Flek Hitam Akibat Matahari yang Tak Pernah Pudar dengan Toning, Sebenarnya Berapa Kali Laser Sampai Bersih Total?
By Dr. Kim8 min read

Saat bercermin dan tiba-tiba menyadari ada bintik cokelat tua di pipi atau dahi, kebanyakan orang langsung mengira itu melasma, lalu buru-buru pakai krim pencerah atau laser toning. Masalahnya, meski rutin dijalani selama 3 hingga 6 bulan, bintik itu kadang sama sekali tidak goyah. Kalau begini, kemungkinan besar itu bukan melasma, melainkan flek hitam akibat matahari, atau dalam istilah medis disebut lentigo.
Sekilas lentigo dan melasma sama-sama tampak cokelat, tapi cara pigmennya mengendap di kulit sangat berbeda. Karena itu, toning yang disetel lembut untuk melasma sering tidak mempan pada lentigo. Sebaliknya, dengan laser berenergi tinggi, hasilnya justru sering langsung terlihat jelas hanya dalam satu-dua kali. Kenapa bisa begitu, bagaimana sebenarnya laser bekerja menghilangkan pigmen, dan apa yang perlu diperhatikan setelah tindakan, semuanya akan dibahas satu per satu di bawah ini.
Sebenarnya, Lentigo Itu Pigmen Seperti Apa?
Lentigo adalah bercak cokelat yang muncul di kulit akibat paparan sinar matahari dalam waktu lama, dan secara medis disebut solar lentigo atau actinic lentigo. Berbeda dari melasma, tepinya cenderung lebih tegas, dan ukurannya biasanya sebesar kuku atau lebih kecil, muncul terbatas di satu titik saja.
Cara pigmen ini terbentuk pun berbeda. Pada melasma, melanin bertambah sedikit demi sedikit secara merata di seluruh lapisan epidermis, sehingga terlihat seperti noda yang menyebar luas. Sementara pada lentigo, sel penghasil melanin (melanosit) bertambah secara lokal di satu titik, sehingga pigmennya terkumpul pekat di area yang sempit. Bayangkan bedanya antara cap stempel yang ditekan kuat di satu tempat, dengan cat yang dikuaskan tipis merata ke area luas.
Alasan pigmen ini menggumpal khusus di titik tertentu adalah karena sel kulit yang berulang kali terpapar sinar matahari dalam jangka panjang lebih mudah mengalami peningkatan jumlah melanosit. Karena itu, lentigo lebih dulu muncul di wajah, punggung tangan, dan bahu, yaitu area yang puluhan tahun langsung terpapar matahari, dibanding lengan atau punggung yang sering tertutup pakaian. Biasanya mulai muncul satu-dua bintik sejak usia 40-an, lalu jumlahnya bertambah pelan-pelan seiring bertambahnya usia.
Kenapa Toning Susah Menghilangkannya?
Laser toning menembakkan energi rendah secara dangkal ke seluruh wajah, dengan jarak 1 hingga 2 minggu antarsesi, sebanyak 5 hingga 10 kali, untuk perlahan mengurangi pigmen tipis yang tersebar merata di epidermis. Metode ini cocok untuk kasus seperti melasma, yang konsentrasi pigmennya rendah dan batasnya kabur.
Masalahnya, pigmen pada lentigo jauh lebih pekat dan menggumpal padat di satu titik. Sekalipun ditembak 5 hingga 10 kali dengan energi rendah, hasilnya hanya merangsang permukaan secara ringan, tidak cukup kuat untuk memecah gumpalan pigmen itu sendiri. Bayangkan bedanya antara menyiram halaman luas dengan alat siram taman, dan menyemprotkan air kencang dari selang ke satu titik. Untuk membasahi seluruh halaman, alat siram sudah cukup, tapi untuk membersihkan satu noda membandel, dibutuhkan tekanan air yang jauh lebih kuat. Karena itu, kalau lentigo hanya diberi toning berulang, warnanya biasanya cuma memudar sedikit demi sedikit tanpa benar-benar hilang.
Selain itu, toning memang dirancang untuk menangani pigmen yang berisiko kambuh seperti melasma dengan cara yang lembut, jadi energinya juga tidak bisa sembarangan dinaikkan. Kalau energinya dipaksa naik, seluruh epidermis ikut teriritasi, dan justru bisa memicu hiperpigmentasi baru yang belang-belang. Karena itu, untuk pigmen dengan batas jelas seperti lentigo, yang dibutuhkan bukan energi rendah yang diulang 5 hingga 10 kali, melainkan jenis laser lain yang sejak awal langsung membidik tepat ke pigmen itu.
Dengan Prinsip Apa Laser Menghancurkan Pigmen?
Untuk mengatasi lentigo, biasanya digunakan alat seperti laser Q-switched atau laser picosecond, yang melepaskan energi tinggi dalam waktu sangat singkat. Laser ini memfokuskan energi ke pigmen dalam hitungan nanodetik hingga picodetik, jauh lebih singkat dari sekejap mata.
Ketika butiran melanin menyerap energi yang kuat dan singkat ini, ia mengembang secara instan dan menghasilkan gelombang kejut mikro. Gelombang kejut inilah yang memecah gumpalan pigmen menjadi bagian-bagian kecil, dan proses ini disebut efek photoacoustic. Mirip seperti es batu yang langsung retak saat disiram air panas, pigmen yang tadinya padat pun pecah karena hentakan energi mendadak. Serpihan melanin yang sudah dipecah ini kemudian dibersihkan bertahap oleh sel imun tubuh selama 1 hingga 4 minggu berikutnya, sehingga warnanya berangsur memudar.
Ada juga alasan kenapa kulit normal di sekitarnya relatif tidak banyak terluka. Cahaya laser tidak membakar sembarang warna, melainkan dirancang untuk menargetkan pigmen tertentu, seperti melanin, yang paling kuat menyerap panjang gelombang itu. Karena itu, kulit di sekitar yang tidak mengandung melanin nyaris tidak bereaksi meski terkena cahaya yang sama, sementara hanya titik pigmen yang menggumpal itu yang menerima panas dan hentakan secara selektif. Prinsip ini disebut photothermolysis selektif, yang sederhananya bisa dipahami sebagai laser yang hanya mengenali warna tertentu dan mengarahkan seluruh tenaganya khusus ke titik itu.
Kenapa Efeknya Bisa Terlihat Hanya dalam Satu-Dua Kali?
Lentigo cepat merespons laser berenergi tinggi karena pigmennya terkonsentrasi di satu titik yang sempit. Karena targetnya jelas dan sempit, energi kuat bisa diarahkan tepat ke area itu saja, sementara kulit normal di sekitarnya relatif lebih sedikit terkena dampak.
Sebaliknya, melasma memiliki batas yang kabur dan menyebar luas, sehingga jika dipakai energi tinggi, kulit normal di sekitar lesi ikut teriritasi dan justru meningkatkan risiko efek samping seperti hiperpigmentasi. Karena itu, melasma ditangani dengan energi rendah yang dibagi berkali-kali, sedangkan lentigo yang batasnya jelas bisa langsung diberi pengaturan energi tinggi secara terfokus sejak awal. Karena alasan inilah dilaporkan bahwa pigmen permukaan pada lentigo sering memudar signifikan atau bahkan hilang hanya dengan satu hingga dua kali laser berenergi tinggi, paling banyak dua hingga tiga kali.
Meski begitu, jumlah sesi yang dibutuhkan tetap bisa berbeda tergantung seberapa dalam pigmen itu mengendap. Lentigo yang masih berada di lapisan dangkal epidermis biasanya sudah tampak jelas memudar hanya dengan satu kali tindakan. Namun untuk lentigo yang sudah lama sehingga pigmennya menyebar lebih dalam, atau yang ukurannya besar, lebih aman dilakukan bertahap dalam dua hingga tiga kali sesi. Alasannya, memaksakan energi kuat langsung ke lapisan dalam dalam satu kali justru lebih berisiko menimbulkan bekas luka atau hiperpigmentasi, dibanding memudarkan pigmen secara bertahap mulai dari permukaan.
Bagaimana Membedakannya dari Bercak Lain yang Mirip?
Sebelum langsung menyimpulkan setiap bercak cokelat sebagai lentigo, ada baiknya dicek dulu apakah itu bukan lesi lain yang tampilannya mirip. Salah satu yang paling sering tertukar adalah keratosis seboroik. Lentigo permukaannya halus dan hampir sejajar dengan kulit sekitar, sementara keratosis seboroik menonjol seperti tempelan lilin dan terasa agak kasar saat disentuh. Kedua lesi ini juga ditangani dengan cara berbeda, jadi membedakannya penting untuk menentukan rencana tindakan yang tepat.
- Kalau permukaannya terasa menonjol saat diraba, perlu dipertimbangkan kemungkinan keratosis seboroik. Pada kasus ini, metode yang mengikis permukaan justru bisa lebih cocok dibanding laser yang memecah pigmen.
- Kalau ukuran atau bentuknya berubah cepat dalam 1 hingga 3 bulan, atau warnanya campur beberapa gradasi, lebih aman diperiksa langsung ke dokter kulit. Meski jarang, ada kasus yang perlu dibedakan dari lesi pigmen lain yang lebih serius.
Kalau secara kasat mata masih meragukan, urutan yang lebih aman adalah memastikan diagnosis lewat pemeriksaan dermoskopi terlebih dahulu, baru kemudian melanjutkan ke tindakan.
Kenapa Keropeng Muncul Setelah Tindakan dan Bagaimana Merawatnya?
Saat energi kuat memecah pigmen, sel epidermis yang menutupinya ikut terkena rangsangan. Karena itu, area yang ditindak biasanya tertutup keropeng tipis berwarna cokelat atau hitam segera setelah prosedur. Ini adalah reaksi alami luka melindungi dirinya sendiri, dan umumnya lepas sendiri dalam 5 hingga 7 hari.
Cara merawat di masa ini sangat memengaruhi hasil akhirnya.
- Jangan mengelupas keropeng dengan tangan. Kalau dipaksa dilepas, kulit baru di bawahnya yang belum sembuh sempurna akan teriritasi, dan risiko hiperpigmentasi jadi lebih besar.
- Sebaiknya jaga area itu tetap lembap dengan salep atau pelembap. Sel kulit baru tumbuh lebih halus di lingkungan yang cukup lembap, dibanding kondisi kering.
- Tabir surya perlu dipakai lebih ketat dari biasanya. Kulit baru yang tumbuh di bawah keropeng masih tipis dan rentan, sehingga jauh lebih sensitif terhadap sinar matahari.
- Kalau keropeng terasa gatal, jangan digaruk, cukup kompres dingin untuk meredakannya. Menggaruk bisa menimbulkan luka baru di area yang sama dan memperlambat pemulihan.
Cara merawat keropeng dengan menjaganya tetap lembap ini disebut moist wound healing atau penyembuhan luka lembap. Kalau luka dibiarkan kering, keropeng jadi keras dan mudah retak, tapi kalau cukup lembap, kulit baru di bawahnya bisa terbentuk lebih tipis dan halus.
Kenapa Hiperpigmentasi Bisa Muncul dan Bagaimana Mencegahnya?
Kulit yang baru saja terlepas dari keropeng masih dalam kondisi muda dan lebih sensitif terhadap sinar matahari serta rangsangan dibanding biasanya. Kalau di periode ini kulit tidak cukup terlindungi dari matahari, melanosit bisa kembali aktif bekerja, dan justru meninggalkan bekas cokelat yang lebih pekat dari lentigo aslinya. Kondisi ini disebut hiperpigmentasi pascainflamasi.
Efek samping ini dikenal lebih mudah muncul pada kulit yang secara alami lebih gelap, pada kasus yang kurang disiplin memakai tabir surya setelah tindakan, atau pada kasus keropeng yang dipaksa dilepas. Semakin gelap warna kulit, melanosit memang cenderung lebih sensitif bereaksi, sehingga rangsangan kecil pun lebih mudah memicu produksi pigmen baru.
Karena itu, setidaknya selama 4 hingga 8 minggu setelah tindakan, disarankan untuk rajin mengaplikasikan ulang tabir surya, sekaligus melindungi kulit secara fisik dengan topi atau payung. Tabir surya saja sering tidak cukup untuk memblokir sinar matahari sepenuhnya, jadi kalau sedang banyak beraktivitas di luar ruangan, memakai topi bertepi lebar atau payung sekalian akan jauh lebih efektif. Kalau pun hiperpigmentasi sudah telanjur muncul, sebagian besar akan memudar perlahan seiring waktu, sehingga lebih baik bersabar dan meminimalkan rangsangan, daripada buru-buru melakukan laser lagi.
Apa yang Perlu Dijaga Supaya Tidak Muncul Lagi?
Laser adalah tindakan yang memecah gumpalan pigmen yang sudah terbentuk, bukan semacam vaksin yang mencegah lentigo baru muncul di kemudian hari. Meski area itu sudah dibersihkan lewat tindakan, kalau paparan sinar matahari terus menumpuk di area yang sama, lentigo baru tetap bisa muncul lagi, baik di titik yang sama maupun di area lain, seiring waktu.
Karena itu, cara paling pasti untuk mengurangi risiko kambuh adalah menjadikan perlindungan dari sinar matahari sebagai kebiasaan sehari-hari, bahkan setelah tindakan selesai. Cukup dengan memakai tabir surya setiap hari, menghindari aktivitas luar ruangan saat matahari sedang terik, atau melindungi diri dengan topi dan kacamata hitam, kecepatan penumpukan pigmen baru bisa diperlambat. Pada akhirnya, perawatan lentigo bukanlah tindakan sekali jadi yang selesai setelah satu kali laser, melainkan proses panjang yang juga mencakup perlindungan dari sinar matahari setelah tindakan.
References
Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Kenapa Nevus of Ota Tidak Bisa Disamarkan dengan Make Up dan Harus Laser 6 sampai 10 Kali?
Nevus of Ota tidak bisa disamarkan dengan make up karena pigmennya bersarang jauh di dalam dermis, bukan di permukaan kulit. Artikel ini menjelaskan dari sisi mekanisme kenapa hanya laser dengan panjang gelombang khusus yang bisa menjangkau kedalaman itu, dan kenapa prosesnya harus dilakukan bertahap sebanyak 6 sampai 10 kali dengan jeda 6 sampai 8 minggu setiap sesi.
By Dr. Lee

Kenapa Tato Lama Tidak Hilang Sekali Laser dan Tiap Warna Bereaksi Beda?
Mengulas cara kerja laser penghapus tato memecah partikel pigmen di dalam kulit, dan bagaimana tubuh membuang pecahan pigmen itu keluar. Dibahas juga kenapa warna hitam dan biru gampang pudar sementara hijau atau kuning susah hilang, serta alasan tindakan harus dibagi ke beberapa sesi.
By Dr. Kim

Prinsip dan Alasan Kenapa HIFU Justru Memanaskan Lapisan Fasia yang Jauh Lebih Dalam, Bukan Permukaan Kulit
Ulasan ini membahas kenapa lifting HIFU (High-Intensity Focused Ultrasound) justru membidik SMAS, lapisan fasia di bawah kulit, bukan permukaan kulit, dimulai dari prinsip gelombang ultrasound yang terkumpul di satu titik. Dibahas juga dua tahapnya, sensasi kencang yang langsung terasa begitu tindakan selesai, dan kolagen baru yang terbentuk perlahan selama 4 minggu hingga 6 bulan.
By Dr. Lee