prettytime
Skincare

Bekas Luka Hipertrofik dan Keloid: Perbedaan dan Perbandingan Pengobatannya

By Dr. Kim8 min read

Banyak orang cemas melihat bekas luka merah dan tebal yang tersisa setelah operasi atau luka bakar. Kalau disentuh terasa keras, kadang gatal atau terasa tertarik. Bekas luka seperti ini disebut bekas luka hipertrofik. Banyak yang salah mengira ini keloid dan langsung khawatir berlebihan. Padahal keduanya cukup berbeda karakternya. Bekas luka hipertrofik tetap berada dalam batas luka aslinya, dan seiring waktu biasanya jadi lebih rata sendiri. Tentu saja hasilnya akan lebih baik kalau dirawat sejak awal, bukan dibiarkan saja. Berikut akan dijelaskan satu per satu kenapa bekas luka hipertrofik muncul, cara membedakannya dengan keloid, apa yang bisa dilakukan di rumah, dan apa yang bisa diterima di klinik. Kalau Anda sedang cemas karena bekas luka, semoga ini membantu menentukan arah.

Bekas luka hipertrofik yang merah dan tebal muncul karena kolagen menumpuk berlebihan saat luka sembuh setelah operasi atau luka bakar

Kenapa bekas luka hipertrofik merah dan tebal?

Saat luka sembuh, tubuh kita memproduksi kolagen untuk menutup celah yang terbuka. Biasanya produksi berhenti begitu kebutuhan terpenuhi. Tapi kalau proses ini terganggu, kolagen yang diproduksi jadi lebih banyak dibanding yang diuraikan. Kolagen yang tersisa terus menumpuk, sehingga bekas luka jadi merah dan tebal. Inilah yang disebut bekas luka hipertrofik. Mirip seperti dinding yang diberi semen terlalu banyak sehingga permukaannya jadi tidak rata.

Ada dua pemicu utama. Pertama, peradangan yang berlangsung terlalu lama saat proses sembuh. Kedua, tegangan (tension) yang terus-menerus bekerja pada luka, yaitu tarikan pada kulit. Karena itu, bekas luka hipertrofik sering muncul di area luka bakar, sayatan operasi, jerawat parah, tindik, dan trauma. Terutama sering terlihat di area yang selalu tertarik seperti tulang dada bagian tengah, bahu, dan persendian. Setiap kali lengan ditekuk dan diluruskan, bekas lukanya ikut tertarik, sehingga kolagen makin menumpuk. Bekas luka hipertrofik akibat luka bakar biasanya mulai muncul sekitar 2 bulan setelah luka terjadi. Karena itu, cara melewati beberapa bulan pertama saat luka sembuh jadi sangat penting. Meski begitu, tidak semua luka akan menonjol seperti ini. Luka di area dengan tegangan rendah atau luka yang dangkal biasanya sembuh dengan rata. Pada akhirnya, kedalaman dan lokasi luka, ditambah rangsangan yang diterima selama proses sembuh, sangat menentukan nasib bekas lukanya.

Apa bedanya keloid dengan bekas luka hipertrofik?

AspekBekas Luka HipertrofikKeloid
BatasTetap dalam lukaMenyebar melewati luka
Perjalanan alamiRata sendiri dalam 1-2 tahunSulit hilang
Kekambuhan (setelah operasi)Rendah45-100%
Riwayat keluargaLemahKuat

Cara paling mudah membedakannya adalah melihat batasnya. Bekas luka hipertrofik tetap berada dengan rapi dalam batas luka aslinya. Seiring waktu, biasanya jadi lebih rata secara bertahap. Sebaliknya, keloid menyebar ke luar batas luka aslinya seperti kaki kepiting. Yang awalnya cuma sebesar titik kecil bisa menjalar ke kulit sehat di sekitarnya dalam beberapa bulan. Hilang sendiri juga jarang terjadi. Kalau dipotong pun sering tumbuh lagi, dengan tingkat kekambuhan setelah operasi dilaporkan sampai 45 hingga 100% (StatPearls).

Riwayat keluarga juga jadi petunjuk. Keloid sering muncul pada keluarga yang punya bekas luka serupa, sedangkan bekas luka hipertrofik hubungannya lebih lemah. Jadi, cukup dilihat dari dua hal ini saja, apakah menyebar keluar dari luka dan apakah menjadi rata seiring waktu, arahnya sudah bisa diperkirakan. Tapi kalau batasnya kurang jelas atau terasa terus membesar, lebih aman memeriksakan ke dokter daripada menilai sendiri. Karena arah penanganan kedua bekas luka ini cukup berbeda.

Apakah bekas luka hipertrofik mendatar sendiri?

PeriodePerubahan Bekas Luka
AwalMerah, keras, tebal
6 bulan-1 tahunKemerahan menipis
1-2 tahunRata dan warna menipis

Pada banyak kasus, memang begitu. Bekas luka hipertrofik akan makin rata seiring proses pematangannya. Ada laporan yang menyebutkan pada usia di bawah 55 tahun, rata-rata waktu pematangan bekas luka sekitar 22,5 bulan. Hampir mendekati 2 tahun. Bekas luka yang awalnya merah dan keras akan menipis warnanya dan berkurang tebalnya seiring proses ini. Bekas luka yang tadinya terasa menonjol di ujung jari perlahan mendekati tinggi kulit normal. Warna merah yang berubah jadi cokelat muda atau warna kulit juga jadi tanda kematangan.

Namun tidak semua bekas luka begitu. Area yang selalu tertarik seperti tulang dada dan bahu, serta bekas luka bakar yang luas, prosesnya lebih lambat dan lama. Selama itu, rasa gatal atau tertarik bisa muncul bersamaan. Tidak sedikit yang menggaruk karena gatal di malam hari sehingga justru merangsang bekas lukanya lagi. Terutama bekas luka yang menutupi persendian bisa mengeras dan menarik gerakan sehingga menyebabkan kontraktur, jadi area seperti ini sebaiknya dirawat lebih dini dan aktif. Karena itu, daripada menunggu tanpa arah dengan harapan akan hilang suatu hari, merawatnya sejak awal dengan silikon atau kompresi sederhana biasanya memberi hasil yang lebih baik. Cukup diingat bersama bahwa bekas luka bisa membaik dengan sendirinya, tapi perawatan tetap membantu mempercepat dan memperbaiki hasilnya.

Perbandingan proporsi pasien dengan pengurangan tinggi bekas luka lebih dari separuh, antara yang hanya disuntik steroid dan yang ditambah 5-FU. Steroid saja 49%, sedangkan ditambah 5-FU naik jadi 77,2%, dan kekambuhan juga turun dari 39,2% jadi 17,5%. Artinya kombinasi kedua obat ini menekan bekas luka lebih baik dan lebih jarang kambuh
Perbandingan proporsi pasien dengan pengurangan tinggi bekas luka lebih dari separuh, antara yang hanya disuntik steroid dan yang ditambah 5-FU. Steroid saja 49%, sedangkan ditambah 5-FU naik jadi 77,2%, dan kekambuhan juga turun dari 39,2% jadi 17,5%. Artinya kombinasi kedua obat ini menekan bekas luka lebih baik dan lebih jarang kambuh

Perawatan silikon dan kompresi di rumah

Hal pertama yang bisa dilakukan di rumah adalah silikon. Gel atau sheet silikon menutupi bekas luka, menjaga kelembapan, dan menutup permukaannya. Bisa dibayangkan seperti memasang lapisan pelembap tipis di atas bekas luka yang kering. Dalam riset yang menggunakan silikon untuk pencegahan, risiko munculnya bekas luka turun dengan RR 0,70, atau sekitar 30%. Karena berupa tempelan, efek sampingnya juga sedikit, sehingga banyak dipakai sebagai perawatan lini pertama. Biasanya perlu dipakai minimal 12 jam sehari, dan setidaknya 2 sampai 3 bulan, baru hasilnya terlihat menumpuk sedikit demi sedikit. Untuk bekas luka bakar, ditambah dengan terapi kompresi. Memakai pakaian kompresi dengan tekanan sekitar 15 sampai 25mmHg selama minimal 12 bulan bisa mengurangi ketebalannya.

Sampai di sini adalah dasar yang bisa dilakukan di rumah. Tapi kalau bekas lukanya tebal dan keras sehingga silikon dan kompresi saja tidak cukup, langkah selanjutnya adalah perawatan di klinik. Grafik di atas menjadi jembatannya. Kalau hanya disuntik steroid ke dalam bekas luka, 49% pasien mengalami pengurangan tinggi bekas luka lebih dari separuh, tapi setelah ditambah 5-FU, naik jadi 77,2%. Kekambuhan juga turun dari 39,2% jadi 17,5% (Prasad 2018). Jadi kalau bekas lukanya kuat, bisa dilanjutkan ke perawatan suntik pada bagian selanjutnya.

Data ini menunjukkan seberapa besar kemerahan dan kerataan bekas luka merah dan tebal membaik setelah dirawat dengan laser vaskular PDL. Setelah 1 kali sekitar 57%, dan setelah 2 kali naik jadi sekitar 83%, jadi semakin banyak sesi, kemerahan dan ketebalan sama-sama turun bersamaan
Data ini menunjukkan seberapa besar kemerahan dan kerataan bekas luka merah dan tebal membaik setelah dirawat dengan laser vaskular PDL. Setelah 1 kali sekitar 57%, dan setelah 2 kali naik jadi sekitar 83%, jadi semakin banyak sesi, kemerahan dan ketebalan sama-sama turun bersamaan

Suntik dan laser untuk bekas luka yang tebal

Perawatan utama untuk bekas luka yang tebal adalah suntik steroid ke dalam lesi. Triamcinolone disuntikkan langsung ke dalam bekas luka untuk menekan kolagennya. Kalau ditambah 5-FU, seperti grafik sebelumnya, efeknya makin besar dan kekambuhan makin berkurang. Biasanya disuntikkan beberapa kali dengan jarak beberapa minggu. Untuk bekas luka dengan kemerahan yang kuat, laser vaskular PDL cocok dipakai. Dalam salah satu riset, 1 kali PDL memperbaiki kemerahan dan kerataan sekitar 57%, dan setelah 2 kali naik jadi sekitar 83% (Alster 1995). Semakin banyak sesi, kemerahan dan ketebalannya sama-sama menurun bersamaan.

Perawatan suntik ke dalam bekas luka, memasukkan obat langsung ke dalamnya

Ada pilihan lain juga. Laser fraksional membantu memperbaiki tekstur dan warna bekas luka sekaligus. Microneedling menggunakan jarum yang sangat halus untuk membuat luka mikro yang menata ulang kolagen sambil membuat permukaannya lebih halus. Bekas luka hipertrofik punya kekambuhan yang lebih rendah dibanding keloid, sehingga kalau kondisinya sesuai, koreksi dengan operasi juga jadi pilihan. Pada kasus ini, penjahitan yang melepaskan tegangan perlu dilakukan bersamaan. Dalam praktiknya, jarang hanya satu metode saja yang dipakai, biasanya 2 sampai 3 metode dikombinasikan, misalnya suntik digabung dengan laser. Kombinasinya berbeda-beda tergantung lokasi, ketebalan, dan warna bekas luka, jadi sebaiknya ditentukan setelah konsultasi di klinik.

Cara mencegah bekas luka

PeriodePerawatan
Saat penjahitanJahitan minim tegangan, taping
Setelah luka menutupGel dan sheet silikon lebih dini (mulai minggu ke-2 sampai 3)
Fase belum matangPerlindungan sinar matahari
Sehari-hariTidak mengupas keropeng dan luka

Jauh lebih mudah mencegah bekas luka sejak awal daripada menghilangkannya setelah terbentuk. Langkah pertama adalah menyebarkan tegangan. Kalau penjahitan dan taping diperhatikan supaya lukanya tidak terlalu tertarik, gaya yang membuat bekas luka jadi tebal ikut berkurang. Begitu luka tertutup, gel atau sheet silikon sebaiknya ditempelkan lebih dini, sekitar minggu ke-2 sampai 3. Silikon yang dipakai lebih awal adalah metode pencegahan dengan bukti paling kuat. Bisa dianggap sebagai menekan bekas luka sebelum sempat terbentuk sepenuhnya.

Perlindungan sinar matahari juga penting. Kalau bekas luka yang masih merah dan belum matang terkena sinar matahari, pigmen dan kemerahannya jadi lebih gelap. Cukup dengan disiplin memakai tabir surya saja, bekas luka bisa jadi tidak terlalu terlihat nantinya. Kebiasaan mengupas keropeng atau luka yang sedang sembuh dengan tangan bisa memicu peradangan lagi dan membuat bekas luka membesar, jadi lebih baik ditahan. Area risiko tinggi seperti tulang dada dan bahu, serta luka bakar, sebaiknya sejak awal dibantu dengan kompresi. Perawatan di beberapa bulan pertama menentukan bentuk akhir bekas lukanya, jadi kalau sedikit lebih rajin saat luka masih merah, penyesalan di kemudian hari akan jauh lebih kecil.

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Pengobatan Keloid: Efek, Angka Kekambuhan, dari Suntik Steroid sampai Operasi

Artikel ini membahas dengan mudah apa bedanya keloid dengan bekas luka hipertrofik, kenapa keloid muncul akibat kolagen yang tumbuh berlebihan, seberapa besar kombinasi suntik steroid dan 5-FU sebagai terapi awal mengurangi kekambuhan, apa kelebihan masing-masing dari silikon, kompresi, laser, dan cryotherapy, serta kenapa operasi tidak boleh dilakukan sendirian, semuanya berdasarkan angka dari penelitian asli.

By Dr. Kim

Skincare

Keloid: Penyebab, Pengobatan, Kekambuhan, dan Cara Merawatnya

Keloid adalah bekas luka yang terus membesar melebihi luka aslinya karena kolagen terus menumpuk bahkan setelah luka benar-benar sembuh. Artikel ini menjelaskan dengan mudah kenapa produksi kolagen tidak berhenti, apa bedanya dengan bekas luka biasa, bagaimana suntikan dan laser bisa meredakannya, dan kenapa keloid sering kambuh lagi.

By Dr. Lee

Back to articles