prettytime
Pigment

Perbedaan Cara Laser Toning dan IPL Menangani Pigmen, Energi Rendah Berulang dan Cahaya Spektrum Lebar

By Dr. Kim6 min read

Saat mencari perawatan pigmen, nama laser toning dan IPL sering muncul berdampingan. Keduanya sama-sama memanfaatkan cahaya untuk memudarkan pigmen, tetapi cara mereka mengolah cahaya itu sebenarnya sangat berbeda. Satu menembakkan panjang gelombang sempit dengan daya rendah berkali-kali, sedangkan yang lain menyebarkan cahaya spektrum lebar sekaligus dalam satu tembakan. Perbedaan ini juga langsung memengaruhi sensasi saat perawatan dan hasil akhirnya. Karena namanya mirip, keduanya mudah dianggap perawatan yang sama, padahal prinsip pembentukan cahayanya sudah berbeda sejak awal, jadi memahami cara kerjanya membantu menentukan pilihan yang paling sesuai dengan kondisi kulit.

Apa Perbedaan Laser Toning dan IPL?

Laser toning adalah perawatan yang hanya menembakkan satu panjang gelombang tunggal, biasanya 1064 nanometer. Satu panjang gelombang ini mirip seperti memanah dan membidik tepat satu titik saja. Sebaliknya, IPL, sesuai namanya, menembakkan cahaya kuat yang merupakan campuran beberapa panjang gelombang sekaligus. Ini lebih mirip menyorotkan senter yang cahayanya bercampur banyak warna.

Karena itu, laser toning lebih mudah membidik melanin, yaitu butiran pigmen di dalam sel pigmen, secara tepat. Sementara IPL bisa merespons pigmen sekaligus pembuluh darah yang menimbulkan kemerahan. Karena rentang cahaya yang dibidik berbeda, hasil yang muncul pun ikut berbeda cakupannya.

Bagaimana Laser Toning Mendekati Pigmen

Laser toning bekerja dengan mengalirkan energi rendah ke kulit secara singkat namun berkali-kali. Alih-alih memberi tekanan kuat sekali saja, metode ini justru memberi tekanan ringan berulang kali. Bayangkan seperti memaku, bukan dengan satu pukulan keras, melainkan dengan ketukan ringan yang berkali-kali diulang, cara ini lebih mudah dipahami.

Alasan energi dipecah menjadi kecil dan diulang adalah supaya sel melanin tidak pecah sekaligus dengan keras, melainkan didorong untuk hancur secara bertahap sehingga iritasi di permukaan kulit bisa ditekan. Butiran pigmen menyerap energi cahaya dan sedikit demi sedikit hancur menjadi partikel halus, lalu tubuh membersihkan pecahan ini secara perlahan seiring waktu. Karena itu, laser toning dirancang untuk mengandalkan hasil yang terkumpul dari beberapa sesi, bukan hasil dari satu kali perawatan saja.

Alasan lain di balik pendekatan daya rendah dan berulang ini adalah karena ada jenis pigmen yang sangat sensitif terhadap rangsangan, seperti melasma. Pada melasma, tekanan yang kuat justru bisa membuat sel pigmen semakin terangsang dan warnanya makin gelap, sehingga pendekatan yang berkembang adalah menurunkan daya sambil menambah jumlah sesi. Cara ini bisa dibilang menyeimbangkan antara menekan iritasi dan tetap membangun hasil secara bertahap dari waktu ke waktu.

Prinsip IPL Menangani Pigmen dan Pembuluh Darah Sekaligus

Berbeda dari laser, IPL tidak hanya mengeluarkan satu panjang gelombang, melainkan cahaya spektrum lebar yang merupakan campuran beberapa panjang gelombang. Karena itu, secara teknis IPL tidak digolongkan sebagai laser, melainkan sebagai terapi cahaya intens. Karena beberapa panjang gelombang bercampur di dalamnya, tidak hanya sel pigmen, hemoglobin di dalam pembuluh darah yang menimbulkan kemerahan pun ikut merespons pada saat bersamaan.

Prinsip ini disebut fototermolisis selektif. Jaringan berwarna tertentu, seperti pigmen atau pembuluh darah, menyerap lebih banyak cahaya pada panjang gelombang yang cocok dengan warnanya sehingga menjadi panas, sementara jaringan normal di sekitarnya relatif kurang merespons. Ini mirip seperti baju berwarna gelap yang terasa jauh lebih panas saat terkena sinar matahari dibandingkan baju berwarna terang. Karena itu, dilaporkan bahwa dalam satu kali perawatan IPL, bercak pigmen, kemerahan, dan pori-pori yang melebar sering membaik secara bersamaan.

Keluarnya beberapa panjang gelombang sekaligus ini mirip seperti menumpuk beberapa filter dan menyaring warna yang dibutuhkan sesuai kondisi. Di dalam alat, filter yang menyaring rentang panjang gelombang tertentu bisa diganti sehingga dokter dapat mengatur apakah perawatan lebih fokus merespons pigmen atau lebih fokus merespons pembuluh darah. Karena itu, meski sama-sama disebut IPL, tergantung filter yang digunakan, perawatan bisa lebih diarahkan ke pigmen atau lebih diarahkan ke kemerahan.

Perbedaan Rasa Nyeri dan Pemulihan Kedua Perawatan

Karena laser toning menggunakan energi rendah, sensasi rangsangan yang terasa saat perawatan cenderung lebih ringan. Namun perubahan yang langsung terlihat di kulit tidak terlalu besar, dan warna pigmen baru terasa memudar secara bertahap setelah menjalani beberapa sesi. Karena dayanya dihemat dan dibagi berkali-kali, ini adalah perawatan yang hasilnya perlu dilihat dari akumulasi, bukan dari satu sesi saja.

Karena IPL menembakkan panjang gelombang dan daya yang lebih luas sekaligus, sensasi menyengat saat perawatan bisa terasa lebih kuat dibandingkan laser toning. Setelah perawatan, area yang tadinya berpigmen bisa tampak menggelap sementara menjadi kecokelatan. Ini dijelaskan sebagai reaksi alami yang muncul saat pigmen menyerap energi cahaya dan terangkat menuju permukaan kulit. Reaksi menyerupai keropeng cokelat ini biasanya lepas dengan sendirinya dalam beberapa hari, dan kulit di bawahnya yang sudah lebih cerah pun tampak.

Jenis Pigmen Mana yang Lebih Cocok dengan Perawatan Apa?

Sifat pigmen berbeda-beda tergantung lokasi dan penyebabnya. Karena itu, cara yang lebih cocok pun bisa berbeda tergantung jenis pigmennya.

  • Pigmen dangkal yang menyebar luas seperti melasma dikenal lebih cocok dengan pendekatan berulang dari laser toning, karena sifatnya perlu ditangani berkali-kali dengan rangsangan minimal. Melasma sangat sensitif terhadap rangsangan, sehingga tekanan kuat sekali tembak justru bisa membuat pigmennya semakin gelap.
  • Pigmen dengan batas jelas seperti bintik penuaan atau bercak dijelaskan lebih efisien ditangani dengan panjang gelombang lebar dari IPL yang meresponsnya dengan kuat hingga terangkat menjadi keropeng. Semakin jelas batas pigmen, semakin mudah energi cahaya terkonsentrasi di area tersebut.
  • Jika selain pigmen juga ada kekhawatiran soal kemerahan atau pembuluh darah kapiler, IPL dikenal lebih menguntungkan karena bisa merespons pembuluh darah sekaligus, sehingga beberapa masalah bisa ditangani dalam satu waktu.

Namun ini adalah kecenderungan umum, dan pada praktiknya dokter sering menggabungkan atau mengurutkan kedua metode setelah melihat langsung kondisi kulit.

Mengapa Jumlah Sesi dan Jaraknya Berbeda

Laser toning umumnya dirancang untuk dijalani beberapa kali dengan jarak beberapa minggu. Alih-alih meresponsnya kuat sekaligus, metode ini justru membangun proses pemudaran pigmen secara bertahap lewat beberapa sesi. Jarak antar sesi juga diberikan agar kulit punya waktu untuk pulih dari rangsangan sesi sebelumnya.

IPL relatif sering dijalani dengan jarak yang lebih longgar. Karena daya yang meresponsnya sekaligus lebih besar, waktu yang dibutuhkan kulit untuk merapikan pigmen dan meredakan kemerahan pun ikut lebih lama. Berapa kali kedua perawatan perlu dijalani sangat bergantung pada jumlah pigmen dan kondisi kulit, sehingga umumnya disesuaikan sambil memantau perkembangan, bukan mengikuti jumlah sesi yang baku.

Jarak antar sesi yang terlalu rapat justru bisa memperburuk hasil. Jika cahaya ditembakkan kembali sebelum kulit cukup pulih dari rangsangan sebelumnya, sel pigmen bukannya pulih malah bisa menjadi lebih sensitif. Karena itu, menjaga jarak sesi yang tepat pada kedua perawatan dianggap penting untuk membuat hasil lebih stabil.

Perbedaan Perawatan Setelah Prosedur

Kedua perawatan sama-sama melewati fase di mana area bekas pigmen menjadi lebih sensitif terhadap sinar UV. Arah perawatannya tidak jauh berbeda, tetapi tingkat kehati-hatian yang dibutuhkan sedikit berbeda.

  • Tabir surya wajib digunakan untuk kedua perawatan, tetapi khusus setelah IPL, saat keropeng masih terbentuk, penggunaannya perlu lebih diperhatikan. Kulit yang baru saja merespons sangat mudah menumpuk pigmen kembali jika terkena sinar UV.
  • Menggosok area yang dirawat atau melepas keropeng dengan tangan harus dihindari pada kedua perawatan. Jika keropeng dilepas secara paksa, kulit di bawahnya bisa teriritasi dan justru membuat pigmen semakin gelap.
  • Setelah perawatan, lapisan pelindung kulit sedang melemah, sehingga menggunakan pelembap yang lembut tanpa rangsangan diketahui membantu proses pemulihan.

Perawatan seperti ini perlu dijalankan dengan konsisten agar kedua prosedur bisa memberikan hasil sesuai yang diharapkan.

References

Korean Dermatological Association, American Academy of Dermatology (AAD), and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Lifting

Alasan Ontanium Menggabungkan Onda dan Titanium di Hari yang Sama dan Prinsip Kedalaman Panasnya

Ontanium adalah sebutan untuk prosedur kombinasi yang menggabungkan dua alat, Onda dan Titanium, dalam satu sesi. Onda memakai energi gelombang mikro untuk mengantarkan panas ke lapisan dermis dan lemak, sementara Titanium memakai laser tiga panjang gelombang yang bekerja pada lapisan lebih dalam sekaligus permukaan kulit. Karena kedua alat menghasilkan panas dengan cara berbeda, menerimanya bersamaan dipercaya bisa mengurangi kedalaman yang terlewat.

By Dr. Kim

Back to articles