Menghilangkan Skin Tag di Leher dan Ketiak, Memilih Laser Erbium YAG, CO2, Elektrokauter, dan Cryotherapy yang Tepat
By Dr. Lee10 min read

Di leher, ketiak, atau kelopak mata, kadang muncul tonjolan kecil berwarna kulit yang lembut, satu demi satu bertambah banyak. Awalnya cuma sebesar biji beras, lalu lama-lama tumbuh tangkai kecil sehingga menggantung seperti liontin mini. Kalung atau kerah baju sering menyangkut di situ, dan kalau dipegang tangan pun jadi ikut tersangkut sehingga terasa mengganggu. Lesi seperti ini kebanyakan adalah skin tag.
Skin tag disebut juga acrochordon, yaitu tonjolan jinak yang terbentuk karena kulit melar akibat gesekan dan penuaan. Untungnya, skin tag tidak berbahaya bagi kesehatan, dan kalau diangkat dengan cara yang benar, hasilnya biasanya rapi. Hanya saja banyak juga orang yang mencoba mengikatnya dengan benang atau mencabutnya sendiri pakai kuku di rumah, sampai berdarah dan meninggalkan bekas. Karena itu, lebih baik memahami dulu prinsip dasarnya sebelum bertindak. Artikel ini akan membahas apa itu skin tag dan kenapa sering muncul, bagaimana membedakannya dari milia atau kutil, bagaimana memilih antara laser Erbium YAG, CO2, elektrokauter, dan cryotherapy, cara merawat bekas hiperpigmentasinya, serta kaitannya dengan diabetes atau sindrom metabolik, semuanya berdasarkan penelitian nyata.

Skin Tag Itu Sebenarnya Apa?
Skin tag adalah tonjolan jinak yang terbentuk saat kulit melar dengan lembut lalu menggantung seperti tangkai. Warnanya senada dengan kulit atau cokelat muda, dan terasa lunak saat disentuh. Ukurannya kebanyakan kecil, sekitar 1 sampai 5 mm, tapi bisa membesar kalau dibiarkan lama. Berbeda dari kutil yang permukaannya menebal karena penumpukan keratin, bagian dalam skin tag berisi jaringan fibrosa lunak dan pembuluh darah, sehingga kalau digoyang, ia ikut bergoyang pelan.
Lokasi favoritnya sudah cukup jelas, yaitu leher, ketiak, kelopak mata, selangkangan, dan area di bawah payudara, tempat-tempat di mana kulit saling melipat dan bergesekan. Karena itu, area yang sering terkena gesekan berulang memang lebih rentan. Tempat yang sering dilewati kalung atau tali bra, dan bagian yang lipatan kulitnya saling bertumpuk, biasanya jadi lokasi yang paling banyak ditumbuhi.
Skin tag ini sangat umum ditemui. Lebih dari separuh orang dewasa dikatakan pernah mengalaminya setidaknya sekali seumur hidup, dan jumlahnya cenderung bertambah setelah usia 40 tahun. Skin tag bisa muncul pada pria maupun wanita, dan wajar bertambah seiring usia. Satu hal yang melegakan, skin tag bersifat jinak. Skin tag tidak membahayakan kesehatan dan tidak berubah menjadi kanker. Jadi yang menjadi perhatian utama biasanya hanyalah seberapa rapi cara mengangkatnya agar tidak lagi mengganggu penampilan.
Bagaimana Membedakannya dari Milia atau Kutil?
Selain skin tag, milia dan kutil juga sering muncul di leher atau wajah dan gampang tertukar dengan skin tag. Padahal sifat ketiganya sangat berbeda, sehingga penting untuk mengenali dulu jenisnya sebelum menentukan cara penanganan.
Milia adalah kista kecil yang terbentuk karena keratin terperangkap di bawah epidermis. Bentuknya berupa butiran halus berwarna putih atau kuning pucat, dan kalau sedikit dibuka, keratin putih akan keluar dari dalamnya. Sementara itu, kutil disebabkan oleh infeksi human papillomavirus atau HPV, permukaannya kasar dan berbenjol, dan karena penyebabnya virus, kutil bisa menyebar ke area lain kalau digaruk, bahkan bisa menular ke orang lain. Kutil pipih atau verruca plana adalah salah satu jenisnya yang bentuknya rata, biasanya muncul berkelompok dengan warna kulit atau cokelat muda.
Skin tag berbeda dari keduanya. Skin tag tidak berhubungan dengan virus sehingga tidak menular maupun menyebar, dan tidak mengeluarkan keratin. Ciri utamanya adalah gumpalan lunak yang menggantung seperti tangkai dan bergoyang saat disentuh. Jadi kalau keluar keratin putih, kemungkinan besar itu milia. Kalau permukaannya kasar dan menyebar, itu kutil. Kalau lunak dan bergoyang seperti tangkai, itu skin tag. Kalau dari tampilan luar masih ragu, bisa diperiksa lebih dekat dengan kaca pembesar atau, kalau perlu, diperiksa jaringannya. Mengenali jenisnya lebih dulu penting agar tidak melakukan prosedur yang sebenarnya tidak diperlukan.
| Kategori | Skin Tag | Milia | Kutil |
|---|---|---|---|
| Penyebab | Gesekan dan penuaan | Kista keratin terperangkap | Infeksi HPV |
| Menular | Tidak | Tidak | Menular dan menyebar |
| Bentuk | Tonjolan lunak | Butiran putih | Benjolan kasar |
| Lokasi favorit | Leher dan ketiak | Sekitar mata dan pipi | Tangan, kaki, wajah |
| Ciri khas | Bergoyang saat disentuh | Keluar keratin putih saat dipencet | Menyebar saat digaruk |

Metode Mana yang Paling Cocok untuk Mengangkatnya?
Ada beberapa cara untuk menghilangkan skin tag, dan yang paling umum sekarang adalah laser. Laser Erbium YAG dan CO2 termasuk yang paling sering dipakai. Keduanya menggunakan cahaya sangat halus untuk membakar lesi secara dangkal, sehingga kulit sehat di sekitarnya lebih terjaga dan hasil akhirnya rapi. Laser Erbium YAG khususnya, karena panasnya tidak menyebar terlalu jauh ke samping, cocok untuk area tipis dan halus seperti kelopak mata atau lesi berukuran kecil yang butuh penanganan presisi. Laser CO2 prinsip kerjanya serupa, hanya saja panasnya bekerja sedikit lebih dalam, sehingga lebih unggul untuk lesi dengan dasar yang tebal.
Elektrokauter bekerja dengan panas listrik halus untuk membakar lesi. Karena proses pengangkatan sekaligus menghentikan perdarahan, metode ini cocok untuk area yang mudah berdarah atau lesi dengan dasar yang lebar. Sementara itu, cryotherapy menggunakan nitrogen cair untuk membekukan lesi hingga terlepas, dan karena bisa menangani banyak lesi sekaligus dengan cepat, metode ini sering dipilih kalau jumlah skin tag banyak. Hanya saja, tergantung kekuatan pembekuannya, kulit sehat di sekitarnya juga bisa terpengaruh, jadi pada kulit gelap perlu diperhatikan kemungkinan perubahan warna, baik menjadi lebih terang maupun lebih gelap.
Metode apa pun yang dipilih, karena skin tag sendiri termasuk lesi yang dangkal dan lunak, pemulihannya cenderung lebih cepat dibandingkan lesi lain yang akarnya lebih dalam. Yang penting diingat, tiap metode punya situasi yang paling cocok untuknya. Jadi tinggal disesuaikan dengan ukuran, lokasi, jumlah lesi, dan warna kulit.
| Metode | Cocok untuk | Karakteristik |
|---|---|---|
| Laser Erbium YAG | Kelopak mata, lesi kecil | Dangkal dan presisi, panas tidak menyebar jauh |
| Laser CO2 | Lesi dengan dasar tebal | Bekerja sedikit lebih dalam |
| Elektrokauter | Dasar lebar atau area mudah berdarah | Sekaligus menghentikan perdarahan |
| Cryotherapy | Jumlah lesi banyak | Perlu waspada perubahan pigmen |
Bagaimana Memilih Sesuai Ukuran dan Lokasinya?
Patokan memilih metode adalah ukuran, lokasi, jumlah lesi, serta warna kulit. Untuk area tipis dan halus seperti kelopak mata, atau lesi yang sangat kecil, laser Erbium YAG lebih menguntungkan karena bisa bekerja dangkal dan presisi. Alasannya, panasnya tidak menyebar jauh ke samping, sehingga beban pada kulit sekitar lebih ringan. Sebaliknya, untuk lesi berukuran besar dengan dasar yang tebal, laser CO2 atau elektrokauter lebih tepat karena bisa menangani sampai bagian dasarnya secara tuntas. Elektrokauter khususnya nyaman dipakai di area yang mudah berdarah karena sekaligus menghentikan perdarahan saat prosedur berlangsung.
Kalau di leher atau ketiak ada banyak sekali lesi kecil seukuran biji beras, cryotherapy sering dipakai untuk menangani banyak lesi sekaligus dalam satu sesi. Tapi karena tingkat pembekuan bisa memengaruhi warna kulit, pada kulit gelap sebaiknya intensitasnya diturunkan dan dijaga tetap dangkal agar lebih aman. Jadi bukan berarti ada satu metode terbaik untuk semua, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan lokasi lesi masing-masing. Kalau lesinya kecil dan halus, pilih Erbium YAG. Kalau besar dan tebal, pilih CO2 atau elektrokauter. Kalau jumlahnya banyak, pilih cryotherapy, begitu kira-kira cara mudah mengingatnya.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah tidak memaksakan intensitas terlalu tinggi. Daripada mencoba menghilangkan sekaligus dengan intensitas kuat lalu meninggalkan bekas, lebih baik menanganinya secara dangkal dan bertahap dalam beberapa sesi, karena lebih lembut bagi kulit. Prinsip ini makin penting kalau lokasinya berada di area yang mudah terlihat.
| Situasi | Metode yang disarankan |
|---|---|
| Kelopak mata, area tipis, lesi kecil | Laser Erbium YAG |
| Lesi besar dengan dasar tebal | Laser CO2, elektrokauter |
| Area mudah berdarah | Elektrokauter |
| Jumlah lesi banyak | Cryotherapy |
| Kulit gelap | Intensitas rendah, dangkal |

Bagaimana Mengurangi Bekas Luka dan Hiperpigmentasi?
Dalam pengangkatan skin tag, hal yang paling sering dikhawatirkan orang Asia adalah hiperpigmentasi, yaitu bekas cokelat yang tertinggal di bekas lesi yang diangkat. Kulit orang Asia memang cenderung lebih mudah meninggalkan bekas pigmen seperti ini, jadi lebih baik dipersiapkan dari awal. Semakin tinggi intensitas prosedur, semakin besar pula risiko bekasnya muncul. Karena itu, langkah pertama yang paling penting adalah mengatur intensitas agar hanya menangani lesinya secara dangkal.
Ada dua kunci utama untuk mengurangi hiperpigmentasi. Yang pertama adalah menangani lesi secara dangkal tanpa memaksakan intensitas berlebihan, dan yang kedua adalah perawatan setelah prosedur. Setelah prosedur, biasanya terbentuk keropeng kecil yang nanti lepas dengan sendirinya. Kalau keropeng ini dipaksa dilepas, bekasnya bisa tertinggal, jadi sebaiknya dibiarkan lepas secara alami. Selain itu, paparan sinar matahari adalah penyebab terbesar pigmen menjadi lebih gelap, sehingga pemakaian tabir surya secara rutin selama masa pemulihan sangatlah penting.
Sebagian besar bekas pigmen akan memudar seiring waktu, meskipun lamanya berbeda-beda untuk setiap orang. Daripada mencoba menghilangkan sekaligus dengan intensitas kuat lalu meninggalkan bekas, kalau lesinya banyak, lebih baik dibagi jadi beberapa sesi dan ditangani secara lembut karena lebih menguntungkan untuk hasil pigmennya. Ini bukan hal yang perlu terlalu dikhawatirkan, karena dengan pengaturan intensitas dan perawatan pascaprosedur yang tepat, hasilnya bisa dikendalikan dengan baik. Terutama untuk area yang mudah terlihat seperti sekitar mata atau leher, kombinasi prosedur yang tidak dipaksakan dan perawatan tabir surya yang konsisten akan memberikan hasil yang rapi.

Apakah Berkaitan dengan Diabetes atau Sindrom Metabolik?
Skin tag sendiri adalah lesi jinak yang tidak berbahaya bagi kesehatan. Tapi kalau skin tag tumbuh dalam jumlah banyak di tubuh, ini bisa jadi bukan sekadar masalah kulit, melainkan sinyal yang dikirim oleh tubuh. Sudah cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa banyaknya skin tag berkaitan dengan kadar gula darah dan metabolisme tubuh. Kuncinya ada pada insulin. Insulin adalah hormon yang menurunkan gula darah yang naik setelah makan, dan ketika tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, produksi insulin pun ikut meningkat. Padahal insulin juga mengirim sinyal untuk merangsang pertumbuhan sel, dan kalau sinyal ini berlangsung lama serta kuat, jaringan kulit bisa melar dan skin tag pun lebih mudah terbentuk.
Ada penelitian yang membandingkan orang dengan banyak skin tag dan orang yang hampir tidak punya sama sekali. Di antara kelompok yang memiliki banyak skin tag, sekitar separuhnya, tepatnya 52%, ternyata memiliki diabetes. Sebaliknya, di kelompok yang hampir tidak punya skin tag, angkanya hanya sekitar satu dari sepuluh orang, atau 10%, jadi perbedaannya cukup besar. Orang dengan tekanan darah tinggi juga lebih banyak ditemukan pada kelompok dengan banyak skin tag, dan kadar gula darah puasa, kolesterol, serta trigliserida umumnya juga tercatat lebih tinggi.

Dalam penelitian yang sama, persentase penderita hipertensi juga tercatat 19% pada kelompok dengan banyak skin tag, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan 6% pada kelompok tanpa skin tag. Beberapa penelitian lain juga menyebutkan bahwa skin tag cenderung bertambah pada kondisi kegemukan, diabetes tipe 2, atau kehamilan, saat metabolisme tubuh mengalami perubahan besar. Meski begitu, tidak perlu langsung khawatir hanya karena punya skin tag. Skin tag adalah lesi yang sangat umum dan wajar muncul di area yang sering bergesekan seiring bertambahnya usia. Hanya saja, kalau tiba-tiba jumlahnya bertambah banyak dengan cepat, selain mempertimbangkan pengangkatan untuk alasan kosmetik, ada baiknya juga memeriksakan kadar gula darah atau kolesterol. Anggap saja ini sebagai sinyal kecil yang dikirim oleh tubuh.
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Kenapa Bintik Merah Cherry Angioma Muncul, dan Pilih Laser Vaskular atau Elektrokauter agar Hilang Tanpa Bekas?
Apa sebenarnya bintik merah cerah yang muncul di dada atau punggung, cherry angioma ini, kenapa jumlahnya bertambah seiring usia, bagaimana membedakannya dari tahi lalat, kutil, atau purpura, lalu antara laser vaskular seperti pulsed dye, KTP, dan long pulse Nd:YAG dengan elektrokauter, mana yang paling tepat untuk menghilangkannya serta cara mengurangi risiko bekas luka dan hiperpigmentasi, sampai kapan harus periksa ke dokter, semuanya dirangkum dengan mudah lewat data penelitian nyata.
By Dr. Kim

Menghilangkan Kutil Datar dengan Laser CO2, Penyebab Penyebarannya, Bedanya dengan Milia dan Skin Tag, hingga Cara Mencegah Kambuh
Kutil datar yang muncul seperti bintik kecil pipih di wajah atau punggung tangan ternyata disebabkan oleh HPV. Artikel ini menjelaskan dengan mudah, berdasarkan data penelitian asli, mengapa kutil ini menyebar saat digaruk, bagaimana membedakannya dari milia dan skin tag, cara menghilangkannya dengan laser CO2 beserta risiko bekas luka dan hiperpigmentasi, serta cara mengelola kekambuhannya.
By Dr. Lee

Prinsip Laser CO2 Menghilangkan Tahi Lalat, Kambuh, Bekas Luka, Hiperpigmentasi, sampai Tanda ABCDE Melanoma
Penjelasan tentang apa itu tahi lalat, bedanya dengan keratosis seboroik, skin tag, dan kutil, cara laser CO2 menguapkan tahi lalat, cara mengelola risiko kambuh, bekas luka, dan hiperpigmentasi, alasan tahi lalat yang dalam dan besar lebih cocok dieksisi punch, sampai tanda ABCDE yang membedakan melanoma, disertai data penelitian nyata.
By Dr. Kim