas, jadi begitu kondisinya cocok, ia bisa tumbuh lagi.

Cara Merawat dan Mengobati Melasma

Meski hormon menjadi salah satu penyebab utama, bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan. Beberapa langkah berikut terbukti membantu.

  • Memakai tabir surya setiap hari: mengurangi pemicu berupa sinar UV berarti mengurangi peluang saklar yang sudah dibuka hormon untuk benar benar tertekan.
  • Memakai bahan pencerah seperti hydroquinone atau azelaic acid: cara kerjanya langsung menurunkan aktivitas tirosinase, sehingga pembentukan melanin baru jadi lebih lambat.
  • Mengonsumsi atau mengoleskan tranexamic acid: dilaporkan membantu menekan sinyal pembuluh darah dan jalur peradangan sekaligus, sehingga bukan hanya pigmen, tapi juga kemerahan khas melasma ikut berkurang.
  • Memperketat perawatan saat kadar hormon sedang naik: pada masa kehamilan, pemakaian pil KB, atau siklus ovulasi, memperketat tabir surya dan perawatan pencerah yang lembut bisa membantu menekan risiko kambuh.

Perawatan laser perlu didekati dengan hati hati. Melasma dikenal sangat sensitif terhadap peradangan, sehingga laser dengan energi yang terlalu kuat justru bisa membuat pigmen makin gelap kalau salah digunakan. Karena itu, urutan yang umumnya disarankan adalah mencoba dulu tabir surya dan bahan pencerah secara konsisten, baru kemudian mempertimbangkan laser berenergi rendah sebagai pelengkap bila memang diperlukan. Hasil biasanya baru terlihat setelah 4 hingga 12 minggu, dan untuk mempertahankannya, pemakaian tabir surya harus tetap konsisten setelahnya.

Pada akhirnya, perawatan melasma bukan tindakan sekali selesai, melainkan proses berkelanjutan yang perlu terus diperhatikan selama paparan hormon masih ada. Setelah masa masa dengan gejolak hormon besar seperti kehamilan, persalinan, atau pemakaian pil KB berlalu, pigmen sering kali memudar dengan sendirinya. Karena itu, dibanding buru buru mencari tindakan yang agresif, memperpanjang kebiasaan memakai tabir surya dan perawatan yang lembut dianggap sebagai pendekatan yang lebih aman.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Pigment

Riehl's Melanosis: Penyebab dan Pengobatan, Benarkah Kosmetik Penyebabnya?

Riehl's melanosis adalah dermatitis kontak berpigmen yang muncul karena kandungan kosmetik dan parfum berulang kali mengiritasi kulit. Tampilannya mirip melasma, tapi penyebab dan cara pengobatannya jauh berbeda. Artikel ini membahas bagaimana pigmen bisa merembes sampai ke dermis, kenapa menghindari pemicunya jadi kunci utama pengobatan, sampai pendekatan laser yang bisa dipakai.

By Dr. Kim

Pigment

Melasma Kambuh Setelah Laser: Kenapa Muncul Lagi dalam 6 Bulan?

Menjelaskan alasan melasma yang sudah memudar dengan laser bisa muncul kembali seiring waktu, dilihat dari tiga faktor yaitu paparan sinar UV, hormon, dan pembuluh darah. Dibahas juga kenapa melasma lebih tepat didekati dengan konsep perawatan jangka panjang daripada penyembuhan total, karena penyebabnya berlapis, bukan hanya satu.

By Dr. Lee

Acne

Jerawat Hormonal: Penyebab dan Kenapa Muncul Terus di Dagu dan Sekitar Mulut

Jerawat yang berulang di rahang dan sekitar mulut saat dewasa punya penyebab yang berbeda dari jerawat masa remaja. Artikel ini menjelaskan cara hormon seperti androgen merangsang kelenjar minyak dan folikel rambut, lengkap dengan kaitannya terhadap siklus menstruasi dan stres.

By Dr. Kim

Back to articles