Kenapa kulit mengelupas setelah chemical peeling, dan efektifkah untuk jerawat dan pigmen?
By Dr. Lee7 min read

Istilah peeling memang sering terdengar di klinik kulit atau tempat perawatan wajah, tapi tidak banyak orang yang benar-benar paham apa yang terjadi di dalam kulit saat prosedur ini berlangsung. Wajar kalau mendengar penjelasan larutan asam dioleskan ke wajah, rasa was-was langsung muncul duluan.
Padahal chemical peeling bukan prosedur yang membakar atau melarutkan kulit dengan asam. Prosedur ini lebih tepat digambarkan sebagai cara melepas ikatan yang menahan sel kulit mati yang sebenarnya sudah siap terkelupas, sehingga proses pergantian kulit yang memang sudah berjalan alami jadi lebih cepat dan lebih merata.
Bagaimana asam mengelupas sel kulit mati?
Di lapisan paling atas kulit, sel-sel kulit mati yang sudah tua menumpuk dan saling menempel erat. Ada struktur kecil semacam kancing perekat yang menahan sel-sel ini tetap menyatu. Pada kulit sehat, ikatan ini melonggar dengan sendirinya seiring waktu, sehingga sel kulit mati terkelupas secara alami.
Masalahnya muncul saat produksi minyak berlebih atau seiring bertambahnya usia, ikatan ini malah bertahan lebih lama dan lebih kuat dari yang seharusnya. Kalau sel kulit mati tidak terkelupas tepat waktu dan terus menumpuk, permukaan kulit jadi terlihat kusam dan pori-pori pun lebih mudah tersumbat. Asam yang dipakai dalam chemical peeling bekerja dengan melonggarkan kancing perekat ini secara kimiawi. Begitu daya rekat antar sel melemah, sel kulit mati yang sebenarnya baru akan terkelupas pelan-pelan dalam 2 hingga 4 minggu jadi lepas lebih cepat dan lebih merata.
Dua jenis asam yang paling sering dipakai untuk proses ini adalah AHA (alpha hydroxy acid) dan BHA (beta hydroxy acid). AHA punya sifat larut air sehingga bekerja melonggarkan ikatan sel kulit mati secara luas di permukaan kulit, sedangkan BHA larut minyak sehingga bisa menembus lebih dalam ke pori-pori yang tersumbat sebum sekaligus membersihkan sel kulit mati di dalamnya.
Sesama AHA pun jangkauan kerjanya berbeda-beda tergantung ukuran molekulnya. Glycolic acid punya molekul yang kecil sehingga meresap lebih cepat dan lebih dalam ke lapisan kulit mati, sementara lactic acid molekulnya sedikit lebih besar sehingga bekerja lebih perlahan dan lebih fokus di permukaan. Semakin kecil molekulnya, semakin cepat dan semakin dalam pula asam itu bekerja, kira-kira begitu gambaran sederhananya. Karena itu, meski konsentrasinya sama, jenis asam yang dipakai bisa membuat sensasi di kulit dan tingkat pengelupasan terasa berbeda.
Apa yang berbeda menurut kedalaman peeling?
Asam yang sama pun bisa mencapai kedalaman berbeda tergantung konsentrasi dan lama waktu kontaknya dengan kulit. Peeling superfisial hanya bekerja di lapisan kulit mati sampai lapisan paling atas epidermis. Contohnya pemakaian glycolic acid atau salicylic acid dengan konsentrasi rendah dan waktu aplikasi singkat.
Peeling kedalaman menengah menembus epidermis sampai ke batas paling atas dermis. Trichloroacetic acid pada konsentrasi tertentu biasa dipakai untuk tingkat ini, dengan lapisan kulit mati yang terkelupas lebih tebal dan masa kemerahan yang sedikit lebih lama dibanding peeling superfisial.
Peeling dalam menjangkau sampai ke bagian dalam dermis, sehingga saat ini pun praktik ini hanya dilakukan sangat terbatas di fasilitas medis. Semakin dalam asam menjangkau kulit, semakin banyak pula sel kulit mati yang terkelupas, dan wajar kalau masa pemulihannya jadi lebih panjang.
Asam yang dipakai untuk jerawat dan pori tersumbat
Jerawat sering kali bermula dari pori-pori yang tersumbat sel kulit mati dan sebum. Di sinilah salicylic acid dari golongan BHA paling sering dipakai, karena sifatnya yang larut minyak membuatnya bisa menembus sampai ke dalam pori-pori yang tersumbat sebum, sekaligus melepas gumpalan sel kulit mati di dalamnya.
Ketika gumpalan sel kulit mati yang menyumbat pori-pori mulai melonggar, jalur keluar sebum pun terbuka kembali, dan lingkungan tertutup minim oksigen yang disukai bakteri penyebab jerawat ikut berkurang. Salicylic acid sendiri juga dilaporkan memiliki sifat meredakan peradangan, sehingga dipercaya turut membantu menenangkan kemerahan pada jerawat yang sudah muncul.
Inilah alasan kenapa peeling konsentrasi rendah yang diulang secara rutin sering direkomendasikan untuk kulit berjerawat. Dibanding memakai konsentrasi tinggi sekaligus, memberikan rangsangan ringan sebanyak 4 hingga 6 kali dengan interval 2 hingga 4 minggu dianggap lebih efektif untuk terus memperlambat penumpukan sel kulit mati di dalam pori-pori.

Apakah pigmen dan flek ikut memudar?
Flek seperti melasma atau bekas jerawat kecokelatan terbentuk karena butiran pigmen bernama melanin yang menumpuk di sel-sel epidermis. Chemical peeling bukan prosedur yang langsung menghancurkan melanin, melainkan bekerja dengan mempercepat proses keluarnya sel kulit mati yang mengandung melanin dari permukaan kulit.
Ketika siklus pergantian sel kulit dipercepat, sel-sel tua yang membawa pigmen jadi lebih sering terkelupas, dan sel baru yang kandungan pigmennya masih sedikit muncul menggantikannya. Proses ini diulang dengan interval 4 hingga 6 minggu, sebanyak 4 hingga 6 kali, dan dilaporkan membuat flek yang terlihat memudar secara bertahap. Namun perlu diketahui, kalau pigmen sudah tertanam dalam sampai ke lapisan dermis, peeling saja biasanya tidak cukup untuk mengatasinya.
Apakah konsentrasi tinggi membuat pemulihan lebih lama?
Semakin tinggi konsentrasi asam, semakin kuat pula daya kerjanya melepas ikatan sel kulit mati, dan semakin banyak pula jumlah sel yang terkelupas sekaligus. Pada konsentrasi rendah, pengelupasan yang terjadi begitu halus hingga hampir tidak terlihat kasat mata. Tapi begitu konsentrasi naik, permukaan kulit yang memutih atau terkelupas seperti lapisan tipis bisa terlihat jelas.
Masa pemulihan pun cenderung memanjang sebanding dengan naiknya konsentrasi. Peeling konsentrasi rendah biasanya memungkinkan pemakaian makeup sejak hari yang sama atau keesokan harinya. Sementara peeling konsentrasi tinggi bisa meninggalkan kemerahan dan pengelupasan selama 7 hingga 14 hari.
- Konsentrasi rendah: ikatan hanya melonggar sedikit sehingga yang terkelupas cuma lapisan tipis di permukaan kulit mati, rangsangannya minim sehingga pemulihan sering selesai dalam 1 hingga 2 hari.
- Konsentrasi menengah: ikatan melonggar di area yang lebih luas sehingga terasa seperti seluruh epidermis diperbarui, kemerahan bisa bertahan 3 hingga 5 hari.
- Konsentrasi tinggi: rangsangan menjangkau hampir ke batas dermis sehingga pengelupasan lebih tebal, efek perbaikan pigmen atau bekas luka pun dilaporkan lebih terasa, tapi masa pemulihannya ikut lebih panjang.
Berapa lama kulit sensitif setelah peeling?
Setelah asam melepas ikatan sel kulit mati, lapisan kulit mati yang tadinya melindungi kulit jadi menipis untuk sementara waktu. Lapisan ini berfungsi sebagai semacam perisai yang menahan rangsangan dari luar dan mencegah penguapan air. Begitu perisai ini menipis, kulit bisa lebih mudah bereaksi terhadap paparan sinar matahari atau gesekan dibanding biasanya.
Inilah kenapa perlindungan dari sinar matahari sangat ditekankan pada periode ini. Sinar UV jadi lebih mudah menembus lapisan kulit mati yang menipis, sehingga justru berisiko membuat flek yang tadinya mulai memudar berkat peeling kembali menggelap.
Untuk alasan yang sama, selama 5 hingga 7 hari setelah peeling sebaiknya tidak menggabungkan perawatan lain yang bersifat mengelupas atau kompres panas yang cukup keras. Menambahkan rangsangan lain di atas perisai kulit yang sudah menipis bisa membuat kulit tidak sempat pulih, dan justru memperpanjang kemerahan atau sensitivitas. Sebaliknya, cukup fokus pada pelembap dan perlindungan sinar matahari saja, karena cara ini dikenal paling aman supaya tidak mengganggu proses sel kulit baru yang sedang terbentuk.
Berapa jeda antar peeling yang tepat?
Sel kulit mati terbentuk di lapisan paling bawah epidermis, lalu terdorong naik ke permukaan hingga akhirnya terkelupas. Proses ini diketahui memakan waktu sekitar 28 hingga 30 hari. Meski peeling membuat sel kulit mati terkelupas lebih cepat, sel baru di bawahnya tetap membutuhkan waktu tertentu untuk terbentuk dan menempati posisinya.
Karena itu, kalau jarak antar sesi peeling terlalu rapat, lapisan sel muda yang belum sempat matang akan terus-menerus terkena rangsangan berulang. Kalau lapisan kulit mati tidak sempat menjalankan fungsinya karena terus-menerus menipis, justru bisa membuat skin barrier melemah dan kulit jadi lebih sensitif terhadap rangsangan. Sebaliknya, kalau jaraknya diberi jeda yang cukup, prosesnya bisa selaras dengan siklus alami pembentukan sel kulit baru, sehingga rangsangan berkurang sementara efeknya bisa terus terakumulasi.

References
Korean Dermatological Association, Ministry of Food and Drug Safety (MFDS), American Academy of Dermatology (AAD), and U.S. Food and Drug Administration (FDA).
Apakah ini bermanfaat?
About this article
Ditulis oleh dokter estetika yang praktik dan ditujukan untuk edukasi umum — bukan pengganti saran medis individual.
Read next

Perbedaan AHA dan BHA, pilihan menurut jenis kulit, dan perbandingan efeknya
AHA dan BHA sama-sama asam yang membantu mengangkat sel kulit mati, tapi keduanya bekerja di tempat berbeda karena satu larut dalam air dan satu larut dalam minyak. AHA melepas ikatan sel kulit mati di permukaan, sementara BHA menyusup lewat minyak sampai ke dalam pori yang tersumbat. Artikel ini membahas cara kerja keduanya dan jenis kulit mana yang lebih cocok dengan masing-masing bahan.
By Dr. Kim

Lara Peel: Efek, Iritasi, Jarak Tindakan, dan Kulit yang Cocok
Lara Peel hadir untuk kulit sensitif yang sering merasa perih dan mengelupas setelah chemical peeling biasa, dengan memadukan LHA dan bahan alkali untuk merapikan sel kulit mati secara lembut. Artikel ini membahas cara kerja LHA sebagai bahan utama dan golongan peeling lembut lainnya dalam merawat sel kulit mati dan pori-pori, berdasarkan data penelitian yang sebenarnya.
By Dr. Lee

Ultracol PDO: Efek, Lama Bertahan, dan Beda dengan Benang Lifting
Ultracol bukan prosedur menanam benang, melainkan skin booster yang mengubah PDO menjadi partikel bubuk sangat halus, melarutkannya dalam cairan, lalu menyuntikkannya untuk merangsang pembentukan kolagen baru. Artikel ini menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami bagaimana partikel tersebut diserap tubuh dan membentuk kolagen, area penyuntikan, faktor yang menentukan lama bertahannya hasil, hingga cara merawat kulit setelah prosedur.
By Dr. Lee