prettytime
Skincare

Menghilangkan Bulu Halus Wajah: Benarkah Kulit Tampak Lebih Cerah?

By Dr. Kim6 min read

Setelah cuci muka, coba dekatkan wajah ke cermin. Di pipi, dahi, dan sekitar hidung, akan terlihat bulu-bulu halus yang tumbuh rapat. Bulu ini sering disebut bulu halus atau bulu vellus, berbeda dari rambut kepala yang tebal dan berwarna gelap, bulu ini nyaris tidak berpigmen dan sangat tipis sehingga jarang disadari. Tapi ceritanya berbeda saat memakai makeup atau berfoto.

Banyak orang bilang kulitnya terasa lebih cerah setelah merapikan bulu halus ini. Ini bukan sekadar perasaan. Bulu halus memang memengaruhi cara cahaya dipantulkan dan cara produk makeup menempel di kulit. Kenapa cuma menghilangkan bulu halus saja bisa membuat tone kulit terlihat berbeda, mari kita bahas prinsipnya satu per satu.

Kenapa bulu halus lebih mencolok di foto?

Secara medis, bulu halus di wajah disebut vellus hair. Rambut tebal dan gelap seperti rambut kepala atau alis disebut terminal hair, dan vellus hair berbeda dari terminal hair sejak dari akarnya. Sel penghasil pigmen di dalam folikel rambut kurang aktif, sehingga warnanya pucat dan ketebalannya jauh lebih tipis.

Vellus hair sebenarnya sudah ada sejak dulu, cuma ada masa-masa tertentu di mana bulu ini terlihat lebih menonjol tergantung sudut cahaya atau kondisi sel kulit mati. Kalau kulit kering atau sel kulit mati menumpuk sehingga permukaannya jadi kasar, bulu halus yang terselip di sela-selanya akan memantulkan cahaya dan jadi lebih terlihat dari biasanya. Mirip seperti debu di kaca jendela yang tampak sangat berkilau saat terkena sinar matahari dari sudut miring.

Kilauan ini makin terlihat jelas di bawah cahaya kuat dan langsung dari depan, seperti flash kamera atau lampu layar. Cahaya alami masuk dengan lembut dari berbagai arah, sedangkan flash datang kuat dari satu arah saja, jadi sudut pantulan cahaya di tiap helai bulu tipis jadi lebih terlihat. Inilah alasan bulu halus sering mengganggu tampilan di foto.

Apakah bulu halus bikin kulit tampak kusam?

Bulu halus itu sendiri warnanya hampir transparan, jadi tidak membuat tone kulit gelap. Masalahnya ada pada apa yang menempel di bulu tersebut. Karena bulu tipis punya luas permukaan yang besar, sel kulit mati dan minyak jadi mudah terjebak di sela-selanya.

Bayangkan rambut yang jarang disisir, debu jadi gampang menempel dan kusut di sela-selanya. Bulu halus bekerja dengan cara yang sama, seperti jaring kecil yang menahan sel kulit mati dan minyak. Akibatnya permukaan kulit jadi tidak rata dan sedikit kasar, cahaya tidak dipantulkan secara merata melainkan tersebar ke berbagai arah, sehingga wajah terlihat lebih kusam dan buram dari kondisi aslinya.

Perbandingan cukur, waxing, dan laser hair removal

Ada banyak cara menghilangkan bulu halus, tapi prinsip kerjanya sedikit berbeda-beda. Memahami cara kerjanya bisa membantu memilih metode yang paling cocok.

  • Mencukur dengan pisau cukur atau alat dermaplaning: Bilah dimiringkan hampir sejajar dengan permukaan kulit sehingga hanya bulunya saja yang terpotong tipis. Karena tidak menyentuh folikel dan hanya merapikan bulu di permukaan, pemulihannya cepat dan iritasinya relatif minim.
  • Waxing atau threading yang mencabut hingga akar: Karena bulu dicabut sampai akarnya, folikel jadi benar-benar kosong sehingga butuh waktu lebih lama untuk tumbuh kembali. Namun folikel mengalami rangsangan fisik langsung, jadi kulit sensitif bisa memerah atau terasa perih.
  • Laser hair removal: Laser merangsang folikel lewat pigmen di dalam bulu yang menyerap cahaya dan berubah jadi panas. Karena bulu halus punya sedikit pigmen, target yang bisa diserap laser jadi terbatas, sehingga hasilnya sering kurang maksimal dibanding bulu tebal dan gelap, atau butuh beberapa kali sesi perawatan.

Benarkah bulu jadi lebih tebal kalau dicukur?

Sering terdengar anggapan bahwa bulu halus akan tumbuh lebih tebal dan gelap setelah dicukur. Ini sebenarnya bukan karena sifat folikel berubah, melainkan lebih ke arah ilusi optik.

Ujung bulu yang tumbuh alami tanpa dipotong bentuknya tipis dan meruncing. Sebaliknya, ujung yang dipotong dengan pisau cukur atau dermaplaning jadi rata dan tumpul, sehingga di awal pertumbuhan kembali terasa kaku dan lebih menonjol saat disentuh. Prinsipnya mirip dengan perbedaan tekstur ujung pensil yang diraut runcing dibanding ujung yang dipotong rata dengan penggaris.

Sel penghasil rambut di dalam folikel bekerja sesuai ketebalan dan kecepatan yang sudah ditentukan, tanpa terpengaruh apa yang terjadi di permukaan kulit. Berbagai penelitian juga melaporkan tidak ditemukan bukti bahwa mencukur mengubah ketebalan, warna, atau kecepatan pertumbuhan rambut.

Seiring waktu, ujung bulu kembali meruncing secara alami dan rasa kaku itu pun ikut hilang. Karena itu, kalau ditunggu beberapa hari, tekstur bulu halus umumnya kembali seperti semula, berbeda dari kekhawatiran di awal.

Kenapa makeup lebih menempel setelah dihilangkan bulunya?

Setelah bulu halus dirapikan, permukaan kulit jadi lebih halus secara fisik. Di atas permukaan yang lebih rata, produk seperti foundation atau sunscreen jadi lebih mudah menyebar tipis dan merata.

Kalau bulu halus masih ada, di bagian itu makeup bisa sedikit terangkat atau menggumpal sehingga meninggalkan bekas belang. Ini mirip perbedaan mengecat jalan berbatu dengan mengecat dinding yang halus. Kalau permukaannya rata, hasil aplikasi tipis pun jadi merata, dan cahaya dipantulkan secara seragam tanpa tersebar ke berbagai arah, sehingga kulit terlihat lebih cerah dan mulus.

Apakah tampak cerah berarti memutihkan?

Ada satu hal yang perlu diperjelas di sini. Efek terlihat lebih cerah setelah menghilangkan bulu halus bukan karena pigmen melanin berkurang, melainkan perubahan optik akibat permukaan kulit yang jadi lebih rata sehingga pantulan cahaya berubah. Prinsipnya berbeda dari efek pencerahan yang benar-benar mengubah jumlah pigmen di dalam kulit.

Kondisi halus ini juga perlahan kembali seperti semula seiring waktu. Bulu halus tumbuh kembali, dan sel kulit mati pun menumpuk lagi. Umumnya bulu halus mulai terlihat lagi dalam hitungan hari hingga beberapa minggu. Karena itu, untuk mempertahankan efek cerah ini dibutuhkan perawatan rutin, bukan cukup sekali saja.

Penting untuk tidak menyamakan dua hal ini. Merapikan bulu halus mengubah kondisi fisik permukaan kulit, sedangkan pencerahan mengurangi jumlah melanin yang diproduksi sel pigmen. Kedua pendekatan ini bekerja di lapisan dan prinsip yang berbeda. Jadi hanya dengan merapikan bulu halus, tone kulit asli tidak akan mencerah secara permanen.

Perawatan setelah menghilangkan bulu

Segera setelah bulu dipotong atau dicabut, lapisan pelindung permukaan kulit sedikit menipis. Cara merawat kulit di masa ini menentukan apakah iritasi akan muncul atau kondisi halusnya bisa bertahan lebih lama.

  • Sebaiknya hindari eksfoliator kuat atau bahan berkonsentrasi tinggi selama beberapa jam pertama setelah menghilangkan bulu halus. Karena permukaan kulit sedang sensitif, bahan yang mengiritasi bisa membuat kulit perih atau memerah.
  • Menggunakan produk pelembap untuk melapisi permukaan kulit sangat membantu. Kalau lapisan kulit terluar kekurangan kelembapan, area bekas potong bulu halus bisa terasa lebih kasar dan pemulihannya lebih lambat.
  • Disarankan mengaplikasikan sunscreen lebih teliti dari biasanya. Karena permukaan kulit sudah lebih rata, paparan sinar UV bisa mengenai kulit lebih merata sehingga perlu dicegah agar tidak memicu hiperpigmentasi.
  • Pastikan alat yang digunakan selalu dalam kondisi steril setiap kali dipakai. Pisau atau benang yang terkontaminasi bisa memicu peradangan kecil di sekitar folikel, yang justru berujung pada bekas kemerahan atau jerawat.

Kalau kulit sensitif atau ada area dengan jerawat yang meradang, sebaiknya periksa dulu kondisinya sebelum menghilangkan bulu halus. Kalau kulit yang sudah teriritasi ditambah lagi dengan tindakan fisik seperti mencukur, pemulihannya bisa memakan waktu lebih lama.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Carbon peel (black peel): cara kerja, efek, dan perhatian setelah tindakan

Carbon peel black peel adalah perawatan di mana partikel karbon yang sangat halus menempel pada minyak dan sel kulit mati di dalam pori, lalu laser secara selektif membakar partikel karbon tersebut sehingga ikut terangkat keluar. Berikut penjelasan bagaimana karbon menyerap energi laser, dan mengapa panas yang menyentuh dermis dalam proses ini bisa memperbaiki tekstur kulit.

By Dr. Lee

Skincare

Penuaan kulit dekolte: penyebab, cara merawat, terapi laser, dan masa pemulihan

Area dekolte memiliki lebih sedikit kelenjar sebasea dan kulit yang lebih tipis dibanding wajah, sehingga lebih rentan terhadap paparan sinar UV. Artikel ini membahas bagaimana kolagen dan serat elastin di area ini rusak lebih dulu sehingga garis halus, pigmentasi, dan pembuluh darah kecil mulai muncul, serta urutan perawatan mulai dari tabir surya, retinoid, hingga prosedur medis.

By Dr. Kim

Botox

Botox Garis Rambut: Efek, dan Benarkah Garis Rambut Bisa Turun?

Botox garis rambut bukan prosedur yang benar-benar memindahkan posisi tumbuhnya rambut, melainkan merilekskan otot dahi sehingga kesan di sekitarnya berubah. Artikel ini merangkum cara posisi alis dan kerutan dahi ikut membuat garis rambut terlihat lebih rapi, serta teori mengapa Botox kulit kepala disebut bisa membantu kerontokan rambut.

By Dr. Kim

Back to articles