prettytime
Botox

Botox Dahi: Kapan Efeknya Muncul, Lama Bertahan, dan Perawatan Setelah Tindakan

By Dr. Kim6 min read

Kerutan horizontal di dahi termasuk salah satu tanda penuaan yang paling umum muncul di wajah. Setiap kali mengangkat alis atau menunjukkan ekspresi terkejut, garis horizontal terbentuk di dahi. Awalnya garis ini hanya terlihat saat berekspresi, tetapi lama kelamaan tetap membekas meski wajah dalam keadaan diam. Botox, atau lebih tepatnya suntikan botulinum toxin, menjadi metode yang paling banyak dipakai untuk mengatasi kerutan ini.

Namun tidak banyak orang yang benar-benar paham mengapa botox bisa efektif untuk kerutan dahi, dan mengapa kerutan itu bisa muncul kembali setelah beberapa waktu. Kalau botox hanya dipahami sebagai suntikan pelurus kerutan biasa, akan sulit mengerti mengapa efeknya tidak permanen. Jawabannya akan terlihat jelas kalau kita telusuri dulu bagaimana otot bergerak dari awal.

Kenapa dahi berkerut?

Kerutan horizontal di dahi termasuk jenis kerutan dinamis, yaitu kerutan yang terbentuk akibat kontraksi otot yang berulang. Di area dahi, otot frontalis (otot yang membentang luas di bagian depan dahi) berkontraksi setiap kali alis terangkat, menarik kulit dahi ke atas sehingga terlipat secara horizontal.

Masalahnya, gerakan ini terjadi ratusan kali sehari. Saat berbicara, terkejut, atau berkonsentrasi, alis ikut bergerak naik turun, dan setiap kali itu terjadi, kulit dahi terlipat lalu kembali rata di titik yang sama. Prinsipnya mirip seperti kertas yang dilipat berulang di tempat yang sama, lama kelamaan bekas lipatannya tetap ada meski kertas sudah dibuka.

Faktor lain yang ikut berperan adalah menurunnya elastisitas kulit seiring bertambahnya usia. Saat masih muda, bekas lipatan cepat kembali rata. Namun kulit yang kadar kolagen dan serat elastinnya sudah berkurang cenderung "mengingat" bentuk lipatan itu dan sulit kembali normal. Itulah sebabnya, dengan ekspresi yang sama, kerutan yang muncul akan terlihat lebih dalam dan jelas seiring bertambahnya usia.

Inilah alasan mengapa garis yang tadinya hanya terlihat saat tersenyum atau terkejut, lama kelamaan berubah menjadi kerutan statis yang tetap ada meski wajah tidak berekspresi. Kekuatan otot untuk melipat kulit tetap sama, hanya saja kemampuan kulit untuk kembali rata sudah tidak sekuat dulu.

Bagaimana sinyal saraf menggerakkan otot?

Agar otot bisa bergerak, sinyal dari saraf harus turun terlebih dahulu. Ketika otak mengirim perintah untuk mengangkat alis, ujung saraf akan melepaskan zat bernama asetilkolin (acetylcholine), yaitu neurotransmiter yang memicu otot untuk bergerak.

Asetilkolin menempel pada sel otot di titik pertemuan antara saraf dan otot, lalu menyampaikan perintah untuk berkontraksi. Prosesnya bisa dibayangkan seperti kunci yang harus pas masuk ke lubang gembok agar pintu bisa terbuka. Begitu pula asetilkolin harus terikat dengan reseptor di sel otot agar otot benar-benar bergerak. Proses ini terjadi berulang kali sehingga otot frontalis terus berkontraksi dan relaksasi, dan hasilnya membentuk kerutan horizontal di kulit dahi.

Titik sinyal yang diblokir botox

Botulinum toxin bekerja dengan memblokir salah satu titik dalam proses penghantaran sinyal ini. Lebih tepatnya, zat ini menghentikan pelepasan asetilkolin dari ujung saraf. Kalau memakai analogi kunci tadi, ini seperti mencegah kunci itu masuk ke lubang gembok sejak awal.

Ketika asetilkolin tidak dilepaskan, sel otot tidak menerima perintah untuk berkontraksi. Akibatnya, otot frontalis kehilangan sebagian besar kekuatan untuk mengangkat alis, dan kulit dahi pun tidak lagi tertarik sekuat sebelumnya. Otot itu sendiri tidak rusak atau hilang, hanya sinyalnya yang untuk sementara terhenti. Karena itu, kondisi ini akan berangsur kembali normal seiring waktu.

Jadi meskipun area yang disuntik botox terlihat seperti lumpuh, otot di area tersebut sebenarnya masih utuh. Yang terjadi hanyalah komunikasi antara saraf dan otot yang sempat terputus untuk sementara waktu, dan begitu komunikasi itu tersambung kembali, otot pun mulai bergerak lagi.

Kapan efeknya mulai terlihat?

Efek botox tidak langsung terlihat setelah suntikan. Proses memblokir pelepasan asetilkolin juga membutuhkan waktu.

Umumnya, gerakan otot mulai terasa berkurang sekitar hari kedua hingga kelima setelah prosedur, dan efeknya paling terlihat jelas dalam rentang satu hingga dua minggu. Selama masa ini, protein yang sudah disuntikkan sedang bekerja menempatkan diri di ujung saraf dan mulai menjalankan fungsinya.

Karena itu, tidak perlu buru-buru khawatir kalau di hari yang sama setelah prosedur wajah masih terlihat sama seperti sebelumnya. Efek botox butuh waktu, mulai dari beberapa hari hingga maksimal dua minggu, untuk benar-benar terlihat hasilnya.

Kenapa efeknya hilang setelah beberapa bulan?

Efek botox memang tidak permanen. Alasannya, ujung saraf yang tadinya terblokir akan perlahan membentuk jalur baru seiring waktu.

Ujung saraf memiliki kemampuan untuk membentuk cabang baru ketika jalur lamanya tersumbat, mirip seperti kendaraan yang mencari jalan alternatif ketika jalan utama sedang ditutup untuk perbaikan. Setelah cabang baru ini terbentuk, asetilkolin kembali dilepaskan, dan otot pun perlahan mendapatkan kembali kekuatan untuk berkontraksi.

Lama waktu yang dibutuhkan proses ini berbeda-beda pada setiap orang, tetapi umumnya gerakan otot mulai terlihat kembali sekitar 3 hingga 4 bulan setelah prosedur, dan pada sebagian orang efeknya bisa bertahan hingga mendekati 6 bulan. Perbedaan ini juga dipengaruhi oleh seberapa sering otot digunakan dan berapa banyak dosis yang disuntikkan.

Ini tinjauan yang mengumpulkan berbagai penelitian tentang berapa lama efek botox bertahan. Pada perempuan efeknya bertahan rata-rata 3 sampai 5 bulan, pada laki-laki sekitar 4 sampai 6 bulan. Laki-laki cenderung bertahan sedikit lebih lama karena otot dahinya sering lebih tebal dan lebih kuat. Pada sebagian besar orang kerutan kembali dalam waktu 6 bulan, jadi jadwal suntik ulang bisa disesuaikan dengan siklus ini.
Ini tinjauan yang mengumpulkan berbagai penelitian tentang berapa lama efek botox bertahan. Pada perempuan efeknya bertahan rata-rata 3 sampai 5 bulan, pada laki-laki sekitar 4 sampai 6 bulan. Laki-laki cenderung bertahan sedikit lebih lama karena otot dahinya sering lebih tebal dan lebih kuat. Pada sebagian besar orang kerutan kembali dalam waktu 6 bulan, jadi jadwal suntik ulang bisa disesuaikan dengan siklus ini.

Kenapa lama bertahan berbeda pada tiap orang?

Meski disuntik di area yang sama, lama bertahannya efek botox bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Beberapa faktor berikut ini diketahui ikut berperan.

  • Dosis dan area suntikan: Dosis disesuaikan dengan ukuran dan kekuatan otot, dan kalau dosisnya terlalu sedikit, efeknya bisa lebih cepat hilang. Hal ini karena tingkat pemblokiran asetilkolin sebanding dengan jumlah dosis yang disuntikkan.
  • Kebiasaan penggunaan otot: Orang yang sering menunjukkan ekspresi berlebihan dan sering menggerakkan alis cenderung membentuk cabang saraf baru lebih cepat. Semakin sering otot digunakan, semakin aktif pula saraf mencari jalur baru.
  • Metabolisme dan kondisi tubuh: Setiap orang punya kecepatan yang berbeda dalam memecah dan memproses protein di dalam tubuh, sehingga dengan dosis yang sama, lama bertahannya efek bisa berbeda.
  • Frekuensi prosedur yang berulang: Ada laporan yang menyebutkan bahwa dengan melakukan prosedur berulang dalam jangka panjang, otot bisa perlahan menipis sehingga efek prosedur berikutnya bertahan lebih lama. Namun perbedaan individu di sini cukup besar sehingga sulit dipastikan secara umum.

Karena itu, orang yang baru pertama kali menjalani prosedur dan orang yang sudah berulang kali melakukannya bisa merasakan lama bertahannya efek yang berbeda meski dosisnya sama. Sensitivitas otot terhadap sinyal juga ikut berubah secara perlahan seiring waktu.

Hal yang dijaga tepat setelah disuntik

Perawatan segera setelah prosedur bertujuan membantu bahan yang disuntikkan menempati posisinya dengan baik.

  • Disarankan untuk tetap dalam posisi tegak (tidak berbaring) selama 4 hingga 6 jam setelah prosedur. Kalau arah gravitasi berubah, bahan yang belum sepenuhnya menetap bisa menyebar ke area yang tidak diinginkan.
  • Pada hari yang sama dengan prosedur, sebaiknya hindari pijatan atau menggosok wajah dengan kuat. Tekanan yang diberikan bisa menggeser area suntikan sehingga hasilnya tidak merata.
  • Selama sekitar satu hari setelah prosedur, disarankan untuk menghindari sauna atau kompres panas. Panas dapat mempercepat sirkulasi darah sehingga bahan yang disuntikkan bisa menyebar atau terserap lebih cepat dari yang seharusnya.
  • Sampai efeknya benar-benar menetap, sekitar satu minggu, disarankan untuk menahan diri dari ekspresi yang menggerakkan alis secara berlebihan.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Botox

Botox untuk Keringat Telapak Tangan: Berapa Bulan Efeknya Bertahan?

Botox untuk hiperhidrosis telapak tangan bekerja dengan menghentikan sinyal dari ujung saraf ke kelenjar keringat sehingga produksi keringat berkurang. Berikut penjelasan mengapa efeknya bisa kembali hilang setelah beberapa bulan, seberapa sakit prosedurnya, dan faktor yang menentukan lama bertahannya.

By Dr. Lee

Botox

Lama efek Botox dan perbedaan antar orang: dosis dan antibodi

Botox adalah prosedur yang menghentikan sementara pergerakan otot dengan memblokir jalur pengiriman sinyal antara saraf dan otot. Dosis, ukuran otot, dan kecepatan pemulihan saraf membuat lama efeknya berbeda pada setiap orang. Berikut penjelasan bagaimana suntikan berulang, pembentukan antibodi, dan cara perawatan memengaruhi durasi efek Botox.

By Dr. Kim

Filler

Filler Bibir: Lama Bertahan, Efek Samping, dan Perawatan Setelah Tindakan

Filler volume bibir bekerja karena asam hialuronat menarik air di sekitarnya hingga hasilnya menyatu alami. Bibir lebih sering bergerak dibanding area wajah lain, sehingga daya tahan dan proses pemulihannya pun berbeda. Berikut perbedaan tekstur tiap jenis filler serta cara merawatnya dengan aman.

By Dr. Kim

Back to articles