prettytime
Skincare

Vitamin C oles katanya gampang teroksidasi, tapi benarkah tetap efektif untuk flek dan kekencangan kulit?

By Dr. Lee8 min read

Serum vitamin C termasuk produk yang hampir pasti pernah dicoba siapa pun yang sedikit saja peduli pada perawatan kulit. Klaim bahwa bahan ini bisa memudarkan flek dan membuat kulit lebih kencang terus terdengar di mana-mana.

Namun di saat yang sama, vitamin C juga dikenal cepat berubah warna begitu terkena udara, dan itu dianggap tanda khasiatnya sudah menurun. Jadi ada dua cerita yang selalu berjalan berdampingan, bahan ini bagus, tapi juga rewel untuk dirawat. Makanya saat memilih serum, orang tidak cukup hanya membaca daftar kandungan, tapi juga memperhatikan warna botol sampai cara pengemasannya. Yuk kita bahas satu per satu, kenapa vitamin C dibilang bagus untuk flek, dan kenapa bahan ini bisa serewel itu.

Kenapa vitamin C dibilang bagus untuk mengatasi flek?

Ketika kulit terpapar sinar UV, sel bernama melanosit akan memproduksi pigmen yang disebut melanin. Melanin sebenarnya adalah respons pertahanan alami tubuh untuk melindungi kulit dari sinar UV, tapi kalau pigmen ini menumpuk di satu titik, hasilnya terlihat sebagai flek atau bintik hitam.

Vitamin C diketahui ikut campur dalam proses pembentukan melanin itu sendiri, sehingga pigmen baru yang terbentuk jadi lebih sedikit. Jadi bukan menghapus flek yang sudah ada, melainkan lebih ke arah memperlambat munculnya flek baru. Makanya, biasanya perubahannya baru terlihat kalau dipakai rutin selama 8 minggu sampai 12 minggu.

Supaya lebih mudah dibayangkan, anggap saja paparan sinar UV pada kulit itu seperti saldo yang menumpuk di rekening tabungan. Flek tidak muncul langsung dari satu kali terpapar matahari hari ini, tapi terkumpul sedikit demi sedikit setiap hari sampai akhirnya terlihat sebagai pigmen. Jadi vitamin C juga bukan sekali oles langsung selesai, melainkan bekerja memperlambat laju penumpukan itu setiap harinya.

Sebenarnya lewat proses apa melanin terbentuk?

Kalau disederhanakan, pembentukan melanin dimulai dari asam amino bernama tirosin yang melewati beberapa tahap dengan bantuan enzim bernama tirosinase, sampai akhirnya berubah menjadi pigmen berwarna gelap. Tirosinase ini berperan seperti kunci yang memicu seluruh proses tersebut.

Semakin aktif enzim ini bekerja, semakin banyak dan semakin cepat melanin terbentuk. Paparan sinar UV membuat kulit mengirim sinyal agar enzim ini bekerja lebih giat, sehingga di musim panas atau saat sering beraktivitas di luar ruangan, pigmen kulit cenderung terlihat lebih gelap.

Banyak orang pasti pernah mengalami, sehabis liburan 3 hari sampai 4 hari di pantai, kulit tidak langsung menggelap saat itu juga, tapi warnanya baru mulai berubah gelap perlahan 3 hari sampai 7 hari kemudian. Itu terjadi karena tirosinase baru mulai bekerja giat setelah menerima sinyal dari paparan sinar UV. Karena itu, perawatan yang dilakukan setelah terkena matahari pun tetap punya arti penting untuk mencegah pigmen semakin gelap.

Di titik mana vitamin C ikut campur untuk mencegah pigmentasi?

Vitamin C, atau asam askorbat, dilaporkan bekerja dengan menghambat aktivitas enzim tirosinase tadi. Bayangkan seperti menekan pelan sakelar di pabrik pembuat pigmen, sehingga produksinya melambat.

Selain itu, vitamin C juga diketahui memiliki efek reduksi, yaitu mengembalikan zat antara melanin yang sudah mulai teroksidasi dan mengarah ke warna gelap, kembali ke warna yang lebih terang. Jadi reaksi yang tadinya mengarah ke penggelapan ditahan dan diarahkan kembali ke warna yang lebih cerah. Kedua mekanisme ini bekerja bersama, dan kalau dipakai rutin dalam waktu lama, warna kulit pun disebut jadi lebih rata dan flek pun tampak memudar.

Efek antioksidan itu sebenarnya membantu kulit dengan cara apa?

Ketika kulit terkena rangsangan seperti sinar UV, polusi udara, atau stres, jumlah radikal bebas di kulit akan meningkat. Radikal bebas adalah molekul yang kehilangan pasangan elektronnya, sehingga ia akan mencuri elektron dari sel sehat di sekitarnya, termasuk membran sel dan kolagen, dan menimbulkan kerusakan. Bayangkan seperti efek domino, reaksi berantai yang terus merambat dan mengganggu jaringan di sekitarnya.

Vitamin C adalah antioksidan yang bekerja dengan cara memberikan elektronnya lebih dulu kepada radikal bebas, sehingga reaksi berantai itu berhenti. Ibaratnya vitamin C mengorbankan dirinya sendiri sebagai perisai agar domino tidak terus merambat. Dengan radikal bebas yang lebih dulu ditangkap seperti ini, kolagen dan membran sel jadi lebih terlindungi, dan pada akhirnya membantu memperlambat laju penuaan kulit akibat paparan sinar UV.

Sebagai contoh, di hari kamu menghabiskan waktu 2 jam sampai 3 jam lebih di luar ruangan, mungkin kamu pernah merasakan kulit jadi terasa panas atau lebih sensitif dari biasanya. Ini juga erat kaitannya dengan lonjakan radikal bebas dalam waktu singkat yang merangsang sel-sel kulit. Karena itu, mengoleskan vitamin C sebelum terpapar sinar UV dianggap lebih efektif, sebab radikal bebas bisa langsung ditangkap begitu terbentuk.

Apa maksudnya vitamin C membantu pembentukan kolagen?

Kolagen adalah protein yang berfungsi seperti tiang penyangga kulit dari bagian bawah. Semakin rapat dan kuat tiang ini, semakin kulit terhindar dari kendur dan tetap kencang. Namun kolagen tidak begitu saja terbentuk sendiri di dalam tubuh, melainkan butuh bantuan enzim tertentu agar prosesnya selesai dengan sempurna.

Vitamin C berperan sebagai kofaktor yang membantu enzim-enzim pembentuk kolagen tersebut bekerja dengan baik. Seperti kunci yang harus pas dengan gemboknya agar pintu bisa terbuka, enzim pembentuk kolagen juga baru bisa bekerja normal kalau ada vitamin C. Karena itu, saat vitamin C kurang, pembentukan kolagen jadi terganggu, sementara saat pasokannya cukup, proses pembentukan kolagen dilaporkan berjalan lebih lancar.

Ada cerita terkenal dari zaman dulu, pelaut yang berlayar lebih dari 3 bulan tanpa makan sayur atau buah segar sampai terkena penyakit skorbut, dengan gejala gusi bengkak dan luka yang susah sembuh. Penyebabnya ternyata karena tubuh kekurangan vitamin C sehingga tidak bisa membentuk kolagen dengan baik. Itulah kenapa vitamin C dan kolagen begitu erat kaitannya, dan serum yang dioleskan ke kulit sebenarnya memanfaatkan prinsip yang sama, hanya diterapkan langsung di permukaan wajah.

Selain itu, efek antioksidan yang dibahas sebelumnya juga ikut membantu menjaga kolagen. Radikal bebas dapat memicu enzim yang berfungsi seperti gunting pemotong kolagen, disebut MMP, enzim yang memecah kolagen, untuk bekerja lebih aktif. Nah, karena vitamin C menekan jumlah radikal bebas, aktivitas gunting ini pun ikut berkurang. Jadi vitamin C membantu kolagen dari dua arah sekaligus, membangun yang baru dan mengurangi yang rusak.

Lalu kenapa vitamin C begitu gampang teroksidasi?

Sejauh ini terlihat vitamin C adalah bahan yang sangat bagus, tapi masalahnya, secara kimia bahan ini sangat tidak stabil. Vitamin C, atau lebih tepatnya L-asam askorbat, punya sifat mudah kehilangan elektronnya sendiri dan berubah menjadi zat lain begitu terkena oksigen, cahaya, atau panas.

Perubahan inilah yang disebut oksidasi. Mungkin kamu pernah melihat sendiri, serum yang tadinya bening lama-lama berubah kekuningan, lalu makin lama jadi kecokelatan. Itu tanda oksidasi sedang berlangsung. Ironisnya, sifat yang membuat vitamin C bisa mengorbankan diri bereaksi dengan radikal bebas, adalah sifat yang sama yang membuatnya juga mudah bereaksi dengan oksigen di udara. Sifat yang jadi kekuatannya sebagai perisai, justru menjadi kelemahan karena membuatnya cepat habis dengan sendirinya.

Prinsipnya sama seperti apel atau lemon yang sudah dipotong, permukaannya lama-lama berubah kecokelatan. Vitamin C di dalam buah bereaksi dengan udara dan teroksidasi, sehingga warnanya berubah, dan hal serupa juga terjadi di dalam botol serum, hanya saja prosesnya sedikit lebih lambat. Karena itu, kebiasaan sering buka tutup botol, atau menyimpan serum di meja rias yang kena sinar matahari, saja sudah bisa mempercepat proses oksidasi secara nyata.

Apakah bermasalah kalau tetap memakai vitamin C yang sudah teroksidasi?

Vitamin C yang sudah teroksidasi dilaporkan kehilangan sebagian besar daya antioksidan dan efek mencerahkannya. Artinya, memakainya jadi mirip seperti mengoleskan air biasa yang tidak lagi berkhasiat. Ditambah lagi, ada laporan bahwa produk sampingan dari proses oksidasi justru bisa mengiritasi kulit, sehingga produk yang warnanya sudah berubah jelas sebaiknya dihentikan pemakaiannya.

Karena itu, produsen menerapkan tiga cara untuk menekan masalah oksidasi ini.

  • Mengemas dalam botol kaca gelap atau wadah kedap udara: tujuannya meminimalkan paparan cahaya dan udara, sehingga proses oksidasi bisa ditunda selama mungkin.
  • Menggunakan bentuk turunan yang lebih stabil: turunan seperti ascorbyl glucoside atau magnesium ascorbyl phosphate dirancang dengan struktur yang sedikit dimodifikasi agar lebih tahan terhadap oksigen.
  • Menjual dalam kemasan kecil: dengan begitu, frekuensi dan durasi produk terpapar udara setelah dibuka jadi lebih sedikit, sehingga oksidasi tidak keburu parah sebelum produk habis dipakai.

Bagaimana cara memilih konsentrasi dan bentuk formulanya?

L-asam askorbat murni dikenal punya penyerapan dan daya kerja yang baik, tapi di sisi lain juga lebih cepat teroksidasi dan berpotensi lebih mengiritasi kulit. Konsentrasi antara 10% sampai 20% sering disebut sebagai titik seimbang antara efektivitas dan risiko iritasi, dan konsentrasi yang terlalu tinggi belum tentu selalu lebih baik.

Bagi pemilik kulit sensitif, bentuk turunan yang sudah disebutkan tadi bisa jadi pilihan alternatif. Bentuk turunan ini bekerja dengan cara diserap kulit lebih dulu, lalu perlahan diubah menjadi vitamin C murni oleh enzim di dalam tubuh. Efeknya memang tidak secepat bentuk murni, tapi lebih unggul dari segi stabilitas dan tingkat iritasi. Misalnya, kalau kulit tergolong sensitif tapi langsung memakai vitamin C murni konsentrasi tinggi 20%, bisa saja muncul reaksi perih atau kemerahan. Untuk kasus seperti ini, lebih aman mencoba konsentrasi rendah atau bentuk turunan dulu, melihat reaksi kulit, baru perlahan menaikkan konsentrasinya.

Apa pun bentuk yang dipakai, memakai tabir surya setelah vitamin C di pagi hari sangat ditekankan penting untuk benar-benar memaksimalkan efek antioksidannya. Karena vitamin C bekerja mencegah radikal bebas sebelum terbentuk, tentu masuk akal kalau dipadukan dengan perlindungan ekstra saat kulit sering terpapar sinar UV. Sebaliknya, kalau hanya pakai vitamin C tapi melewatkan tabir surya, itu ibarat memegang perisai tapi tidak ikut turun ke medan perang, hasilnya khasiatnya pun tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

References

Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Terapi Laser Jamur Kuku, Prinsip Panas Membasmi Jamur Tanpa Obat Minum, Tingkat Kesembuhan, dan Cara Mencegah Kekambuhan

Artikel ini menjelaskan dengan mudah kenapa laser dipakai untuk jamur kuku (onychomycosis) yang membuat kuku menguning dan menebal, bagaimana laser Nd:YAG 1064 nm membasmi jamur dengan panas, seberapa besar tingkat kesembuhannya dibanding obat minum terbinafine dan obat oles, berapa kali dan dengan jarak berapa sesi dijalani, sampai perawatan pendamping untuk mencegah kekambuhan dan menjaga hasil tetap awet, semuanya berdasarkan angka dari penelitian asli.

By Dr. Lee

Back to articles