prettytime
Skincare

Bekas Luka Bakar yang Tetap Merah dan Keras Bertahun-tahun, Ini Prinsip Laser Meluruskan Teksturnya

By Dr. Kim6 min read

Luka bakar yang cukup parah pada akhirnya akan sembuh. Namun bekasnya sering kali tidak kembali mulus, melainkan tetap merah dan menonjol tebal selama 6 bulan, bahkan pada kasus yang lebih berat bisa bertahan lebih dari 2 tahun. Mengapa bekas luka bakar begitu keras kepala untuk hilang?

Jawabannya ada pada cara kulit menyembuhkan luka itu sendiri. Belakangan ini, terapi laser semakin banyak digunakan untuk melembutkan kembali tekstur yang mengeras tersebut. Mari kita telusuri satu per satu, mulai dari alasan terbentuknya bekas luka bakar hingga cara laser mengubah teksturnya.

Mengapa bekas luka bakar begitu sering tertinggal merah dan keras?

Saat kulit terluka, tubuh memproduksi kolagen untuk menutup area yang rusak. Kolagen ini bisa dibayangkan seperti tiang penyangga yang menopang struktur kulit. Kalau lukanya dangkal, tubuh hanya membangun tiang secukupnya lalu berhenti.

Tapi luka bakar berbeda. Karena kerusakannya dalam dan luas, tubuh merasa dalam kondisi darurat sehingga memproduksi kolagen jauh lebih banyak dan dengan tergesa-gesa. Masalahnya, kolagen ini tidak tersusun rapi, melainkan menumpuk seperti benang kusut. Tumpukan inilah yang muncul sebagai bekas luka tebal dan keras yang disebut hypertrophic scar (bekas luka yang menonjol tebal di area luka).

Kemerahan pada bekas luka punya sebab yang berbeda. Selama proses pemulihan, banyak pembuluh darah baru tumbuh di area tersebut sebagai respons tubuh untuk cepat mengalirkan nutrisi dan oksigen ke jaringan yang rusak. Karena pembuluh darah ini berkumpul dekat permukaan kulit, bekas lukanya pun tampak merah dalam waktu lama.

Apa alasan sebenarnya kolagen terus menumpuk tanpa dirapikan?

Pada luka normal, setelah kolagen tertumpuk secukupnya, enzim bernama MMP (matrix metalloproteinase, enzim yang memotong kelebihan kolagen) berperan seperti gunting yang merapikan bagian yang berlebih. Bisa dibilang ada pekerja yang membangun tiang dan gunting yang memangkas bagian tiang yang tidak diperlukan, dan keduanya saling menyeimbangkan.

Namun pada kerusakan besar seperti luka bakar, proses pemangkasan ini tidak bisa mengimbangi. Kecepatan pembentukan kolagen terus melampaui kecepatan pemangkasannya, sehingga kolagen yang belum dirapikan menumpuk begitu saja di tempatnya. Hasilnya adalah bekas luka tebal dan keras yang bertahan lama.

Seiring waktu, bekas luka ini akan semakin mengeras. Berkas kolagen yang menumpuk tanpa arah membuat kulit kehilangan kelenturan aslinya, dan jika berada di sekitar sendi, kondisi ini bisa berujung pada kontraktur (keadaan kulit menegang begitu kencang hingga membatasi gerakan).

Bagaimana laser fraksional meluruskan kembali tekstur ini?

Laser fraksional (fractional laser, metode menembakkan cahaya laser dalam titik-titik yang rapat) tidak membakar seluruh permukaan kulit sekaligus. Sebaliknya, laser ini membuat lubang mikro di titik-titik yang sangat kecil. Bayangkan seperti menusuk-nusuk adonan tepung yang menggumpal dengan lubang rapat agar bisa diuleni ulang.

Di titik-titik kerusakan mikro yang sengaja dibuat ini, tubuh kembali memicu respons regenerasi. Kolagen baru yang terbentuk kali ini tidak menumpuk tergesa-gesa seperti saat luka bakar terjadi, melainkan tersusun dalam arah yang jauh lebih rapi. Berkas kolagen lama yang kusut pun ikut tertata ulang selama proses regenerasi ini, sehingga permukaan bekas luka yang tadinya bergelombang perlahan menjadi lebih rata dan teksturnya melembut.

Laser secara umum terbagi dalam dua jenis. Ablative (jenis yang membakar hingga permukaan kulit, contohnya CO2 dan Er:YAG) dan non-ablative (jenis yang mempertahankan permukaan kulit dan hanya memberi kerusakan panas di lapisan bawahnya). Jenis ablative memberikan hasil yang lebih kuat tetapi butuh waktu pemulihan lebih panjang, sedangkan non-ablative pemulihannya lebih singkat tetapi umumnya memerlukan 5 hingga 8 sesi terapi. Pemilihan salah satu atau kombinasi keduanya disesuaikan dengan ketebalan bekas luka, lokasinya, dan waktu pemulihan yang tersedia.

Dengan prinsip apa laser pembuluh darah meredakan kemerahan?

Meratakan tekstur dan meredakan kemerahan adalah dua persoalan yang berbeda. Permukaan yang bergelombang berasal dari susunan kolagen, sementara kemerahan berasal dari pembuluh darah yang berkumpul di bawahnya. Karena itu, laser yang menyasar pembuluh darah digunakan secara terpisah untuk mengatasi kemerahan.

Contoh yang paling umum adalah pulsed dye laser (laser pembuluh darah, laser yang memancarkan cahaya dengan panjang gelombang yang mudah diserap hemoglobin di dalam pembuluh darah). Laser ini menggunakan cahaya dengan panjang gelombang yang secara selektif diserap oleh hemoglobin, pigmen merah dalam darah. Karena itu, meskipun cahaya menembus kulit, jaringan di sekitarnya nyaris tidak tersentuh, hanya hemoglobin di dalam pembuluh darah yang menyerap panas hingga pembuluh darah tersebut tersumbat.

Prinsip ini disebut selective photothermolysis (prinsip memberikan kerusakan panas hanya pada target yang dipilih). Cara kerjanya mirip seorang penembak jitu yang melewati apa pun yang bukan sasaran dan hanya mengenai target dengan tepat. Dengan prinsip ini, pembuluh darah abnormal yang berkumpul di permukaan bekas luka berkurang, sehingga warna merah pada bekas luka lambat laun mendekati warna kulit aslinya.

Kapan waktu terbaik untuk memulai perawatan?

Dahulu, laser umumnya baru dimulai setelah bekas luka benar-benar sembuh dan warna serta ketebalannya sudah cukup stabil. Namun belakangan ini, pendekatan intervensi dini semakin banyak diterapkan, yaitu memulai laser sejak periode awal saat bekas luka masih merah dan sedang menebal, tepatnya dalam rentang 2 hingga 6 bulan sejak luka baru saja menutup.

Alasannya, ada laporan yang menunjukkan bahwa mengintervensi saat kolagen masih aktif menumpuk lebih mudah meluruskan teksturnya dibandingkan menangani bekas luka yang sudah telanjur mengeras. Meski begitu, karena risiko infeksi masih ada selama luka belum sepenuhnya menutup, terapi baru dimulai setelah permukaan kulit dipastikan telah sembuh.

Berapa kali sesi yang dibutuhkan, dan apa saja yang perlu dipertimbangkan?

  • Ketebalan dan luas bekas luka: Bekas luka yang tipis dan sempit bisa melembut hanya dengan sedikit sesi, tetapi area yang luas dan tebal menyimpan lebih banyak tumpukan kolagen sehingga perlu ditangani secara bertahap dalam 5 hingga 8 sesi.
  • Jarak antar sesi: Umumnya diberi jeda 4 hingga 6 minggu. Rentang waktu ini diperlukan agar kolagen baru sempat tersusun ulang setelah dirangsang laser, bila terlalu sering, kulit justru tidak punya cukup waktu untuk pulih.
  • Total jumlah sesi: Biasanya ditetapkan minimal 3 hingga 6 kali atau lebih sebagai dasar. Satu kali laser tidak bisa langsung merapikan seluruh tumpukan kolagen sekaligus, teksturnya diluruskan sedikit demi sedikit di setiap sesi.
  • Warna kulit dan lokasi luka bakar: Semakin gelap warna kulit, panas laser semakin berisiko bereaksi dengan pigmen dan justru meninggalkan hiperpigmentasi, sehingga panjang gelombang dan intensitasnya perlu diatur dengan hati-hati. Area yang sering bergerak seperti tangan atau sekitar sendi biasanya ditangani lebih dini dan lebih aktif untuk mencegah kontraktur.

Karena laser fraksional dan laser pembuluh darah menangani masalah yang berbeda, kombinasi keduanya juga cukup umum dilakukan. Bisa dibilang, tugasnya dibagi, satu menangani tekstur dan ketebalan, satunya lagi menangani kemerahan.

Apa saja yang perlu diperhatikan?

Setelah laser, bengkak dan kemerahan bisa bertahan selama 3 hingga 7 hari, dan jika menggunakan jenis ablative, dibutuhkan masa pemulihan sekitar 7 hingga 14 hari sampai keropeng terbentuk lalu terlepas dengan sendirinya. Selama periode ini, perlindungan dari sinar matahari harus dilakukan secara ketat, karena kulit yang baru beregenerasi sangat sensitif terhadap rangsangan dan mudah mengalami hiperpigmentasi.

Selain itu, bekas luka bakar umumnya tidak hilang total hanya dengan satu kali prosedur, melainkan membaik secara bertahap dalam 3 hingga 6 kali sesi atau lebih, memudar dan melembut sedikit demi sedikit di setiap sesi. Penting untuk menyusun rencana perawatan dengan mempertimbangkan kondisi bekas luka, lokasinya, serta jenis kulit secara menyeluruh, dan lebih aman jika kecepatan terapi dikonsultasikan bersama dokter spesialis yang berpengalaman menangani bekas luka bakar.

References

Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Bekas Luka Keloid, Cara Mengurangi Kekambuhan dari Suntik Steroid dan Kombinasi 5-FU sampai Operasi dan Radiasi

Artikel ini membahas dengan mudah apa bedanya keloid dengan bekas luka hipertrofik, kenapa keloid muncul akibat kolagen yang tumbuh berlebihan, seberapa besar kombinasi suntik steroid dan 5-FU sebagai terapi awal mengurangi kekambuhan, apa kelebihan masing-masing dari silikon, kompresi, laser, dan cryotherapy, serta kenapa operasi tidak boleh dilakukan sendirian, semuanya berdasarkan angka dari penelitian asli.

By Dr. Kim

Back to articles