Riehl's Melanosis: Penyebab dan Pengobatan, Benarkah Kosmetik Penyebabnya?
By Dr. Kim8 min read

Ada kalanya area dahi dan pipi mulai terlihat kecokelatan samar, dan anehnya, semakin rajin pakai produk pencerah yang katanya bagus, warnanya malah makin gelap. Kebanyakan orang langsung menyimpulkan melasmanya bertambah parah, lalu buru-buru cari bahan pencerah baru. Padahal kalau ternyata produk yang sedang dipakai justru jadi biang keroknya, ceritanya jadi lain sama sekali.
Riehl's melanosis adalah dermatitis kontak berpigmen yang muncul karena kulit bereaksi berulang kali terhadap kandungan kosmetik atau parfum. Karena penampakannya mirip melasma, banyak orang keliru mengenalinya dalam waktu lama, padahal penyebab sampai arah penanganannya benar-benar berbeda, jadi penting untuk bisa membedakannya.
Apa Bedanya Riehl's Melanosis dengan Melasma?
Riehl's melanosis adalah hasil dari dermatitis kontak kronis, yaitu kondisi ketika kulit wajah atau leher berulang kali bersentuhan sedikit demi sedikit dengan kandungan kosmetik, parfum, atau cat rambut dalam jangka panjang. Kalau mendengar kata dermatitis kontak, biasanya yang terbayang adalah kulit memerah, bengkak, dan gatal. Tapi pada Riehl's melanosis, reaksi peradangannya justru ringan dan berlangsung diam-diam, sehingga yang tampak hanyalah warna kecokelatan atau abu-abu kecokelatan tanpa bengkak atau gatal yang mencolok. Karena itu, di tahap awal, banyak orang bahkan tidak sadar kulitnya sedang jadi lebih sensitif.
Kalau diibaratkan, ini bukan seperti luka bakar yang langsung terasa panas saat tersiram air panas, melainkan lebih mirip bekas gesekan halus yang muncul diam-diam meski hanya tersentuh sedikit setiap hari. Karena reaksinya menumpuk pelan-pelan dan sangat samar, orang jadi sulit menghubungkan sendiri momen mulai ganti produk dengan momen warna kulitnya mulai menggelap.
Bagaimana Kosmetik Menjadi Pigmen di Kulit?
Ketika kandungan iritan menyentuh kulit, sel imun akan mengenalinya sebagai ancaman dan memicu reaksi peradangan. Kalau reaksi ini merembet sampai ke batas dermis di bawah epidermis, melanosit (sel yang memproduksi pigmen melanin) ikut terstimulasi dan memproduksi melanin secara berlebihan.
Masalahnya, melanin ini tidak tinggal tenang di epidermis, melainkan bocor turun ke arah dermis lewat batas yang sudah rusak akibat peradangan. Fenomena pigmen yang keluar dari tempatnya dan merembes ke lapisan bawah ini disebut inkontinensia pigmen (pigment incontinence), mirip seperti ember yang retak sehingga airnya merembes keluar dari bawah. Melanin yang sudah masuk ke dermis kemudian ditangkap oleh makrofag (sel pembersih yang menelan dan mengurai sisa-sisa di dalam tubuh) dan bertahan lama di sana. Pigmen yang terbentuk dengan cara ini letaknya jauh lebih dalam dibanding pigmen di epidermis, sehingga sulit hilang dan warnanya cenderung abu-abu kecokelatan yang kusam.
Pigmen yang hanya bertahan di epidermis biasanya bisa memudar seiring waktu karena sel kulit mati mengelupas secara alami. Tapi pigmen yang sudah bersarang di dermis sulit hilang sendiri selama makrofag yang bertugas membersihkannya masih menetap di sana. Inilah alasan kenapa Riehl's melanosis dikenal jauh lebih membandel dan sulit hilang dibanding gangguan pigmen lainnya.
Supaya lebih mudah dibayangkan, anggap saja epidermis itu selembar kertas tipis dan dermis adalah spons di bawahnya. Kalau pigmen hanya menempel di permukaan kertas, lama-lama akan terkikis dan lepas sendiri seiring waktu. Tapi kalau sudah meresap sampai ke dalam spons, seberapa pun permukaannya digosok, noda di bagian dalam tetap tidak akan hilang.
Bahan Apa yang Memicu Riehl's Melanosis?
Kandungan yang paling sering memicu Riehl's melanosis umumnya adalah pewangi atau pengawet yang lazim ditemukan di produk kosmetik. Bahan-bahan ini bukan menimbulkan iritasi seketika, melainkan memicu sensitisasi (proses ketika tubuh mulai "mengingat" suatu bahan sebagai zat berbahaya dan bereaksi terhadapnya) secara perlahan lewat paparan berulang. Karena itu, tidak jarang reaksi baru muncul tiba-tiba pada produk yang sudah dipakai bertahun-tahun tanpa masalah apa pun.
Misalnya, parfum favorit yang sudah dipakai bertahun-tahun bisa saja tiba-tiba membuat area leher atau belakang telinga, tempat yang paling sering terkena semprotannya, jadi lebih gelap warnanya. Karena tubuh butuh waktu untuk "mengingat" bahan tersebut sebagai ancaman sebelum bereaksi, penyebabnya sebenarnya sudah lama ada di sekitar, hanya saja tandanya baru muncul belakangan.
- Methylisothiazolinone (pengawet kosmetik), banyak dipakai untuk mencegah pertumbuhan bakteri, dan dilaporkan sebagai salah satu bahan yang belakangan makin sering memicu sensitisasi.
- Fragrance mix (campuran pewangi), terdapat di parfum, produk perawatan rambut, hingga skincare secara umum, dan karena berisi campuran banyak senyawa, sulit menentukan satu bahan tunggal yang jadi penyebabnya.
- Golongan paraphenylenediamine (PPD) pada cat rambut dan henna, inilah alasan kenapa pigmentasi sering muncul di area leher dan garis rambut setelah perawatan di salon.
Kenapa Sulit Dikenali di Awal?
Baik melasma maupun Riehl's melanosis sama-sama menimbulkan bercak kecokelatan di area pipi dan dahi, jadi sekilas memang sulit dibedakan. Keduanya juga sama-sama makin gelap kalau terpapar sinar matahari dan susah ditutupi dengan makeup, sehingga sebelum periksa ke dokter, kebanyakan orang menganggap itu hanya melasma yang bertambah parah.
Ditambah lagi, kedua kondisi ini sama-sama berkembang perlahan dan makin gelap secara bertahap. Awalnya samar, lalu warnanya makin pekat sedikit demi sedikit selama 3 sampai 6 bulan. Karena itu, orang sering tidak ingat persis kapan mulai muncul, sehingga butuh waktu lama sebelum akhirnya mencurigai kosmetik sebagai penyebabnya.
Contohnya, kalau pigmen sampai muncul di area leher atau belakang telinga, tempat yang jarang jadi lokasi melasma, banyak orang tetap hanya fokus pada wajah dan menganggapnya sekadar daki. Kalau bercak semacam ini muncul di area yang jarang terkena melasma, itu bisa jadi sinyal untuk mulai mencurigai Riehl's melanosis.
Cara Membedakan dari Warna dan Letaknya
Meski tampilannya mirip, penyebab dan cara berkembangnya berbeda, sehingga kalau diperhatikan lebih teliti, ada beberapa ciri yang membedakan.
- Warnanya berbeda. Melasma cenderung cokelat muda sampai cokelat tua, sementara Riehl's melanosis sering tampak abu-abu kecokelatan atau kebiruan keruh karena pigmen sudah bersarang di dermis.
- Sebarannya berbeda. Melasma biasanya simetris di kedua pipi dan dahi membentuk pola menyerupai kupu-kupu, sedangkan Riehl's melanosis cenderung menyebar tidak merata seperti jaring di area yang sering tersentuh kosmetik atau parfum, misalnya tepi dahi, pelipis, leher, sampai belakang telinga.
- Latar belakang munculnya berbeda. Melasma biasanya dipicu perubahan hormon dan paparan sinar matahari, sedangkan Riehl's melanosis lebih sering muncul bersamaan dengan momen mulai pakai kosmetik atau parfum baru, dan hubungan ini biasanya terungkap saat konsultasi dengan dokter.
Kenapa Pengobatan Tanpa Mengetahui Penyebab Tidak Berhasil?
Selama masih terpapar bahan pemicunya, pengobatan apa pun untuk Riehl's melanosis tidak akan bertahan lama hasilnya. Sebanyak apa pun produk pencerah dipakai, kalau di dalamnya masih ada pewangi atau pengawet yang jadi pemicu, peradangan akan terangsang lagi dan proses melanin merembes ke dermis akan terus berulang. Karena itu, langkah pertama dalam menangani Riehl's melanosis bukan mencari bahan pencerah, melainkan menelusuri kembali produk apa yang mulai dipakai saat gejalanya muncul dan bertambah parah.
Sebagai contoh, produk yang berlabel bebas pewangi atau untuk kulit sensitif pun bisa saja tetap mengandung bahan pemicu kalau daftar pengawetnya tidak diperiksa secara teliti. Kalau hanya percaya pada klaim di label tanpa mengeceknya lebih lanjut, reaksi yang sama bisa saja terulang lagi pada produk yang susah payah diganti.
Mencari Bahan Pemicu dengan Patch Test
Kalau bahan penyebabnya sulit dipastikan hanya dengan pengamatan sendiri, dokter kulit biasanya melakukan patch test (uji tempel dengan menempelkan bahan-bahan yang dicurigai pada patch kecil di kulit punggung untuk mengamati reaksinya). Bahan-bahan dari kosmetik, pewangi, pengawet, hingga cat rambut ditempelkan dalam satu set standar, lalu diperiksa dua sampai empat hari kemudian apakah muncul kemerahan di area tersebut.
Caranya seperti mendudukkan banyak "tersangka" berjajar, lalu menandai area mana saja yang bereaksi. Jadi meski tidak hafal nama bahannya, cukup lihat posisi mana di punggung yang bereaksi untuk mengetahui bahan apa yang jadi masalah. Reaksi yang muncul perlahan selama dua sampai empat hari, bukan seketika, memang sesuai dengan sifat sensitisasi itu sendiri yang berkembang secara bertahap.
Setelah bahan penyebabnya ditemukan lewat pemeriksaan ini, ke depannya cukup periksa daftar kandungan produk dan hindari yang mengandung bahan tersebut. Cara ini jauh lebih praktis dibanding harus berhenti total memakai semua kosmetik.
Perawatan Laser untuk Pigmen Dermis dan Pencegahan Kekambuhan
Setelah bahan pemicunya dihindari, peradangan di lapisan epidermis biasanya cukup cepat mereda. Tapi pigmen yang sudah bersarang di dermis sering kali tidak hilang sendiri dan bertahan cukup lama. Dalam kondisi ini, laser toning berenergi rendah (Q-switched Nd:YAG 1064nm, dipancarkan dengan energi kecil secara berulang untuk memudarkan pigmen secara bertahap) dengan interval 1 sampai 2 minggu, sebanyak 5 sampai 10 sesi, telah dilaporkan sebagai salah satu pendekatan yang bisa dipakai.
Namun karena dermis letaknya lebih dalam dibanding epidermis, energi yang terlalu tinggi justru bisa memicu peradangan baru dan memperparah pigmentasi. Karena itu, pendekatan dengan intensitas rendah, dilakukan perlahan dengan interval 1 sampai 2 minggu, sebanyak 5 sampai 10 sesi, dianggap lebih aman. Perlindungan dari sinar matahari wajib dilakukan sepanjang masa perawatan, dan kalau kulit kembali terpapar bahan pemicunya, pigmen yang susah payah memudar bisa muncul lagi.
Kalau energi dinaikkan sekaligus dengan harapan hasil lebih cepat terlihat, dermis justru bisa teriritasi ulang dan pigmen malah makin melebar, alih-alih berkurang. Daripada terburu-buru menaikkan intensitas, pendekatan bertahap dengan 5 sampai 10 sesi yang memudarkan pigmen sedikit demi sedikit justru terbukti lebih aman dan hasilnya lebih pasti.
Karena itu, kebiasaan memeriksa daftar kandungan setiap kali membeli kosmetik, parfum, atau produk perawatan rambut baru tetap perlu dilakukan meski perawatan sudah selesai. Kalau penghindaran total dari bahan pemicunya terus dijaga, kemungkinan pigmen yang sudah dibersihkan dengan laser untuk tetap bersih dan tidak menumpuk lagi akan jauh lebih besar.
References
Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Pengobatan Nevus of Ota: Jumlah Sesi dan Jarak Laser Q-Switch
Pigmen pada nevus of Ota terletak jauh di lapisan dermis, bukan di permukaan kulit, jadi tidak akan pernah bisa disamarkan dengan make up setebal apa pun. Artikel ini membahas mekanismenya secara mendalam, kenapa hanya laser dengan panjang gelombang khusus yang bisa menjangkau kedalaman itu, dan kenapa perawatannya harus bertahap 6 sampai 10 kali dengan jarak 6 sampai 8 minggu.
By Dr. Lee

Paha Bagian Dalam Menggelap: Penyebab Selain Gesekan
Paha bagian dalam adalah area yang paling rentan menghitam karena gesekan dan iritasi yang terus berulang setiap hari. Artikel ini membahas kenapa hiperpigmentasi mudah muncul di area ini, serta perawatan dan prosedur yang bisa membantu sesuai penyebabnya.
By Dr. Lee

Pigmentasi dan kerusakan kolagen akibat cahaya biru: penyebab dan cara mengatasinya
Cahaya biru adalah gelombang yang keluar dari layar ponsel dan komputer, panjang gelombangnya lebih panjang dari sinar UV sehingga bisa menembus sampai ke dermis, lapisan kulit yang lebih dalam. Artikel ini merangkum bagaimana cahaya ini memicu radikal bebas di dalam sel kulit dan merangsang sel pigmen hingga akhirnya menyebabkan flek dan kerusakan kolagen. Cara mengurangi paparan layar dan merawat kulit juga dibahas di sini.
By Dr. Lee