prettytime
Botox

Botox Betis untuk Otot yang Menonjol, Benarkah Bisa Mengecilkan Betis dan Berapa Lama Efeknya Bertahan?

By Dr. Lee6 min read

Banyak orang risih dengan betis bagian belakang yang terlalu menonjol, sampai jadi malas pakai skinny jeans atau rok pendek. Saat berjalan atau berdiri lama, otot betis mengeras seperti bola dan sulit kembali lemas walau sudah tidak menopang beban. Salah satu jalan keluar yang sering dilirik untuk kondisi ini adalah botox betis.

Cara kerjanya sederhana, yaitu menurunkan kekuatan otot secara sengaja supaya bentuk betis lebih halus. Hanya saja, banyak yang belum paham betul kenapa perubahan itu bisa terjadi, berapa lama prosesnya, dan apakah cocok untuk semua orang. Berikut dibahas satu per satu apa yang sebenarnya terjadi pada otot betis, kenapa ukurannya bisa mengecil, bedanya tipe otot dan tipe lemak, sampai berapa lama efeknya bertahan.

Bagaimana Cara Kerja Botox pada Otot Betis?

Agar otot bisa bergerak, perintah dari otak harus dikirim lewat saraf sampai ke otot. Zat yang berperan di tahap terakhir pengiriman perintah ini bernama acetylcholine. Bayangkan saja seperti surat dari saraf ke otot yang isinya "sekarang berkontraksi".

Titik pertemuan saraf dan otot, tempat surat itu diserahkan, disebut neuromuscular junction, semacam kotak pos tempat surat tersebut dititipkan. Botulinum toxin, atau yang lebih akrab disebut botox, bekerja dengan menghalangi surat itu keluar dari kotak posnya. Proses keluarnya acetylcholine dari ujung saraf itulah yang diblokir.

Jadi, saraf sebenarnya masih membuat sinyal, hanya saja sinyal itu tidak sampai ke otot. Sel ototnya sendiri tidak dirusak, yang diputus hanya jalur perintahnya. Otot yang tidak menerima perintah jadi tidak bisa mengeluarkan tenaga, dan kalau kondisi ini berlangsung terus, ukurannya pun ikut mengecil.

Kenapa Betis Butuh Waktu untuk Benar-Benar Mengecil?

Terputusnya sinyal saraf tidak lantas membuat betis mengecil dalam hitungan hari. Otot butuh waktu untuk benar-benar menipis. Biasanya kekuatan otot mulai terasa melemah dalam 1 sampai 2 minggu setelah prosedur, sementara perubahan volume yang benar-benar terlihat baru dirasakan sekitar minggu ke-3 sampai ke-4.

Proses ini disebut muscle atrophy, yaitu otot yang mengecil perlahan karena tidak digunakan. Mirip seperti kaki yang lama digips, otot di area itu akan terlihat menipis begitu gips dilepas. Bedanya, gips menahan gerakan secara fisik, sedangkan botox menghalangi sinyal saraf secara kimiawi untuk menghasilkan efek serupa.

Otot gastrocnemius, otot di betis belakang yang membentuk bola betis, terus dipakai setiap kali berjalan atau berlari, sehingga proses pengecilannya kadang terasa lebih lambat dibanding otot lengan atau wajah. Karena itu, perubahan bentuk betis biasanya baru benar-benar terlihat jelas sekitar satu bulan setelah prosedur, bukan langsung setelahnya.

Betis Berotot Ini Sebenarnya Karena Otot atau Lemak?

Botox betis akan memberi hasil kalau penyebab utama betis menonjol memang otot. Sebaliknya, kalau betis terlihat besar karena lapisan lemaknya tebal, mengurangi kekuatan otot tidak akan mengubah lingkar betis secara berarti. Karena itu, mengenali penyebabnya dulu adalah langkah pertama yang paling menentukan hasil sebelum memutuskan prosedur ini. Beberapa cara sederhana yang biasa dipakai untuk mengeceknya adalah sebagai berikut.

  • Coba berdiri berjinjit dan rasakan apakah betis mengeras jadi bola padat. Kalau bedanya jelas antara saat berjinjit dan saat rileks, otot punya peran besar. Kalau nyaris tidak ada perubahan meski sudah berjinjit, kemungkinan besar lemak yang lebih dominan.
  • Duduk dan biarkan kaki menjuntai, lalu perhatikan seberapa banyak dagingnya bergoyang saat digoyangkan pelan. Kalau goyangannya cukup terlihat, cenderung tipe lemak. Kalau kencang dan nyaris tidak bergoyang, cenderung tipe otot.
  • Pegang betis dengan tangan untuk merasakan ketebalannya. Kalau dagingnya tebal saat dicubit, berarti porsi lemaknya besar, dan prosedur untuk mengurangi lemak langsung mungkin lebih cocok dibanding menurunkan kekuatan otot.

Pada kenyataannya, tidak jarang otot dan lemak sama-sama berkontribusi membentuk betis yang besar. Untuk kasus seperti ini, hasil dari botox saja bisa jadi terbatas, sehingga saat konsultasi biasanya dipertimbangkan juga prosedur tubuh lain sebagai pelengkap. Karena itu, sebaiknya pastikan dulu betis Anda lebih condong ke tipe yang mana sebelum memutuskan prosedurnya.

Otot Mana yang Sebenarnya Disuntik?

Sebagian besar bentuk bola pada betis dibentuk oleh otot gastrocnemius. Otot ini menonjol di bagian belakang betis dan berkontraksi kuat saat berjinjit atau berjalan. Di lapisan yang lebih dalam ada soleus, otot yang letaknya di bawah gastrocnemius dan terus berperan menopang posisi berdiri, sehingga biasanya tidak ikut disuntik dalam prosedur ini.

Alasan hanya lapisan luar gastrocnemius yang disasar adalah karena kalau kekuatan soleus ikut diturunkan berlebihan, gerakan berjalan itu sendiri bisa terganggu. Oleh sebab itu, titik suntik dan dosisnya ditentukan dengan fokus pada bagian yang paling menonjol, yaitu titik puncak otot gastrocnemius.

Betis adalah otot yang terus dipakai untuk menahan berat badan dan berjalan, sehingga penurunan kekuatan otot di area ini perlu diperhatikan lebih hati-hati dibanding lengan atau wajah. Karena itu, biasanya disarankan mulai dari dosis rendah lebih dulu, sambil memastikan tidak ada gangguan saat berjalan atau naik turun tangga, baru dosisnya disesuaikan bertahap.

Berapa Lama Efeknya Bertahan dan Kapan Perlu Diulang?

Penurunan kekuatan otot akibat botox sifatnya tidak permanen. Seiring waktu, ujung saraf akan menumbuhkan cabang baru yang kembali membentuk jalur untuk mengirim sinyal ke otot. Prosesnya mirip kotak pos yang tadinya tersumbat, lalu terbentuk jalur baru yang membukanya kembali. Setelah jalur ini terbuka lagi, otot pun perlahan kembali ke ukuran semula.

Secara umum, efeknya dilaporkan bertahan sekitar 4 sampai 6 bulan. Namun rentang waktu ini bisa berbeda-beda pada tiap orang, tergantung dosis yang disuntikkan, seberapa besar otot sebelum prosedur, dan kebiasaan berjalan atau berolahraga sehari-hari. Pada orang yang sering melakukan aktivitas berat untuk betis seperti jalan jauh atau mendaki, otot dilaporkan cenderung pulih lebih cepat.

Kalau ingin mempertahankan bentuk betis, prosedur ulang biasanya dipertimbangkan saat efeknya mulai berkurang. Pada sesi berikutnya, dosisnya sebaiknya tidak selalu disamakan dengan sesi pertama, melainkan disesuaikan setelah melihat seberapa jauh otot sudah pulih, karena cara ini dianggap lebih aman. Ada juga laporan bahwa otot bisa bertahan lebih ramping setelah beberapa kali prosedur berulang, tapi hasil ini sangat bervariasi antar orang.

Apa yang Perlu Diperhatikan Sebelum dan Sesudah Prosedur?

Ada beberapa hal yang baik diketahui lebih dulu sebelum mempertimbangkan botox betis.

  1. Belum ada obat penawar khusus untuk membalikkan efeknya. Begitu efeknya muncul, harus menunggu sampai hilang secara alami seiring waktu, jadi memulai dengan dosis rendah lebih dulu sambil memantau perubahan cara berjalan adalah langkah yang lebih aman.
  2. Kalau sehari-hari sering berolahraga berat atau pekerjaan banyak melibatkan kekuatan betis, sebaiknya disampaikan lebih dulu saat konsultasi. Pengaruhnya terhadap kekuatan otot bisa terasa berbeda pada tiap orang, dan informasi ini membantu menentukan dosis yang sesuai dengan tingkat aktivitas.
  3. Kalau tipe otot dan tipe lemak bercampur, ada baiknya memperkirakan dulu seberapa besar perubahan yang bisa diharapkan. Kalau porsi lemaknya besar, botox saja mungkin tidak memberi perubahan yang berarti, sehingga saat konsultasi bisa dipertimbangkan bersama metode lain.
  4. Rasa lemas sementara pada kaki setelah prosedur juga baik diketahui sejak awal. Rasa ini umumnya dilaporkan berkurang seiring otot beradaptasi.

Mengetahui hal-hal ini lebih dulu bisa membantu memperkecil jarak antara ekspektasi dan hasil sebenarnya setelah prosedur. Pada akhirnya, botox betis adalah cara untuk menurunkan kekuatan otot selama beberapa bulan supaya bentuk betis jadi lebih halus, khususnya ketika penyebab utamanya memang otot.

References

Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Filler

Tear Trough Kempot dan Mata Panda, Efek Filler Mengisi Bayangan, Berapa Lama Bertahan, sampai Cara Menghindari Efek Tyndall

Bayangan gelap di bawah mata sering kali bukan cuma soal pigmen kulit, tapi karena tear trough yang kempot. Kami bahas bagaimana ligamen tear trough dan tulang orbita yang menipis membuat bayangan itu muncul, bagaimana filler asam hialuronat lembut dalam jumlah sedikit bisa meratakan bayangan tersebut, kenapa kulit tipis dan efek Tyndall serta bengkak jadi tantangan tersendiri di area ini, dan berapa lama hasilnya bertahan serta cara merawatnya. Semua dijelaskan dengan angka dari studi asli, mudah dipahami.

By Dr. Kim

Back to articles