prettytime
Skincare

Prinsip Booster Kultur Sel Punca NovaStem Membantu Regenerasi Kulit lewat Faktor Pertumbuhan, dan Cara Perawatannya

By Dr. Kim6 min read

Saat mendengar istilah "kultur sel punca" di ruang konsultasi klinik kecantikan atau dermatologi, bayangan pertama yang muncul biasanya adalah sel punca hidup yang disuntikkan ke kulit. Namun booster kultur sel punca seperti NovaStem sebenarnya bukan sel itu sendiri. Produk ini adalah cairan di sekitar sel selama proses kultur, yaitu media kultur, yang mengandung zat yang dikeluarkan sel itu sendiri, kemudian dipekatkan.

Selama tumbuh, sel terus menerus melepaskan zat seperti faktor pertumbuhan, sitokin, dan eksosom ke lingkungan sekitarnya. Zat-zat ini pada dasarnya adalah alat yang dipakai sel untuk saling berkomunikasi. Booster NovaStem menyaring molekul sinyal ini secara khusus, lalu menghantarkannya ke kulit lewat pengolesan atau injeksi dangkal. Sel itu sendiri memang tidak ada di dalamnya, tetapi sinyal regenerasi yang ditinggalkan sel tetap terbawa utuh.

Apa Sebenarnya Media Kultur Sel Punca Itu?

Media kultur sel punca adalah cairan nutrisi yang dipakai untuk membesarkan sel di dalam cawan kultur. Sel menyerap kandungan dalam cairan nutrisi ini, sekaligus melepaskan zat yang diproduksinya sendiri ke dalam cairan yang sama.

Setelah sel dikultur dalam periode tertentu, sel disaring keluar dan cairan yang tersisa itulah media kultur. Di dalam cairan ini larut faktor pertumbuhan dan berbagai molekul sinyal yang dilepaskan sel selama masih hidup. Cairan ini kemudian dimurnikan dan dipekatkan menjadi produk kosmetik atau booster untuk perawatan, dan itulah yang menjadi produk seperti NovaStem.

Analogi sederhananya seperti berkebun. Setelah tanaman dibesarkan di sebidang tanah, air pupuk yang tertinggal di tanah itu dikumpulkan secara terpisah. Tanamannya (sel) disingkirkan, sementara nutrisi yang ditinggalkan tanaman (molekul sinyal) dipakai kembali.

Pendekatan yang Berbeda dari Transplantasi Sel Hidup

Prosedur yang menyuntikkan sel punca hidup langsung ke tubuh mengandalkan sel itu sendiri yang menetap dan membelah diri untuk meregenerasi jaringan. Karena sel harus tetap hidup dan berfungsi, syarat pengambilan, kultur, penyimpanan, hingga injeksinya cukup rumit.

Sebaliknya, booster media kultur hanya memakai hasil yang sudah dibuat sel, bukan selnya. Tidak perlu memikirkan kelangsungan hidup sel, dan penyimpanan maupun distribusinya relatif lebih sederhana. Namun sebagai gantinya, efek sel yang membelah diri dan membentuk jaringan baru memang sulit diharapkan dari produk ini.

Kalau diibaratkan, transplantasi sel hidup itu seperti mendatangkan pekerja secara langsung, sedangkan booster media kultur lebih mirip membawa pulang instruksi kerja yang ditinggalkan pekerja tersebut. Instruksi ini memang bisa menggerakkan sel di sekitarnya untuk bekerja, tetapi instruksi itu sendiri tidak akan tumbuh menjadi jaringan baru.

Apa yang Dilakukan Faktor Pertumbuhan di Kulit?

Faktor pertumbuhan adalah sinyal protein yang memberi tahu sel untuk melakukan tindakan tertentu. Seperti kunci yang harus cocok dengan gembok agar pintu terbuka, faktor pertumbuhan juga harus cocok dengan reseptor di permukaan sel kulit, semacam struktur gembok yang menerima sinyal, agar respons bisa dimulai.

Beberapa faktor pertumbuhan berikut ini dikenal terkandung dalam media kultur.

  • EGF (Epidermal Growth Factor): mengirim sinyal ke sel epitel yang membentuk lapisan luar kulit agar membelah diri. Prinsip kerjanya mirip dengan mekanisme yang mempercepat tumbuhnya kulit baru saat ada luka.
  • FGF (Fibroblast Growth Factor): merangsang fibroblas yang memproduksi kolagen. Ketika fibroblas menjadi lebih aktif, produksi protein penopang seperti kolagen dan elastin dijelaskan ikut meningkat.
  • TGF-beta: sinyal yang mengoordinasikan keseluruhan proses penyembuhan luka dan sintesis kolagen. Perannya lebih mirip dirigen yang mengatur agar berbagai sel bekerja sesuai urutannya.
  • VEGF (Vascular Endothelial Growth Factor): membantu pembentukan pembuluh darah kecil baru di dalam kulit. Ketika pembuluh darah bertambah, suplai nutrisi dan oksigen membaik sehingga regenerasi dikatakan berjalan lebih lancar.

Faktor pertumbuhan ini tidak datang sekaligus, melainkan sinyal yang juga muncul secara berurutan dalam proses penyembuhan luka normal. Booster media kultur pada dasarnya mengumpulkan sinyal-sinyal ini terlebih dahulu, lalu menghantarkannya ke kulit.

Peran Eksosom dan Sitokin yang Bekerja Bersama

Selain faktor pertumbuhan, di dalam media kultur juga terkandung zat bernama eksosom dan sitokin. Eksosom adalah struktur sangat kecil seperti balon air yang dilepaskan sel. Struktur ini membungkus berbagai molekul sinyal di dalamnya dan berperan sebagai kotak pengantar yang menyampaikan seluruh isinya ke sel di sekitarnya.

Sitokin adalah molekul sinyal yang terutama mengatur intensitas respons peradangan dan pemulihan. Mengatur agar respons peradangan saat terjadi luka muncul secukupnya lalu mereda kembali juga merupakan peran sitokin.

Jika faktor pertumbuhan diibaratkan instruksi individual, eksosom bisa diibaratkan kotak pengiriman yang membungkus instruksi itu dengan aman, sementara sitokin adalah lampu lalu lintas yang mengatur kecepatan pemulihan secara keseluruhan. Ketika ketiganya bekerja bersama, respons pemulihan kulit dijelaskan berlangsung secara seimbang.

Bagaimana Cara Kandungan Ini Sampai ke Kulit?

Molekul sinyal dalam media kultur berukuran cukup besar, sehingga sulit menembus lapisan tanduk kulit hanya dengan dioleskan begitu saja. Karena itu, dalam praktik klinis metode penghantarannya juga dipikirkan secara khusus.

Di klinik, cara yang umum dipakai adalah membuat jalur mikro di permukaan kulit lebih dulu, misalnya lewat stimulasi microneedle (MTS) atau laser dangkal, baru kemudian mengoleskan media kultur. Dengan adanya jalur ini, kandungan bisa lebih mudah meresap hingga ke dermis. Cara lain adalah menyuntikkannya langsung ke lapisan dangkal kulit dengan jarum tipis, seperti pada mesoterapi.

Dengan kata lain, booster media kultur adalah produk yang efisiensi penghantarannya justru lebih baik saat dipasangkan dengan prosedur lain, bukan saat dipakai sendirian.

Bagaimana Booster Ini Biasa Dipakai?

Booster media kultur seperti NovaStem umumnya bukan dipakai sebagai prosedur tunggal, melainkan sebagai pendamping prosedur lain. Contoh yang paling umum adalah mengoleskannya pada kulit yang baru saja distimulasi setelah laser toning atau microneedle untuk membantu pemulihan.

  • Menenangkan kulit setelah prosedur: saat sawar kulit sedikit terbuka akibat laser atau microneedle, pengolesan pada kondisi ini dijelaskan membuat penyerapan lebih baik. Sinyal faktor pertumbuhan pada momen ini bisa membantu mempercepat respons pemulihan.
  • Ampul untuk perawatan di rumah: dibuat dalam konsentrasi rendah dan dipakai sebagai ampul setelah cuci muka. Konsepnya adalah memasok molekul sinyal dalam jumlah kecil setiap hari untuk menjaga kondisi kulit.
  • Dikombinasikan dengan booster lain: kadang dipakai bersama skin booster berbasis asam hialuronat atau prosedur stimulasi kolagen. Karena cara kerjanya berbeda, kombinasi ini bisa menghadirkan penghantaran sinyal sekaligus tambahan hidrasi secara bersamaan.

Perubahan yang Bisa Diharapkan dan Batasannya

Banyak yang melaporkan tekstur kulit terasa lebih halus dan kemerahan atau iritasi mereda setelah memakai booster media kultur. Respons ini berkaitan dengan prinsip bahwa faktor pertumbuhan merangsang sel epitel dan fibroblas sehingga membantu mempercepat pemulihan.

Namun karena media kultur bukan sel, sulit mengharapkan efek yang bisa mengembalikan kehilangan jaringan dalam atau kekenduran yang sudah jelas terlihat. Jenis dan konsentrasi molekul sinyal dalam media kultur juga bisa berbeda tergantung metode produksinya, sehingga hasil yang dirasakan bisa berbeda antar produk.

Karena itu, booster media kultur lebih tepat dipahami sebagai sarana pendukung yang membantu pemulihan setelah prosedur lain dan menjaga kondisi kulit sehari-hari, bukan sebagai jalan untuk mendapatkan perubahan dramatis.

Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Memakainya?

Ada beberapa hal yang sebaiknya diperiksa bersama saat memilih produk media kultur.

  • Sebaiknya periksa media kultur ini berasal dari sel jenis apa, dan apakah sudah melalui proses pemurnian serta pemekatan. Semakin jelas asal bahan bakunya, semakin mudah mempercayai komposisi kandungannya.
  • Saat dipakai bersama prosedur lain, disarankan untuk tidak menumpuk produk lain yang bersifat iritatif selama sawar kulit masih terbuka. Kulit yang sedang dalam masa pemulihan bisa lebih mudah bermasalah jika terkena banyak stimulasi sekaligus.
  • Perlindungan dari sinar matahari sebaiknya tetap dijaga secara konsisten, terlepas dari pemakaian media kultur. Sinar ultraviolet bisa kembali merusak sel dan kolagen yang baru saja distimulasi.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Cara Growth Factor MGF dalam Baby Skin Injection Merangsang Sel Kulit hingga Membentuk Kolagen

Baby skin injection adalah prosedur yang memasukkan growth factor ke kulit lewat microneedle. Salah satu bahan di dalamnya, MGF, adalah jenis growth factor yang secara alami diproduksi tubuh saat jaringan mengalami cedera, dan berfungsi mengirim sinyal regenerasi ke sel. Artikel ini membahas bagaimana MGF bekerja pada kulit dan apa bedanya dengan growth factor lain.

By Dr. Lee

Lifting

Collaum Thread, Cara Benang PDO Halus Berkelompok Merangsang Kolagen dan Berapa Lama Bertahan

Collaum bukan menarik kulit kuat-kuat dengan benang tebal, melainkan menanam banyak helai benang PDO halus secara rapat untuk memicu produksi kolagen. Satu helai memang efeknya kecil, tapi begitu berkumpul jadi satu kelompok, area rangsangan di dalam kulit jadi jauh lebih luas. Berikut penjelasan bagaimana kolagen terbentuk lewat cara ini dan jenis kulit yang cocok.

By Dr. Kim

Back to articles