prettytime
Skincare

Perawatan Kulit Saat Hamil dan Menyusui: Bolehkah Botox dan Filler?

By Dr. Kim6 min read

Saat hamil dan menyusui, perawatan kulit yang biasanya dijalani tanpa pikir panjang jadi sesuatu yang perlu dipertimbangkan ulang. Flek bisa jadi makin gelap dan kulit jadi lebih sensitif, sampai terasa justru inilah saat yang paling butuh perawatan, tapi kenyataannya kebanyakan perawatan malah tidak disarankan di masa ini, yang bisa bikin frustrasi. Muncul pertanyaan kenapa harus ditunda, dan apakah benar semua perawatan tidak boleh dilakukan. Karena itu, kami kumpulkan pertanyaan yang paling sering muncul soal perawatan kulit saat hamil dan menyusui, lalu disusun dengan hati-hati mulai dari alasan perawatan ditunda, perbedaan tiap jenisnya, bahan yang perlu dihindari, sampai kapan boleh mulai lagi. Perlu diingat, setiap orang punya kondisi kesehatan yang berbeda-beda di masa ini, jadi keputusan yang spesifik tetap paling aman kalau didiskusikan dengan dokter kandungan atau dokter yang menangani.

Kenapa tindakan ditunda selama hamil?

Saat hamil, sulit untuk benar-benar memastikan dampak sebuah perawatan terhadap janin, jadi prinsipnya adalah menunda perawatan kecantikan yang memang tidak mendesak. Banyak perawatan kecantikan sulit diuji keamanannya secara langsung pada ibu hamil, jadi bukan berarti sudah terbukti aman, tapi lebih karena datanya sendiri memang belum cukup. Karena ketidakpastian itu, dunia medis memilih pendekatan yang lebih hati-hati.

Selain itu, saat hamil kulit sendiri jadi lebih sensitif dari biasanya karena perubahan hormon, dan reaksi seperti pigmentasi atau bengkak bisa lebih mudah muncul. Perawatan yang sama pun bisa menimbulkan reaksi yang berbeda dari biasanya, jadi kalau bukan perawatan yang benar-benar mendesak, menundanya sampai setelah melahirkan dianggap pilihan yang lebih aman dari berbagai sisi.

Bolehkah botox saat hamil?

Botulinum toxin, bahan utama di Botox, belum punya data keamanan yang cukup untuk ibu hamil, jadi sebagian besar panduan medis merekomendasikan untuk menghindarinya selama kehamilan. Secara teori, obat ini bekerja secara lokal di area suntikan, tapi selama kehamilan, bahkan kemungkinan risiko yang sangat kecil sekalipun tetap dihindari sebagai prinsip.

Jadi kalau sudah terlanjur melakukan perawatan sebelum tahu sedang hamil, tidak perlu terlalu cemas, tapi sebaiknya segera sampaikan ke dokter kandungan dan memantau perkembangannya. Kalau sedang merencanakan kehamilan, menyampaikan hal ini sebelum perawatan juga jadi langkah konfirmasi yang penting.

Apakah filler aman saat menyusui?

Asam hialuronat atau hyaluronic acid, bahan utama di filler, sebenarnya memang ada secara alami di dalam tubuh, tapi data keamanannya saat hamil dan menyusui masih terbatas, jadi kebanyakan disarankan untuk ditunda. Dari sisi bahan bius yang dipakai selama prosedur, serta penanganan lebam dan bengkak yang mungkin muncul setelahnya, banyak pandangan yang melihat lebih aman mengurangi variabel-variabel itu selama masa menyusui.

Kalau memang ada kebutuhan perawatan untuk tujuan pengobatan selama menyusui, sebaiknya didiskusikan bersama dokter kandungan atau dokter anak untuk menentukan cara menyesuaikan waktu menyusui dan perawatan. Kalau tujuannya murni kecantikan, biasanya ditunda sampai masa menyusui selesai.

Apakah laser dan toning juga harus dihindari?

Laser dan toning juga termasuk perawatan yang sebagian besar disarankan untuk ditunda selama kehamilan. Perubahan hormon saat hamil membuat kulit lebih sensitif terhadap rangsangan, sehingga pigmentasi atau reaksi iritasi bisa muncul lebih tidak terduga dari biasanya. Alasan utama penundaan ini bukan karena laser itu sendiri berbahaya secara langsung, tapi karena reaksi kulit saat hamil memang sulit diprediksi.

Flek yang makin gelap saat hamil memang sering jadi perhatian, tapi ini kerap kali cuma efek sementara dari perubahan hormon yang bisa memudar dengan sendirinya setelah melahirkan. Meski begitu, kalau khawatir soal pigmentasi, lebih aman mengatasinya dulu dengan perawatan non-invasif seperti tabir surya, bukan langsung ke perawatan aktif.

Bahan skincare yang dihindari saat hamil

Saat hamil dan menyusui, ada beberapa bahan yang perlu dihindari dengan perhatian khusus. Bahan golongan retinoid seperti tretinoin dan adapalene, serta isotretinoin, umumnya tidak digunakan saat hamil karena ada kekhawatiran terhadap dampaknya pada janin. Bahan pencerah seperti hydroquinone juga sering dihindari di masa ini karena data soal seberapa banyak yang terserap tubuh masih terbatas.

  • Golongan retinoid (tretinoin, adapalene) dan isotretinoin: bahan yang paling umum dihindari saat hamil.
  • Hydroquinone: biasanya diganti dengan bahan alternatif selama hamil dan menyusui.
  • Bahan yang relatif lebih lembut seperti niacinamide dianggap sedikit lebih aman, tapi tetap sebaiknya dikonfirmasi ke dokter sebelum dipakai.

Daripada memutuskan sendiri hanya dengan membaca daftar bahan, cara paling pasti adalah menyampaikan kondisi hamil atau menyusui dan mendapat konfirmasi dari dokter kulit atau dokter kandungan.

Kapan tindakan boleh dimulai lagi saat menyusui?

Waktu yang tepat untuk memulai lagi perawatan saat menyusui berbeda-beda tergantung jenis perawatan dan kondisi kesehatan masing-masing, jadi sulit ditentukan secara seragam. Umumnya disarankan untuk menunggu sampai masa menyusui selesai, tapi karena masa menyusui bisa berlangsung cukup lama, kalau pengobatannya memang mendesak, kadang waktunya ditentukan bersama dokter yang menangani.

Yang paling penting adalah tidak memutuskan hanya berdasarkan informasi dari internet. Perawatan yang sama bisa punya rekomendasi berbeda tergantung kondisi kesehatan dan pola menyusui masing-masing orang, jadi berdiskusi bersama dokter kandungan, dokter anak, dan dokter kulit adalah cara paling aman untuk memutuskan.

Bolehkah tindakan tepat setelah melahirkan?

Segera setelah melahirkan, tubuh sedang fokus pada pemulihan, jadi perawatan untuk tujuan kecantikan umumnya ditunda sampai kondisi tubuh cukup stabil. Kalau menjalani operasi caesar atau episiotomi, waktu yang dibutuhkan untuk lukanya sembuh sepenuhnya juga perlu dipertimbangkan. Kalau sedang menyusui, seperti yang dijelaskan sebelumnya, status menyusui dan jenis perawatan perlu dipertimbangkan bersama-sama.

  • Segera setelah melahirkan: dianggap sebagai masa fokus pemulihan tubuh secara keseluruhan.
  • Saat menyusui: waktunya ditentukan dengan mempertimbangkan apakah menyusui sudah selesai dan jenis perawatannya.
  • Begitu kondisi tubuh stabil dan pemeriksaan dokter kandungan memastikan tidak ada masalah khusus, perawatan bisa mulai dilakukan secara bertahap.

Daripada terburu-buru, memulai secara perlahan sesuai kecepatan pemulihan tubuh justru memberi hasil yang lebih baik dalam jangka panjang.

Siapa yang paling aman untuk ditanyai?

Meskipun pertanyaannya soal perawatan kulit, saat hamil dan menyusui, konsultasi ke dokter kandungan atau dokter anak sama pentingnya dengan konsultasi ke dokter kulit. Mendengar pendapat dari kedua bidang itu membantu mempertimbangkan kebutuhan dan waktu perawatan dengan lebih aman. Informasi yang ditemukan di internet atau pengalaman orang lain bisa jadi referensi, tapi tidak bisa menggantikan penilaian terhadap kondisi kesehatan masing-masing orang.

Kalau ada bagian yang masih kurang jelas atau mengkhawatirkan, sebaiknya jangan dipendam sendiri, tanyakan langsung saat jadwal pemeriksaan rutin berikutnya, itu cara yang paling akurat dan aman.

Jerawat saat hamil dan skincare dasar

Saat hamil, perubahan hormon seringkali membuat masalah kulit, kekeringan, dan gatal jadi lebih parah dari biasanya. Daripada langsung ke perawatan aktif, menanganinya dengan skincare dasar seperti pembersih yang lembut, pelembap, dan tabir surya adalah yang paling disarankan di masa ini. Memilih produk yang sederhana dan rendah iritasi lebih aman dibanding produk dengan kandungan yang rumit.

Kalau gejalanya tidak ringan dan sampai mengganggu kehidupan sehari-hari, lebih baik periksa ke dokter kulit daripada menahannya terus, untuk mendiskusikan metode pengobatan yang relatif aman digunakan saat hamil. Daripada menunda semua pengobatan tanpa pengecualian, menyesuaikan pendekatannya dengan tingkat keparahan gejala bersama dokter adalah cara yang lebih realistis.

References

Korean Dermatological Association, Korean Society of Obstetrics and Gynecology, and Ministry of Food and Drug Safety (MFDS).

Apakah ini bermanfaat?

About this article

Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.

Read next

Skincare

Downtime Setelah Tindakan: Bengkak dan Memar Normalnya Berapa Hari?

Kumpulan pertanyaan yang paling sering muncul soal downtime setelah perawatan. Apa sebenarnya arti downtime, kenapa waktu pemulihan berbeda di tiap perawatan, berapa lama kemerahan dan lebam bertahan, kapan boleh pakai makeup, kapan boleh olahraga dan sauna lagi, sampai cara mempercepat pemulihan.

By Dr. Lee

Skincare

Skin Booster: Perbedaan Bahan, Kapan Efeknya Terlihat, dan Jadwal Suntik

Kumpulan pertanyaan yang paling sering muncul sebelum mencoba skin booster. Perbedaan bahan HA dan PDRN, apakah sama dengan suntik air mawar, kapan hasilnya terlihat dan berapa lama bertahan, rasa sakitnya, bintil-bintil setelah perawatan, jadwal perawatan, sampai siapa yang sebaiknya menghindarinya.

By Dr. Kim

Acne

Jenis Obat Jerawat dan Lama Pengobatan: Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kumpulan pertanyaan yang paling sering muncul selama menjalani pengobatan jerawat. Kenapa pengobatan butuh waktu lama, perbedaan obat oles dan obat minum, peran isotretinoin, kenapa tidak boleh memencet jerawat, soal pil KB dan antibiotik, kapan mulai menangani bekas, sampai kenapa jerawat bisa kambuh lagi.

By Dr. Lee

Back to articles