prettytime
Skincare

Cara Kerja PLLA, PCL, dan CaHA sebagai Stimulator Kolagen serta Alasan Daya Tahannya Berbeda

By Dr. Lee6 min read

Ada banyak prosedur yang sama-sama disebut stimulator kolagen. Bahannya terbagi menjadi tiga, yaitu PLLA (poly-L-lactic acid), PCL (polycaprolactone), dan CaHA (calcium hydroxylapatite). Kalau dilihat sekilas dari namanya saja, ketiganya terasa mirip. Padahal cara kerjanya di dalam tubuh cukup berbeda satu sama lain.

Meski sama-sama disebut stimulator kolagen, kecepatan munculnya hasil, ada tidaknya volume yang langsung terasa di awal, dan seberapa lama efeknya bertahan, semuanya berbeda antar bahan. Perbedaan ini berasal dari cara kerja masing-masing bahan, yang akan dibahas satu per satu.

Apa sebenarnya stimulator kolagen itu?

Filler asam hialuronat (HA) yang umum dipakai bekerja dengan cara gel-nya sendiri mengisi ruang dan membentuk volume. Cara kerjanya mirip seperti menyelipkan spons yang sudah menyerap banyak air ke dalam suatu ruang.

Stimulator kolagen bekerja dengan pendekatan berbeda. Alih-alih mengandalkan gel atau partikel untuk langsung mengisi volume, bahan ini justru membuat tubuh mengenali partikel tersebut sebagai benda asing dan meresponsnya. Dalam proses respons ini, fibroblas, yaitu sel di dalam kulit yang bertugas membuat kolagen, ikut teraktivasi dan mulai memproduksi kolagen baru dengan sendirinya. Jadi bukan bahan itu sendiri yang membentuk volume, melainkan respons pemulihan tubuh yang dimanfaatkan untuk membangun volume.

Karena itu, hasil akhir dari stimulator kolagen sering kali tidak langsung terlihat pada hari suntik. Tubuh butuh waktu untuk merespons dan menumpuk kolagen secara bertahap.

PLLA, cara kerja yang mengandalkan tubuh mengisi sendiri

PLLA berbentuk partikel mikro hasil pengeringan beku yang dilarutkan dalam air sebelum prosedur dilakukan. Ketika partikel ini disuntikkan ke lapisan bawah dermis, makrofag (sel imun yang bertugas menangkap dan memproses benda asing) akan mengelilingi dan memprosesnya. Dalam proses inilah fibroblas ikut terpanggil dan mulai membentuk kolagen baru.

Yang penting dicatat di sini, PLLA sendiri bukan bahan berbentuk gel, melainkan partikel yang diencerkan dalam air, sehingga hampir tidak ada volume yang terasa segera setelah penyuntikan. Prosesnya mirip seperti menanam benih. Begitu ditanam, permukaan tanah terlihat kosong tanpa apa-apa, tetapi seiring waktu jaringan baru tumbuh perlahan di tempat itu.

Karena itu, PLLA umumnya tidak diberikan hanya sekali, melainkan dibagi menjadi beberapa sesi dengan jeda beberapa minggu. Cara ini diyakini membantu memicu respons yang lebih merata karena rangsangan diberikan mengikuti kecepatan penumpukan kolagen.

PCL, cara kerja yang memberi volume instan sekaligus rangsangan

PCL berbentuk partikel bulat mikro yang melayang di dalam gel pembawa (carrier). Gel ini sendiri langsung mengisi sebagian volume segera setelah disuntikkan, sehingga berbeda dengan PLLA, efeknya sering kali sudah terasa pada hari prosedur.

Seiring waktu, gel ini perlahan diserap dan menghilang dari dalam tubuh, sementara partikel PCL yang tersisa terurai secara bertahap di tempatnya sambil terus memicu rangsangan kolagen. Prosesnya mirip seperti menyusun bata. Pada awalnya, adukan semen (gel) mengisi celah antar bata dan membentuk struktur, lalu belakangan batanya sendiri (partikel PCL) yang menopang struktur itu dalam jangka panjang.

PCL termasuk yang paling lambat terurai di antara ketiga bahan. Karena itu, masa rangsangan kolagennya pun dijelaskan berlangsung relatif lebih lama. Semakin lambat partikel menghilang, semakin lama pula respons pemulihan di sekitarnya berlangsung.

CaHA, reaksi yang dibentuk oleh unsur kalsium

CaHA terbuat dari partikel mikro senyawa kalsium yang satu golongan dengan komponen penyusun tulang dan gigi, dicampur dalam gel pembawa. Sama seperti PCL, gel ini langsung memberikan volume instan segera setelah disuntikkan.

Setelah gel terserap, partikel kalsium yang tersisa akan memicu rangsangan kolagen. Partikel ini seiring waktu terurai secara bertahap menjadi kalsium dan fosfor, unsur yang sudah ada secara alami di dalam tubuh, lalu diserap. Bagi tubuh, ini bukan zat yang benar-benar asing, melainkan kembali menjadi bahan yang memang sudah ada di dalamnya, sehingga responsnya dijelaskan relatif lebih mudah diprediksi.

CaHA memiliki kepadatan gel yang relatif tinggi sehingga daya tahan bentuknya cukup baik. Karena itu, bahan ini sering dipakai di area yang butuh volume untuk membangun struktur, seperti ujung hidung atau dagu. Alasannya, gel itu sendiri mampu mempertahankan bentuknya untuk sementara waktu.

Kenapa waktu munculnya hasil bisa berbeda?

Perbedaan terbesar dari ketiga bahan ini berawal dari ada tidaknya gel pembawa. PCL dan CaHA memiliki struktur ganda, gel langsung mengisi volume sementara partikelnya memicu kolagen belakangan. Sementara itu, PLLA hampir tidak punya komponen gel yang mengisi volume, sehingga dari awal sampai akhir, hasilnya sangat bergantung pada kecepatan penumpukan kolagen.

Perbedaan ini terasa langsung oleh pasien yang menjalani prosedur. PCL dan CaHA memberi perubahan yang sudah terasa sejak hari prosedur, sedangkan PLLA baru terlihat perlahan setelah beberapa minggu. Bukan berarti salah satu lebih unggul, melainkan keduanya adalah alat dengan waktu dan cara kerja yang berbeda, sesuai kebutuhan.

Faktor yang menentukan lama bertahannya efek

Ketiga bahan ini sama-sama berada dalam kategori besar stimulator kolagen, tetapi seberapa lama efeknya bertahan di kenyataannya dipengaruhi oleh beberapa faktor sekaligus.

  • Kecepatan penguraian partikel: Semakin lambat partikel terurai, semakin panjang pula masa rangsangan kolagennya. Selama tubuh masih memproses partikel tersebut, respons pemulihan terus berjalan.
  • Area dan kedalaman suntikan: Di area dengan pergerakan otot yang aktif (misalnya sekitar mulut), partikel relatif lebih sulit bertahan di posisinya karena gerakan otot. Sebaliknya, area dengan pergerakan minim dijelaskan cenderung mempertahankan rangsangan lebih merata dan lebih lama.
  • Jumlah sesi dan volume: Dibanding menyuntikkan banyak sekaligus dalam satu sesi, membagi prosedur menjadi beberapa kali sering dilaporkan menghasilkan penumpukan kolagen yang lebih merata. Ini terjadi karena rangsangan yang berulang membuat responsnya terakumulasi.
  • Metabolisme dan kondisi kulit masing-masing orang: Usia, kemampuan alami kulit dalam mensintesis kolagen, dan gaya hidup dapat membuat lama bertahannya efek berbeda meski menjalani prosedur yang sama.

Kriteria pemilihan berdasarkan area dan tujuan

Ketiga bahan ini lebih tepat disebut sebagai alat dengan kegunaan yang sedikit berbeda, bukan sekadar bisa saling menggantikan. Kalau tujuannya menaikkan kepadatan kolagen di seluruh wajah secara bertahap, pendekatan seperti PLLA yang diencerkan luas dan diberikan dalam beberapa sesi biasanya dipilih. Struktur ini cocok untuk memicu respons yang merata di area yang luas.

Sebaliknya, kalau tujuannya membentuk kontur di area tertentu atau ingin melihat perubahan sejak hari itu juga, PCL atau CaHA yang memberi volume instan lebih sering dipilih. Alasannya, gel pembawa langsung membentuk kontur, sehingga garis yang diinginkan bisa langsung terlihat dan disesuaikan di tempat.

Tentu saja, bahan mana yang dipilih tetap bergantung pada kondisi kulit, hasil yang diinginkan, dan penilaian dokter yang menangani prosedur. Memahami cara kerja masing-masing bahan akan membantu pasien mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik saat konsultasi.

Perbedaan dalam perawatan setelah prosedur

Karena cara kerja masing-masing bahan di dalam tubuh berbeda, cara merawatnya setelah prosedur pun sedikit berbeda.

PLLA diketahui perlu menyebar merata tanpa menggumpal agar responsnya alami, sehingga pijatan biasanya dianjurkan selama periode tertentu setelah prosedur. Kalau partikel menumpuk di satu titik, respons bisa terpusat hanya di area yang menggumpal itu.

PCL dan CaHA memiliki struktur gel yang sudah langsung membentuk kontur, sehingga porsi pijatannya relatif lebih sedikit. Meski begitu, paparan suhu tinggi atau tekanan kuat segera setelah prosedur sebaiknya dihindari untuk ketiga bahan tersebut. Panas atau tekanan bisa menggeser gel atau partikel yang belum sepenuhnya menetap di posisinya.

Bengkak dan memar umumnya dijelaskan mereda secara alami seiring waktu, meski kecepatan pemulihan bisa berbeda pada setiap orang.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Cara Kerja HILO WAVE Booster Memadukan Asam Hialuronat Berat Molekul Rendah dan Tinggi untuk Mengangkat Elastisitas Kulit

HILO WAVE adalah skin booster yang menggabungkan dua jenis asam hialuronat dengan ukuran molekul berbeda dalam satu struktur. Asam hialuronat berat molekul rendah dan tinggi bekerja pada kedalaman dan kecepatan yang berbeda, dan dipercaya sama-sama merangsang produksi kolagen serta elastin di dalam kulit. Artikel ini membahas prinsip kerja struktur asam hialuronat ganda tersebut secara mendalam.

By Dr. Kim

Skincare

Cara Growth Factor MGF dalam Baby Skin Injection Merangsang Sel Kulit hingga Membentuk Kolagen

Baby skin injection adalah prosedur yang memasukkan growth factor ke kulit lewat microneedle. Salah satu bahan di dalamnya, MGF, adalah jenis growth factor yang secara alami diproduksi tubuh saat jaringan mengalami cedera, dan berfungsi mengirim sinyal regenerasi ke sel. Artikel ini membahas bagaimana MGF bekerja pada kulit dan apa bedanya dengan growth factor lain.

By Dr. Lee

Diet

Prinsip Body Onda Memanaskan Lemak Perut dan Lengan dengan Gelombang Mikro, Jumlah Sesi, dan Lama Bertahannya Hasil

Body Onda adalah perawatan pembentukan tubuh non-bedah yang memanaskan lapisan lemak di bawah kulit secara selektif dengan gelombang mikro, sehingga sel lemak mengecil sekaligus kulit menjadi lebih kencang. Artikel ini membahas mengapa panas hanya menyasar lapisan lemak, mengapa pengurangan lemak dan pengencangan kulit terjadi bersamaan, bagaimana pendekatan berbeda di area perut, lengan atas, dan pinggang, serta berapa lama sesi dan hasilnya bertahan.

By Dr. Kim

Back to articles