prettytime
Pigment

Photoaging: Efek Retinoid dan Vitamin C serta Cara Perawatannya

By Dr. Kim6 min read

Kulit yang lama terpapar sinar matahari berubah dengan cara yang berbeda dari kulit yang menua secara alami. Keduanya sama-sama memunculkan kerutan, tapi photoaging menambahkan lagi masalah lain, bintik hitam seperti melasma atau flek, plus tekstur kulit yang kasar. Karena itu banyak yang menganggap kerusakan akibat sinar UV ini sulit dipulihkan. Namun kalau reaksi yang terjadi di dalam kulit diurai satu per satu, sebagian besar sebenarnya masih bisa dibalikkan. Berikut penjelasan apa yang rusak dan bagaimana cara memulihkannya, langkah demi langkah.

Apa beda photoaging dengan penuaan alami?

Penuaan alami adalah proses di mana pembelahan sel melambat perlahan seiring waktu, dan produksi kolagen juga menurun sedikit demi sedikit. Prosesnya lambat, tapi muncul merata di seluruh wajah. Sementara itu, photoaging justru muncul terkonsentrasi di area yang paling sering terkena sinar matahari, yaitu dahi, tulang pipi, dan sekitar hidung.

Ketika sinar UV menembus sampai ke lapisan kulit yang lebih dalam, di dalam sel akan terbentuk radikal bebas (fragmen oksigen tidak stabil yang sangat reaktif). Radikal bebas ini langsung merusak serat kolagen dan DNA sel. Itu sebabnya, pada usia yang sama, kulit yang rutin memakai sunscreen dan yang tidak bisa terlihat sangat berbeda. Inti dari photoaging sebenarnya adalah reaksi berantai yang dipicu oleh radikal bebas ini.

Bagaimana sinar UV merusak kolagen?

Saat sel kulit terpapar sinar UV, faktor transkripsi bernama AP-1 (protein yang berfungsi sebagai saklar untuk menyalakan atau mematikan gen) akan aktif. Begitu AP-1 menyala, sinyal untuk memproduksi MMP (matrix metalloproteinase, enzim yang memotong kolagen menjadi bagian-bagian kecil) menyebar ke seluruh sel.

Kalau MMP makin banyak, serat kolagen yang sudah ada terus terpotong. Di saat yang sama, AP-1 juga menekan sinyal pembentukan kolagen baru (jalur TGF-beta), sehingga jumlah kolagen yang rusak jadi lebih banyak dari yang terbentuk. Kalau kondisi ini berulang selama bertahun-tahun, dermis (lapisan kulit tempat kolagen berada) akan makin menipis, dan serat elastin kehilangan susunannya yang rapi lalu menggumpal seperti benang kusut. Penumpukan serat elastin yang menggumpal ini dianggap sebagai salah satu tanda khas photoaging.

Mengapa pigmentasi muncul tidak merata?

Sinar UV tidak cuma memengaruhi kolagen, tapi juga mengirim sinyal ke sel pembentuk warna kulit. Melanosit memproduksi lebih banyak pigmen melanin untuk menangkal sinar UV, dan reaksi ini sebenarnya adalah mekanisme pertahanan normal untuk melindungi kulit.

Masalahnya, kalau reaksi ini berulang selama puluhan tahun, tingkat respons melanosit jadi berbeda-beda di tiap area wajah. Aktivitas tyrosinase (enzim yang berperan di tahap awal pembentukan melanin) menjadi tidak merata antar area, sehingga pigmen menumpuk secara tidak rata di tulang pipi atau dahi yang paling sering terpapar sinar UV. Inilah alasan kenapa muncul bintik hitam dengan batas yang jelas seperti melasma atau age spot. Dengan kata lain, bintik hitam bukan semata-mata karena melanin bertambah banyak, melainkan lebih ke arah noda yang muncul karena penumpukannya tidak merata.

Bagaimana retinoid bekerja pada photoaging?

Retinoid (kelompok bahan turunan vitamin A) adalah bahan andalan untuk memulihkan photoaging. Tretinoin menekan aktivitas AP-1 yang sudah dijelaskan sebelumnya, sehingga produksi MMP yang berlebihan bisa dicegah. Di saat yang sama, tretinoin juga merangsang gen prokolagen (protein tahap sebelum menjadi kolagen) agar lebih aktif dibaca, sehingga fibroblast terdorong untuk membentuk kolagen baru.

Jadi tretinoin bekerja di dua arah sekaligus, mengurangi sinyal perusak sekaligus menambah sinyal pembentuk. Retinol berbeda dari tretinoin, karena harus melewati dua tahap konversi enzim di dalam kulit sebelum berubah menjadi bentuk yang sama dengan tretinoin. Karena itu efeknya lebih lambat dan lebih lembut, tapi arah kerjanya tetap sama. Dalam sebuah penelitian, kulit yang mengalami photoaging dan diolesi tretinoin selama beberapa bulan menunjukkan peningkatan produksi kolagen baru, sementara kulit yang tidak diolesi justru mengalami penurunan kolagen.

Ini adalah penelitian klasik yang membandingkan kulit lengan atas yang mengalami photoaging setelah diolesi krim tretinoin 0.1% selama 10 hingga 12 bulan. Hasilnya, kolagen baru yang terbentuk di lapisan atas dermis 80% lebih banyak dibanding sisi yang tidak diolesi apa pun. Penelitian ini juga menemukan bahwa produksi kolagen pada kulit yang mengalami photoaging awalnya 56% lebih rendah dibanding kulit yang tidak terpapar sinar UV, yang berarti pemakaian tretinoin secara rutin bisa memulihkan sebagian besar selisih tersebut.
Ini adalah penelitian klasik yang membandingkan kulit lengan atas yang mengalami photoaging setelah diolesi krim tretinoin 0.1% selama 10 hingga 12 bulan. Hasilnya, kolagen baru yang terbentuk di lapisan atas dermis 80% lebih banyak dibanding sisi yang tidak diolesi apa pun. Penelitian ini juga menemukan bahwa produksi kolagen pada kulit yang mengalami photoaging awalnya 56% lebih rendah dibanding kulit yang tidak terpapar sinar UV, yang berarti pemakaian tretinoin secara rutin bisa memulihkan sebagian besar selisih tersebut.

Peran vitamin C dan niacinamide

Vitamin C adalah kofaktor yang wajib ada agar enzim prolyl hydroxylase, yang bertugas memuntir rantai kolagen agar stabil, bisa bekerja. Tanpa enzim ini, untaian kolagen tidak akan terpuntir dengan benar sehingga tidak bisa menjadi serat yang kuat. Jadi meskipun vitamin C tidak langsung membentuk kolagen, perannya adalah membantu kolagen agar terbentuk sempurna sesuai bentuknya.

Selain itu, vitamin C juga bekerja sebagai antioksidan yang menetralkan radikal bebas akibat sinar UV. Keunggulan lain, kalau digunakan dalam bentuk topikal, vitamin C bisa mencapai lapisan atas dermis, tempat photoaging paling banyak terjadi, dengan konsentrasi yang relatif tinggi.

Niacinamide (turunan vitamin B3) bekerja dengan cara yang berbeda. Niacinamide memperlambat proses perpindahan butiran pigmen dari melanosit ke keratinosit, sehingga jumlah pigmen yang menumpuk sampai ke permukaan kulit ikut berkurang. Selain itu, niacinamide juga dilaporkan memperkuat skin barrier dan meredakan reaksi peradangan.

Penelitian ini mengoleskan serum vitamin C pada satu sisi wajah dan krim tanpa bahan aktif pada sisi lainnya pada wajah yang sama, masing-masing selama 3 bulan. Tingkat perbaikan yang dirasakan pasien sendiri 84% lebih besar pada sisi vitamin C, dan tekstur permukaan kulit yang diukur dengan alat juga membaik 74% lebih banyak. Perbaikan yang terlihat dari perbandingan foto juga 58% lebih jelas, sehingga sisi vitamin C unggul di ketiga metode penilaian.
Penelitian ini mengoleskan serum vitamin C pada satu sisi wajah dan krim tanpa bahan aktif pada sisi lainnya pada wajah yang sama, masing-masing selama 3 bulan. Tingkat perbaikan yang dirasakan pasien sendiri 84% lebih besar pada sisi vitamin C, dan tekstur permukaan kulit yang diukur dengan alat juga membaik 74% lebih banyak. Perbaikan yang terlihat dari perbandingan foto juga 58% lebih jelas, sehingga sisi vitamin C unggul di ketiga metode penilaian.

Kapan efek muncul dan berapa lama bertahan?

Waktu munculnya perubahan berbeda-beda tergantung lapisan kulitnya. Tekstur permukaan kulit yang jadi lebih halus dan berkurangnya kekasaran biasanya mulai terasa sekitar 4 minggu. Ini tergolong cepat karena hanya perlu waktu untuk pengelupasan sel kulit mati dan penyeimbangan kelembapan.

Sementara itu, kolagen di dalam dermis butuh waktu lebih lama untuk benar-benar terbentuk dan tertata. Karena harus melewati banyak tahap, mulai dari pembentukan, penempatan, sampai saling terjalin kuat, dilaporkan dibutuhkan sekitar 3 sampai 6 bulan sampai perubahannya benar-benar terlihat. Penelitian yang mengamati penggunaan jangka panjang bahkan menemukan peningkatan kolagen yang jelas setelah pemakaian rutin selama 10 sampai 12 bulan.

Namun perubahan ini hanya bertahan kalau perawatannya terus dilanjutkan. Kalau pemakaian dihentikan, reaksi kerusakan akibat sinar UV akan mulai lagi, sehingga kolagen yang baru terbentuk pun perlahan berkurang. Lama bertahannya efek ini berbeda-beda pada tiap orang, tapi kalau dirawat secara konsisten, kondisi yang membaik diketahui bisa bertahan sekitar 6 bulan sampai 1 tahun. Rentang ini bisa sangat bervariasi tergantung tingkat kerusakan awal dan kebiasaan memakai sunscreen.

Empat hal yang harus dijaga saat merawat photoaging

Sekuat apa pun sinyal pembentukan kolagen dinyalakan, kalau sinyal kerusakan terus masuk, efeknya akan saling meniadakan. Karena itu ada beberapa prinsip yang perlu dipegang dalam urutan perawatan.

  • Pakai sunscreen setiap hari. Kalau ini dilewatkan, AP-1 dan MMP akan kembali aktif, sehingga kolagen yang sudah terbentuk berkat retinoid atau vitamin C ikut terpecah lagi.
  • Mulai retinoid dari konsentrasi rendah dan naikkan perlahan. Kalau langsung memakai konsentrasi tinggi, pergantian sel kulit (turnover) jadi terlalu cepat sehingga iritasi dan kemerahan makin parah, dan akhirnya pemakaiannya tidak bisa dilanjutkan secara konsisten.
  • Selalu barengi dengan pelembap. Kalau bahan aktif terus dipakai saat skin barrier sedang lemah, yang terjadi hanya penumpukan iritasi, dan bahan aktifnya jadi tidak punya ruang untuk bekerja dengan baik.
  • Konsistensi yang menentukan hasilnya. Karena butuh waktu beberapa bulan sampai penumpukan kolagen terlihat jelas, kalau berhenti di tengah jalan, reaksinya akan berhenti di titik itu dan kembali ke kecepatan semula.

Kalau keempat hal ini dijaga bersamaan, perubahan yang dihasilkan retinoid, vitamin C, dan niacinamide punya cukup waktu untuk terakumulasi. Daripada mengandalkan satu bahan saja, memadukan sunscreen, bahan aktif, dan pelembap sekaligus jauh lebih stabil dalam menghasilkan hasil yang diinginkan.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Lifting

Efek Thread Lift: Kalau Benang Larut, Apakah Garis Wajah Kembali Kendur?

Thread lift bekerja lewat dua mekanisme sekaligus, efek fisik saat benang mengait dan menarik jaringan, serta efek biologis saat benang larut dan memicu pembentukan kolagen baru. Berikut penjelasan bagaimana kedua mekanisme ini saling menyambung dalam urutan waktu berbeda, dan apa yang menentukan lama hasilnya bertahan.

By Dr. Lee

Skincare

Suntik Kontur Wajah: Kandungan, Cara Kerja, dan Kapan Bengkak Mereda

Suntik kontur wajah adalah suntikan campuran yang berisi zat perusak membran sel lemak sekaligus zat pendukung sirkulasi limfa. Berikut penjelasan bagaimana kedua efek ini bekerja dengan jeda waktu berbeda terhadap bengkak dan garis wajah, serta berapa lama hasilnya bertahan.

By Dr. Kim

Skincare

Skin Booster Area Mata: Efek, Beda PN dan HA, serta Lama Bertahan

Skin booster mata adalah prosedur yang memakai PN (polynucleotide) dan hyaluronic acid (HA) berkonsentrasi rendah untuk mengisi kolagen dan kelembapan pada kulit mata yang tipis dan sensitif. Berikut penjelasan mengapa lingkaran hitam dan kerutan halus bisa memudar, bagaimana kedua bahan ini bekerja secara berbeda, dan apa yang menentukan masa bertahan hasilnya.

By Dr. Lee

Back to articles