Sculptra dan Juvelook Volume, Apa Bedanya dari Kandungan sampai Efek Kolagen dan Durasinya
By Dr. Kim8 min read

Saat pipi mulai kempes dan area sekitar lipatan nasolabial terlihat kendur, banyak orang mulai mencari tahu soal suntikan perangsang kolagen. Dua yang paling sering dibandingkan adalah Sculptra dan Juvelook Volume. Keduanya sama-sama merangsang tubuh membentuk kolagen baru di dalam kulit, lalu mengisi volume dan elastisitas secara perlahan, jadi garis besarnya memang mirip.
Tapi begitu mulai konsultasi, kandungan dan namanya berbeda sehingga bikin bingung. Sculptra berbahan PLLA, sedangkan Juvelook Volume berbahan PDLLA yang ditambah HA. Kelihatannya cuma beda satu huruf, padahal bentuk partikel, ada tidaknya efek instan, dan banyaknya bukti klinis yang terkumpul cukup berbeda. Kami rangkum satu per satu, hanya dari riset yang teruji, bagaimana masing-masing produk meningkatkan kolagen, kapan efeknya muncul dan berapa lama bertahan, serta sejauh mana buktinya sudah terkonfirmasi.

Bagaimana cara kerja kedua suntikan ini?
Perbedaan besarnya ada pada ada tidaknya efek instan. Bahan utama Sculptra, yaitu PLLA (poly-L-lactic acid), adalah perangsang kolagen murni. Saat disuntikkan ke dalam kulit, tubuh mengenalinya secara perlahan lalu merangsang fibroblas, dan hasilnya kolagen baru terbentuk selama beberapa minggu. Pada hari penyuntikan volume belum langsung terisi, melainkan terisi secara bertahap seiring waktu.
Juvelook Volume adalah produk hibrida yang menggabungkan mikrosfer PDLLA (poly-D,L-lactic acid) dengan HA non-cross-linked. PDLLA merangsang kolagen seperti PLLA pada Sculptra, tapi HA yang ada di dalamnya mengikat air segera setelah penyuntikan sehingga memberi efek plumping yang cukup instan. Hanya saja HA ini tidak cross-linked, jadi terserap dalam beberapa minggu, dan setelah itu kolagen yang dibentuk PDLLA mengambil alih perannya.

Kalau disederhanakan, Sculptra murni mengandalkan kolagen, sedangkan Juvelook Volume menambah satu unsur berupa kesan lembap di awal. Kesan pertamanya berbeda tergantung apakah Anda menginginkan sedikit perubahan di hari tindakan, atau lebih memilih rangsangan kolagen yang murni.

Apa bedanya bentuk partikel dan kandungannya?
Kedua produk sudah berbeda sejak bentuk polimernya. PLLA pada Sculptra berstruktur tunggal tipe L, dan kalau dilihat dengan mikroskop elektron bentuknya lebih mirip serpihan mikro yang tidak beraturan, bukan bulatan yang mulus. Inilah sebabnya distribusi bentuk dan ukuran partikelnya dilaporkan cukup lebar dalam penelitian yang mengukurnya. PDLLA pada Juvelook berstruktur campuran tipe D dan L, berupa mikrosfer bulat dengan banyak pori di permukaannya. Ukurannya juga cenderung lebih kecil sehingga lebih mudah tersebar merata di jaringan.

Pada penelitian yang mengukur ukuran partikel, PLLA rata-rata sekitar 50µm dan PDLLA sekitar 30µm. Hanya saja angka ini adalah rata-rata, dan partikel sebenarnya tersebar dalam rentang yang jauh lebih lebar. Semakin kecil dan bulat partikelnya, penyuntikan memang cenderung lebih halus dan dianggap membantu menurunkan risiko nodul di awal, tapi ini bukan berarti hasil akhirnya lebih baik.
Susunan kandungannya juga berbeda. Sculptra berupa serbuk beku-kering sehingga perlu proses rekonstitusi, yaitu dilarutkan dengan air steril sebelum tindakan, dan tidak mengandung unsur pelembap instan seperti HA. Juvelook Volume menggabungkan PDLLA dengan HA non-cross-linked sehingga hadir dalam bentuk yang bisa langsung dipakai tanpa rekonstitusi terpisah. Di sinilah muncul perbedaan pada proses persiapan dan kesan awalnya.

Seberapa banyak kolagen benar-benar bertambah?
Sculptra punya data biopsi kulit manusia. Pada satu penelitian (n=14), kolagen tipe 1 meningkat menjadi sekitar 165.5% dari nilai awal, 3 bulan setelah penyuntikan PLLA. Karena data ini diambil langsung dari biopsi kulit manusia dan diamati di bawah mikroskop, prinsip terbentuknya kolagen baru sudah benar-benar teramati pada manusia. Selama lebih dari 20 tahun pemakaian, data semacam ini sudah terkumpul dari beberapa penelitian.
Angka kolagen Juvelook yang sering dikutip berasal dari eksperimen pada tikus yang menua. Hasilnya, densitas kolagen setelah pemberian PDLLA meningkat sekitar 2.62 kali lipat dibanding kelompok kontrol. Arahnya sendiri sama seperti Sculptra, tapi ini adalah data praklinis pada hewan. Ini bukan berarti kelipatan yang sama akan muncul pada kulit manusia, jadi ekspektasinya sebaiknya diatur sedikit berbeda.
Kedua angka ini menunjukkan arah yang sama, yaitu kolagen bertambah. Bedanya, yang satu berasal dari biopsi manusia dan yang satu dari eksperimen hewan, sehingga bobot buktinya berbeda. Ini bukan berarti prinsip Juvelook lemah, tapi kalau kita paham bahwa data pada manusia masih dalam tahap terkumpul, hasilnya jadi lebih mudah ditafsirkan.
Sebagai catatan, secara umum data pada manusia untuk perangsang kolagen terus bermunculan. Golongan PLLA punya penelitian acak yang menunjukkan perbaikan lipatan nasolabial yang tidak kalah dari filler HA, dan PDLLA pun mulai memiliki penelitian pada manusia yang dipublikasikan satu per satu meski masih berskala kecil. Untuk saat ini bisa dipahami bahwa data manusia di sisi Sculptra sudah lebih matang, sedangkan Juvelook baru dalam tahap mengumpulkannya.

Sudah sejauh mana buktinya terkumpul?
Perbedaan terbesar kedua produk ada di sini. Sculptra mendapat persetujuan FDA Amerika pada tahun 2004, dan selama lebih dari 20 tahun pemakaian sudah terkumpul beberapa uji klinis terkontrol. Awalnya disetujui untuk terapi lipoatrofi wajah pada pasien HIV, lalu diperluas ke indikasi estetika. Ada pula uji klinis acak yang menilai apakah perbaikan lipatan nasolabial tetap bertahan seiring waktu, sehingga gambaran besar efek dan keamanannya sudah relatif mapan.

Juvelook Volume sudah mendapat sertifikasi BPOM Korea dan CE Eropa. Persetujuan FDA Amerika belum diperoleh. Uji klinis pada manusia intinya masih satu studi pendahuluan berskala 20 orang, dan di situ teramati perbaikan yang bermakna pada elastisitas, kekencangan, dan kelembapan. Hanya saja para penulisnya sendiri menyebut bahwa ini studi pendahuluan berskala kecil dan menulis bahwa masih dibutuhkan uji klinis terkontrol yang lebih besar.
Bukti yang lebih banyak tidak selalu berarti mutlak lebih baik. Kalau Anda mengutamakan data yang teruji, Sculptra lebih menenangkan hati, dan kalau Anda tertarik pada metode hibrida yang baru serta keunggulan kesan lembap di awal, Juvelook Volume pun jadi pilihan yang masuk akal. Sejauh mana produk yang ingin Anda pilih sudah terkonfirmasi saat ini, bisa jadi patokan penilaiannya.

Kapan efeknya muncul dan berapa lama bertahan?
Sculptra adalah tindakan yang efeknya muncul perlahan. Karena kolagen baru butuh waktu untuk terbentuk, perubahannya biasanya mulai terlihat selama 6 sampai 12 minggu. Diberikan 2 sampai 3 kali dengan jarak 4 sampai 6 minggu, dan volume yang sudah terbentuk dilaporkan bertahan sampai sekitar 24 bulan. Ciri khasnya, meski tidak ada efek di hari tindakan, hasilnya terisi secara alami dan bertahan lama.

Juvelook Volume punya alur awal yang sedikit berbeda. Berkat HA yang ada di dalamnya, kesan lembap dan plumping cukup terasa di hari penyuntikan, tapi bagian ini terserap dalam beberapa minggu. Setelah itu kolagen yang dibentuk PDLLA mulai menetap. Hanya saja data pada manusia untuk durasi Juvelook Volume masih terus terkumpul, jadi masih terlalu dini untuk menyebut angka bulan yang pasti seperti pada Sculptra.
Kedua produk punya kesamaan, yaitu kolagen butuh waktu untuk terisi. Kalau Anda ingin merasakan perubahan kecil sekalipun di awal, HA pada Juvelook Volume cocok, dan kalau Anda mengutamakan durasi yang sudah teruji, Sculptra lebih sesuai harapan. Apa pun pilihannya, ini adalah tindakan yang diselesaikan bertahap dalam beberapa kali, bukan sekali jadi, jadi daripada buru-buru menilai, lebih baik mengamatinya dalam alur beberapa bulan.

Jadi, mana pilihan yang cocok untuk saya?
Sulit mengatakan salah satunya mutlak lebih baik. Arah besar prinsipnya memang sama, tapi karena ada tidaknya efek instan, karakter partikel, dan banyaknya bukti yang terkumpul berbeda, pilihan yang cocok pun bergeser tergantung apa yang lebih Anda utamakan.
Kalau Anda paling mengutamakan bukti yang teruji dan pengalaman pemakaian yang sudah lama, Sculptra adalah pilihan yang realistis. Persetujuan FDA, data biopsi kulit manusia, dan uji klinis lebih dari 20 tahun semuanya sudah terkumpul sehingga efek dan durasinya mudah diprediksi. Sebagai gantinya, Anda perlu memaklumi bahwa tidak ada perubahan di hari tindakan dan hasilnya terisi selama beberapa bulan.
Kalau Anda tertarik pada metode hibrida yang baru serta keunggulan kesan lembap di awal, Juvelook Volume jadi pilihan. Perubahan kecil di hari tindakan yang diberikan oleh HA adalah keunggulannya, ditambah kemudahan pemakaian tanpa rekonstitusi terpisah. Hanya saja, karena uji klinis pada manusia masih tahap pendahuluan, baik untuk memilih dengan mengetahui bahwa bagian seperti durasi masih menunggu data yang lebih lengkap.
Uji klinis yang membandingkan kedua produk secara langsung pun masih belum banyak. Baru ada satu penelitian berskala kecil dengan 33 orang yang menyimpulkan bahwa perbaikan lipatan nasolabial pada kedua produk secara statistik serupa. Belum ada perbandingan besar yang bisa memastikan salah satunya jelas lebih baik, jadi untuk saat ini wajar memilih dengan patokan keunggulan dan tingkat bukti masing-masing. Suntikan perangsang kolagen sama-sama punya risiko tindakan penyuntikan seperti komplikasi pembuluh darah, jadi yang paling penting adalah mendapatkannya dari tenaga medis yang menguasai anatomi.
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Gouri Liquid PCL disebut bisa mengembalikan kekencangan seluruh wajah, tapi efeknya sebenarnya bertahan berapa lama?
Penjelasan cara kerja Gouri Liquid PCL yang menyebar luas tanpa partikel sambil merangsang produksi kolagen secara bertahap. Dibahas juga perbedaan tujuannya dengan filler volume yang mengisi area tertentu, serta kapan efeknya mulai terlihat dan berapa lama bertahan.
By Dr. Lee

Tear Trough Kempot dan Mata Panda, Efek Filler Mengisi Bayangan, Berapa Lama Bertahan, sampai Cara Menghindari Efek Tyndall
Bayangan gelap di bawah mata sering kali bukan cuma soal pigmen kulit, tapi karena tear trough yang kempot. Kami bahas bagaimana ligamen tear trough dan tulang orbita yang menipis membuat bayangan itu muncul, bagaimana filler asam hialuronat lembut dalam jumlah sedikit bisa meratakan bayangan tersebut, kenapa kulit tipis dan efek Tyndall serta bengkak jadi tantangan tersendiri di area ini, dan berapa lama hasilnya bertahan serta cara merawatnya. Semua dijelaskan dengan angka dari studi asli, mudah dipahami.
By Dr. Kim

Prinsip Skin Botox Merapatkan Pori, Mengurangi Minyak, sampai Kemerahan, Beda dari Botox Kerutan
Skin botox memakai bahan yang sama dengan botox kerutan, tapi cara suntiknya jauh berbeda. Disuntikkan dangkal dalam banyak titik kecil ke kelenjar minyak, otot kecil di sekitar pori, dan ujung saraf, begini prinsip kerjanya, alasan kemerahan bisa mereda, sampai berapa lama efeknya bertahan.
By Dr. Lee