Beda Sunscreen Fisik dan Kimia: White Cast dan Jarak Oles Ulang
By Dr. Kim8 min read

Semua orang tahu sunscreen harus dipakai setiap hari, bukan cuma saat musim panas. Tapi begitu melihat label komposisinya, muncul istilah asing seperti sunscreen fisik dan sunscreen kimia, dan menjelaskan bedanya secara tepat ternyata tidak semudah itu.
Sebenarnya, cara keduanya menangkal sinar UV benar-benar berbeda. Yang satu memantulkan cahaya di permukaan kulit, yang lain menyerap cahaya itu lalu melenyapkannya. Kalau sudah paham prinsip ini, wajar saja kalau jadi mengerti kenapa produk tertentu meninggalkan white cast dan produk lain justru bikin iritasi.
Apa yang dilakukan UVA dan UVB pada kulit?
Sinar UV dalam cahaya matahari dibedakan berdasarkan panjang gelombangnya. UVA punya panjang gelombang lebih panjang (320-400nm) sehingga mampu menembus sampai ke lapisan kulit yang lebih dalam, yaitu dermis. Dermis adalah lapisan tempat kolagen berkumpul (protein yang berfungsi seperti tiang penyangga kekenyalan kulit), dan UVA sampai ke tiang penyangga ini lalu merusaknya perlahan-lahan.
Karena itu, UVA tidak langsung terasa seperti sunburn, tapi dikenal sebagai penyebab utama kerutan dan penurunan kekenyalan kulit yang terjadi bertahap selama puluhan tahun. Terlebih lagi, kekuatannya cukup besar untuk menembus kaca jendela, jadi kulit tetap terpapar meski berada di dalam ruangan. Contohnya, kalau duduk lama di dekat jendela, memang tidak sampai sunburn, tapi kulit terasa perlahan kusam, dan ini bisa dibilang hasil akumulasi paparan UVA sedikit demi sedikit.
Sebaliknya, UVB punya panjang gelombang lebih pendek (290-320nm) sehingga tidak sampai ke dermis dan sebagian besar diserap di epidermis, lapisan permukaan kulit. Meski begitu, energinya kuat sehingga bisa menyebabkan sunburn hanya dalam waktu singkat. Kulit yang memerah setelah 1 sampai 2 jam berjemur di pantai saat musim panas adalah akibat UVB ini.
Sebenarnya, epidermis sendiri tidak punya pembuluh darah. Tapi ketika sel epidermis yang rusak akibat UVB melepaskan zat inflamasi, pembuluh darah di dermis tepat di bawahnya melebar dan membuat kulit memerah. Jadi kemerahan dan rasa panas khas sunburn itu sebenarnya reaksi pembuluh darah di dermis, bukan epidermis. Sementara itu, UVA hanya menumpuk kerusakan kolagen secara perlahan tanpa memicu reaksi inflamasi akut sekuat itu, sehingga tidak langsung terasa sakit atau memerah dan berlalu tanpa disadari.
Bagaimana sunscreen fisik menahan sinar UV?
Sunscreen fisik menggunakan partikel logam mikro seperti zinc oxide atau titanium dioxide sebagai bahan utamanya. Partikel-partikel ini menempel di permukaan kulit membentuk lapisan tipis.
Saat sinar UV mengarah ke kulit, partikel logam ini bekerja seperti cermin kecil, memantulkan atau menyebarkan cahaya ke segala arah. Cahaya dibelokkan arahnya di permukaan, bahkan sebelum sempat masuk ke dalam kulit. Bayangkan selimut foil perak yang dipakai pendaki gunung saat musim dingin, foil itu memantulkan panas tubuh yang mau keluar supaya tidak hilang. Dengan cara yang mirip, partikel logam di sunscreen fisik memantulkan sinar UV lebih dulu sebelum sempat menyentuh kulit.
Karena itu, sunscreen fisik bekerja dengan cara mencegah sinar UV bertemu sama sekali dengan sel kulit, sehingga bisa melindungi tanpa perlu reaksi kimia. Sunscreen jenis ini dikenal relatif aman dipakai untuk kulit sensitif bahkan kulit bayi karena minim iritasi. Reaksi kimia baru terjadi kalau bahan aktifnya berikatan dengan kulit, dan karena sunscreen fisik tidak melalui proses itu, risiko iritasi atau alergi pun otomatis lebih rendah.
Ada satu keunggulan penting lagi. Karena pemantulan cahaya adalah proses fisik, efeknya langsung muncul begitu diaplikasikan. Sunscreen ini tidak perlu waktu untuk meresap dan bereaksi di dalam kulit. Itulah sebabnya sunscreen fisik tetap praktis dipakai bahkan saat harus buru-buru keluar rumah.
Bagaimana sunscreen kimia menahan sinar UV?
Sunscreen kimia menggunakan senyawa berbasis karbon seperti avobenzone atau octinoxate. Bahan-bahan ini tidak memantulkan cahaya, melainkan langsung menyerap energi sinar UV ke dalam molekulnya sendiri.
Molekul yang menyerap sinar UV langsung masuk ke kondisi tereksitasi, yaitu keadaan tidak stabil dengan energi yang meningkat drastis. Seperti pegas yang tertekan lalu melenting kembali, molekul ini segera kembali ke bentuk semula sambil mengubah energi yang diserap tadi menjadi panas dan melepaskannya keluar. Prosesnya mirip saat tangan menyentuh panci panas sekilas lalu buru-buru ditarik. Panas memang sempat diterima, tapi tidak lama-lama ditahan, langsung dilepaskan dan kembali ke kondisi semula.
Jadi, energi cahaya berbahaya dari sinar UV diubah menjadi panas yang sangat kecil dan lenyap sebelum sempat merusak kulit. Namun karena proses ini terjadi berulang-ulang, bahan aktifnya perlahan terurai, dan itu sebabnya daya lindung sunscreen kimia dikenal menurun seiring waktu. Sama seperti pegas yang elastisitasnya jadi tumpul kalau ditekan dan dilepas berkali-kali, molekul sunscreen kimia juga strukturnya perlahan berubah setelah mengulang reaksi menyerap sinar UV dan melepas panas ratusan kali dalam sehari.
Berbeda dari sunscreen fisik, sunscreen kimia tidak langsung bekerja begitu diaplikasikan. Bahan aktifnya perlu waktu untuk menempel stabil membentuk lapisan tipis di permukaan kulit sebelum reaksi penyerapan benar-benar dimulai, karena itu disarankan mengaplikasikannya 20-30 menit sebelum keluar rumah. Kalau langkah ini dilewati dan langsung terpapar matahari, artinya kulit terkena sinar UV saat bahan aktifnya belum siap bekerja.
Mengapa white cast lebih mencolok pada sunscreen fisik?
White cast adalah kondisi kulit tampak putih pucat setelah memakai sunscreen. Fenomena ini paling sering muncul pada sunscreen fisik.
Penyebabnya ada pada ukuran partikel. Zinc oxide dan titanium dioxide punya sifat memantulkan sebagian cahaya tampak yang bisa dilihat mata, sehingga meski dioles tipis, tetap terlihat seperti lapisan putih di kulit. Prinsipnya sama seperti cat putih yang dioles selapis tipis saja ke tembok, warna asli di bawahnya tetap tertutup dan yang terlihat cuma warna putih. Kalau partikel memantulkan cahaya, warna kulit di bawahnya jadi tidak tampak jelas, dan yang muncul justru kesan ada lapisan putih menempel.
Belakangan ini makin banyak produk yang menggiling partikelnya sampai berukuran nano, sehingga white cast jauh berkurang, meski sulit dihilangkan sepenuhnya. Sebaliknya, sunscreen kimia tidak memantulkan cahaya sama sekali, hanya menyerapnya, sehingga umumnya menempel transparan di kulit.
Apa yang dilindungi oleh SPF dan PA?
Di kemasan sunscreen biasanya tertera dua angka, SPF dan PA. Keduanya dihitung berdasarkan jenis sinar UV yang berbeda.
SPF (Sun Protection Factor) menunjukkan seberapa besar perlindungan terhadap UVB. Semakin besar angkanya, semakin lama waktu yang dibutuhkan sampai kulit memerah. Misalnya, kalau kulit tanpa sunscreen mulai memerah dalam 10 menit, SPF15 secara teori bisa memperlambatnya sampai 15 kali lipat, yaitu 150 menit. Tapi karena keringat dan gesekan, perlindungan ini sering luntur lebih cepat dari perhitungan tersebut, jadi jangan hanya mengandalkan angka SPF dan melewatkan reapply. PA (Protection Grade of UVA) menunjukkan tingkat perlindungan terhadap UVA, dan semakin banyak tanda plus seperti PA+++, semakin besar pula efek perlindungannya.
Tinggi di salah satu angka saja belum cukup. Supaya bisa melindungi kulit dari UVA yang merusak dermis dan UVB yang menyebabkan sunburn sekaligus, disarankan untuk memperhatikan angka SPF dan PA bersamaan.

Jumlah pemakaian dan jarak oles ulang sunscreen
Sunscreen baru bisa memberikan perlindungan sesuai angka yang tertera di kemasan kalau jumlah pemakaian dan jadwal reapply-nya benar. Perhatikan poin berikut.
- Oleskan ke seluruh wajah minimal sebesar koin 500 won (mirip ukuran koin Rp500): angka SPF dan PA yang tertera di kemasan diukur berdasarkan ketebalan sebanyak ini, jadi kalau dioles terlalu tipis, perlindungan sebenarnya jauh di bawah angka yang tertulis.
- Reapply setiap 2 jam setelah beraktivitas di luar: bahan aktif sunscreen kimia perlahan terurai saat menyerap sinar UV, dan sunscreen fisik pun luntur karena keringat serta minyak wajah, sehingga lapisan pelindungnya makin menipis seiring waktu.
- Tetap pakai sunscreen meski cuaca mendung: awan memang menghalangi sebagian cahaya yang terlihat mata, tapi sebagian besar sinar UV tetap menembusnya, jadi walau matahari terasa lemah, kulit tetap terpapar sinar UV.
Pada akhirnya, efektivitas sunscreen sangat ditentukan oleh seberapa tebal dan seberapa sering pemakaiannya. Kalau reapply pakai tangan di atas makeup terasa ribet, memakai cushion atau spray ber-SPF sebagai lapisan tambahan bisa jadi solusi yang lebih praktis.

Kriteria memilih sunscreen yang cocok untuk kulit sendiri
Tidak bisa dipastikan begitu saja mana yang lebih unggul di antara sunscreen fisik dan kimia. Semuanya tergantung kondisi kulit masing-masing orang.
Kalau kulit cenderung sensitif atau gampang memerah karena iritasi, sunscreen fisik umumnya terasa lebih nyaman. Karena cara kerjanya fisik, bukan reaksi kimia, kemungkinan munculnya masalah kulit relatif lebih kecil.
Sebaliknya, kalau kulit berminyak dan white cast terasa mengganggu, sunscreen kimia yang ringan dan transparan sering jadi pilihan yang lebih disukai. Hanya saja, beberapa bahan aktif sunscreen kimia dilaporkan bisa memicu dermatitis kontak, jadi kalau sering muncul perih atau kemerahan setelah pemakaian, mengganti bahan aktifnya bisa jadi solusi.
Belakangan ini juga banyak beredar produk hybrid yang menggabungkan kedua cara kerja tersebut. Produk ini memanfaatkan pemantulan dan penyerapan sekaligus, sehingga white cast berkurang sementara daya lindungnya tetap terjaga. Ada juga cara memakai sunscreen berbeda per area tubuh. Banyak orang memakai sunscreen fisik untuk wajah yang mudah iritasi, lalu sunscreen kimia yang ringan untuk lengan dan kaki yang lebih sering terpapar matahari. Pada akhirnya, tidak ada satu jawaban yang mutlak benar, lebih tepat dibilang sebagai proses menemukan yang paling cocok sambil memperhatikan reaksi kulit sendiri.
References
Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Beda SPF dan PA pada Tabir Surya: Berapa Banyak yang Harus Dioleskan?
Sinar UV musim panas terbagi menjadi UVB yang membuat kulit terbakar kemerahan dan UVA yang menembus lebih dalam lalu perlahan merusak kolagen. Berikut penjelasan tentang fungsi SPF dan PA, cara memakai tabir surya dengan benar, hingga perawatan antioksidan yang mendukung.
By Dr. Kim

Pengobatan Dermatitis Seboroik Kulit Kepala: Mulai dari Mana, dan Cara Mengurangi Kekambuhan
Ketombe, kulit kepala kemerahan, dan gatal yang muncul lagi hanya dalam beberapa hari setelah keramas bisa jadi tanda dermatitis seboroik kulit kepala. Mulai dari jamur penyebabnya yaitu Malassezia, sampai urutan pengobatan berbasis bukti dari sampo antijamur, obat oles antiinflamasi, obat minum, hingga scaling kulit kepala, semuanya dijelaskan berdasarkan studi nyata dengan bahasa yang mudah dipahami, termasuk cara mencegah kekambuhan dan bukti nyata prosedur regenerasi kulit kepala.
By Dr. Lee

Perbedaan Lifting Radiofrekuensi dan Ultrasound: Efek dan Lama Bertahan
RF menghangatkan dermis dengan panas resistansi dari arus listrik untuk merangsang kolagen, sementara HIFU memfokuskan energi pada satu titik hingga menembus lapisan fasia yang lebih dalam. Berikut penjelasan mengapa kedua alat ini menyasar kedalaman kulit yang berbeda dan bagaimana perbedaan itu memengaruhi daya tahan hasilnya.
By Dr. Lee