prettytime
Skincare

Bekas Luka Keloid yang Tumbuh Lebih Besar dari Lukanya, Kenapa Terus Membesar dan Cara Mengatasinya

By Dr. Lee6 min read

Bekas luka di telinga bekas tindik atau di area bekas operasi itu hal yang biasa. Tapi ada kasus di mana bekas luka itu tidak kunjung mengecil, malah terus membesar sampai jauh melebihi ukuran luka aslinya. Bekas luka yang terus tumbuh melewati batas luka seperti ini disebut keloid.

Kenapa keloid tidak sembuh dengan tenang seperti bekas luka pada umumnya, tapi malah terus membesar? Jawabannya ada pada keseimbangan pembentukan dan pembongkaran kolagen di dalam kulit yang jadi kacau. Berikut urutan penjelasannya, kenapa dan lewat jalur apa keseimbangan ini rusak, serta bagaimana suntikan dan terapi laser berusaha membalikkan proses ini.

Bagaimana Luka Sembuh dalam Kondisi Normal

Saat kulit terluka, tubuh langsung memproduksi protein bernama kolagen untuk menutup area tersebut. Kolagen ini semacam bahan penopang kulit, jadi tubuh menyusunnya rapat-rapat di area luka, seperti membangun ulang fondasi rumah.

Masalahnya, pembangunan ini harus berhenti tepat pada jumlah yang cukup. Pada luka normal, sel yang memproduksi kolagen dan enzim yang memotong serta membersihkan kolagen berlebih saling menyeimbangkan diri. Mirip seperti pekerja yang mengangkut material bangunan dan pekerja yang membersihkan sisa material, keduanya bekerja bersamaan. Berkat keseimbangan ini, bekas luka berhenti membesar pada titik tertentu, lalu perlahan mengempis dan melunak.

Coba bayangkan saat jari teriris pisau. Selama 2 sampai 3 minggu pertama, luka tampak merah dan membengkak, tapi setelah 3 sampai 6 bulan, warnanya memudar dan permukaannya turun sampai hampir sama rata dengan punggung tangan. Ini pertanda proses pembentukan kolagen sudah berhenti tepat waktu dan pembersihannya juga tuntas. Keloid adalah bekas luka yang tidak pernah sampai ke tahap penyelesaian ini.

Kenapa Kolagen Terus Bertambah Tanpa Henti?

Pada kulit yang cenderung membentuk keloid, keseimbangan ini kacau. Sel pembentuk kolagen terus menerima sinyal untuk bekerja sehingga memproduksi kolagen melebihi kebutuhan, sementara enzim MMP (enzim yang berfungsi seperti gunting untuk memotong kolagen berlebih) tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Ibaratnya gunting jadi tumpul, sementara pekerja pengangkut material terus bertambah, sehingga kecepatan penumpukan kolagen jauh melampaui kecepatan pembersihannya. Akibatnya, serat kolagen menumpuk tebal dan rapat di area luka dengan arah yang berantakan, membentuk gumpalan yang menonjol di permukaan kulit.

Kolagen pada bekas luka normal tersusun rapi seperti benang yang ditenun dengan teratur, sedangkan kolagen pada keloid lebih mirip gumpalan benang kusut yang berantakan. Itu sebabnya keloid terasa keras saat diraba, dan sering disertai rasa tertarik atau gatal yang bertahan lama. Struktur kusut inilah yang tidak mudah terurai dengan sendirinya seiring waktu, dan inilah yang membuat keloid sulit ditangani.

Apa Bedanya Keloid dan Bekas Luka Hipertrofik?

Gejala bekas luka yang menonjol juga muncul pada bekas luka hipertrofik, sehingga keduanya sering tertukar. Perbedaan paling utama terletak pada apakah bekas luka melewati batas luka asli atau tidak.

Bekas luka hipertrofik memang bisa menonjol, tapi penebalannya hanya terjadi di dalam area luka aslinya, dan biasanya mengempis dengan sendirinya seiring waktu. Sementara itu, keloid terus tumbuh melewati tepi luka sampai merambah ke kulit sehat di sekitarnya. Seperti tanaman rambat yang melewati batas taman dan menjalar sampai ke halaman rumput, keloid sering tumbuh jauh lebih besar dari luka aslinya dan tidak mengecil sendiri meski sudah bertahun-tahun.

Waktu kemunculannya juga berbeda. Bekas luka hipertrofik biasanya membengkak dalam 4 sampai 8 minggu setelah cedera, sementara keloid baru mulai membesar perlahan 3 sampai 12 bulan setelah luka benar-benar sembuh. Karena itu, banyak orang awalnya mengira itu cuma bekas luka biasa, dan baru periksa ke dokter setelah melihatnya semakin membesar seiring waktu.

Kenapa Ada Orang dan Area Tertentu yang Lebih Rentan Keloid?

Tidak semua orang dengan jenis luka yang sama akan mengalami keloid. Ada laporan yang menyebutkan keloid lebih sering muncul pada orang dengan warna kulit lebih gelap, dan pada mereka yang punya riwayat keluarga dengan keloid. Ini diduga terkait dengan kecenderungan genetik yang berbeda-beda dalam memproduksi dan mengelola kolagen.

Lokasi juga berperan penting. Keloid paling sering muncul di area dengan tegangan kulit yang besar, seperti dada bagian tengah, bahu, dan daun telinga. Tarikan yang terus-menerus pada kulit ini bertindak sebagai sinyal yang makin merangsang sel pembentuk kolagen. Sebaliknya, di area kulit yang tipis dan minim tarikan seperti kelopak mata, keloid jarang terjadi.

Usia juga berpengaruh. Ada laporan yang menyebutkan keloid paling sering muncul pada rentang usia 10 hingga 30 tahun, saat aktivitas sel dalam memproduksi kolagen sedang berada di puncaknya. Ini diduga karena di rentang usia ini respons pemulihan tubuh terhadap luka memang bekerja sangat aktif, sehingga sinyal pembentukan kolagen juga menyala lebih kuat.

Bagaimana Suntikan Steroid Bisa Meredakan Bekas Luka?

Metode yang paling banyak digunakan untuk mengatasi keloid adalah menyuntikkan steroid langsung ke dalam jaringan bekas luka. Suntikan ini bekerja lewat dua jalur utama.

Pertama, meredakan aktivitas sel yang mengirim sinyal untuk memproduksi kolagen, sehingga jumlah kolagen baru yang terbentuk pun berkurang. Kedua, kembali meningkatkan aktivitas enzim MMP, si gunting pemotong kolagen yang sudah dibahas sebelumnya. Ibaratnya, pekerja pengangkut material dikurangi sementara pekerja pembersih ditambah, sehingga keseimbangan yang sempat kacau perlahan kembali ke jalurnya. Karena itu, suntikan biasanya perlu diulang setiap 4 sampai 6 minggu, sebanyak 3 sampai 6 kali, sebelum bekas luka terlihat mengempis secara nyata.

Kenapa Terapi Laser Bisa Membantu?

Laser pembuluh darah juga sering digunakan bersamaan untuk mengatasi keloid. Di dalam jaringan keloid, ada pembuluh darah kecil yang tumbuh sangat banyak untuk memasok nutrisi ke gumpalan jaringan tersebut, dan pembuluh-pembuluh ini berfungsi sebagai jalur yang mengangkut zat sinyal yang terus memerintahkan produksi kolagen.

Laser bekerja dengan menargetkan pembuluh darah ini secara selektif untuk menyempitkan atau menghilangkannya. Prinsipnya mirip seperti mengurangi debit air di sebuah saluran, otomatis muatan yang dibawa lewat saluran itu juga ikut berkurang. Ketika pasokan darah berkurang, rangsangan yang diterima sel pembentuk kolagen juga ikut menurun, sehingga kemerahan dan ketebalan bekas luka perlahan memudar.

Karena itu, laser biasanya dipakai bersamaan dengan suntikan steroid, bukan sebagai terapi tunggal. Saat suntikan langsung meredakan sel pembentuk kolagen, laser bekerja meredakan pembuluh darah yang mengantarkan sinyal ke sel tersebut. Kombinasi keduanya menutup dua jalur yang berbeda secara bersamaan.

Kenapa Keloid Sering Kambuh Lagi Setelah Diobati?

Keloid dikenal sebagai bekas luka yang mudah kambuh meski sudah diobati. Terutama jika hanya mengandalkan operasi untuk memotong gumpalan jaringannya tanpa penanganan lanjutan, ada laporan yang menyebutkan angka kekambuhannya cukup tinggi.

Ada dua alasan di baliknya. Pertama, sifat sel yang menghasilkan keloid sendiri memang sulit berubah. Jika sel dengan kecenderungan memproduksi kolagen berlebih masih tersisa di sekitar area tersebut, kebiasaan yang sama bisa terulang lagi pada luka baru yang sembuh. Kedua, operasi itu sendiri menciptakan luka baru. Luka baru ini kembali menimbulkan tegangan yang menarik kulit, dan tegangan itu jadi sinyal yang kembali merangsang sel pembentuk kolagen. Karena itu, operasi tunggal saja biasanya kurang disarankan, dan lebih dianjurkan menggabungkannya dengan suntikan atau terapi radiasi untuk menekan risiko kambuh.

Bagaimana Kaitan Perawatan Sehari-hari dengan Prinsip Ini?

Setelah memahami prinsip di atas, jadi lebih mudah mengerti kenapa metode perawatan yang disarankan dokter bekerja dengan cara tersebut.

  • Menempelkan silicone sheet atau gel bekerja dengan mengatur kelembapan dan tekanan di permukaan bekas luka, sehingga mengurangi sinyal yang merangsang sel pembentuk kolagen.
  • Menggunakan perban tekan atau alat penekan model anting berfungsi menurunkan tegangan pada area bekas luka secara fisik, sehingga rangsangan yang memicu produksi kolagen ikut berkurang.
  • Kontrol rutin dilakukan selama 6 bulan sampai 5 tahun setelah terapi, agar tanda-tanda kekambuhan awal, sesuai mekanisme yang sudah dijelaskan sebelumnya, bisa cepat terdeteksi.

Keloid bukan muncul karena satu penyebab tunggal, tapi karena kombinasi kecenderungan genetik, tegangan kulit, dan keseimbangan pembentukan-pembongkaran kolagen yang saling terkait. Karena itu, pendekatan terapinya pun disarankan tidak terpaku pada satu metode saja, melainkan menggabungkan suntikan, laser, dan manajemen tekanan sesuai kondisi masing-masing.

References

Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Bekas Luka Keloid, Cara Mengurangi Kekambuhan dari Suntik Steroid dan Kombinasi 5-FU sampai Operasi dan Radiasi

Artikel ini membahas dengan mudah apa bedanya keloid dengan bekas luka hipertrofik, kenapa keloid muncul akibat kolagen yang tumbuh berlebihan, seberapa besar kombinasi suntik steroid dan 5-FU sebagai terapi awal mengurangi kekambuhan, apa kelebihan masing-masing dari silikon, kompresi, laser, dan cryotherapy, serta kenapa operasi tidak boleh dilakukan sendirian, semuanya berdasarkan angka dari penelitian asli.

By Dr. Kim

Skincare

Menghilangkan Kutil Datar dengan Laser CO2, Penyebab Penyebarannya, Bedanya dengan Milia dan Skin Tag, hingga Cara Mencegah Kambuh

Kutil datar yang muncul seperti bintik kecil pipih di wajah atau punggung tangan ternyata disebabkan oleh HPV. Artikel ini menjelaskan dengan mudah, berdasarkan data penelitian asli, mengapa kutil ini menyebar saat digaruk, bagaimana membedakannya dari milia dan skin tag, cara menghilangkannya dengan laser CO2 beserta risiko bekas luka dan hiperpigmentasi, serta cara mengelola kekambuhannya.

By Dr. Lee

Back to articles